Budi benar-benar ada di rumah dan Suci sampai menyembah-nyembah, memohon kesediaan Budi. Sepri yang menemani Suci ke sana, susah payah menahan diri agar tidak mengamuk bahkan membu*nuh Budi.
“Aku mohon Mas ... aku enggak mau anakku mati ....”
“Kamu dibebasin bukan buat seenak kamu. Sekali kamu berulah apalagi terus menelantarkan Binar, sekarang juga, ayo aku antar kamu ke penjara!” kesal Sepri.
Budi sudah langsung ketar-ketir, tapi tak bisa ia pungkiri, kebahagiaan yang ia dapat dari Nurma membuatnya lupa segalanya bahkan alasannya dibebaskan dari kurungan.
“Sekarang kamu memang bebas melakukan semua yang kamu mau termasuk menzal*imi darah daging kamu sendiri. Namun nanti saat Binar sudah paham, Binar sendiri yang akan membencimu. Binar yang akan balas dendam!” tegas Sepri lagi.
“Tapi Sayang, ini sudah malam bahkan pagi sementara dari kemarin, kamu kurang istirahat. Ke rumah kliniknya besok saja—” Detik itu juga Nurma terdiam karena tangan kanan Sepri benar-benar sudah menceki*knya. Tubuh Nurma yang bahenol sampai nyaris terangkat walau Sepri hanya melakukannya dengan satu tangan.
“Lepas!” Budi sudah langsung pasang badan, ia mencoba merangkul Nurma, tapi dengan cepat, Sepri memb*anting Nurma.
Suci yang masih terduduk loyo merasa muak dengan ulah Nurma apalagi Budi, sudah tidak bisa berbuat banyak lagi. Berurusan dengan keduanya benar-benar melelahkan.
“Jaga sikap kamu. Jangan kasar!” tegas Budi sambil merangkul, mencoba membangunkan Nurma.
“Kalau kalian enggak terima, cukup laporin aku ke polisi! Aku enggak takut. Malahan cara kalian begini bisa bikin kalian enggak bisa diampuni dan wajib dipenjara!” kesal Sepri.
“Sayang, kamu jangan lupa sama janji kamu ke aku. Kamu bilang, aku segalanya. Kamu bilang, aku nomor satu sementara Binar dan Suci enggak ada apa-apanya dari aku!” rengek Nurma.
Jujur, meski sadar Nurma sengaja melakukan itu untuk menghancu*rkannya, juga Suci yang telanjur menutup hatinya bahkan itu kepada Budi, apa yang berlangsung benar-benar menyakiti hati Suci.
“Kamu enggak usah khawatir karena sampai kapan pun, kamu tetap yang terpenting. Sumpah, kamu yang paling aku sayang apalagi aku BENERAN SUDAH MATI RASA KE SUCI! ALASAN KAMI MASIH HARUS BARENG-BARENG, BENERAN SEMATA KARENA BINAR!” yakin Budi, tapi tak lama setelah itu, tubuhnya sudah diboyong, dipanggul oleh Sepri kemudian dilempar ke mobil pick up yang masih dihiasi beberapa rumput segar.
Sempat panik atas apa yang Sepri lakukan, Nurma segera menatap Suci penuh kemenangan. Setelah bersedekap, ia sengaja berkata, “Sampai kapan pun, kamu bukan lawan aku, Ci. Kamu enggak mungkin bisa lebih baik dari aku dan kamu enggak mungkin bisa ambil Budi dari aku!”
“Tentu. Aku sadar aku bukan lawan kamu karena kamu terlalu ren*dahan untuk berlian sepertiku!” tegas Suci yang buru-buru pergi terlebih Sepri sudah memanggilnya.
“SUEE KAMU CIII!” teriak Nurma bersama kedua tangannya yang mengepal kencang di depan tubuh. Seolah ia siap menin*ju Suci yang masih saja berani kepadanya, padahal jelas, Budi jauh lebih memilihnya.
***
“Aku beneran sudah mati rasa ke suci! Alasan kami masih harus bareng-bareng, beneran semata karena Binar!” Kata-kata Budi barusan, terus terngiang di ingatan Suci. Kata-kata yang sungguh membuat hati sekaligus mental Suci babak belur.
“Memangnya aku seren*dah itu, ya? Memangnya, memang enggak ada yang bikin aku istimewa di mata orang-orang, khususnya di mata suamiku sendiri? Apa karena itu juga, mas Budi dengan begitu mudah mengkhianatiku? Benarkah aku memang tak pantas dicintai? Iya, aku tahu aku bukan wanita sempurna, tapi masa iya selama hampir lima tahun bersama, aku beneran enggak ada artinya? Padahal hubungan kami ada karena dia yang mulai. Kami beneran bukan korban perjodohan karena sebelum menikah, kami sempat pacaran,” batin Suci. Mentalnya sudah langsung tidak baik-baik saja hanya karena kata-kata Budi tersebut.
Satu hal yang membuat Suci bersyukur, hadirnya Budi sudah langsung membuat keadaan Binar lebih baik. Meski Budi juga langsung sibuk menyalahkan Suci akibat sakitnya Binar.
“Andai kamu tetap di rumah dan mengikuti semua arahan aku, pasti Binar enggak akan sakit-sakitan begini!” Budi tidak sadar, jika setiap cac*ian yang ia lemparkan kepada Suci, membuat mental Suci tidak baik-baik saja. Wanita itu terus menangis dan berakhir terduduk di lantai dekat meja nakas yang ada di seberangnya.
“Ya Allah, masa iya hamba setidak berguna ini? Masa iya, untuk anak hamba saja, hamba tidak berguna? Hamba ibunya, hamba yang telah melahirkannya,” sedih Suci dalam hatinya.
Menjadi wanita apalagi yang posisinya seperti Suci benar-benar salah. Mundur salah, maju lebih-lebih, geser pun tak kalah salah.
Didatangi dan diperlakukan penuh sayang oleh Budi, keadaan Binar dengan cepat membaik. Budi ikut menjaga Binar meski sesekali, ia akan menjawab telepon dari Nurma. Sebab Nurma jadi sangat protektif dan bentar-bentar menelepon hanya karena wanita itu tahu, Budi sedang bersama Suci.
Di lain Sisi, Sepri sekeluarga merasa terluka melihat kebersamaan Suci dan Budi. Terlebih bagi mereka, Suci terlalu baik untuk laki-laki kasar dan doyan seli*ngkuh layaknya Budi. Mereka juga kasihan kepada Binar yang memiliki bapak tak bertanggung jawab. Terbukti, Budi masih saja menjawab telepon Nurma, padahal Binar sudah melarang.
“Mamah khawatir ke mental Suci. Dia pasti meras sangat tertekan, sementara jujur ke Binar mengenai apa yang terjadi juga enggak mungkin. Binar masih terlalu kecil, Binar belum paham. Apalagi wanita baik seperti Suci yang punya pengalaman KDRT dari hubungan orang tuanya pasti lebih jaga-jaga lagi. Suci pasti lebih memilih mengorba*nkan dirinya daripada anaknya kenapa-kenapa,” batin ibu Septi yang juga kasihan kepada ibu Manis. Wanita tua itu juga belum diizinkan kembali masuk ke ruang rawat Binar oleh Budi, hanya karena Budi tengah membuat keluarga kecilnya bersama Suci, quality time.
Dalam diamnya, ibu Manis yang duduk di bangku tunggu depan ruang rawat Binar yakin, cepat atau lambat, Binar juga yang akan mengakhiri hubungan Budi dan Suci. Ibu Manis juga yakin, justru Binar yang akan dendam khususnya kepada Nurma, terlebih sekarang saja, Binar sudah sangat benci kepada Nurma. Di dalam sana, ibu Manis yang mengintip dari pintu ruang rawat yang sedikit ia buka menyaksikan, Binar tengah melakukan permohonan kepada Budi dan Suci.
“Mamah Papah bakalan kabulin permohonan aku, kan?”
ucap Binar dengan suara berat khas orang sakit.
Suci sudah langsung mengangguk-angguk sanggup. Lain dengan Budi yang baru menyanggupi setelah Binar menegurnya.
“Aku mau, ... Mamah sama Papah sama-sama lagi!” Binar menatap wajah Suci dan Budi, silih berganti. Keduanya yang masih duduk di kanan-kirinya mendadak bengong, hingga kenyataan tersebut membuat hatinya sangat sakit. Ia bahkan jadi menangis walau ia sudah berusaha keras menahannya, layaknya kebiasaan yang selama ini ia lakukan di setiap mamahnya menangis. Kebiasaan yang juga akan membuatnya tersiksa di setiap ia teringat kedekatan papahnya dengan Nurma. Tak semata saat keduanya bergandengan tangan, juga kebersamaan akrab lainnya dan itu tanpa Suci. Namun, ini mengenai fakta kenapa papahnya justru tidur dengan Nurma!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
aku muak thor dgn sikap Suci yg masih menutupi kebobrokan Budi pukimak itu
Suci terlalu paok
muak mu ak
najis aku lihat eh baca Suci yg sok kebaikan
pret lah
2025-01-28
0
Ida Ulfiana
knp sih binar gak jujur tentng apa yg ada d dalam pikirannya d pendam gt jd penyakit
2024-05-16
0
Gavin Bae
anak kurang ajar.pembawa sial.
2024-03-05
0