Ada lima polisi yang datang ditemani Sepri dan mas Aidan. Dua polisi memakai motor, sisanya membawa mobil pick up.
Beberapa tetangga termasuk pak RT, sudah langsung keluar kemudian berdatangan untuk memastikan, apalagi kini bertepatan dengan jam istirahat. Tampak Al den El yang sudah langsung naik mobil dan keduanya tampak sangat bahagia sambil melahap habis ayam bakarnya.
“Ini ada apa lagi, Mas Sepri? Ada Mas Aidan dan sampai bawa polisi sebanyak ini,” ucap pak RT.
“Kemarin malam si Budi KDRT lagi ke Suci maupun ibunya Suci, setelah Budi kepergok ambil semua perhiasan Binar, Pak RT,” ucap Sepri tegas.
“Astaghfirullah ...,” refleks pak RT sudah langsung mengelus dadanya.
“Makanya memang harus ditindak dan dikasih hukuman nyata, Pak RT. Biar orang-orang seperti Budi, jera! Biar penyakit KDRT-nya juga sembuh!” ucap Sepri lagi.
“Ya sudah, ... ya sudah ... langsung masuk saja, toh pintunya juga sudah dibuka,” ucap pak RT. Meski hanya dia yang bersuara dari semua tetangga, tetangga yang sudah berkumpul di halaman rumah orang tua Budi, tak jauh dari mobil Al dan El main, juga sudah sibuk menggunjing. Semuanya merasa prihatin sekaligus tak habis pikir dengan cara Budi.
Sepri dan mas Aidan ikut masuk ke rumah Budi bersama kelima polisi yang datang. Mereka menemukan Budi sekeluarga yang tengah makan enak di dapur.
“Heh, Budi! Kamu KDRT lagi bahkan ibunya Suci sampai kamu tempe*leng? Kamu bahkan sampai maling perhiasan Binar? Ibli*s memang kamu ya!” kesal Sepri nyaris mence*kik Budi. Andai mas Aidan tak menghalanginya, dua menit saja ia pasti bisa membuat Budi merega*ng nyawa melalui ceki*kannya.
“Sabar, ... pertama, percuma karena orang seperti mereka tipikal yang enggak punya urat mal*u. Tentunya, sayang kamunya, eman-eman! Biar polisi saja yang menindak dan setidaknya, mereka sudah langsung dapat sank*i sosial!” lirih mas Aidan sambil merangkul Sepri dari samping kanan. Ia berusaha menenangkan Sepri, membawanya pergi dari sana.
“Sebagian dari uang yang digunakan untuk membeli perhiasan, merupakan uang saya yah, Bapak-Bapak polisi. Nanti saya ganti bahkan lebih banyak! Saya terpaksa meminjamnya dulu karena saya memang sedang butuh uang!” tegas Budi meyakinkan, tapi polisi yang datang, mengarahkan agar Budi menjelaskan semuanya di kantor polisi.
“Sekarang, semuanya termasuk saudari Nurma, kalian semua ayo ikut kami ke kantor polisi. Nanti kalian bisa menjelaskan sejelas-jelasnya di sana!” tegas ketua polisi yang sedari awal, yang menjadi juru bicara.
“Eh, Pak Polisi, Bapak tidak boleh asal membawa kami tanpa bukti, ya!” ucap ibu Syamsiah memberanikan diri untuk berbicara. Terlebih sang suami justru mlempem, diam tak bisa diandalkan.
“Kata siapa, kami enggak punya bukti? Justru kami enggak mungkin asal datang apalagi melakukan penangkapan layaknya sekarang, tanpa adanya bukti. Karena kalian berempat saja, statusnya sudah sebagai tersangka atas kasus KDRT, penganiayaan, sekaligus perzina*an!” balas si polisi dan detik itu juga sudah langsung membuat keempat orang dewasa yang akan ditangkap, tercengang.
Beberapa saat kemudian, Budi sekeluarga benar-benar diangkut menggunakan mobil polisi. Hanya kedua anak Nurma saja yang ditinggal dan rencananya akan diantar ke rumah orang tua Nurma oleh pak RT dan juga warga.
“Mas Al, kok kita enggak diajak naik mobil juga, ya?” keluh El menatap sedih kepergian mobil polisi yang membawa keluarga mereka.
“Nah, iya ... kok kita enggak diajak padahal kita pengin ikut?” Tak beda dengan sang adik, alasannya sedih juga karena tidak diajak naik mobil polisi dan diyakininya, kakek nenek dan juga mamahnya itu akan diajak jalan-jalan.
“Ya sudah yuk, Mas. Enggak apa-apa kita enggak diajak. Kita habisin ayam bakar saja, yuk! Enggak usah sedih lah, mereka jalan-jalan, kita ya makan-makan!” ucap El bersemangat dan sudah langsung dibalas dengan hal serupa oleh sang adik.
Di mobil, Budi terdiam merenung, menyesali keadaan yang menimpanya. “Kok jadi begini?” batinnya menatap sedih sekitar. Nurma dan orang tuanya tampak tak kalah loyo darinya. Tampak beberapa warga yang sudah langsung menjadikan mereka tontonan, di sepanjang jalan. Layaknya tersangka yang ditangkap di acara yang menghiasi televisi yang pernah mereka tonton, kedua tangan maupun kedua kaki mereka juga diborgol, meski di sana ada dua orang polisi yang jaga-jaga.
Setelah hampir satu setengah jam mengarungi perjalanan, mereka termasuk Sepri dan mas Aidan yang memakai motor, sampai di kantor polisi. Budi sekeluarga tertunduk lesu terlebih mereka sudah langsung dijadikan tersangka dan siap langsung menjalani sidang dalam waktu dekat.
“Mas, ini serius mereka sudah akan langsung disidang dalam waktu dekat?” sergah Sepri berbisik-bisik karena biar bagaimanapun, ia tidak begitu paham masalah hukum.
“Iya, Pri. Harusnya enggak ada satu minggu sudah sidang,” balas mas Aidan.
“ALHAMDULLILAAAAAH!” refleks Sepri dengan suara lantang. Ia sampai sujud syukur saking bahagianya karena bisa memberikan keadilan nyata untuk Suci sekeluarga, selain Budi sekeluarga yang juga sudah langsung mendapatkan hukuman nyata.
Di lain sisi, Suci justru harus menghadapi lamaran dari beberapa lelaki yang mengetahui dirinya sudah janda. Halaman rumah ibu Manis sudah penuh sepeda motor dari satu keluarga yang siap meminang Suci, selepas Suci beres masa idah.
“Jadi, sekarang lamaran dulu, nanti kalau beres masa idah, baru langsung nikah!” ucap bapak-bapak yang berharap anak bujangnya diterima oleh Suci.
Pria bernama Rozy itu merupakan adik kelas Suci sewaktu SMA, tapi sejauh ini, Rozy mengaku belum pernah pacaran apalagi menikah karena dari dulu, Rozy sudah cinta berat ke Suci. Jadi, setelah tahu apa yang terjadi kepada Suci, kini Rozy sengaja memboyong keluarga besarnya.
“Lah ...,” refleks Suci lemas. Ia yang baru pulang kerja jadi makin lelah. Bukan hanya karena kesibukan seharian ini ditambah ia yang masih sakit, tapi juga mengenai urusannya dan Budi. Satu menit yang lalu saja, ia baru dapat mendapat kabar dari Sepri. Melalui pesan WA, pria difabel itu mengabarkan bahwa Budi sekeluarga termasuk Nurma, sudah ditangkap sekaligus ditetapkan sebagai tersangka.
Bagi Suci yang mengalami, sebagai korban KDRT dan rumah tangga sebelumnya jauh dari baik-baik saja, menikah lagi menjadi bagian dari hal mustahil dalam hidupnya. Terlebih ia memiliki Binar yang sejak dalam perut sudah diperlakukan berbeda oleh Budi sekeluarga. Hingga Suci yang sadar Binar sangat membutuhkannya memutuskan untuk memfokuskan hidupnya kepada Binar, seperti apa yang dari dulu sudah ibu Manis lakukan kepadanya.
Hanya saja, menolak pinangan jika hidup di kampung layaknya yang Suci alami, ditambah statusnya sebagai janda pasti akan dianggap sebelah mata, bukanlah perkara mudah. Bisa jadi, selain sanksi sosial khususnya dari mereka yang ditolak lamarannya, termasuk juga para tetangga yang menyaksikan, mau tidak mau pasti akan Suci dapatkan.
“Aduh, ini mohon maaf banget ....” Dengan sopan, Suci menjelaskan, dirinya sudah harus langsung kembali ke klinik karena pasien sedang membludak. Alasannya pulang karena ia harus membawa Binar untuk turut ke klinik karena Binar memang sedang demam. Satu hal yang Suci harapkan, semoga, demamnya Binar bukan karena apa yang Budi alami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
sat set Aidan
meski didunia nyata lebih sulit
2025-01-28
0
Sunarmi Narmi
Cpt banget ya prosesnya thor...kasusnya ngak ribet 🤣🤣🤣..hrsnya kan ada lidik naik ke sidik dn gelar perkara...dunia halu memang sat set das des 🤣🤣🤣😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆
2023-12-25
1
Firli Putrawan
bagus lah lgsg d boyong k vila prodeo
2023-09-01
3