Pulang menjadi keputusan Suci setelah seharian penuh menjalani infus sekaligus pengobatan. Suci merasa, dirinya harus lebih kuat dari baja sesulit apa pun cobaan yang menimpanya. Karena demi Binar, demi kebahagiaan yang lebih baik, Suci sungguh harus bangkit menjadi Suci yang lebih baik.
“Biar aku antar, Mbak!” yakin Sepri yang memang dipamiti secara langsung oleh Suci.
Di depan teras rumah kediaman orang tua Sepri yang halamannya sangat luas dan sekelilingnya merupakan kontrakan sekaligus pohon buah, hingga keadaan di sana sangat asri cocok untuk bertamasya, kebersamaan itu terjadi.
Suci menggeleng. “Enggak perlu Mas Sepri. Tugas Mas benar-benar sudah selesai. Sekali lagi, makasih banyak karena Mas sudah mau bantu. Maaf juga kalau saya salah apalagi bikin repot.”
Sepri yang sadar diri, dirinya tak lebih dari orang yang telah membantu Suci, tak memiliki pilihan lain selain membiarkan Suci dengan keputusan yang diambil. Meski jujur saja, Sepri sangat khawatir terlebih ketika ia melihat wajah tak berdosa Binar, khususnya tatapan Binar yang terlihat jelas menahan banyak tanya sekaligus luka.
Setelah terdiam cukup lama menatap kedua mata Binar, Sepri berkata, “Mbak ada simpan nomor saya, kan? Langsung kabari saya kalau memang Mbak butuh bantuan.”
Suci berangsur menggeleng. “Enggak, Mas. Saya enggak punya nomor ponsel Mas.”
“Sini, aku minta nomornya biar aku simpan di lator-lator!” ucap Ojan yang kebetulan datang sambil memencet-mencet kalkulator.
Detik itu juga Sepri menghela napas pelan sekaligus dalam, sambil menunduk dan terpejam. “Jan, tolong, ... jangan iklan. Sana masuk ke rumah!” ucapnya lirih karena tak mau marah-marah.
“Aku lagi cari sinyal, Sepri. Ini dari tadi enggak bisa buat SMS apalagi telepon!” ucap Ojan masih sibuk mondar-mandir sambil memencet-mencet semua tombol di kalkulatornya.
Suci yang belum tahu rahasia lator-lator antara Ojan dan Sepri, sudah langsung bingung. Apalagi ketika akhirnya Ojan mendekat, meminta diajari cara mengirim pesan sekaligus telepon.
Suci yang menatap sungkan Sepri, dan sadar Ojan memiliki pikiran kurang penuh, berinisiatif memberi pengertian. Terlebih Suci yakin, seharian bekerja di sawah dan sampai membuat kulit Sepri makin gosong, membuat pria yang sudah menolongnya itu sangat lelah.
“Mas Ojan, ... ini, kan ...,” ucap Suci yang sudah langsung ditahan Sepri.
“Sudah, Mbak, biarin saja. Ojan memang kebiasaan. Ya sudah, saya antar sampai depan,” sergah Sepri.
Sepri memang berdalih mengantar hingga depan. Namun setelah memastikan Suci.membonceng Binar di depan dan wanita itu benar-benar pergi, Sepri yang tetap memakai sarung sekaligus kaus dalam warna putih, juga menyusul menggunakan motornya.
“Heh, Sepri! Kamu mau pergi ke mana? Pede banget cuma pakai sarung!” teriak Ojan yang sampai melepas kepergian Sepri hingga depan gerbang rumah. Namun pada akhirnya, ia kembali memencet-mencet kalkulatornya.
“Loh, ... Mas Sepri ikut?” batin Suci yang diam-diam mengawasi dari kaca spionnya. Perhatian Sepri benar-benar membuatnya tidak enak. Ia merasa sudah sangat merepotkan.
Kedatangan Suci ke rumah orang tuanya langsung disambut tangis. Ibunya yang seorang janda dan tampak ringkih, tersedu-sedu menahan pintu kayu bercat keemasannya.
“Ini kenapa sampai begini?” tanya ibu Manis, selaku wanita yang telah melahirkan Suci. Karena meski baru melihat luka di mata kiri Suci, ia yakin alasan sang putri sampai memakai cadar karena sengaja menutupi luka yang lain.
Suci yang sadar Sepri masih mengawasi dari motor di depan sana, sengaja menggiring sang ibu masuk sambil tetap mengemban Binar. Suci sengaja tidak menoleh ke belakang agar tidak melihat Sepri.
Ibu Manis yang sudah bisa mengira apa yang terjadi, tersedu-sedu dan menggunakan kedua tangannya untuk membekap wajah. Ia memilih pergi masuk ke kamarnya dan mengurung diri di sana. Ia duduk di pinggir amben biasa ia tidur seiring ingatannya yang memutar kejadian masa lalu. Ketika dirinya yang masih berusia sekitar dua puluh akhir, dipuku*li tanpa henti oleh sang suami sampai berdarah-darah, di hadapan Suci kecil. Dan ibu Manis yakin, hal yang sama telah terjadi pada Suci dan Binar. Kenyataan yang sungguh membuat dadanya sakit. Hati dan jantungnya seolah diremas hingga tak berupa lagi.
Sekitar satu jam kemudian, Suci yang memangku Binar di kamarnya, didatangi oleh sang ibu.
“Kamu mau makan mi apa nasi goreng? Ibu mau masak sekalian ....” Tentu ibu Manis hanya basa-basi. Terlebih biar bagaimanapun sebagai seorang ibu sekaligus orang tua tunggal untuk Suci, ia merasa gagal atas luka-luka yang Suci dapatkan.
“Bu, ... maaf, ya?” lirih Suci seiring hatinya yang berkedut dan terasa sangat nyeri. Ia yang masih membiarkan sebagian besar wajahnya tertutup cadar, memberanikan diri menatap wajah khususnya kedua mata ibu Manis. “Aku ... memilih cerai.”
Belum apa-apa, tubuh ibu Manis mendadak gemetaran dan perlahan terguncang pelan mirip menggigil akibat tangis yang ditahan.
“Ayahnya Binar sudah menikah lagi. Dengan Nurma. Aku ikhlas ....” Benar-benar berat. Karena selain merasa sangat bersalah, ia juga merasa berdosa kepada sang ibu. Sebab tak bisa ia pungkiri, perceraiannya menjadi beban luar biasa untuk sang ibu. Namun mau bagaimana lagi?
“Selin*gkuh dan KDRT memang penyakit. Iya ... iya, memang lebih baik cerai!” ucap ibu Manis sambil mengangguk-angguk hingga air matanya berjatuhan secara bersamaan. “Tapi Binar bagaimana?” sergahnya sangat paham keadaan sang cucu yang tidak bisa jauh dari bapaknya. Persis seperti masa kecil Suci.
“Bismillah, Bu!” ucap Suci sambil menahan tangis. Ia berangsur menunduk, membuatnya berhadapan dengan wajah Binar yang sudah lelap. Yang mana butiran bening dari kedua sudut matanya, berjatuhan di sana. Karenanya, jemari kedua tangannya buru-buru mengelapnya.
Lain dengan Suci, ibu Manis yang tak tahan dan tak mau meluapkan kesedihan sekaligus kehancurannya akibat Suci, memilih buru-buru pergi. Ia memilih meluapkan tangisnya di dapur rumah semi permanen miliknya yang sangat terjaga kebersihannya.
“Ya Allah, perlancarlah niat baik hamba!” batin Suci masih sibuk menyeka air matanya sambil memandangi wajah Binar. Wajah yang membuatnya teringat pada Budi dan semua kisah pria itu dalam hidupnya. Dari yang awalnya sangat manis, hingga menjelma menjadi sosok Budi yang sangat kejam. Terakhir, tentu saat pria itu menegaskan akan menikahi Nurma sekaligus menggelar resepsi mewah.
Keesokan harinya, pagi-pagi buta, Suci sudah menggedor pintu rumah orang tua Budi. Ia membawa tetangga untuk menemaninya memboyong semua barang-barangnya. Semua yang ia beli menggunakan uangnya. Sebuah mobil pick up juga sudah Suci siapkan untuk mengangkut.
“Kamu lagi!” kecam ibu Syamsiah.
“Saya datang bersama pak RT dan bu RT berikut warga buat ambil barang-barang saya!” tegas Suci sampai detik ini masih memakai cadar demi menyembunyikan luka-lukanya dari Binar.
“Ambil barang-barang ... kamu, bagaimana?” tanya ibu Syamsiah dengan nada suara turun drastis, padahal ia tahu, barang-barang apa saja yang akan Suci boyong. Karenanya, ia buru-buru mencoba menutup pintunya, meski dengan cepat, Suci langsung menahannya menggunakan kedua tangan sekaligus tubuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
Syamsiah kismin tapi lagaknya pas iblis betina
Astagfirulloh
2025-01-28
0
Nartadi Yana
kere aja berlagu emang keluarga Budi
2024-11-08
0
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😂😂 maklumin aja Ojan... Sepri lagi tumbuh benih cinta dan lagi kesemsen istri orang yg ntar bakalan jadi janda.. jadi lali oleng segalanya.. gk sadar cuma pakai sarung dan singlet. 🤣🤣🤣🤣😅😅😅😅😂😂😂
2024-04-27
0