Alice menunggu pendapat Erland dengan gelisah. Kedua tangannya saling bertaut dan telapaknya terasa dingin.
Para pengawal yang juga menyaksikan adegan ini sudah sangat yakin bahwa Alice akan gagal. Jelas saja mereka tahu, kalau pangeran tidak akan bisa merasakan nikmat dari makanan itu karena masalah yang diderita pangeran sejak lama. Alice pasti akan mendapatkan hukuman karena hal ini.
Namun, semua dugaan itu ternyata tidak terjadi. Pangeran Erland memutuskan untuk mengangkat Alice sebagai pelayan yang akan bekerja di istananya. “Kamu akan ikut ke istana dan menjadi pelayan pribadiku. Tapi, pastikan semua makanan yang kamu masak itu enak dan sesuai dengan lidahku!”
Tentu saja Alice sangat senang dan mengucapkan terima kasih berkali-kali pada calon rajanya itu. Dia sangat bersyukur karena akhirnya bisa mendapat tempat berlindung yang sangat aman di istana Warlington.
“Terima kasih banyak, Pangeran! Saya akan bekerja keras, terima kasih!” Alice membungkuk sebagai rasa hormat.
Semenjak hari itu, Alice akhirnya bekerja di istana pangeran sebagai bagian dari juru masak istana pangeran. Meski ada banyak koki istana pangeran, tetapi hanya Alice yang ditugaskan untuk memasak khusus dan mengantarkan langsung masakannya pada Pangeran Erland.
Seperti malam ini, Alice ditugaskan langsung oleh pangeran untuk mengantarkan makan malam. Sebagai wujud terima kasihnya pada Erland karena sudah menerimanya di kerajaan, Alice melakukan tugasnya dengan baik, meski di hati kecilnya selalu berdebar takut menghadapi sikap dingin pangeran.
Alice dipersilakan masuk ke bangunan khusus yang menjadi tempat tinggal pangeran. Dia masih harus menunggu pangeran selesai makan untuk memastikan tidak ada racun atau hal membahayakan yang ada dalam masakannya itu.
“Yang Mulia selamat menikmati,” ucap Alice berusaha tenang di tengah ketegangan.
“Hem!” jawab Pangeran Erland dengan wajah tanpa ekspresi.
Selama menunggu Erland makan, dia merasa seperti sedang mengikuti sebuah audisi memasak, kalau tidak enak, secara otomatis Alice akan diusir dari istana. Namun, dia tidak pernah tahu hasil dari penilaian itu karena Erland benar-benar datar tanpa ekspresi yang bisa dengan mudah Alice tebak.
Sikap dingin itu membuat Alice dalam kesulitan dan tanpa sadar membuat gerakan lucu di wajahnya yang ditangkap oleh ekor mata Erland. Padahal, Alice sudah berusaha melayaninya dengan baik, tapi tetap saja aura Erland yang berwibawa dan dingin membuat suasana tegang di ruangan itu.
‘Apakah makanannya benar-benar tidak enak sampai-sampai sulit sekali dia memuji masakanku?’ pikir Alice yang hanya bisa mematung selama menunggu Erland makan.
Dia hanya ingin Erland mengatakan bahwa masakannya enak agar keberadaannya di istana lebih terjamin.
Namun, Erland tidak pernah memberi komentar apa pun. Tidak ada pujian atau kritik yang bisa menjadi acuan untuk Alice dalam mengolah makanannya. Hal itu membuat Alice harus terus mengasah kreativitasnya untuk membuat menu baru yang enak.
Setelah Erland selesai makan, dia akan meninggalkan bekas makannya dan pergi begitu saja. Hal itu membuat Alice mendengus dan membersihkan bekas makan pangeran itu sambil berpikir keras.
‘Setelah ini aku bikin makanan apa lagi ya?’
Alice kembali ke dapur, mencoba kreasi baru untuk membuat makanan. Menghadapi Erland yang sulit ditebak, memang harus membuatnya lebih bekerja keras lagi.
Saat semua pelayan beristirahat, Alice masih sibuk di dapur mencoba menciptakan kue yang enak seperti yang pernah dia tonton tanpa sengaja dari televisi dulu.
Wajah Alice dipenuhi dengan tepung, beberapa kali dia juga tampak meregangkan ototnya yang terasa kaku. Dia benar-benar bekerja keras demi sebuah pujian.
Rupanya, hal itu dilihat langsung oleh Erland yang tidak sengaja melihatnya sendirian di dapur. Pangeran Warlingtoon itu tampak penasaran dengan apa yang dikerjakan oleh pelayan barunya.
“Apa sih susahnya bilang enak atau nggak enak. Dia sadar nggak sih kalau tatapannya itu sedingin es?” gumam Alice sambil melempar tepung ke dalam adonan yang ternyata terlalu encer.
Erland yang tadinya hanya ingin jalan-jalan sendirian sambil menikmati angin malam, terpaksa mengawasi pergerakan Alice di dapur. Tentu saja dia melakukannya secara diam-diam tanpa Alice sadari.
“Pangeran!” kata Alice pada adonan tepung di hadapannya.
Suara itu membuat Erland mengerutkan kening karena dia pikir Alice menangkap basah dirinya. Namun, suara wanita itu selanjutnya membuat Erland semakin penasaran.
“Sampai kapan kamu akan bersikap sedingin itu? Hanya mengatakan enak dan tidak saja susah sekali bagimu? Lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut dengan masakanku!”
Mendengar ocehan Alice yang sedang kesal, membuat Erland tertawa dalam hati. Dia tidak menyangka bahwa ekspresi Alice saat kesal bisa semenggemaskan itu.
“Baiklah, Alice. Apa kamu bisa membuatku bertekuk lutut? Lihat saja, aku akan terus memasang wajah dingin dan tidak bersahabat. Aku tidak akan memuji masakanmu karena melihat wajahmu yang tegang itu sangat menyenangkan,” gumam Pangeran Erland yang tanpa sadar sedang merona hanya karena gadis pelayan itu.
Tanpa Alice sadari, Pangeran Erland kini sudah berdiri di belakangnya dan melihat apa yang sedang dia lakukan.
“Kamu tadi bilang apa? Saya bersikap dingin?” tanya Pangeran Erland dengan tiba-tiba.
Terang saja hal itu membuat Alice terlonjak kaget. Dia berbalik badan dan tanpa sadar mengarahkan rolling pin yang dipegangnya ke arah Sang Pangeran.
Laki-laki itu sampai memundurkan kepala karena terkejut dengan gerakan refleks yang dilakukan Alice. Tatapan matanya tidak lepas dari benda yang dipakai untuk menggulung roti yang dipakai Alice sebagai senjata.
Begitu sadar dengan apa yang dia lakukan, Alice buru-buru membuang rolling pinnya ke belakang dan membungkukkan badan.
“Yang Mulia maafkan saya!” ucap Alice semakin merasa ketakutan.
Alice pikir yang mengejutkan dirinya tadi adalah penjahat. Dia tidak tahu kalau Pangeran akan datang ke dapur malam-malam begini.
“Berani sekali kamu, Alice! Sudah mengatai saya, sekarang malah mau nencelakai saya!” balas Pangeran dengan nada yang terdengar tegas. Namun, sudut bibirnya berusaha menahan tawa karena kelakuan Alice yang sampai membungkuk 90 derajat.
“Yang Mulia, saya tidak tahu kalau Yang Mulia datang. Maafkan saya, karena saya pikir ada penjahat yang masuk ke dapur!”
Alice sungguh ketakutan. Posisinya saat ini benar-benar belum aman, tetapi ada saja kesalahan yang membuatnya semakin mendekati pintu gerbang pengusiran.
“Mana ada penjahat yang berani masuk istana. Berdiri tegak, dan lihat saya!” perintah Pangeran dengan suara tegas dan berusaha memasang wajah garang.
Meskipun Pangeran berusaha terlihat galak, tetap saja wajahnya yang tampan sangat sulit untuk memvisualkan tampang menyeramkan. Yang ada malah semakin terlihat mempesona.
Alice menurut dan menatap mata Sang Pangeran seperti yang diperintahkan. Walau Pangeran sangat tampan, tetap saja Alice merasa ketakutan karena kesalahan yang telah diperbuatnya. Dia harus siap menerima hukuman dari Pangeran.
“Memang kenapa kalau saya bersikap dingin? Kamu punya nyali besar ternyata sampai-sampai berani membicarakan saya dengan adonan kuemu itu!” sentak Pangeran Erland.
Tubuh Alice semakin gemetaran. Dia tidak menyangka kalau sejak tadi Pangeran Erland sudah mendengar gerutuannya.
“Yang Mulia, saya tidak sengaja. Benar-benar tidak sengaja Yang Mulia. Maafkan, saya. Saya janji tidak akan pernah mengulanginya lagi!” Alice membungkukkan badan lagi.
Kali ini, Pangeran Erland melepaskan tawa tanpa suara sembari membuang muka. Rupanya, mengerjai Alice bisa membuatnya sebahagia ini.
**
Sejak hari itu, Erland semakin suka mengerjai Alice. Dia akan memasang raut wajah datar seperti biasa. Walaupun sebenarnya masakan Alice semakin enak setiap hati, tetapi Erland terus bungkam tanpa mau berpendapat.
Lama-lama, hati Alice bergejolak. Ada dorongan besar dalam dirinya untuk menanyakan pendapat Erland mengenai masakannya.
Sampai akhirnya, wanita itu pun membuka mulut dengan wajah tegang. Saat Erland selesai makan dan Alice bersiap membersihkannya, pelayan itu pun bertanya, “Yang Mulia, apa masakan saya tidak enak?”
Kening Erland seketika berkerut mendengar pertanyaan Alice padanya. Dia sangat tidak menyangka bahwa Alice punya keberanian yang besar untuk mengajukan pertanyaan itu.
“Apa hakmu bertanya?”
Alice langsung panik melihat reaksi Erland. Wajahnya yang gugup semakin membuat Erland gemas. “Maaf, Pangeran!”
Namun, wibawanya membuat Erland membuang muka dan langsung berdiri. “Bereskan sisanya dan lakukan tugasmu seperti biasa!”
“Baik, Yang Mulia!”
Alice menundukkan kepala. Dia merutuki dirinya sendiri yang sudah dengan lancang dan berani mengajukan pertanyaan itu pada Erland. Untung saja dia tidak mendapat hukuman atas kelancangannya itu.
Setelah menyelesaikan tugasnya mengantarkan makanan untuk Erland, Alice kembali ke dapur untuk membersihkan peralatan makan dan juga mencoba kreasi baru seperti biasanya.
Namun, belum sampai di pintu dapur. Alice mendengar obrolan yang kurang mengenakkan dari pelayan-pelayan yang lainnya.
“Enak sekali jadi Alice. Dia bukan koki kepala, tapi selalu mengantarkan makanan ke ruangan Pangeran.”
“Kita yang lebih lama di sini saja belum pernah masuk ke ruangan Pangeran. Mudah sekali dia dapat kepercayaan!”
“Mungkin Alice melakukan cara kotor agar dapat posisi yang bagus di sini. Jangan-jangan dia juga bermimpi menjadi selir saat Pangeran naik tahta nanti!”
Kata-kata yang jelas sekali ditujukan untuknya itu membuat dada Alice terasa sesak. Memang, di mana pun tempatnya, yang namanya orang iri itu susah sekali untuk berpikir positif. Padahal, Alice sendiri juga dalam kesusahan saat menghadapi pangeran.
***
Sabar ya, Lis.. Nanti, aku aduin sama Pangeran, biar mereka dihukum 🏃♀️🏃♀️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Ney 🐌
💪💪💪💪
2024-01-08
0
Novano Asih
Kok manggilnya gonta ganti kadang yang mulia kadang pangeran 🤔🤔
2023-12-20
0
Pia Palinrungi
orang iri dn dengki mah gak bakalan bs tenang
2023-12-15
0