Pangeran | Bab 8

Mendengar ajakan sang pangeran, Alice jadi salah tingkah. Dia yang masih duduk di pangkuan Pangeran Erland pun seketika langsung ceria.

“Yang Mulia serius ingin mengajak saya? Apa saya benar-benar boleh ikut pergi ke luar istana?” tanya Alice dengan senyum malu-malu.

Pangeran menatap gadis itu dengan sesekali membelai rambut Alice. “Tentu saja boleh, aku yang mengajakmu, Alice. Siapa yang akan berani membantahku?”

Pipi Alice kembali merona karena saking bahagianya. Dia mengangguk setuju dan bersedia untuk pergi dengan Pangeran. Sudah cukup lama juga dia tidak melihat dunia luar semenjak masuk ke istana, menjadi pelayan Pangeran Erland.

Sang Pangeran pun tampak senang dengan persetujuan Alice. Dia menghadiahkan sebuah kecupan di pipi gadis yang tengah dipangkunya itu. Lalu, kedua tangan Pangeran mengeratkan pelukannya di tubuh Alice, seakan tak mau melepaskannya.

Mereka pun lanjut berbincang-bincang dengan posisi yang sama. Sepertinya, rasa bahagia sudah mengalahkan rasa pegal di kaki Pangeran karena memangku gadis pelayan kesayangannya itu.

Tangan Sang Pangeran menarik kepala Alice agar bersandar di dadanya. Sementara pria itu menyandarkan punggung dan kepala di sofa empuk.

Genggaman tangan mereka tidak terlepas, dan Alice terus mendengarkan cerita Pangeran mengenai inspeksi wilayah yang dilakukannya beberapa hari ini. Banyak hal terjadi yang dilalui Pangeran tanpa Alice dan itu membuat Sang Pangeran tersiksa.

Dengan setia, Alice mendengarkan semua keluh kesah Sang Pangeran, tetapi lama kelamaan rasa kantuk menyerangnya dan dia pun ketiduran di pelukan laki-laki itu.

Menyadari Alice sudah tertidur, bukannya marah atau membangunkannya, Pangeran Erland justru tersenyum, dan menggendong Alice ke ranjangnya yang empuk. Malam itu, mereka terlelap di satu ranjang dan di bawah selimut hangat yang sama yang membalut tubuh mereka.

**

Keesokan harinya, alarm alami dari tubuh yang terbiasa bangun pagi buta sejak masuk istana, membuat Alice terbangun. Gadis itu langsung syok seketika kala mendapati dirinya berada di satu ranjang yang sama dengan Pangeran.

Tangan Pangeran masih memeluk erat tubuh Alice. Hal itu membuat jantungnya berdebar sangat kencang, dan menyadari kebodohannya karena tertidur bersama Pangeran.

“Apa yang sedang aku lakukan?” gumam Alice yang kemudian secara hati-hati menyingkirkan tangan Pangeran dari tubuhnya.

Gadis itu lalu memandang wajah Pangeran Erland yang tertidur nyenyak. Betapa tampannya Pangeran Erland dari jarak yang begitu dekat.

Hal itu membuat Alice berbangga diri. Tidak banyak orang yang bisa melihat wajah Pangeran, apalagi dari jarak yang sedekat ini.

Alice tentu sangat beruntung karena dia mendapatkan itu semua. Di luar sana ada begitu banyak wanita yang mengidolakan Pangeran, dan bermimpi menjadi pelayannya. Ditambah lagi, Alice juga sudah merasakan lembutnya bibir Sang Pangeran tadi malam.

Mengingat kejadian semalam, Alice menjadi malu dan segera menyadarkan diri sendiri. “Astaga, apa yang aku pikirkan? Aku harus kembali ke kamarku sebelum ada yang melihat.”

Alice pun benar-benar meninggalkan kamar Pangeran saat hari masih sangat petang. Dia tidak perlu khawatir dengan pengawal di depan kamar Pangeran, hanya saja Alice tetap harus berhati-hati dengan pelayan yang lain, terutama Anne, asisten pribadi Pangeran, dan yang paling penting adalah Raja.

Dengan mengendap-endap dan sembunyi-semnbunyi, Alice akhirnya berhasil menuju kamarnya. Meski sebelumnya keadaan terlihat aman, tetapi Anne sang kepala pelayan rupanya sudah menunggu di dalam kamar Alice.

Alice terkejut bukan main dan wajahnya seketika kembali tegang, bahkan sangat tegang. “A-Anne!”

“Alice kamu dari mana?” tanya Anne dengan ekspresi geram yang menakutkan.

Bibir Alice bergetar hebat saat menjawab pertanyaan Anne itu. “A-aku, aku dari dapur,” jawabnya berdusta.

Anne tahu Alice berbohong. Dia bahkan tahu Alice tidak kembali ke kamar sejak mengantarkan makanan ringan untuk Pangeran. “Jangan bohong, Alice!”

Wajah Alice tertunduk malu. Dia benar-benar takut menghadapi Anne saat ini.

“Kamu dari kamar Pangeran, kan?” tanya Anne yang sebenarnya peduli dengan Alice.

Anne sebenarnya baik, hanya saja dia akan bertindak tegas pada semua orang jika melanggar aturan kerajaan.

Anne mengajak Alice untuk duduk di tepi ranjang, dan mulai menasehati. “Alice, tidak seharusnya kamu bertindak seperti ini terhadap Pangeran. Kamu harus sadar posisi, kamu itu siapa? Jangan bertingkah terlalu jauh sampai kamu tidak sadar ada jurang besar di hadapanmu!”

Alice menundukkan kepala mendengar nasihat yang diberikan Anne padanya.

“Kamu dan Pangeran jelas memiliki strata sosial yang sangat jauh berbeda. Pangeran punya tanggung jawab tinggi untuk kerajaan ini. Sementara kamu hanya seorang pelayan. Bekerjalah selayaknya pelayan, karena tidak ada pelayan yang tidur di kamar seorang Pangeran. Kalau Yang Mulia Raja mengetahui ini, menurutmu apa yang akan dia lakukan?”

Alice menelan ludah dengan susah payah. Rasanya ada yang menceekik tenggorokannya saat ini hingga Alice pun tak sanggup membantah Anne.

“Maafkan aku, Anne!”

Kata-kata yang keluar dari mulut Anne rupanya mampu menaampar hati Alice dan membuat wanita itu kembali sadar akan posisinya dan Pangeran Erland di istana ini.

“Aku mengatakan semua ini karena aku menyayangimu, Alice. Aku suka cara kerjamu dan juga keahlianmu yang membuat lidah Pangeran kita kembali normal karena masakanmu. Karena itu, aku tidak mau kamu terlalu berharap dengan Pangeran yang nantinya akan membuatmu sakit hati. Sebelum kamu terlalu jauh, akhiri perasaanmu pada Pangeran, demi kebaikanmu sendiri, Alice!”

Kata-kata Anne sebenarnya memang ada benarnya. Siapa pun di kerajaan ini pasti akan menentang hubungan seorang pelayan dengan putra mahkota yang akan meneruskan kerajaan nanti.

Sebagai seorang calon Raja, tentu saja Pangeran Erland tidak boleh sembarangan memilih pasangan hidup. Karena siapa pun yang menjadi istrinya nanti, pasti akan dinobatkan sebagai permaisuri yang menjadi simbol kerajaan.

Apa pun itu, status Alice sebagai pelayan, tidak akan layak mendampingi Pangeran yang suatu hari nanti pasti akan menjadi Raja.

“Iya, Anne. Aku mengerti!” jawab Alice dengan suara lirih.

Wajah Alice tertunduk. Matanya yang berkaca-kaca, berusaha bertahan agar tidak menangis di hadapan Anne.

“Baiklah, Alice. Sepertinya kamu harus istirahat dulu. Aku akan menyuruh pelayan lain menggantikan tugasmu untuk sementara. Dan mengenai Pangeran, aku yang akan mengurusnya. Sebaiknya kamu berpikir dengan tenang karena mungkin saja apa yang terjadi di antara kalian, itu hanya berkobar sementara yang dihasilkan oleh naafsu saja. Aku harap, setelah berpikir tenang, kamu bisa kembali sadar dan menyudahi semuanya!”

Setelah mengatakan hal itu, Anne meninggalkan kamar Alice.

Wanita itu pun merenung dan setetes air mata membasahi pipinya.

Apa benar yang Anne katakan? Mungkinkah perlakuan Pangeran padaku semata hanya karena naafsu sesaat?

***

Kembang kopinya dong gaess😪😪

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

BETUL APA YG DIKATAKAN ANNE

2024-07-04

0

Ney Maniez

Ney Maniez

🥺🥺🥺🥺

2024-01-08

1

anonim

anonim

Anne baik mau nasehati Alice.

2023-12-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!