Setelah mendapat teguran dari Anne, Alice hanya bekerja untuk memasak makanan Pangeran. Selesai memasak, wanita itu tidak akan mengantar makanan ke ruang pribadi Pangeran dan harus mengurung diri di kamar.
Wanita itu tidak berani keluar kamar seperti yang diperintahkan Anne. Dia masih harus memikirkan lagi kedekatannya dengan Pangeran Erland yang terhalang strata sosial.
Ditambah lagi, Alice hanya seorang anak yatim piatu yang tidak akan bisa sederajat dengan keluarga kerajaan. Hal itu membuat hatinya semakin sakit dan menangis seharian adalah cara yang terbaik untuk melampiaskan kesedihannya itu.
Pagi ini, Anne membantu Alice untuk mengantarkan sarapan ke kamar Pangeran Erland. Hal itu tentu membuat Pangeran Erland merasa aneh dan akhirnya bertanya, “Kenapa kamu yang mengantarkan makanan? Memangnya Alice ke mana?”
Anne menundukkan kepala dan dengan tenang dia pun menjawab, “Maafkan saya, Yang Mulia Pangeran. Saya membutuhkan bantuan Alice untuk persiapan perjamuan Baginda Raja dengan para menteri. Alice sekarang sangat sibuk, dan saya berinisiatif menggantikan tugasnya sementara.”
Mendengar penjelasan dari Anne, Pangeran Erland pun mengangguk. Akan tetapi, dalam hati Pangeran merasa kecewa karena tidak bisa bertemu dengan kekasihnya setelah semalam melalui malam bersama.
Pangeran pun terpaksa menikmati makanan yang dibawakan oleh Anne. Meski rasanya memang benar itu masakan Alice, tetapi Pangeran Erland merasa tidak puas. Sarapan kali ini tidak ada senyum Alice dan wajah malu-malunya yang selalu membuat Pangeran Erland berdebar.
Karena hari ini Pangeran Erland ada tugas di luar, Alice tidak perlu memasak untuk makan siang. Namun, saat sore tiba rombongan Pangeran sudah pulang dan Alice harus menyiapkan makan malam.
Gadis itu memasak seperti biasa, tetapi wajahnya terlihat murung dan begitu sendu. Hal itu rupanya memantik rasa penasaran seorang pelayan yang cukup dekat dengan Alice di dapur itu.
“Kamu kenapa, Alice?” tanya teman kerja Alice, sesama pelayan dapur.
Alice menatap gadis itu dengan wajah gugup. “Ah, aku nggak kenapa-kenapa kok, memangnya kenapa?”
Teman Alice itu lalu mengatakan bahwa saat ini wajah Alice terlihat pucat. Dia khawatir Alice sedang sakit dan bilang tidak usah bekerja.
Namun, Alice menjelaskan bahwa dia baik-baik saja. Dia tidak mungkin mengatakan dengan jujur apa yang saat ini membuat beban di kepala Alice.
Begitu selesai memasak, Anne langsung mengambil alih makanan itu untuk diantarkan pada Pangeran Erland. Hal itu kembali membuat teman Alice curiga.
Gadis itu tak bisa menahan rasa penasaran. Dia memastikan keadaan sekitar aman, lalu lagi-lagi bertanya pada Alice, “Kenapa sekarang Anne yang mengantarkan makanan ke kamar Pangeran?”
Alice hanya tersenyum tanpa mau menjelaskan. “Kamu tidak usah mencari tahu. Semakin banyak hal yang kamu tahu, maka semakin besar bahaya mengintaimu! Aku ke kamar dulu, aku merasa sedikit tidak enak badan saja.”
Teman Alice itu terlihat bingung. Bukankah beberapa saat yang lalu Alice bilang dia baik-baik saja. Kenapa sekarang dia bilang tidak enak badan?
Namun, peringatan Alice ada benarnya juga. Di istana yang megah ini, semakin banyak tahu sesuatu yang tidak seharusnya, akan semakin kecil peluang untuk betahan hidup dengan apa yang diketahui itu.
Anne lagi-lagi mengantarkan makanan ke ruangan Pangeran. Dia lagi-lagi membuat alasan yang sudah disusun matang sebelum menghadap Pangeran.
Namun, satu hari menjadi dua hari, dan dua hari menjadi tiga hari dengan beribu alasan yang diberikan Anne. Hal itu membuat Pangeran Erland menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Pikiran negatif seketika menghantui Pangeran Erland. Dia menduga bahwa Alice sedang menghindarinya saat ini.
Pangeran pun langsung merenungkan apa yang terjadi. Apakah ada yang salah dengan perilakunya? Apakah dia membuat Alice tersinggung dengan keagresifannya malam itu?
“Apa mungkin Alice sengaja menghindar karena aku terlalu memaksakan kehendak untuk berpacaran? Aku bahkan tidak pernah tanya opini Alice mengenaiku? Apa semua karena itu?” gumam Pangeran yang tampak berpikir dengan keras.
Laki-laki itu tiba-tiba teringat kalau Alice tidak pernah menjawab iya, dan Pangeran juga tidak pernah terang-terangan menembaknya.
Namun, semakin dipikirkan, Pangeran Erland semakin merasa frustrasi dan membuat pekerjaannya hari itu tidak selesai. Saat kembali ke ruangannya, Pangeran memerintahkan pengawal untuk memanggil Anne.
Wanita itu pun menemui Pangeran Erland seperti yang diperintahkan padanya. Di sana juga ada Asisten Pangeran dan beberapa pengawal yang berjaga di dalam ruangan Pangeran.
“Yang Mulia memanggil saya?” tanya Anne dengan wajah tenang.
“Suruh Alice ke mari!”
Anne langsung panik mendengar perintah Pangeran Erland yang pasti sudah merasa curiga.
“Em, Yang Mulia. Sebenarnya ... sebenarnya Alice sedang berada di aula ....”
“Cukup, Anne!” Pangeran Erland menggebrak meja dengan geram.
Sontak saja hal itu membuat Anne semakin ketakutan. Jantungnya berdebar kencang dan lututnya terasa bergetar. Kali ini, bagaimana caranya menghadapi Pangeran?
“Jangan membuat banyak alasan, Anne! Aku tahu semua alasanmu itu hanya kebohongan. Katakan dengan jujur apa yang terjadi dengan Alice, karena aku sudah tahu semuanya!” Tangan Pangeran yang tadi menggebrak meja, kini terkepal sempurna hingga membuat rahangnya ikut mengeras.
Sebenarnya Pangeran Erland hanya menggeretak saja. Namun, ternyata hal itu membuat Anne semakin ketakutan dan akhirnya mendorongnya untuk berkata dengan jujur.
“Sebenarnya, saya yang menyuruh Alice untuk menjauhi Pangeran!”
Pangeran Erland yang tadinya hanya ingin menggertak, tidak menyangka akan mendengar pengakuan dari Anne. Tatapan matanya mulai menyipit, seperti elang yang tengah membidik mangsanya.
“Saya tahu kalau Yang Mulia Pangeran memiliki hubungan dengan Alice. Saya juga tahu kalau malam itu Alice tidur bersama dengan Yang Mulia,” aku Anne dengan suara bergetar.
Tak cukup sampai di situ, wanita itu mencoba menasihati Pangeran mengenai hubungannya dengan Alice yang hanya seorang pelayan.
“Tolong Yang Mulia Pangeran ingat status Yang Mulia sebagai pangeran di kerajaan ini. Tolong lepaskan Alice karena saya benar-benar kasihan dengan Alice. Jika Baginda Raja dan orang-orang tahu, bukan Yang Mulia Pangeran yang akan terbebani, tetapi Alice lah yang akan menanggung semua akibatnya sendiri.”
Anne mengatakan semua itu dengan air mata yang berlinang. Dia benar-benar kasihan dengan nasib Alice setelah ini. Namun, Anne lupa kalau sekarang justru dirinya yang berada di ujung jurang berbahaya.
Ekspresi Sang Pangeran seketika menjadi gelap dan menakutkan. Anne akhirnya meyadari dan merasa Pangeran akan membunuhnya setelah ini.
Wanita itu pun berlutut dan memohon pada Pangeran Erland agar dia mengampuni Anne dan melepaskan Alice.
Namun, Pangeran Erland membalasnya dengan sura lantang dan berkata, “Kamu juga harus ingat siapa kamu dan apa posisimu, Anne! Atas dasar apa kamu berkata lancang seperti itu? Siapa kamu untuk menentukan mana yang benar dan memutuskan sendiri hubunganku dengan Alice?”
Pangeran Erland terlihat murka, dan dia langsung menyuruh asisten pribadinya untuk menyeret Anne. “Bawa dia dan bungkam mulutnya!”
***
Nggak jadi ke Mars atau Pluto gaess. Pangeran lagi marah 🙃🙃 minta kembang kopi dulu biar gak emosi 🤣🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
LENY
KASIHAN ANNE MAKSUDNYA BAIK DIA TAKUT KL RAJA TAHU.
2024-07-04
0
LENY
KASIGAN ANNE MAKSUDNYA BAIK DIA CUMA KASIHAN NASIB ALICE NNT KL EAUA TAHU😥
2024-07-04
1
Ney Maniez
😲😲😲😲🙄🙄
2024-01-08
1