“Besok juga, setelah kami sampai rumah, ... aku akan menceraikan ... Nurma!” tegas Budi masih membuat Sepri percaya.
Karena Sepri masih menatapnya tak percaya, Budi segera meninggalkannya. Sempoyongan ia melangkah menghampiri Binar. Ia sengaja memeluk Binar kemudian mengangkatnya.
“Binar Sayang ... Binar Sayang ini Papah, Sayang. Dengerin Papah, Papah janji akan kabulin semua permintaan Binar, asal Binar sembuh. Asal Binar enggak sakit-sakit lagi. Papah beneran janji!” yakin Budi berbisik-bisik di telinga kanan Binar. Kemudian, ia sengaja menge*cup kening sang putri penuh cinta sekaligus sangat lama.
Semua yang ada di sana, termasuk Sepri tahu, wanita seperti Suci tidak mungkin keinginan yang lebih penting dari membuat sang putri baik-baik saja sekaligus bahagia. Semuanya yakin, bagi Suci Binar segalanya. Suci akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Binar. Dan mereka juga yakin, kenyataan tersebut juga turut diketahui Budi sekaligus semua yang kenal Suci. Termasuk juga keluarga Suci bahkan Nurma yang nantinya akan kembali menjadi lingkungan Suci dan Binar, andai Suci dan Budi rujuk.
Jadi, demi keamanan bersama, demi keadilan sekaligus melindungi hak Suci dan Binar, Sepri sengaja mengajukan surat perjanjian.
“Harus ada hitam di atas putih dan dikuatkan dengan materai!” tegas Sepri.
Mendengar itu, Budi sudah langsung mende*sah karena terlalu emosi. “T-tolong dong, enggak usah ikut campur rumah tangga kami. Kamu sengaja mau menghanc*urkan rumah tangga kami?!”
“Eh Budi! Kamu belum pernah merasakan rasanya diserud*ug sekaligus diban*ting kekuatan gajah rasa banteng, ya?!” kesal ibu Septi sambil menatap marah Budi. Ia sudah langsung pasang badan dan siap melindungi Sepri. Tak terima rasanya anaknya dari tadi dima*ki-ma*ki Budi.
Budi sudah langsung kicep. Yang ia tahu, selain memiliki kuasa karena keluarga Sepri memang kaya, sampai detik ini bahkan nanti, yang namanya kekuatan ibu-ibu memang tidak akan ada tandingannya. Itu yang baru Budi tahu dan sudah langsung membuat Budi tidak bisa melawan. Apa kabar jika Budi tahu kekuatan gajah rasa banteng ibu Septi, yang akan langsung membuat lawannya stroke setelah merasakan serudugan sekaligus banti*ngan wanita itu?—baca novel : Pembalasan Seorang Istri yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga.
“Aku setuju. Benar kata Mas Sepri. Harus ada hita. di atas putih lengkap dengan materai. Kita bisa minta bantuan mas Aidan biar itu dikuatkan dengan hukum.” Suci yang tak mau terus-menerus ditindas juga ingat status Budi yang bisa kapan saja kembali masuk penjara. “Biar sekalian disangkutkan dengan kas*us sebelumnya.”
Tanpa menunggu lama, Seperi segera berkata, “Hari ini juga sudah langsung diurus!”
“Siii*al!” batin Budi refleks mendengkus sinin.
Budi kalah telak bersama bibirnya yang terkunci rapat. Ia memilih diam, memeluk Binar penuh kehangatan.
Demi Binar, Suci dan Budi sepakat rujuk, terlebih belum ada kata talak dari Budi. Budi juga berdalih benar-benar akan menceraikan Nurma, sekaligus meminta Nurma keluar dari rumah.
Keputusan Budi cukup mengobati luka-luka Suci, terlebih Budi mau rujuk atas kesepakatan yang mereka tanda tangani. Yang mana dalam surat tersebut menegaskan, Budi tidak boleh KDRT lagi dan harus fokus menyayangi Binar.
“Suhu tubuh Binar baru turun,” ujar Suci yang masih duduk berhadapan dengan Budi. Kebersamaan mereka hanya dipisahkan oleh ranjang rawat Binar berada.
Budi sudah langsung kebingungan dan tak berani menatap Suci lantaran alasan ponselnya berdering lama karena telepon dari Nurma.
“Nurma? Mas yakin, enggak mau blokir nomornya?” lanjut Suci main halus. Tampak Budi yang makin salah tingkah sekaligus berat karena tidak rela. Kenyataan yang membuat Suci makin yakin, yang membuat ponsel Budi terus berdering memang Nurma.
“Harusnya mas Aidan masih di depan,” ucap Suci yang kali ini sengaja menggertak Budi.
Suci baru saja berdiri, seolah dirinya akan pergi dari sana, tapi Budi sudah buru-buru menyusul sambil berucap lantang, “Oke, aku langsung blokir nomornya!”
Suci tetap beranjak dari duduknya, tapi itu bukan untuk keluar dari ruang rawat Binar kemudian menemui mas Aidan. Ia sengaja menghampiri Budi, memastikan pria itu benar-benar memblokir nomer Nurma.
Sementara itu, di tempat berbeda, Nurma yang tengah berteduh di teras alfa demi menjalani sandiwara pekerjaan halunya, langsung uring-uringan. “Oh a*su! Bang*sat, malah diblokir! Ini mas Budi kenapa sih? Dia pasti sudah dipengaruhi oleh Suci! Ayolah, aku belum makan apalagi tadi lupa sarapan. Aku sengaja pergi pagi buat menghindari drama pekerjaan rumah yang enggak ada habisnya biar dikerjakan oleh ibu Syamsiah. Eh, ini malah gini!” batin Nurma.
Terpikir oleh Nurma untuk menghampiri Budi ke klinik Suci bekerja selaku tempat Binar dirawat. “Iya, gitu saja ya. Toh, dari dini hari sampai hampir sore gini ....” Namun dalam sekejap, Nurma juga berubah pikiran. “Kalau aku ke sana dan itu sekarang, yang ada mas Budi curiga, masa manajer jam segini sudah berkeliaran?” batin Nurma nyaris kecolongan sandiwaranya sendiri.
Memulai semuanya dengan kebohongan membuat Nurma harus mengingat setiap kebohongan yang ia citakan, agar ia tidak salah langkah dan menghanc*urkan kebohongan sendiri.
Ketika Nurma harus susah payah menahan lapar bahkan haus di teras alfa karena sandiwaranya, tiba-tiba saja, ia diberi uang dua ribu oleh salah satu orang yang beres parkir.
“Eh, ini aku dikira tukang parkir apa yah? Padahal kan aku sudah pakai kemeja, jas, sepatu mirip wanita kantoran gin,” batin Nurma yang memutuskan untuk menerima uangnya.
“Pas sekolah pasti otak kamu transmigrasi, makanya sekarang rapi-rapi jadi tukang parkir! Hahahaha!” ucap si pria bersepatu bulu warna pink berbunyi cit-cit, selaku pemberi uang dua ribu kepada Nurma.
“Ojan dilawan ...!” celetuk si pria sebelum ngebut meninggalkan Nurma.
“Bangk*e tu orang!” umpa*t Nurma lirih. Namun, ia jadi kepikiran untuk jadi tukang parkir saja di sana, agar ia bisa terbebas dari pekerjaan IRT sekaligus segala titah ibu Syamsiah yang tak kuasa Nurma bantah.
Di rumah, ibu Syamsiah masih mengucek pakaian di kamar mandi. Kebetulan, wanita cerewet bin egois itu tengah mengucek daster Nurma.
“Ualah mantuuuuu-mantu ... a—su! Masa iya mertua yang malah nyuciiin pakaianmu. Untung kamu manajer yang gajinya bikin ngil*er. Kalau kamu cuma tukang tandur apalagi tukang parkir, uuuuwaaasuuuuu, wuuuaaasu!” teriak ibu Syamsiah merasa sangat ngenes. Ia susah payah berjuang merampungkan pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya. “Dari pagi sampai mau sore, semuanya koto*r semua. Duh Suci, kamu lagi gob*log ngapain sih pergi dari sini. Bikin hidupku susah saja!”
Seharian ini, keadaan Binar membaik. Namun selama itu juga, Binar selalu minta kedua orang tuanya untuk dekat-dekat sekaligus romantis.
“Jangan buka cadarmu karena wajah kamu bikin jij*ik! Mana bau amis kor*eng gini!” bisik Budi ketika terpak*sa memeluk Suci.
Detik itu juga kedua mata Suci berembun sekaligus terasa sangat panas. Dari sana seolah ada cairan yang nyaris jatuh di tengah dadanya yang bergemuruh.
“Ternyata Mas Budi jadi lebih parah. Cukup tahu saja,” batin Suci. Demi Binar, ia akan main cantik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
mampuslah Suci masih mau rujuk demi Binar paok itu
2025-01-28
0
bibuk duo nan
hahahaaa ojan dilawan 🤣🤣🤣🤣
2024-08-07
0
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
hahahahaha rupanya Ojan yg datang 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-04-27
0