Rasa puas Suci atas kemenangan seranga*n balik yang dilakukan, berbanding terbalik dengan yang dirasakan Budi sekeluarga. Budi merasa ada yang hilang, tapi itu bukan karena barang-barang di rumah orang tuanya yang berkurang drastis. Sebab tak adanya Binar di sana dan biasanya Budi asuh, membuat Budi merasa kehilangan. Budi mandi dengan kehampaan yang membuat dadanya bergemuruh, ia rindu Binar khususnya senyum bocah perempuan itu yang memang sangat cantik mirip Suci. Tiba-tiba saja, ada penyesalan yang ia rasakan, kenapa ia sampai kehilangan Suci apalagi Binar. Kenapa ia tidak bisa menahan diri untuk tidak KDRT agar keduanya tidak sampai meninggalkannya?
Di lain sisi, di kamarnya, Nurma tampak linglung. Kamarnya jadi terlihat lebih luas karena kasur busa nan empuk di sudut depan sudah Suci angkut dan berakhir dibakar. Malahan sampai sekarang, pembakaran kasurnya belum padam. Sementara di meja sebelah jendela, kosmetiknya hanya tersisa sedikit karena sebagian besarnya juga turut dibakar. Termasuk alasan lemari kamarnya dalam keadaan terbuka, kenyataan tersebut juga masih karena sebagian isinya turut dibakar. Intinya, semua barang yang ia terima dari Suci, sudah berakhir dibakar di depan rumah. Pemandangan yang juga sudah langsung menjadi tontonan sekaligus bahan gosi*p hangat tetangga maupun semua yang melihat.
Bengong, itulah yang orang tuanya Budi lakukan. Ibu Syamsiah duduk sambil bersandar pada dinding persis menghadap di mana sebelumnya televisi berada. Televisi LED dan dalam ingatan ibu Syamsiah masih menghiasi dinding di hadapannya.
“Televisi 40 inc-ku. Enggak bisa nonton gos*ip lagi. Enggak bisa nonton sinetron lagi ...,” lirih ibu Syamsiah sambil menopang dagunya menggunakan kedua tangan. Ibu Syamsiah merasa sangat kehilangan.
“Bu, ini makanan sama barang-barang yang dari kulkas enggak diberesin?” seru pak Munasir dari dapur. Kebetulan, sekadar gorden penutup pintu karena di sana tidak ada pintu pembatas, sampai Suci ambil kemudian bakar di depan dan sampai sekarang masih belum padam. Jadi, meski jarak mereka agak jauh, baik pak Munasir maupun ibu Syamsiah, bisa melihat satu sama lain dengan jelas.
“Nurmaaaa, dapur jangan lupa diberesin. Habis ini kamu juga harus cari kerja. Biar bisa bantu ekonomi keluarga!” cerewet ibu Syamsiah.
“Bantu ekonomi keluarga? Dikiranya aku pant*i sosial!” kesal Nurma dalam hatinya. “Dasar mertua cerewet!” gunjing Nurma sambil memijat-mijat kepalanya yang masih dibungkus handuk.
Nurma memang baru beres membersihkan diri dan membuat tubuhnya kembali wangi tanpa adanya aroma selokan apalagi lumpurnya yang hitam pekat lagi.
“Bud, mandinya cepet. Cari duit soalnya beras tinggal dua kilo. Dua kilo saja enggak cukup buat sehari karena perut orang sini, perut silu*man!” teriak ibu Syamsiah, untuk ke sekian kalinya. Baru dua hari ditinggal Suci yang biasanya ia minta biaya ini itu, kepalanya sudah panas, gatal, sekaligus pusing.
***
Sehari berselang, Suci yang baru pulang kerja dikejutkan oleh kedatangan Budi ke rumah ibu Manis. Tampak Budi yang memangku Binar dan kenyataan tersebut membuat Suci nelangsa. Waktu menunjukkan tepat pukul delapan malam ketika Suci memastikannya di arloji putih yang menghiasi pergelangan tangan kirinya.
“Sebo*broknya mas Budi, ke Binar dia memang cukup peduli ... sebenarnya mas Budi sayang ke Binar asal enggak dikompor-komporin sama Nurma apalagi ibu Syamsiah!” batin Suci. Namun, hati kecilnya mendadak berkata, “Kalau Budi benar-benar peduli apalagi sayang, dia enggak mungkin menod*adi hubungan kalian. Karena kalau Budi beneran sayang, harusnya dia mengedepankan kebahagiaan kalian karena biar bagaimanapun, Binar juga enggak bisa jauh dari kamu maupun papahnya. Harusnya Budi hanya fokus ke kalian, tanpa pihak lain apalagi Nurma, meski di masa lalu, Nurma dan Budi, ... mantan.”
“Iya, Budi itu bapak zalim. Kecuali kalau dia mau mengubur masa lalunya dan Nurma, kemudian fokus kepada kami. Lah ini, dia bahkan tetap tunduk ke ibunya!” batin Suci lagi sengaja mengantongi kunci motornya di kantong tas paling dalam.
Suci terlalu parno, takut Budi nekat merebut kunci motor sekaligus motornya. Karena Suci tahu, Budi kewalahan jika harus menanggung biaya hidup sendiri. Ada dua orang tua, ada Nurma, juga dua anak Nurma yang hobi makan, selain keduanya yang juga sudah sekolah. Sementara sejauh ini kita sama-sama tahu, jajan bocah termasuk anak sekolah saja tidak cukup sedikit. Belum lagi Al dan El anak Nurma, sudah terbiasa dimanja. Bukan hanya keduanya yang hobi makan dan memiliki tubuh besar mirip nangka matang. Karena efek terlalu dimanjakan hanya karena keduanya laki-lagi, keduanya sangat ceme*n alias paya*h. Apa-apa serba tidak bisa. Makan saja masih disuapi, mandi masih harus dimandikan, sementara tidur selalu ngompol jika tidak pakai popok sekali pakai. Tentu keadaan ini efek salah didik. Budaya hidup gaya padahal aslinya makan saja susah.
Budi buru-buru pergi dan tampak sengaja menghindari Suci. Suci sendiri sengaja tidak menyapa dan sudah langsung ceria setelah ia ada di hadapan Binar.
“Assalamu'alaikum Binar, Sayangnya Mamah yang cantiknya mirip Elsa?” manis Suci yang sampai detik ini masih memakai cadar.
Luka-luka di wajah Suci masih belum sembuh. Mata kirinya saja masih belum bisa melihat normal. Pandangan mata kiri Suci cenderung kabur dan tak jarang buram.
“Waalaikum salam, Mamah.” Binar menyalami tangan kanan Suci dengan takzim. Kemudian, ia sengaja menengadah.
“Eh Sayang, kalung, anting, cincin, gelang kamu, ... ini pada ke mana?” Suci mulai panik. Ada dua gelang emas, empat cincin, anting, juga kalung lengkap dengan liontin Elsa frozen kesukaan Binar. “Disimpen nini(nenek)?”
Binar yang masih menengadah hanya untuk menatap kedua mata Suci berkata, “Tadi dilepas sama Papah. Kata Papah, disimpen sama Papah, takut hilang.”
Detik itu juga tubuh Suci seolah dipanggang. Kepala Suci benar-benar panas, dan kedua tangannya refleks mengepal kencang. “Mas BUDIONO balikin perhiasan anakku!” jerit Suci sudah langsung histeris. Ia refleks lari menyusul Budi yang ia pergoki sudah nyaris sampai motor bebek hitam tak jauh dari motornya.
Ibu Manis yang kebetulan sedang memasak sup ayam dan awalnya akan mencicipi rasa supnya, buru-buru urung kemudian mematikan kompornya. Ia melangkah buru-buru keluar dan bermaksud memastikan lantaran suara Suci terdengar sangat emosi memanggil nama Budi.
“Dasar Bapak zalim, balikin perhiasan anakku!” kesal Suci. Dengan cekatan ia merebut kunci motor Budi yang baru pria itu masukkan ke lubang kunci. Kenyataan yang sudah langsung membuat Budi menatapnya murka.
“Balikin kunci motornya!” tuntut Budi.
Ibu Manis yang akhirnya keluar, buru-buru membawa Binar masuk. Ia sengaja mengunci Binar di kamar, sementara ia buru-buru keluar demi melerai Budi dan Suci yang sama-sama keras di halaman depan.
“Balikin dulu perhiasan anakku!” tegas Suci lirih sekaligus bergetar saking emosinya.
Plaaaak!!
Tamp*aran panas menjadi balasan dari tangan kanan Budi ke pipi kiri Suci hingga Suci langsung sempoyongan. Sementara ibu Manis yang melihat semata-mata dari depan pintu sudah langsung histeris sambil buru-buru lari
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
sudahlah Suci kandangkan saja siBudi bejat itu cepetan lapor ke polisi
2025-01-28
0
Ida Ulfiana
ya alloh bapak gendeng setan bener tu laki
2024-05-16
0
Nurmiati Aruan
bapak duraleks ini
2024-02-09
1