Pangeran Erland menelan ludah dengan susah payah. Dia terlihat syok dengan apa yang dilakukan Alice saat ini.
Wanita itu bersiap-siap untuk ikut masuk ke kamar mandi dan mengikuti Sang Pangeran dengan pipi merona merah. Seketika itu, Pangeran Erland jadi gelisah dan gugup, bahkan mukanya sudah ikut merah padam.
Tak ingin terjadi sesuatu yang berujung salah paham, Pangeran Erland pun menarik tangan Alice dan berteriak, “Kamu ini ngapain?”
Pangeran dan pelayannya itu saling bertatapan. Dengan tinggi yang tidak seimbang, Alice mendongak menatap wajah tampan Pangeran Erland yang kini terasa sangat dekat.
Ini adalah kali pertama mereka terlihat sangat dekat. Bahkan, Alice bisa melihat jelas bayangan dirinya sendiri di manik mata pangeran tampan itu.
Gadis itu tersipu malu, dan dengan polosnya Alice menjawab, “Saya, saya mau membantu Yang Mulia Pangeran menggosok punggung!”
Dihadapkan wajah manis dan malu-malu si gadis pelayan, hati Pangeran Erland tiba-tiba berdesir. Hal itu membuat Pangeran Erland merasa kian gugup dan kemudian membalas, “Aku hanya bercanda, dasar bodoh!”
Pangeran Erland melepaskan tangan Alice dengan sedikit kasar. Dia mendadak khawatir dengan kepolosan Alice yang menganggap serius apa yang dikatakannya tadi.
Sementara Alice, kini memegangi lengannya yang tadi dicekal oleh Pangeran. Dia tidak tahu, di mana letak kesalahannya sampai-sampai Pangeran menjadi kesal. Masalahnya, Alice bahkan tidak tahu kalau yang dikatakan Pangeran tadi hanya sebuah candaan.
“Ma-maaf, Yang Mulia Pangeran!” ucap Alice dengan kepala tertunduk.
Menyadari kepolosan Alice yang begitu mudah dibodohi, Pangeran Erland mendadak khawatir. Bayangan Alice tengah membantu beberapa laki-laki untuk mandi tiba-tiba terlintas di kepala.
Membayangkan Alice sedang menggosok punggung seorang laki-laki karena kepolosannya, entah mengapa ekspresi Sang Pangeran berubah kesal. Dia tidak rela jika sampai Alice dekat-dekat dengan laki-laki lain dan berujung mengerikan.
“Mulai sekarang, kamu harus jaga jarak dua meter dari laki-laki mana pun!” seru Pangeran Erland memperingatkan.
Mendengar perintah aneh yang keluar dari mulut pangerannya, Alice mengerutkan kening. Dia masih mencoba mencerna maksud dari menjaga jarak dengan laki-laki mana pun yang disebutkan Pangeran Erland.
Perempuan cantik itu menundukkan kepala dan berucap, “Yang Mulia Pangeran. Sekali lagi saya minta maaf. Maksud dari menjaga jarak itu ... em, bagaimana cara saya melayani Pangeran kalau saya harus menjaga jarak sejauh itu?”
Bukankah Pangeran Erland juga laki-laki. Tadi, dia mengatakan agar Alice menjaga jarak dengan laki-laki mana pun, bukankah itu artinya juga berlaku untuknya?
Erland merasa gemas dan memukul dengan sangat pelan pipi Alice yang bersemu. “Kecuali aku, Alice! Sudah, istirahat sana!”
Alice mengangguk pelan meski dirinya masih kebingungan. Dia belum memahami alasan Pangeran Erland menyuruhnya menjaga jarak dengan laki-laki.
Meski begitu, Alice tetap akan mematuhi peringatan menjaga jarak itu karena itu adalah perintah dari Sang Pangeran.
Sementara itu, Pangeran Erland kini sedang berendam di bathup. Entah mengapa pikirannya terus tertuju pada Alice.
Wajah sang pelayan yang merah dan gelagatnya yang malu-malu, terus memenuhi pikiran Sang Pangeran saat ini. Dia jadi senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Alice. Sangat imut dan membuatnya gemas.
Tanpa Erland sadari, dia terus tersenyum membayangkan wajah Alice, hingga tiba-tiba dia menyadari adik kecilnya ikut terbangun. Sang Pangeran mulai teraangsang karena pikirannya sendiri yang terus membayangkan Alice.
“Aah! Ada apa denganku?” Pangeran Erland menutup wajahnya dengan frustrasi karena malu dengan pikiran kotornya sendiri.
Hanya dengan membayangkan wajah cantik Alice saja, tubuh Pangeran sudah bisa menunjukkan reaksi yang luar bisa. Bagaimana dia bisa berhadapan langsung dengan pelayan pribadinya itu?
**
**
Pagi-pagi sekali, Alice sudah berkutat di dapur. Dirinya terlihat begitu semangat untuk mempersiapkan sarapan Pangeran Erland yang kini menjadi tanggung jawabnya secara penuh.
Alice tampak sibuk menyiapkan risotto. Hidangan nasi campur khas Italia, berupa nasi yang dimasak bersamaan dengan kaldu.
Meskipun terlihat sederhana, tetapi makan risotto hangat-hangat di pagi hari pasti sangat enak dan menenangkan. Membayangkannya saja sudah membuat Alice merasa tidak sabar untuk menyajikannya pada Sang Pangeran.
Kepala chef istana tampak kaget saat memperhatikan masakan Alice yang mirip dengan mendiang ratu. Namun, Alice tampaknya terlalu asyik sampai tidak menyadari ekspresi orang-orang di sekitarnya dan langsung membawakan sarapan itu untuk Pangeran.
Begitu sampai di ruangan Pangeran, Alice membuka penutup saji dan dengan percaya diri menunjukkan hasil masakannya. Sementara Pangeran Erland tampak mematung begitu melihat penampilan dari masakan sederhana buatan Alice.
“Yang Mulia, ini adalah risotto. Dimakan hangat-hangat saat cuaca cerah begini pasti enak,” kata Alice tanpa menyadari Pangeran yang tampak terkejut.
Begitu Alice selesai menyiapkan sarapannya, Pangeran Erland memasang ekspresi seperti biasa. Seolah-olah tidak ada yang aneh dengan makanan itu.
“Benarkah? Kalau tidak enak, maka kamu akan dapat hukuman!” balas Pangeran Erland yang kemudian mengambil sendok dan mulai menyuap.
Mendengar kata “hukuman” mendadak Alice jadi gugup. Kata-kata Pangeran selalu membuatnya berdebar dan kehilangan kepercayaan diri.
Pangeran Erland menunduk sebentar. Matanya juga terpejam menikmati makanan itu meresap ke dalam mulut. Sementara Alice tampak tegang menantikan komentar yang keluar dari mulut Sang Pangeran.
“Enak!” kata Pangeran sambil mengangguk-angguk. Dia bahkan mengangkat dua jempol dan menunjukkannya pada Alice.
Gadis itu merasa lega sekarang. Dia tersenyum senang karena satu kata pujian yang membuatnya merasa berbunga-bunga.
“Ayo duduk! Kamu harus coba masakan kamu yang enak ini!” kata Pangeran lagi yang kini membuat Alice terbengong.
Pelayan itu menoleh ke sekeliling. Tidak hanya dia dan Pangeran Erland di ruangan itu, tetapi juga ada pelayan lain dan pengawal Pangeran yang selalu bersiap di pintu.
Alice menggeleng kuat. “Terima kasih tawarannya, Pangeran. Di dapur masih ada sisa. Nanti saya akan mencobanya,” balas Alice sungkan.
Sang Pangeran tampaknya membaca gerak-gerik Alice yang merasa keberatan. Duduk bersama Pangeran, apalagi ikut makan bersama dianggap tidak sopan terhadap anggota kerajaan. Semua itu jelas dilarang oleh aturan-aturan istana.
“Kalian semua tolong keluar! Tinggalkan saya dan Alice!” perintah Pangeran Erland.
Alice membuka mulut lebar-lebar, tetapi dengan sigap langsung menutupnya dengan kedua tangan. Dia tidak menyangka Pangeran akan mengusir semua orang demi bisa makan bersamanya.
Begitu semua orang meninggalkan ruangannya, Pangeran Erland kembali menyuruh Alice untuk duduk. Yang lebih mengejutkan, Pangeran dengan sangat manis tersenyum hangat pada Alice dan bertanya, “Sekarang, kamu mau menemaniku makan?”
Alice masih ingin menolak karena dia tidak mau dianggap tidak sopan. Namun, Pangeran Erland malah bangun dari kursi dan menuntun Alice untuk ikut duduk dengannya.
“Risotto itu enaknya dimakan hangat-hangat, kalau sudah dingin tidak enak. Jadi, kamu harus makan sekarang!”
Dengan hati yang berdetak kencang, Alice pun menuruti keinginan Pangeran Erland dan duduk berhadapan dengannya, menemani sang pangeran sarapan.
Di bawah siraman cahaya matahari yang hangat, senyum Pangeran Erland terlihat tulus dan menyentuh hati Alice.
Entah mengapa Alice menjadi malu.
***
Tolong, bawa aku jauh dari mereka, aku takut meleleh gaess 🥹🥹 tapi, kalau dikasih kembang kopi apalagi vote, aku di sini aja sampek lumer 🙃🙃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
💐Lusi81
aku dah kasi vote 🤗
2024-01-16
1
Ney 🐌
😲😲🤗🤗
2024-01-08
0
Pia Palinrungi
mantappp thor, pangeran kan jg manusia biaa jatuh cinta sama siapa aja😂😂😂😂
2023-12-15
0