“Iya, ... asal Binar cepat sembuh, apa pun itu pasti Papah kasih buat Binar,” ucap Budi yang kemudian hendak mengemban Binar lagi.
Karena sebob*rok-bobroknya Budi, rasa sayang kepada Binar memang ada meski jika sudah ada Nurma dan ibu Syamsiah, rasa sayang itu akan goyah. Sepanjang menjaga Binar dari dini hari hingga siang saja, Budi hampir selalu memangku atau malah mengemban Binar. Membawanya mengobrol, tak kalah lembut dari cara Suci memperlakukan Binar. Alasan yang juga membuat Binar sayang kedua orang tuanya.
“Binar enggak mau Papah Mamah sedih-sedih. Binar enggak mau Mamah nangis lagi.”
“Iya ...,” sanggup Budi masih lembut sambil menimang Binar, tapi karena kalimat terakhir Binar, ia refleks melirik sengi*t Suci yang ada di belakang sana dan sampai detik ini masih menangis. “Apaan, sih? Yang sudah ya sudah, enggak usah diperpanjang. Kamu yah, dari dulu memang yang selalu jadi gara-gara!” hardi*knya lirih saking kesalnya. Seolah Suci tidak memiliki hati, seolah wanita itu mati rasa dan tak pernah terluka setelah semua yang terjadi. Lagi-lagi ia memak*sa Suci menjadi istri sempurna, meski yang wanita itu terima hanya air mata pernikahan.
Sebenarnya, alasan Budi mati rasa kepada Suci tak semata karena luka KDRT yang ia lakukan membuat wajah Suci tak lagi cantik. Wajah Suci yang sekarang tak lebih menarik dari mons*ter. Bu*ruk rupa, hingga yang ada ia jadi jiji*k, bahkan meski Suci sudah menutupinya menggunakan cadar. Sebab kenyataan Nurma yang sudah menjadi manager dengan gaji dan bonus fantas*tis, membuatnya merasa memiliki Nurma sebagai satu-satunya istri sudah lebih dari cukup. Hanya saja, demi Binar, Budi terpak*sa menerima Suci, asal Suci masih mau menjadi penopang ekonomi juga layaknya sebelumnya.
Budi berpikir, memiliki dua istri berpenghasilan besar, akan membuat hidupnya sangat bahagia. Namun, Binar meminta Budi membawa mereka pindah dari rumah orang tua Budi, selain Binar yang meminta Budi jauh-jauh dari Nurma karena Binar benci Nurma.
“Aku benci bude Nurma. Aku benci semua yang membuat Papah Mamah, khususnya yang membuat mamah menangis!” tegas Binar dan detik itu juga membuat Budi mlongo.
Budi refleks terduduk lemas di pinggir tempat tidur.
“Ya Allah, sadarkanlah mas Budi. Buatlah dia lebih mementingkan Binar. Hamba mohon biarkan Binar mendapatkan semua permohonannya!” batin Suci sambil terpejam pasrah dan perlahan menunduk dalam.
Sampai detik ini, Suci masih belum bisa menyudahi tangisnya. Karena sebelum Binar baik-baik saja, selama itu juga ia belum bisa tenang.
Walau berat, Budi menyanggupi, tapi Budi berdalih belum bisa pindah rumah karena belum punya uang. Susah payah Budi meyakinkan karena meski pendiam, Binar sangat pintar. Budi hanya berniat mengelabuhi Binar maupun Suci yang ia yakini akan mau-mau saja, terlebih Binar memang tidak bisa jauh darinya.
“Besok kita pulang, tapi pulangnya ke rumah mbah dulu. Nanti kalau Papah sudah punya uang buat beli rumah, baru kita pindah. Lagian, Papah harus fokus cari uang buat sekolahnya Binar. Kan sebentar lagi, Binar harus sekolah.”
“Makanya Papah enggak usah kasih-kasih ke bude Nurma, mas Al, dan El, termasuk kasih Mbah. Sudah biarin mereka suruh kerja biar dapat uang. Mamah sama Papah saja kerja, masa mereka enggak?” protes Binar.
Seperti yang Budi yakini, Binar itu cerdas. “Malahan kalau aku enggak jaga-jaga, yang ada Binar bisa benci ke aku!” batinnya mulai takut.
“Mereka ....” Budi mencoba memberi alasan.
Namun Binar sudah lebih dulu berkata, “Kalau kita belum bisa pindah, suruh bude Nurma dan mas Al El, yang pergi!” tegas Binar penuh penekanan sekaligus bergetar. Tak kunjung disanggupi permintaannya, membuat rasa kesal membuncah.
Iya, Binar merasa sangat kesal. Binar kecewa, alasan yang seketika membuatnya berteriak histeris sambil menangis. Mereka yang awalnya diminta menunggu di luar, sampai panik dan buru-buru masuk.
“MASSSSS, ANAKKU SUDAH ENGGAK BAIK-BAIK SAJA! JIWA DAN MENTALNYA SUDAH ENGGAK BAIK-BAIK SAJA MASSSA! KOK TEGA-TEGANYA KAMU KE DARAH DAGING KAMU!” Suci tak kalah histeris. Cadarnya sudah sampai basah sementara kedua tangannya yang mengepal, sudah memu*kul-muk*ul Budi.
Ibu Manis juga tak kalah histeris, terduduk lemas di sebelah pintu lantaran tak sanggup melihat keadaan sang cucu yang terus melotot ke atas di tengah air mata Binar yang terus berjatuhan. Iya, Binar memang tak lagi menangis, tapi bocah itu sesak napas dan tak lagi bisa bersuara. Tubuhnya sudah biru, menegaskan Binar memang sudah tidak baik-baik saja.
Suasana benar-benar mencekam, mirip agenda pertemuan keluarga dengan jenazah karena kecelaka*an bahkan pembunu*han.
“Budi kamu beneran tetap egois enggak mikir begini?!” Sepri marah-marah dan tak lagi bisa mengontrol diri. Ia mencengkera*m baju bagian dada Budi dan sampai mengangkatnya.
Ibu Septi membiarkan putranya karena ia sendiri sudah sangat emosi. Ia sengaja membantu sang suami mengamankan Binar, memberinya pertolongan. Dokter Andri sudah memerintahkan perawatnya untuk mengambilkan oksigen.
“SUDAH, ENGGAK USAH POLISI-POLISIAN. LEBIH BAIK KAMU MAT*I DARIPADA HIDUP TAPI ENGGAK BERGUNA, BAHKAN BUAT ANAK KAMU SENDIRI!” tegas Sepri yang detik itu juga sudah langsung menyeret Budi keluar.
“Oke, ... oke. Oke aku akan menuruti semua kemauan Binar. Aku akan meminta Nurma keluar dari rumah!” tegas Budi berusaha mengakhiri ulah Sepri.
Namun, Sepri yang telanjur emosi sudah langsung melempar sekuat tenaga tubuh Budi hingga menghan*tam pintu ruang rawat Binar.
Semua yang ada di sana sama sekali tidak ada yang peduli kepada apa yang menimpa Budi. Semuanya telanjur kecewa. Bahkan andai Sepri benar-benar membun*uh Budi, mereka justru ikut merasa lega karena andai bisa, itu juga yang ingin mereka lakukan.
“Astaga si Sepri ... andai kamu enggak punya kartu AS aku dan kamu bisa jeblosin aku ke penjara lagi, sudah habis kamu!” batin Budi yang kemudian berpikir, “Aku harus membuat mereka yakin seyakin-yakinnya. Urusan Nurma harus keluar dari rumah, ini masalah kecil. Nurma bisa tinggal di rumah orang tuanya dulu, atau malah mengontrak karena sekarang saja gaji Nurma sudah besar. Semuanya cukup sandiwara dan kami tetap bisa berhubu*ngan.”
Budi berangsur bangkit di tengah kenyataan punggung sekaligus pinggangnya yang sakit luar biasa akibat ulah Sepri. Ia sampai jadi tongkok karena luka-lukanya.
“Katakan, apa keputusanmu?!” tegas Sepri dengan suara sangat lirih saking geregetannya.
Budi menghela napas dalam kemudian menatap Sepri penuh kepasrahan. “Baiklah, ... demi Binar, apa pun itu akan aku lakukan! Sumpah, aku sayang banget ke Binar!”
“Akhiri hubunganmu dengan Nurma!” tegas Sepri sengaja menuntut.
Budi yang masih menatap pasrah Sepri berangsur mengangguk. “Baiklah, saat pulang juga aku akan menceraikan Nurma!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
serahkan ajalah itu Binar pekok itu ke Budi papah yg paok bejat jebat itu
2025-01-28
0
Kamiem sag
halah!!
sak karepmu ngurus Binar paok itu Suci
2025-01-28
0
Salwa Antya
kasian binar
2024-04-29
0