Budi menyesali keadaannya. Ia terduduk lesu di lantai dingin tanpa alas, bersebelahan dengan sang bapak. Di ruang tersebut mereka tak hanya berdua. Sebab mereka juga tinggal bersama lima tahanan pria lainnya, berdesak-desakan dan menjadi santapan lezat nyamuk.
“Kok rasanya kangen banget ya, ke Binar? Binar, Papah kangen,” batin Budi yang juga menjadi menyesali keputusannya menikahi Nurma. “Andai aku ke Nurma hanya iseng, tanpa ada nikah, tanpa ada KDRT,” batinnya lagi.
Sementara di tempat berbeda, tak beda dengan Budi dan pak Munasir, Nurma dan ibu Syamsiah juga tampak tak kalah menderita. Keduanya kerap garuk-garuk karena digigit nyamuk. Sesekali, tatapan mereka juga bertemu, tapi tak ada sedikit pun kata yang terucap selain ekspresi sebal bahkan kesal.
***
“Binar sakit?” tanya Sepri yang baru saja pulang setelah urusannya di kantor polisi selesai.
Suci mengangguk-angguk kemudian melongok ke dalam ruang rawat yang ia belakangi. Di ranjang rawat sana, Binar yang terpejam juga sampai diinfus. Binar panas tinggi, dan kerap mengigau memanggil papah mamahnya.
Refleks, Sepri melongok hingga ia mendapati wajah Binar yang sangat pucat. Cairan infus Binar berjatuhan dengan sangat cepat.
“Memang selalu begini Mas kalau papahnya kenapa-kenapa. Jujur, aku jadi khawatir, ini dampak dari apa yang papahnya alami. Baik mengenai hubungannya dan Nurma, atau penangkapan yang baru saja terjadi,” ucap Suci sambil menunduk lesu. Ia bergegas masuk ke dalam karena Binar mengigau, memanggil-manggil papahnya sambil kejang.
Kedua mata Binar mendelik ke atas, sementara dari mulutnya mengeluarkan busa. Sepri langsung merinding menyaksikan semua itu. Ia tak kalah khawatir dari Suci.
“Bentar, Mbak. Aku panggil papah dulu!” sergah Sepri buru-buru lari, terlebih kini sudah malam. Nyaris pukul dua belas malam.
“Binar, ... Binar harus kuat. Percayalah, tanpa mereka termasuk papah, kita akan jauh lebih bahagia!” batin Suci sembari memeluk erat Binar. Ia mengelap mulut Binar yang sampai berbusa. Sebisa mungkin ia memiringkan tubuh Binar agar Binar bisa mengeluarkan air liur yang menyumbat tenggorokan dan bisa mengganggu pernapasan Binar. Hati Suci benar-benar hancur menyaksikan keadaan putrinya seperti sekarang.
“Binar Sayang, ... Binar yang sayang ke Mamah yah. Binar ....” dokter Andri yang datang bersama Sepri, langsung memberikan tindakan. Ia mengecek suhu tubuh Binar menggunakan termometer, selain ia yang sudah langsung menggunakan stetoskopnya untuk melakukan serangkaian pemeriksaan.
“Ini infus yang ke berapa, Sus?” tanya dokter Andri kepada Suci yang pada kenyataannya memang perawat di kliniknya. Bahkan Suci tak sampai dibantu perawat lain dalam menjaga sekaligus mengurus Binar.
“Ini yang pertama, tapi sudah mau habis, Dok,” ucap Suci tersedu-sedu di pinggir ranjang rawat Binar menjalani perawatan. Air matanya tidak bisa berhenti berlinang jika keadaannya sudah seperti sekarang. Bersamaan dengan itu, hatinya terus menjerit, memohon agar sang putri kuat. “Kita berhak bahagia, Binar. Karena jika kita bersama mereka, Mamah takut Binar juga sampai kena mental. Mamah enggak mau Binar seperti Mamah yang sempat takut menikah setelah Mamah lihat KDRT yang menimpa nenek! Selain itu, Mamah juga ingin kamu hidup tenang, bahagia, fokus belajar biar jadi orang sukses. Terus kamu nikah sama orang yang tulus ke kamu. Hanya itu harapan Mamah. Terserah apa kata orang di luar sana. Mamah akan melakukan yang terbaik buat kamu, meski Mamah yakin, sebagian dari mereka akan mengecam Mamah karena Mamah tetap minta cerai!” batin Suci.
“Dari tadi panasnya enggak turun-turun, masih 40 lebih, Sus? Sudah diminumi obat, kan?” lanjut dokter Andri.
“Sudah, Dok.” Suci makin tersedu-sedu lantaran ia paham, obat mujarab Binar ialah kebersamaannya dan Budi. Hanya saja, itu sulit untuk ia berikan. Keadaan benar-benar tak mendukung. “Ya Allah, tolong. Hamba mohon tolong anak hamba. Jangan sampai dia kembali ke papahnya yang zali*m. Belum lagi mbak Nurma dan ibu Syamsiah, lingkungan di sana beneran enggak mendukung.” Dalam hatinya, Suci terus menjerit, tapi keadaan Binar tak kunjung membaik. Sudah lewat tiga menit.
“Peluk, Sus! Peluk yang erat sambil hafalin doa-doa!” tegas dokter Andri ketar-ketir sendiri. Namun ia percaya, hubungan orang tua selalu berdampak kepada anak. Karena tak bisa dipungkiri juga, anak memiliki ikatan batin yang kuat dengan orang tua. Masalahnya, jika orang tuanya seperti Budi, dokter Andri saja tidak yakin keadaan Binar bisa jadi lebih baik.
“Kalau begini terus, papahnya bisa dibebasin saja, enggak, Mas? Jadikan tahanan kota saja?” Suci benar-benar tidak tahan. Malahan ketimbang harus membiarkan Binar terus kejang layaknya sekarang, ia rela diKDRT berulang kali oleh Budi asal Budi memperlakukan Binar dengan baik.
Secepat itu perasaan sekaligus keputusan Suci berubah jika menyangkut Binar. Ia benar-benar tidak tahu mengenai apa yang harus ia lakukan. Posisinya serba salah. Andai Binar tidak ketergantungan kepada Budi, andai Binar bisa tanpa Budi.
Berat, Sepri tidak bisa memberi keputusan. Hanya saja, posisi kali ini benar-benar serba salah. Maju salah, mundur apalagi. Maju Binar dan Suci yang dikorbankan, mundur pun ia yakini tidak jauh berbeda.
“Sabar dulu, Mbak. Maaf, kesannya saya jahat. Tapi dicoba dulu. Saya bantu doa, dan Papah pun akan bantu!” yakin Sepri.
***
Keesokan Harinya, keadaan Binar tak kunjung membaik meski Binar sedang tidak kejang. Namun terhitung dari kejang kemarin malam, Binar sudah mengalami kejang tiga kali. Karenanya, Suci tak memiliki pilihan lain selain membuat Binar bertemu sang papah yang sampai detik ini terus Binar tanyakan keberadaannya, di setiap Binar membuka mata.
“Tapi kamu harus kenceng, ya ke Binar. Takutnya kalau dia diberi kesempatan, dia justru sengaja bikin Binar ninggalin kamu, Ci. Ini mohon maaf bukannya nakut-nakutin. Namun kalau lihat keadaan, kemungkinan ini beneran akan terjadi. Sementara sekelas pengacara dan pengadilan enggak mungkin bisa bantu karena Binar saja maunya sama papahnya,” ucap ibu Septi ikut berkomentar. Namun tak beda dengan yang lainnya, termasuk Sepri yang sudah telanjur emosi kepada Budi, ia juga merasa sangat serba salah. “Ibu beneran kasihan banget ke kamu, Ci. Kamu yang sabar, yaaa!” Selain sampai menitikkan air mata, ibu Septi juga sengaja memeluk Suci.
“Nanti mereka jadi tahanan kota saja. Biar mereka merasakan susahnya hidup tanpa ATM berjalan yang selama ini mereka andalkan. Bukan hal yang bu*ruk sih. Malahan bisa jadi ajang hukuman nyata buat mereka. Biar mereka makin kerja keras buat sekadar makan. Belum lagi, mereka akan merasakan sanksi sosial karena kas*sus ini memang sudah telanjur viral,” ucap mas Aidan. “Sementara untuk hubungan anak kamu dan papahnya, kalau bisa kamu jangan kasih celah. Kamu ke mana, ajak anak kamu. Atau, mulai kasih anak kamu kesibukkan. Dengan mulai sekolah, les, apa gimana? Les sama sekolahnya yang dekat sini saja. Jadi, kamu bisa sekalian awasin. Kamu pergi kerja, sekalian bisa bawa Binar.” Mas Aidan yakin, cara yang ia berikan bisa membuat intensitas kebersamaan Binar dan Budi menjadi sangat terbatas dan ini bisa menepis ketakutan yang ibu Septi utarakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
anak seperti Binar itu jenis anak yg gak tau diri gak punya naluri makanya tetep aja lengket jiwaraganya ke papah bejatnya anak seperti Binar ini sulit bahagia krn hampir seluruh jiwaraganya ada pd salah satu orangtuanya dan celanyanya pd papah bejatnya
makanya sbg seorang ibu bicara jujur meski tdk 100℅ pd anak itu perlu, keburukan orangtuanya tdk harus ditutupi 100℅ seperti kasus Binar
sekiranya Binar tau sedikit saja kejahatan Budi mungkin cintanya luntur perlahan
2025-01-28
0
Dewi Soraya
hlh msak seorag ibu klah m bpk.plgi bpkny bejat n kdrt.msak ankny g liat ibuny memar2 gr2 kelaluan bpkny aneh bngt
2024-06-02
1
angel
masa sih ampai sgt nya ..lah anaknya bodoh apa gmn ya ..mamanya di pukulin di rumah masa dia gk dengar atau apa gt .. hadejjj gk masuk akal klu si anak sgt nya Ama papa nya
2024-05-06
0