Binar yang tetap bungkam, menatap sang papah dengan mata tak berdosanya. Tatapan yang sangat sulit untuk diartikan. Baik itu oleh Budi, bahkan Suci yang telah melahirkan bocah perempuan berambut panjang lebat itu. Namun, hati Suci sudah langsung teriris ketika tatapan Binar berhenti di tangan Budi dan Nurma yang terus bergandengan. Mata lebar Binar yang fokus menatap pemandangan tersebut perlahan goyah sekaligus basah. Dan perlahan tapi pasti, tatapan Binar naik menatap wajah Budi maupun wajah Nurma, silih berganti.
“Aku benci benci Bude Nurma ...,” ucap Binar dengan tampang bahkan suara yang begitu datar. Kendati demikian, dari kedua sudut mata Binar, butiran bening silih berganti hadir membasahi pipi.
Hati Suci hancur sehancur-hancurnya menyaksikan semua itu. Ia rengkuh tubuh sang putri yang awalnya duduk di boncengan motor matic-nya.
“Tabur tuai itu ada, yah Mbak ... Mas! KALIAN SAMA SAJA! Berani kalian melukai anakku lagi, Allah akan langsung balas kalian dan aku percaya, balasan itu akan jauh lebih keja*m!” tegas Suci sudah langsung tersedu-sedu memeluk Binar makin erat.
Apalagi meski air matanya terus berlinang, Binar tetap tidak mampu meluapkan emosinya. Tak ada kata karena Binar jadi sibuk bengong. Suci berpikir, mental anaknya sudah tidak baik-baik saja.
“Kita berhak bahagia ... Sayang, kita beneran berhak bahagia! Ayo kita pergi dari sini. Ayo kita bahagia dengan kehidupan baru kita!” bujuk sekaligus yakin Suci sambil mengabsen wajah maupun kepala Binar menggunakan kecupan.
Apa yang Suci lakukan sudah langsung menguras air mata sekaligus iba mereka yang ada di sana termasuk Budi. Hanya Nurma dan orang tua Budi saja yang tidak merasakannya.
“Heh, heh, apa-apaan, kamu? Ngapain kamu bawa motor itu!” kesal ibu Syamsiah lantaran Suci bersiap naik motor. Suci sudah membuat Binar membonceng di depan, dan baru saja, menantu yang sangat ia benci itu mengeluarkan kunci motor dari tasnya.
“Ini kan motor aku, Bu. Dua bulan lalu, cicilannya baru lunas!” sewot Suci yang kemudian menghela napas dalam gina meredam rasa sesak yang memenuhi dada dan telah membuatnya sakit luar biasa. “Sekalian, tolong kulkasnya dikosongkan. Televisi di ruang keluarga juga tolong diturunkan, lemari, bahkan lantai keramik di rumah ini. Itu semua aku yang beli, dan aku mau ... semuanya kembali!”
“Oh, aku lupa ... kasur di kamar Nurma juga keluarin. Itu aku yang beli juga. Make-up dan beberapa baju, sama sepatu Nurma dan anak-anaknya. Kumpulin terus bakar karena semua itu dibeli pakai uang menantu sekaligus istri yang kalian anggap sebagai pembawa si*al.”
“Heran ... katanya aku pembawa sia*l, tapi ke uangku kalian doyan!” Setelah berucap begitu, Nurma juga berkata, “Per bulan depan, aku juga bakalan stop bantu bayar listrik, bayar cicilan mobil Mas ... minta saja ke istri baru Mas. Menantu pembawa hoki kan harusnya yang kasih uang. Bukan malah menantu pembawa sia*l yang justru menghidupi kalian!” kesal Suci meluapkan segala unek-uneknya. Ia terlalu sakit hati lantaran pada akhirnya, Binar tetap dijadikan korban padahal ia sudah memberikan semuanya.
Satu hal yang ingin Suci garis bawahi. Sebisa mungkin, jika memang bisa, alangkah baiknya seorang istri memang juga bekerja. Jadi, andai sewaktu-waktu butuh apalagi mengalami apa yang ia alami, rasanya tidak akan seberat jika istri tidak bekerja dan harus memulai semuanya benar-benar dari nol. Lebih baik lagi jika seorang istri bisa bekerja dari rumah agar bisa sambil mengontrol sekaligus menemani tumbuh kembang anak. Karena meski kenyataan tersebut tetap tidak menjamin seorang istri sekaligus menantu wanita dihargai, paling tidak istri tetap memiliki “pegangan”.
“Mbak sama aku saja karena Mbak masih sakit. Nanti motornya aku ojegkin ke tetangga diantar ke klinik. Sekarang Mbak ke klinik dulu karena luka-luka Mbak beneran butuh penanganan intensif!” yakin Sepri.
Suci nurut-nurut saja karena pada kenyataannya, ia memang merasa tak karuan. Ia yang sempat mati rasa perlahan merasa sakit luar biasa atas luka-lukanya, khususnya mata kirinya.
“Aku sayang Papah ....”
Suara Binar kembali terdengar bertepatan dengan Suci yang memboyongnya dari motor. Detik itu juga Suci terdiam seiring kehidupannya yang seolah berhenti berputar. Di dekapannya, Binar ia pergoki menatap Budi.
Budi menatap gelisah sekaligus berat Binar.
“Tapi aku benci kalau Papah sama Bude Nurma!” lanjut Binar.
Mendengar itu, Suci langsung menggeleng dan buru-buru melangkah, membawa Binar pergi dari sana.
Kebersamaan di sana usai menyisakan Budi sekeluarga yang jadi bengong mirip patung. Andai Nurma tidak mengajak Budi masuk untuk membersihkan diri, tentu orang tua Budi termasuk pak Munasir yang masih duduk di tanah semenjak jatuh tadi, tidak akan ikut.
***
Dua jam menjalani perawatan di klinik, Suci juga dibingungkan dengan ke mana ia harus pulang? Suci tak mungkin pulang dalam keadaan babak belur karena demi mengelabuhi Binar agar tidak melihat wajahnya saja, Suci sengaja memakai cadar. Terlebih sampai detik ini Binar masih saja bertanya mengenai alasan mata kiri Suci terluka.
Sebenarnya Suci bisa saja jujur kepada Binar. Namun, Suci takut mental Binar makin terluka. Bagi Suci, Binar belum bisa paham. Binar belum cukup dewasa untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Dek Binar, ayo mandi sama ibu Septi. Ayo, ayo!” bujuk ibu Septi yang tak lain ibu dari Sepri.
Ibu Septi datang membujuk Binar, tapi Binar menggeleng, menolak uluran tangan ibu Septi.
“Potong bebek angsa dimasak sama Sepri. Dikasih bumbu rujak, sedap sekali. Ojan memang ganteng, Ojan kembaran mas Aidan. La la la la la lalaaaaa!” nyanyi Ojan, si pria yang penampilannya sangat cerah, secerah warna pink yang dipakai termasuk itu sandal bulu berhias lampu warna-warni yang akan menyala di setiap langkahnya lengkap dengan bunyi “cit-cit”.
“Eh, kamu. Ngapain anak kecil di ruang rawat? Nanti digigit Sepri loh!” tegur Ojan kepada Binar. Ia yang awalnya akan membuka satu gelas aromanis warna pink, berangsur memberikannya kepada Binar, setelah ia disemprot ibu Septi untuk diam.
“Sudah ambil saja kalau mau!” lirih ibu Septi berbisik-bisik. Tadi, sebelum pergi ke sawah, Sepri memintanya untuk membantu Suci mengurus Binar agar Suci bisa istirahat dengan leluasa. Namun jika melihat Binar yang diam dan sulit membuka diri kepada orang lain, ia tak yakin berhasil.
“Kamu mau es krim? Es krimnya digepluk-gepluk sama gajah. Gajahnya namanya Septi!” yakin Ojan tak lama setelah Binar menerima aromanis atau itu permen kapasnya.
Detik itu juga jemari ibu Septi berubah menjadi capit yang mencubit sekuat tenaga pinggang Oja. Pria yang sudah tampak lebih dari dewasa itu segera berteriak. Membuat seorang gadis cantik masuk sambil berlari dan tampak sangat panik. Gadis cantik bernama Sundari itu merupakan adik Sepri. Gadis lemah lembut yang juga langsung bisa mengambil hati Binar.
“Kita mandi, habis itu kita ke Alfa beli jajan!” ucap Sundari ceria sambil mengemban Binar.
“Ndari, aku kan sudah mandi!” protes Ojan benar-benar manja.
“Kamu enggak usah ikutan, Jan!” semprot ibu Septi makin gemas kepada Ojan.
Dengan santainya Ojan tersenyum kemudian melenggang enteng. Tak lupa, ia juga bernyanyi, “Mabok janda ... mabok janda, maunya sih lebih dari dua!” Ojan memisahkan diri dari kebersamaan.
“Mainnya jangan jauh-jauh, Jan!” seru ibu Septi mengingatkan.
“Mau beli pecel janda lah di pasar depan bareng mas Aidan!” lantang Ojan.
Sampai detik ini, Suci masih bisa mendengar obrolan keluarga Sepri meski ketiganya sudah ada di luar ruang rawatnya.
“Keluarga yang hangat. Andai Binar memiliki keluarga seperti ini,” batinnya yang kemudian menghela napas dalam. Bersamaan dengan itu, air matanya jatuh membawahi pipi yang kini tertutup cadar hitam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
moga Binar bisa melupakan Budi geblek paok pekok longor itu
2025-01-28
0
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
Aku yakin andai Suci lemah gk punya kekuatan... mungkin Suci udah depresi, stres, gila dan meninggal. Tapi untuk Ada Binar sang harta paling berharga, cahaya kekuatan Suci. Menjadikan ia kuat dan masih tetap Waras dan terus maju pantang menyerah tetap semangat tangguh untuk masa depan kebahagiaan Anak dan ketenteraman jiwa juga hatinya.
2024-04-27
0
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
Ya Ampun Ojan kocak banget sih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-04-27
0