Hari ini, Budi dan Nurma sama-sama gagal mendapatkan pekerjaan. Keduanya pulang nyaris bersamaan, tapi Budi jauh lebih dulu sampai karena seharian ini, Nurma sibuk muter-muter kecamatan hingga kehabisan bensin dan berakhir menuntun motor.
“Kamu baru pulang juga, Yang?” tanya Budi.
Seharian gagal mendapatkan pekerjaan, hingga kini nyaris pukul delapan malam, sukses membuat Budi lupa kepada urusannya dan Suci. Budi bahkan lupa kepada Binar yang tengah sakit.
“Kalian baru pulang?” sapa ibu Syamsiah tak ubahnya ibu suri dalam sebuah kerajaan dan titahnya tidak bisa dibantah.
“Oke, saatnya pura-pura lelah agar mereka percaya, seharian ini aku sibuk kerja!” pikir Nurma, benar-benar siap dengan sandiwara sekaligus dramanya. Ia berangsur berdeham sambil mengangguk-angguk. “Iya, Bu. Alhamdullilah—”
“Kamu bilang alhamdullilah, memangnya sudah dapat pekerjaan, Nur?” semprot ibu Syamsiah sengaja memotong ucapan Nurma.
“Dikiranya cari kerja gampang, apa!” kesal Nurma dalam hatinya dan sudah sangat ingin mencaka*r ibu Syamsiah, tapi pada kenyataannya ia justru segera bersandiwara, tersenyum hangat kemudian mengangguk. “Alhamdullilah, Bu. Hari ini aku memang langsung kerja, makanya aku baru pulang.”
“Kerja apaan, kamu?” todong ibu Syamsiah yang kali ini bersedekap dan benar-benar sinis.
“Ayo, Nur. Saatnya balas dendam karena dulu pun, sebelum kamu punya anak laki-laki, kamu sempat dipandang sebelah mata hanya kamu cuman lulusan SMA!” batin Nurma lagi.
“Mamah ini apaan sih. Nurma dapat kerja saja sudah untung di tengah keadaan sekarang yang benar-benar sulit. Kan Mamah sendiri yang memaksa Nurma buat kerja. Coba sekarang Mamah cari kerja, bisa enggak? Seharian ini saja, aku sama sekali enggak dapat penumpang, makanya aku pulang. Beneran sepi, enggak jadi ke Jakarta ataupun Jawa Timur!” ucap Budi sengaja meredam kecongakan sang mamah. Padahal dulu saat kepada Suci, ia sama sekali tidak melakukannya. Namun karena Nurma mantan terindahnya di SMA, meski alasan Nurma dan Bandi Salam kakak Budi menikah karena Nurma menyelingkuhinya dan lebih memilih sang kakak, Budi tetap bucin kepada Nurma. Iya, Budi memang tipikal pria bucin yang otaknya akan langsung jongkok jika sudah berurusan dengan cintanya.
“Sudah Mas, sudah. Sudah malam. Tapi aku cuma mau mengabari, bahwa aku diterima bekerja sebagI manager, di pabrik bulu mata palsu yang ada di kecamatan sebelah!” ucap Nurma dengan bangganya. Membanggakan hal yang sebenarnya tidak ada demi rasa gengsi sekaligus mengobati luka-lukanya.
Budi yang paham maksud Nurma sudah langsung bengong menatap tak percaya Nurma. Budi yang tahu Nurma hanya lulusan SMA karena saat ujian kelulusan saja ternyata Nurma sedang hamil anak Bandi dan itu menyelingkuhi Budi, benar-benar takjub. Lulusan SMA bisa jadi manajer? Itu sih karena Nurma terlalu keren!—pikir Budi.
Satu hal yang perlu digaris bawahi, kehamilan saat itu Nurma keguguran. Jadi, Al bukan anak pertama Nurma.
“Gajinya berapa?” tanya ibu Syamsiah yang sedikit banyaknya tahu, manajer itu bukan posisi sembarangan.
“Ya ... lumayan lah Bu. Katanya sih gaji pokok bersih, tiap bulan bisa dapat tujuh sampai sepuluh. Belum bonus-bonusnya karena memang masih dapat bonus-bonus!” Nurma merasa bangga pada dirinya yang sangat pandai bersandiwara dan sudah langsung berhasil meyakinkan Budi sekeluarga.
Budi sudah langsung memeluk sayang sekaligus menci*umi Nurma. Begitu juga dengan ibu Syamsiah yang makin yakin pada kepercayaan leluhurnya bahwa wanita yang melahirkan anak pertama laki-laki memang membawa hoki dan ia membuktikannya melalui dirinya sendiri sekaligus Nurma. Karena meski Al bukan anak pertama yang Nurma lahirkan, buktinya sudah jelas, Nurma selalu hoki!
“Gaji kami segede itu, berarti besok Ibu bisa ambil tivi, kulkas, sama apa-apa serba baru, yah, Nur?!” ucap ibu Syamsiah yang sudah langsung bersikap sangat manis.
“Innalillahi ....!” batin Nurma sudah langsung syok.
“Berarti setoran mobil ini bisa pakai uang kamu dulu karena sepertinya memang sedang enggak banyak yang sewa travel!” Budi yang masih memeluk Nurma, tak kalah bersemangat. Ia bahkan tak hentinya mengucap syukur kepada Sang Pemilik kehidupan atas rezeki yang telah Nurma dapatkan.
Meninggalkan Nurma yang terancam termaka*n sandiwaranya sendiri, di ruang rawat Binar ada Suci yang sudah tak karuan karena keadaan Binar. Kali ini ia kembali tal sendiri karena Sepri dan orang tuanya ada di sana. Termasuk ibu Manis, wanita itu juga sudah berulang kali mengompres Binar. Binar masih demam tinggi dan lagi-lagi kejang hanya karena kerinduan bocah itu kepada sang papah.
Meski sudah dibebaskan, Budi tak kunjung datang bahkan sekadar kabar. Ketakutan Suci makin tak terbendung terlebih Binar kembali sibuk kejang di tengah keadaan Binar yang juga terus demam. Suci nyaris kehilangan akal karena keadaan Binar yang terus memanggil Budi, terus terjadi hingga kini dan sudah dini hari.
“Ini enggak bisa dibiarin. Anakku bisa mati kalau kayak gini terus!” takut Suci tersedu-sedu. Sesekali, menggunakan tangan kanannya yang mengepal sangat kencang, ia memukul dadanya guna meredam gemuruh sekaligus rasa sesak yang begitu menyiksa di sana.
Suci nekat menitipkan binar kepada ibu Septi maupun ibu Manis. Ia akan menghampiri Budi, menjemputnya ke rumah pria itu. Suci akan melakukan apa pun asal Budi mau datang ke rumah sakit.
“Pakai mobil saja, Mas sudah malam, dingin!” ibu Septi sengaja berseru dari depan ruang rawat Binar. Di dalam sana, sang suami masih menenangkan Binar, memiringkannya dibantu oleh ibu Manis yang tak hentinya menangis.
Yang ibu Septi tahu, Suci sudah berulang kali menghubungi Budi. Benar-benar tak kurang karena Suci yang terus diabaikan sampai mengirimkan video Binar ketika kejang-kejang. Benar-benar Budi bapak dakjal!
“Binar sayang, cepat sembuh, Nak! Enggak usah sayang-sayang ke papahmu yang dakjal. Cukup sayang ke mamah saja. Kasihanilah mamah kamu, Nak!” ibu Septi ikut galau. Ia mengambil alih handuk kompresnya dari ibu Manis yang sudah terduduk loyo sambil tersedu-sedu di lantai.
“Kok ada bapak sekej*i Budi!” ibu Septi terus menggerutu.
“Sabar, ini ujian hidup Suci. Allah bakalan angkat derajat Suci melalui semua ini,” ucap dokter Andri selaku suami ibu Septi, dengan sangat sabar. Ia masih menenangkan Binar dan tak lagi berani memberikan obat apalagi obat penenang seperti yang sempat ibu Manis minta dan dokter Andri yakin, wanita tua itu tidak begitu paham mengenai dunia kesehatan. Dokter Andri yakin, alasan Binar seperti sekarang karena butuh ob*at pene*nang. Padahal yang Binar butuhkan hanya perhatian papahnya.
Di jalan Sepri mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh terlebih suasana jalan di waktu dini hari benar-benar sepi. Jarak yang biasanya hampir memakan waktu tempuh selama empat puluh menit, kini hanya Sepri tempuh selama lima belas menit.
Suci pun tak kalah buru-buru dari Sepri. Saking buru-burunya, Suci sampai terjatuh ketika turun dari mobil.
“Mbak, hati-hati, Mbak!” sedih Sepri.
“Aku enggak mau anakku mati, Massss!” tangis Suci meronta-ronta. Tangis yang sungguh menular kepada Sepri.
Bergegas Sepri keluar dan bermaksud membantu Suci. Namun Suci yang terus meronta-ronta, sudah sampai merangkak menuju teras rumah ibu Syamsiah yang sangat gelap.
“MASSSSS, MASSS BUDI, TOLONG LAH MAS. MAS AKU ENGGAK MAU ANAKKU MATI, MAS!” Suci terus meraung-raung sambil terus merangkak, mengusik dini hari di sana yang awalnya sangat sunyi
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
Budi bener-bener gak guna
Binar matipun gakpapa sih! habisnya Suci terlalu menutupi kebonrokan Budi
2025-01-28
0
Ida Ulfiana
bapak gila bener2 gila
2024-05-16
0
Gavin Bae
kalau emang di binar lebih sayang kebapaknya dan tdk bisa hidup tanpa bapaknya serahkan saja binar kebapaknya.
2024-03-05
0