Mas Aidan sengaja datang ke kantor polisi. Pria itu menemui Budi secara langsung.
“Saya ingin tanya, ... kamu sayang sama anak kamu?” tegas mas Aidan lirih, tapi marah. Suaranya saja sampai gemetaran saking kesalnya lantaran ia melihat dengan kepala dan matanya sendiri, bukan hanya Suci yang menjadi korban, tapi juga Binar.
Walau harus membuat mas Aidan menunggu lama, Budi yang menunduk dalam pun berkata, “Sayang.”
“Kalau Binar sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah, dia enggak hanya marah. Karena saya yakin, Binar juga jij*ik sekaligus kecewa pada apa yang kamu lakukan!” balas mas Aidan.
Budi hanya menunduk dalam. Ia sadar, di ruang besuk pertemuan mereka, mas Aidan sudah ingin menguburnya hidup-hidup.
“Itu anak kalau bisa memilih, dia enggak mungkin memilih jadi anak kamu! Hanya karena perempuan dan ditakdirkan menjadi anak pertama, kamu sama keluarga kamu memvonisnya sebagai pembawa sia*l!” tegas Mas Aidan lirih, tapi meledak-ledak.
Detik itu juga, Budi yang jengkel berangsur menarik diri. Ia bermaksud pergi sambil berkata, “Sudah, tidak perlu dibahas!”
“Duduk! Saya belum selesai bicara!” kesal mas Aidan yang sampai memaksa Budi untuk duduk lantaran pria itu tetap berusaha pergi.
“Sekarang aku ingin kejujuran kamu, ... beneran, Binar bikin kamu sekeluarga si*al? Coba dibandingkan dengan anak laki-laki anak Nurma. Coba kamu bandingkan jasa-jasa Nurma dan Suci. Siapa yang kasih kalian makan? Nurma lebih menggoda? Bayangkan, Suci itu capek. Selalu kalian perah hampir 24 jam. Pulang dari klinik masih urus kamu dan keluarga kamu. Beneran enggak ada waktu istirahat karena dia juga sampai ambil kerjaan anyam rambut palsu sekaligus bulu mata palsu. BINATA*NG emang kamu!”
“Sekarang saya tanya, apa jasa Nurma? IRT saja masih dibantu! Goda-goda kamu? Bayangkan kalau Suci juga goda-goda laki-laki lain bahkan sudah beristri. Goblo9 jangan divormalin!”
“Wanita seperti Nurma itu banyak di pinggir jalan bahkan kadang mereka rela enggak dibayar asal dipa‘ke dan dikasih perhatian karena orang seperti mereka terlalu murah*an!”
“Sementara wanita seperti Suci, dia benar-benar langka. Hanya laki-laki beruntung sekaligus berkelas saja yang bisa memiliki sekaligus bersanding dengannya. Dan kamu bukan bagia. dari orang beruntung apalagi berkelas itu!”
“Sekarang kamu ngobrol sama Binar. Dia sakit. Kangen kamu. Tapi bukan berarti kamu memanfaatkan ini. Kamu khawatir?” yang Mas Aidan tangkap, kabar sakitnya Binar sudah langsung membuat Budi khawatir. Kenyataan tersebut membuatnya cukup lega. Terlebih ketika beberapa menit kemudian, Budi mau melakukan video call dengan Binar.
“Binar sayang sehat-sehat, ya. Nanti Papah pulang, nanti Papah jemput!” Budi tersedu-sedu.
Tak beda dengan Budi, di ruang rawat Binar, Suci yang menyaksikan sang putri tengah melakukan telepon video dengan Budi, juga sudah tersedu-sedu. Alasan yang membuat Suci memilih masuk ke kamar mandi di sebelah. Suci mengintip dari sana sambil membekap mulutnya guna meredam tangis.
“Papah enggak sama bude Nur, kan? Kalau Papah enggak sama bude Nur, aku janji akan cepat sembuh!” balas Binar sambil menunduk sedih.
“Kenapa Binar bisa bilang begitu? Siapa yang mengajari ... harusnya enggak ada. Atau jangan-jangan, keadaan bikin dia menyimpulkan sendiri?” pikir Suci.
***
Keesokan harinya, Budi sekeluarga dibebaskan. Semuanya benar-benar sesuai rencana, tapi mereka sudah langsung mendapatkan sanksi sosial lantaran selain tetangga menyaksikan penangkapan mereka, ternyata kasus KDRT yang mereka lakukan, termasuk hubungan Budi dan Nurma, sudah sampai viral.
Seperti yang Sepri dan mas Aidan harapkan, hidup Budi sekeluarga memang langsung mirip drama. Tanpa Suci mereka kacau. Tidak ada bahan makanan, ibu Syamsiah terus marah-marah, 2 anak laki-laki kebanggaan Nurma juga pemalas mirip Nurma. Ibu Syamsiah memaksa Nurma maupun Budi untuk bekerja.
“Al sama El sekolahnya enggak usah jajan. Makan saja yang kenyang!” teriak ibu Syamsiah. Masih pagi sudah mirip demo. Ia bahkan sudah langsung berteriak ketika Nurma menggosongkan wajan lantaran kali ini, ia tidak sedikit pun membantu pekerjaan IRT, selain ia yang juga tidak sampai ikut serta mengurus kedua cucu kebanggaannya. Tugasnya hanya memberi arahan, teriak-teriak hingga Al yang kesal, dengan sengaja melempar cecak ke dalam mulutnya.
“Nini ngapain cuma ngomel, enggak ikut kerja? Ih dasar orang tua enggak mikir. Bilang orang lain enggak mikir, ternyata Nini sendiri yang enggak mikir!” kesal Al.
“Astaga, ini beneran kebakaran!” panik Budi lantaran wajan di kompor sudah berkobar-kobar.
Bala-bala atau itu bakwan yang awalnya tengah digoreng, sudah berwarna emas kegosongan.
“Wah, hari ini kita sarapan nasi sama bakwan geseng(gosong), dong?” keluh El sudah langsung sedih karena yakin, rasa bakwan yang Nurma goreng dalam jumlah banyak, sudah dipastikan jauh dari kata enak.
“Ini ngapain goreng sebanyak ini, minyak dua liter kamu tuang semua? Kamu mau jadi tukang gorengan?” kecam Budi kepada Nurma yang sudah mendekat di hadapannya.
“Eh, Mas ... dari bangun tadi, aku belum diem. Urus semuanya sendiri, mandiin dua anak, gosok pakaian mereka—”
Sebenarnya Nurma belum beres bicara sekaligus menjelaskan, tapi mulut Budi sudah berkata, “Suci bisa melakukan semuanya. Sebelum pergi kerja, kadang Suci juga urus pekerjaan rumah termasuk urus anak-anak kamu.”
Tiba-tiba saja Budi teringat nasihat mas Aidan yang membandingkan Suci dan Nurma. “Ya sudah mulai hari besok, kamu bangunnya lebih awal. Jangan setengah enam.”
Satu jam kemudian, Nurma dandan necis ala kantoran. Nurma membawa motor pak Munasir karena ia memang tak memiliki motor sendiri. Nurma melamar kerja ke pasar dan juga beberapa warung termasuk pabrik, tapi semuanya ditolak. Malahan beberapa orang yang mengenali karena kasusnya yang viral, tak segan menghakimi.
“Itu tuh, contoh peru*sak nama baik jand*a!”
“Biasa saja padahal ya. Modal boko*ng raksasa sama dada gede doang. Itu habis ngapain itu. Jangan-jangan habis cari mangs*a baru? Saranku sih, jangan ada yang mau kasih pekerjaan, biar pelakor kelas ta*i kayak dia mati gara-gara kelaparan!”
Para wanita selalu paling sadi*s jika urusan berkomentar. Nurma langsung melirik kumpulan ibu-ibu di pertigaan pasar yang awalnya baru dari alfa*a, dengan lirikan sebal. Namun jangan salah, para wanita itu mendadak lebih garang dari beg*al yang sedang kesuru*pan. Nurma sudah langsung ketakutan dan langsung mendapat klakson sebab kenyataannya yang refleks terlonjak ke tengah jalan raya, membuatnya nyaris tertab*rak truk yang kebetulan lewat.
“Alhamdullilah, ... untung enggak bablas!” batin Nurma refleks mengelus dadanya yang dikatai dada wewegombe*l. “Sudah nyari kerja sesusah ini, eh ada saja yang juli*d. Enggak di rumah, enggak di luar rumah, sama saja!” batinnya lagi jadi enggan pulang. Karena andai ibu Syamsiah tahu seharian dari kepergiannya tak mendapatkan hasil, ia pasti akan dijadikan pelam*piasan kejulidan wanita itu.
Tak beda dengan Nurma, Budi juga mengalami hal serupa. Travelnya jadi sepi dan ia tak dapat penumpang. Beberapa orang yang mengenalinya akibat kasus viralnya juga tak segan menghakimi.
“Ini kok bisa sesepi ini, ya?” pikir Budi benar-benar bingung. Namun tiba-tiba saja, ia teringat sump*ah-sera*pah Suci yang berdalih tangan Budi akan makin sulit dapat rezeki karena telah zalim kepada ibu Manis.
Merinding, Budi benar-benar takut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
Nurma Budi Syamsiah bisa sih hidup bahagia kedepanya tapi ya harus berubahlah jadi manusia bukan tetap jadi iblis
2025-01-28
0
Nartadi Yana
kapok Lo jadi gelandangan , pengemis hanya sekedar buat makan lho.zalim sama anak istri
2024-11-08
0
Dewi Soraya
yg jd mslh ni binar lho yg sll mepet bpkny g mkirin ibuny yg udh pgn pisah
2024-06-02
1