“Kamu jangan kurang aj*ar, ya! Di rumah orang yang sopan! Mau, kamu saya teriaki ma*ling lagi, atau malah saya laporkan ke polisi?!” ucap ibu Syamsiah. Ia sengaja melakukan apa pun untuk menghindari Suci yang ia yakini benar-benar akan mengambil semua yang kemarin Suci sebutkan. Kali ini, ia juga tak segan mendorong keling Suci sekuat tenaga menggunakan tangan kanannya.
Suci jadi agak sempoyongan karenanya, tapi dengan cepat, Suci kembali berusaha menerobos pintu.
“Maaf Ibu Syamsiah, tapi tolong mohon kerja samanya karena apa yang akan Mbak Suci lakukan juga bagian dari kesepakatan sekaligus sidang kemarin. Sementara saya, selaku ketua RT di sini sengaja mengawasi agar mbak Suci mendapatkan haknya. Jadi, jika yang ada ibu Syamsiah justru menghalang-halangi begini, tentu saja apa yang ibu Syamsiah salah besar.”
Apa yang pak RT katakan sudah langsung membungkam seorang ibu Syamsiah. Antara malu sekaligus sangat kesal, selain ibu Syamsiah yang tentu saja tidak rela jika harus membiarkan semua yang pernah Suci beli dan di taruh di sana, diambil lagi. Selain otomatis ia jadi tak punya, ia juga tak memiliki uang lebih untuk membeli sekaligus mendapatkan gantinya.
Beberapa saat kemudian, ibu Syamsiah mundur dengan lemas menyandar pada pintu. Jangankan berucap membalas pak Rt apalagi mempersilahkan masuk khususnya mempersilahkan masuk Suci, sekadar menatap wajah-wajah di sana sana, ia tidak melakukannya.
Suci segera masuk karena ia tidak memiliki banyak waktu. Dadanya sudah langsung bergemuruh ketika mendapati pintu kamar Nurma masih tertutup rapat. “Mbak Nurma, aku mau angkut terus bakar semuanya. Kasur, kosmetik, pakaian, tas, semua yang aku kasih pakai uangku, mohon dikumpulkan!” teriak Suci yang kemudian masuk ke kamarnya. Kamar yang sebenarnya tidak begitu jauh dari kamar Nurma. Kamar mereka hanya dipisahkan oleh sebuah kamar dan itu ditempati oleh kedua anak laki-laki Nurma.
Di kamar, Nurma yang sebenarnya mendengar teriakan Suci hanya mendengkus, menganggapnya sebagai angin lalu. Ia sengaja mendekap erat Budi yang masih meringkuk sambil memeluknya dari depan. Ia sungguh tak mau ambil pusing dan memilih tidur lagi.
Padahal, di kamar bekas Suci tinggal, Susi sudah dengan cekatan mengeluarkan ransel dari lemari plastik yang ada di sana. Suci hanya memboyong barang-barang miliknya dan Binar tanpa memboyong milik Budi.
Tak sampai lima belas menit semuanya masuk ransel termasuk beberapa mainan Binar. “Pak RT, tolong bantu saja angkat kasur ya. Ini berat, jadi harus gotong royong,” ucap Suci yang langsung dilirik sinis oleh ibu Syamsiah.
Ibu Syamsiah masih bertahan di depan pintu sambil bersandar lemas di sana.
“Ibu, kulkasnya sudah dikosongin?” tanya Suci lantang tapi masih terbilang sopan.
“Kamu yah, Ci. Apa-apa diambil!” kesal ibu Syamsiah.
“Aku kan hanya mengambil hakku, Bu. Aku enggak maling apalagi nahan-nahan barang milik orang!” balas Suci.
“Wuanjirrrr lambemu, Ci!” refleks ibu Syamsiah. Kebiasaannya selama ini tentu akan mudah spontan ia lakukan karena yang namanya kebiasaan memang sangat sulit ditinggalkan. Tak kalah sulit dari lari dari kenyataan. Namun sungguh, tanggapan Suci yang menyebut wanita itu tidak menahan-nahan barang milik orang lain, membuat ibu Syamsiah merasa sangat tersinggung.
Kemudian, Suci meminta bantuan semuanya untuk memboyong televisi, kulkas, kompor lengkap dengan LPG, setelah pakaian maupun barang-barang Binar, dan juga kasur di kamarnya sudah diboyong naik ke mobil.
“Astagfirullah ...,” lirih Suci sambil geleng-geleng menatap pintu kamar Nurma yang tetap tertutup rapat, padahal suasana di sana terbilang ramai. Belum lagi ketika suara cempreng ibu Syamsiah teriak-teriak mengeluhkan segala sesuatunya.
Suci yang tak memiliki banyak waktu sengaja menggedor sekuat tenaga pintu kamar Nurma. Toh sebelumnya, ia sudah bicara baik-baik. Bahkan harusnya semua barang yang ia beri sudah disisihkan mengingat kemarin, ia sudah wanti-wanti. Buktinya, pak RT dan warga saja sudah langsung sigap mengawasi apa yang kini terjadi.
“Nurma kamu kebangetan banget ya. Enggak mikir sudah siang belum bangun juga! Lagi belajar mati apa bagaimana, hah?!” teriak ibu Syamsiah dari depan pintu sana.
Semua orang yang dibawa Suci ke sana, termasuk Suci sendiri, sudah langsung geleng-geleng atas ulah ibu Syamsiah.
“Pak RT, Pak RT ... ini saya mau tanya, mereka sudah ijab kabul lagi, belum? Kalau sampai belum, dan mereka tetap tidur bareng, jatuhnya zi*na bahkan kumpul k*ebo, kan?” ucap Suci benar-benar muak pada Budi dan Nurma.
Apa yang Suci katakan barusan membuat semuanya termasuk ibu Syamsiah menyadari, benar, hubungan Budi dan Nurma wajib diprose*s lantaran yang mereka tahu, termasuk ibu Syamsiah, memang belum ada pernikahan ulang bahkan sekadar ijab kabul ulang.
Sekitar lima menit kemudian, setelah ditegur langsung oleh pak RT, akhirnya Budi keluar dari kamar. Kedua mata Budi masih merem melek dan terlihat jelas pria itu baru bangun tidur. Budi hanya memakai sarung tanpa kaus lain, bahkan itu kaus da*lam yang sangat tipis.
“Mas, terlepas dari hubungan Mas dan Nurma, kemarin kita sudah sepakat, kan?” ucap Suci. “Barang-barang yang aku minta, sudah diberesin belum?!” kesal Suci.
Budi yang jika dalam keadaan santai saja gampang emosi, sudah langsung kesal karena apa yang Suci ucapan. Terlebih baru bangun tidur, di sana sudah banyak orang dan lagi-lagi Suci membuatnya jadi bahan tontonan.
Segera Budi menarik sebelah tangan Suci yang sampai detik ini masih memakai cadar untuk menutupi wajahnya yang babak belur. Budi membawa Suci masuk ke kamar kemudian buru-buru menguncinya.
“Ci, kamu ya kayak anak kecil. Semuanya bisa diselesaikan dengan baik-baik, Ci! Jangan bikin malu! Kamu melarang kami mengusik Binar, tapi caramu ini yang justru bikin Binar malu! Kamu enggak mikirin apa kata orang!” tegas Nurma sambil memakai pakaiannya. Ia masih duduk di pinggir tempat tidur yang terbilang berantakan.
“Enggak usah bahas apa pun, cukup kasih apa yang aku mau jika kalian memang punya urat malu!” tegas Suci yang menatap sengit Nurma, kemudian berganti pada Budi, meski hanya mata kanannya saja yang melakukannya.
Tangan kanan Budi sudah langsung terangkat disertai wajah Budi yang sangat emosional. Tangan Budi yang terbilang kekar, sampai gemetaran—menandakan bahwa pria itu sangat marah.
“Tampar, Mas. Tampar! Karena sekali lagi saja kamu berani tampar dan di luar juga ada orang buat jadi saksi, ... kamu benar-benar akan berurusan dengan polisi!” tegas Suci geregetan. Ia juga sengaja mengeluarkan surat perjanjian sidang mereka kemarin. Surat perjanjian yang di dalamnya berisi peringatan andai Budi berani melukai Suci lagi.
Detik itu juga tangan kanan Budi yang gemetaran perlahan turun. Kali ini Budi benar-benar kalah. Termasuk Nurma wanita yang telanjur dicap jel*ek oleh warga. Dan kobaran api dari tempat tidur Nurma, pakaian, tas, juga kosmetik yang dibakar di depan rumah Budi oleh Suci dan juga warga di sana, menjadi kemenangan dari se*rangan balik yang Suci lakukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
aku se7 gayamu Suci
2025-01-28
0
Al Fatih
pembalasan yg mantul ci
2024-06-21
0
Ida Ulfiana
semoga suci tetep jd wanita hebat
2024-05-16
0