Mata kanan Suci yang masih bisa melihat, mengenali ruang keberadaannya sebagai kamar mereka. Kamar yang selama hampir lima tahun terakhir menjadi saksi, betapa menjadi istri Budi sangat tidak mudah, setelah ia diprediksi hamil anak perempuan.
Padahal dari segi kesehatan sekaligus kedokteran, jenis kelamin seorang anak ditentukan oleh tipe kromosom dari spe*rm*a laki-laki yang bertemu kromosom dari sel telur wanita. Budi yang harusnya bertanggung jawab penuh terhadap jenis kelamin anak-anak mereka. Namun, Budi sekeluarga tak menerima fakta itu dan lagi-lagi sibuk menyalahkan Suci.
“Sekarang juga kami akan pergi.” Suci yakin, perceraian menjadi satu-satunya solusi untuk melindungi sang putri. “Untuk apa bertahan, jika yang kalian harapkan sudah ada pada Nurma dan sekarang pun sudah sampai Mas nikahi.”
Suci memiliki pengalaman bu*ruk mengenai KDRT dalam pernikahan. Karena di masa lalu, di usianya yang baru menginjak lima tahun, Suci pernah memergoki sang ibu dih*ajar hingga sek*arat oleh sang bapak, laki-laki yang saat itu masih menjadi suami resmi ibunya. Alasan yang sempat membuat Suci takut menikah. Dan Suci tidak mau, apa yang ia alami sampai disaksikan Binar karena dampaknya benar-benar fatal.
“Jangan pu*kul aku lagi karena andai aku mati, Mas juga yang repot.” Suci yang sempat memilih untuk mati, jadi kembali memiliki tekad untuk hidup, demi Binar. Lagi-lagi karena buah hatinya yang sudah langsung tidak diinginkan meski Binar masih di dalam kandungan hanya karena jenis kelam*innya perempuan.
“Aku hanya boleh mati setelah aku berhasil mengantar Binar menjadi orang sukses!” tekad Suci dalam hatinya. Karena jika bukan dirinya, siapa lagi yang akan peduli kepada sang putri?
Detik itu juga Budi menyadari ulahnya. Ia dapati, Suci tak ubahnya prajurit perang yang tengah menyambut ajal. Rasa bersalah itu seketika muncul dan lama-lama makin besar. Untuk sejenak, Budi menjadi gelisah, mondar-mandir di sekitar sana menyesali apa yang terjadi.
Tentu tak segampang itu Budi melepaskan Suci. Karena semarah apa pun ia kepada Suci, pada kenyataannya rasa untuk wanita itu masih ada meski tak sebanyak rasa untuk Nurma. Selain itu, Binar yang tetap ia anggap anak, juga akan sedih jika orang tuanya tidak dalam keadaan utuh. Terlebih dari lahir, Binar ringkih dan sering sakit. Tak kalah penting, selama ini Suci turut menjadi penopang terbesar ekonomi keluarga Budi.
“Pah ...?” lirih Binar yang akhirnya terbangun akibat keributan yang Budi ciptakan.
Binar memang mendengar suara sang mamah, tapi ia hanya mendapati papahnya yang ia pergoki mondar-mandir tak jauh dari tempat tidur keberadaannya.
Mendengar panggilan dari Binar, Budi yang hanya melilit tubuh bagian bawahnya menggunakan sarung, buru-buru menghampiri Binar. Ia tak membiarkan sang putri melihat keadaan mamahnya yang masih terkapar tak berdaya di lantai tak ubahnya mayat hidup.
Sambil membekap telinga Binar yang ia bopong, Budi berkata, “Jadilah istri berbakti, istri yang sadar diri karena kamu gagal memberiku anak pertama laki-laki!”
Lagi-lagi Budi menuntut Suci agar tetap menjadi istri sempurna.
“Enggak, Mas. Aku mau cerai saja. Biarkan Binar bersamaku.”
“Kalau kamu memang sayang sekaligus peduli kepada Binar, cukup turuti saja. Terima nasib karena sekarang, Nurma yang terpenting! Nurma istriku, dan kamu wajib menghormatinya!”
Balasan Budi barusan membuat darah Suci seolah didihkan. “Sebenarnya paham apa yang kalian an*ut? Paham se*sat? Jika menurut kalian anak pertama berjenis kela"min perempuan yang aku lahirkan hanya membawa s*ial, jangan lupa, sekadar kosmetik Nurma, biaya makan anak-anak Nurma, aku yang bayar! Aku yang menghidupi kalian atas rezeki Allah yang dititipkan melalui Binar!” tangisnya benar-benar histeris. “Selama ini aku diam bukan berarti aku menerima. Andai aku enggak melihat Binar, sudah sejak lama aku tuntut kalian!”
Budi tak mau ambil pusing. Ia memilih pergi, membawa Binar dari sana dan tak lupa mengunci pintu kamar mereka agar Suci yang masih terkapar di lantai tidak bisa kabur. Ia yakin, caranya mampu membuat Suci bertahan di sisinya. Agar semuanya berjalan sesuai rencana.
“Berikan Binar kepadaku! Binar anakku Mas! Biarkan Binar bersamaku!” Suci makin histeris.
Susah payah Suci menggerakkan tubuhnya, tapi sampai detik ini, ia tak mampu melakukannya. Hanya karena bayi pertama yang Suci lahirkan justru seorang perempuan, lima tahun pengabdiannya dibalas dengan luka. Suci terus meronta-ronta terlebih ketika ia mendengar tangis sang putri yang menginginkannya, tapi Budi memaksa Binar untuk ikut dengan Nurma. Nurma yang Budi wajibkan Binar panggil “mamah”!
“Binar anakku! Tolong jangan ram"pas anakku dariku, Mas!” raung Suci.
Kekuatan seorang ibu yang tak mau dipisahkan dari anaknya, membuat Suci memiliki tenaga untuk kembali menggerakkan tubuh. Suci bangkit dan perlahan mampu berdiri di antara luka yang sampai tak lagi ia rasa. Suci berniat mengambil Binar, tapi ia sadar andai ia melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain khususnya orang berpengaruh yang bisa membuat Budi sekeluarga segan, justru kegagalan yang akan ia dapatkan.
“Aku benar-benar harus pergi. Aku harus mencari bantuan!” yakin Suci. Hatinya benar-benar tak berupa mengingat titah Budi pada Binar yang mewajibkan Binar memanggil Nurma “Mamah”!
Setelah sibuk mengawasi sekitar, tatapan Suci tertuju ke jendela di seberang tempat tidur. Bergegas ia ke sana dengan langkah tertatih sambil mendekap tas bahu di pundak kanannya lebih erat.
Suci mengetuk pintu rumah tetangga terdekat, tapi rumah pertama yang ia datangi tak kunjung merespons. Begitupun dengan rumah selanjutnya dan terasnya dibiarkan gelap gulita layaknya rumah lainnya.
“Andai rumah kelima juga tetap sepi, berarti mereka memang sengaja mengabaikanku. Bisa jadi, tadi Mas Budi memang sampai mengancam mereka agar mereka tak ikut campur lagi,” pikir Suci lagi yang berakhir menelan pil pahit lantaran rumah tetangga orang tua Budi yang ia ketuk-ketuk pintunya, tetap sepi. Benar-benar tak ada respons.
Demi Binar, di tengah Hujan yang masih berlangsung, Suci menghubungi salah satu kontak di ponselnya. Akan tetapi, nasib permintaan tolong yang Suci lakukan juga tetap tak membuahkan hasil. Hingga Suci nekat menerobos hujan dan menggunakan tas bahunya untuk menutupi kepala agar tak sepenuhnya terguyur hujan. Suci berjalan kaki dan berniat pergi ke kliniknya.
Setelah setengah perjalanan menuju klinik tempatnya bekerja, di tengah jalan, Suci meminta tukang ojek untuk mengantarnya. Kali ini, semuanya iba dan buru-buru menolongnya.
***
“Aku enggak berani bantu kamu, Ci. Apalagi kamu bilang, ternyata suami kamu malah sudah sampai menikahi kakak iparnya.”
Balasan dari Ratna selaku sesama perawat di klinik Suci bekerja, sudah langsung membuat Suci merana. “Mbak, aku mohon.”
“Lapor ke polisi saja biar dapat izin visum soalnya kalau aku yang ke sana, yang ada aku pasti ikut dikeroy*ok!” yakin wanita yang kiranya sebaya dengan Budi itu.
Suci mengangguk-angguk. “Iya, Mbak. Gitu saja,” balasnya.
“Tapi aku enggak bisa antar sekarang, Ci. Paling sore soalnya yang lain pada absen karena memang lagi musim sakit. Ditambah lagi, kamu juga enggak mungkin tugas dengan keadaan kamu yang seperti ini. Ya sudah, Ci ... sambil tunggu sampai sore, kamu juga aku infus ya. Mata kamu, bibir, wajah ... ya ampun, ... parah banget—” Ratna belum sampai memeluk Suci, tapi dari belakang terdengar suara laki-laki.
“Sus, itu ada pasien baru lagi, tapi enggak ada yang jaga di depan. Loh, ini kenapa? Ini, ... Suster Suci? Eh, Mbak kamu kenapa kok babak bel*ur begitu?” ucap Sepriandri atau yang lebih dikenal sebagai Sepri.
Mendengar itu, Suci merasa bahwa Sepri yang merupakan anak dari pemilik klinik ia bekerja, dan selama ini ia kenal sebagai pribadi yang sangat pekerja keras sekaligus bertanggung jawab, bisa menolongnya.
“Mas Sepri, ... tolong saya, Mas!” sergah Suci.
Yang Sepri tahu dari ibu-ibu yang mengaku sebagai tetangga orang tua Budi selaku suami Suci, Budi telah berulang kali kepergok zin*a dengan Nurma si kakak ipar yang sudah janda. Namun para tetangga justru menuntut Suci yang tentu saja tidak tahu menahu dan otomatis korban, untuk bertanggung jawab atas perzin*aan tersebut. Pagi kemarin, Sepri menyaksikan laporan itu karena kebetulan, ia juga tengah di dasaran pecel milik mbak Arimbi, tempat Suci membeli pesanan gorengan sekaligus pecel rekan kerjanya.
“Mas Sepri ....”
“Tentu, Mbak! Suami Mbak berani bikin Mbak babak be*lur, aku pastikan wajah sama tulang-tulangnya bakalan aku rem*ukin!” Sepri benar-benar emosi dan ia siap membela sekaligus memperjuangkan keadilan untuk Suci.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
kok ada ya wujud manusia kelakuan iblis seperti Budi sekeluarga?
2025-01-28
0
Dewi Soraya
untung msh da org baik.kutangajar bngt y itu laki2 dikroyok aj smpek mati tu suami suci banci bngt jd laki
2024-06-02
0
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
Alhamdulillah dibanyaknya orang diam tak mau menolong Suci.. akhirnya masih ada malaikat penolong yg ikhlas membantu Suci yaitu Mas Sepri. terimakasih ya.. kamu memang orang yang baik sekali
2024-04-27
0