Alice masih sangat syok dengan kemunculan Pangeran Erland. Pria itu mendadak langsung menabrakkan bibirnya dan menutup pintu dengan cepat.
“Aku merindukanmu, Alice!” kata Pangeran Erland dengan napas memburu.
Laki-laki itu dengan cepat mengunci pintu kamar Alice, dan dengan sangat agresif kembali meluumat bibir wanita pujaannya itu.
Alice benar-benar syok menghadapi tingkah agresif Pangeran padanya. Dia tidak membalas ciuman Pangeran karena kepala Alice terus teringat kata-kata Anne.
Sementara Pangeran Erland semakin mendorong Alice hingga tangannya yang sejak tadi memegangi kepala Alice pun membentur dinding.
Namun, Pangeran Erland tidak peduli. Dia malah semakin menggila dan kini ciumannya turun ke leher Alice.
Wanita itu tidak berdaya menghadapi serangan Pangeran Erland, hingga akhirnya sebuah desaahan manis pun bergema di dalam ruangan sempit itu.
Pangeran semakin liar, dan Alice yang akhirnya sadar pun mencoba mendorong Pangeran Erland sambil berteriak, “Berhenti, Yang Mulia!”
Sadar teriakan Alice bisa didengar orang lain, Pangeran Erland langsung meletakkan telunjuknya di bibir wanita itu. Dia menatap mata Alice dengan perasaan kacau, lalu berkata, “Jangan berteriak, Alice!”
Alice terengah-engah dan itu membuat Pangeran Erland kembali melanjutkan aksinya. Kali ini laki-laki yang tengah dimabuk cinta itu semakin menjadi-jadi.
Putra Mahkota itu kembali menyerang leher Alice dan suara desaahan kembali terdengar dari bibir sang pelayan. Pangeran kerajaan Warlingtoon itu dibuat semakin menggila oleh desaahan Alice. Dia berusaha membuka baju Alice secara paksa, untuk melanjutkan aksinya ke tahap berkutnya.
Namun, gerakan Pangeran Erland terhenti saat dia melihat kalung pemberiannya masih tergantung manis di leher Alice. Hal itu membuat keduanya sama-sama diam dengan napas tersengal-sengal.
Sampai akhirnya, Alice berusaha merapikan bajunya dan berjalan menjauhi Pangeran Erland. Saat itulah, Pangeran Erland tersadar dan akhirnya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya.
“Aku mencintaimu, Alice!”
Pernyataan cinta yang keluar dari mulut Pangeran Erland itu membuat Alice mematung dengan mata terbelalak. Matanya berkaca-kaca dan setetes air meluncur tanpa terkendali.
Pangeran Erland mendekat dan membalik tubuh Alice agar menghadapnya. “Aku mencintaimu, Alice! Aku sangat mencintamu! Kamu mau kan menjadi pasanganku?”
Hati Alice tergetar oleh ungkapan cinta itu. Namun, kata-kata Anne semakin terdengar jelas menghantui kepala Alice.
Sampai akhirnya, wanita itu pun membuka mulut dan berkata, “Maafkan saya, Yang Mulia. Ini tidak benar. Hubungan kita hanya sebatas hubungan kerja antara pelayan dan majikannya. Hubungan kita tidak akan pernah bisa lebih dari itu. Namun, saya akan tetap mengabdikan diri pada Yang Mulia Pangeran sampai saya mati!”
Pangeran Erland tidak bisa menerima penolakan Alice. Dia memegangi kedua bahu Alice dan merapatakan tubuh mereka.
“Nggak Alice! Aku mau kamu jujur dengan perasaanmu. Terlepas dari status kita, perasaan kita nggak ada yang salah, Alice!” kata Pangeran Erland yang kemudian menggenggam tangan Alice. “Tolong jujur dengan perasaanmu sendiri, dan lupakan dulu status kita!”
Alice pun tak bisa berpura-pura lagi. Hatinya memang tertuju untuk Pangeran, dan selama mengurung diri ini, dia semakin menyadari perasaanya pada Sang Pangeran.
Dengan air mata yang berlinang, Alice pun mengungkapkan perasaannya. “Iya, Pangeran. Saya juga mencintai Pangeran!” Tangis Alice pun pecah karena merasa lega sekaligus takut.
Pangeran Erland langsung memeluk Alice dengan erat. Dia bahagia karena Alice juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
“Alice, percayalah padaku. Hanya kamu satu-satunya wanita yang akan duduk di kursi ratu, mendampingiku.” Pangeran membelai rambut lurus yang tergerai di kepala Alice, lalu mencium puncaknya dengan lembut.
Alice terkejut dengan kata-kata Pangeran. Dia pun melepaskan pelukan itu dan kembali menatap wajah tampan Sang Pangeran. “Pangeran, sudah cukup saya mengetahui Pangeran memiliki perasaan yang sama dengan saya. Dan jika Pangeran tetap ingin menjadikan saya pasangan, maka saya cukup menjadi selir saja!”
Mendengar kata-kata Alice, mata Pangeran menjadi merah dan dengan tangan terkepal, dia pun membentak, “Diam, Alice! Aku nggak akan memiliki selir. Aku nggak butuh selir karena aku hanya butuh kamu menjadi permaisuriku. Satu-satunya wanita yang menjadi pendampingku untuk memerintah Kerajaan Warlingtoon hanya kamu!”
Alice menundukkan kepala. Bukan karena takut dengan kemarahan Pangeran, tetapi takut dengan harapan tinggi yang diberikan Pangeran untuknya.
Alice tentu paham, seorang permaisuri harus berasal dari kalangan bangsawan. Sementara seorang pelayan seperti dirinya tidak akan pernah diterima dan selamanya akan ditentang menjadi permaisuri, dan Alice sangat sadar akan hal itu.
“Alice!” panggil Pangeran dengan lembut saat kekasih hatinya itu menundukkan kepala dengan punggung bergetar. Pangeran Erland tahu, Alice sedang menangis.
Alice menghapus air mata dan mengangkat kepalanya, lalu menatap Pangeran dengan senyum. “Pangeran, walaupun mungkin Baginda Raja dan semua orang merestui hubungan kita. Status kita tidak mengizinkan saya menjadi permaisuri. Saya hanya pelayan rendah yang bahkan menjadi selir pun belum tentu pantas. Yang Mulia harus menikah dengan seorang bangsawan yang pantas menjadi permaisuri, dan itu bukan saya Yang Mulia!”
Pangeran Erland semakin geram. Alice sama saja dengan Anne yang harus dibungkam mulutnya agar tindak membantah. Hanya saja cara Pangeran menghadapi Alice tentu berbeda dengan caranya menghukum Anne.
Pangeran kembali memegangi kepala Alice memberikan ciuman yang gaanas. Lidah Pangeran memasuki mulut Alice dan bergulat di dalam sana.
Hingga saat Alice kehabisan napas, Pangeran Erland baru melepaskan wanita itu. “Kamu cukup diam dan terima semua yang aku berikan, Alice. Aku bilang tidak akan ada selir, itu artinya kalau kamu tidak mau menjadi permaisuriku, maka aku tidak akan menikah dengan siapa pun. Tidak peduli apa pun yang harus kita hadapi, aku akan melakukan segalanya untuk menjadikanmu istriku!” kata Pangeran yang kemudian memberikan kecupan singkat di bibir Alice dan tersenyum.
Alice pun ikut tersenyum di tengah-tengah tangisnya dan memeluk tubuh Pangeran Erland. Dia akan mempercayakan semuanya pada Sang Pangeran yang kini telah menjadi kekasihnya.
Semenjak hari itu, Alice dan Pangeran Erland pun selalu mencuri setiap menit bersama. Ketika Alice mengantarkan sarapan hingga makan malam, mereka melewatinya dengan memadu cinta.
**
**
Pangeran baru kembali dari istana utama dan hendak menuju kamarnya bersama beberapa pengawal dan juga asistennya. Kebetulan, Alice baru kembali dari kamar Pangeran untuk memeriksa pekerjaan pelayan lain yang membersihkan kamar Pangeran Erland.
Saat berpapasan dengan Alice, Pangeran menggigit bibir bawahnya dan tersenyum menggoda Alice. Sementara wanita itu harus bersikap biasa saja karena di belakang Pangeran Erland ada asistennya dan juga beberapa pengawal. Pelayan itu pikir, dia harus menjaga sikap agar hubungannya dengan Sang Pangeran tidak dicurigai.
Pangeran Erland merasa diabaikan Alice dan menjadi kesal. Dia menoleh ke belakang dan mengerti alasan Alice mengabaikannya.
Tiba-tiba saja, Pangeran menarik tangan Alice dan membawanya ke sebuah ruangan di sampingnya. Asisten Pangeran dengan sigap menutup pintu dan membiarkan laki-laki dimabuk asmara itu melampiaskan perasaannya.
Alice membelalakkan mata karena ternyata Asisten Pangeran sudah mengetahui hubungan mereka. Saat Alice masih membeku, Pangeran Erland memeluknya dan memberikan kecupan di bibir Alice.
Seketika itu Alice langsung tersadar dan disambut senyum Pangeran yang sangat tampan.
“Kamu kenapa? Apa kamu tidak merindukanku?”
***
Jantungku benar-benar tidak aman gaess. Senyum-senyum sendiri bayangin muka Pangeran Erland yang ganteng ☺️☺️ visualnya di InsGram yak @ittaharuka
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
LENY
YA TADI KHAWATIR PANGERAN HABIS MANIS SEPAH DIBUANG. KL SAMPE ALICE TERNODA TERUS DITINGGAL 😭
2024-07-04
1
Ney Maniez🍒⃞⃟🦅
👍👍💪💪💪💪
2024-01-08
0
anonim
pangeran bucin ma pelayannya wkwkwk
2024-01-07
0