Pangeran | Bab 13

Para pengawal, termasuk Alice, memuji Pangeran Erland yang memang terlihat keren. Mereka tidak ada yang berani melawan Putra Mahkota yang begitu haus akan pujian dari kekasihnya itu.

Saat semua pengawal memuji dirinya, Pangeran Erland menahan senyum dan mengangguk beberapa kali. Selanjutnya dia masuk ke mobil, disusul Alice yang duduk di kursi penumpang belakang bersamanya.

“Kita tidak langsung pulang. Bilang sama mereka semua kita akan naik ke bukit Wallux!” perintah Pangeran Erland pada asistennya.

Laki-laki yang mengurusi semua kegiatan Pangeran Erland itu pun mengangguk dan memerintahkan semua pengawal untuk bergerak menuju bukit Wallux.

Alice yang tidak tahu menahu mengenai bukit yang disebutkan Pangeran Erland itu, hanya bisa menerawang dalam pikirannya sendiri. Dia pikir, mungkin Pangeran Erland memang memiliki jadwal untuk pergi ke sana.

Sementara Pangeran Erland tampak semringah membayangkan apa yang bisa dia lakukan bersama Alice di sana. Dia masih belum rela kembali ke istana sekarang ini karena jarang-jarang bisa membawa Alice keluar dari istana.

Sesampainya di bukit, sebuah pemandangan indah tersaji di depan mata. Suasana indah kerajaan Warlingtoon terlihat dari atas sana.

“Tinggalkan Alice di sini. Kalian bisa berjaga di luar!” perintah Pangeran Erland pada asisten dan pengawalnya.

Mereka semua menurut, dan turun dari mobil. Sementara pasangan yang dimabuk cinta itu kini berduaan di mobil.

“Apa yang akan kita lakukan di sini, Yang Mulia?” tanya Alice kebingungan.

Pangeran Erland melepaskan alat di telinga dan dada Alice. Dia juga melepaskan rambut palsu yang terpasang di kepala Alice. Hingga saat ini rambut panjang dan hitam milik Alice tergerai lurus, jatuh menimpa punggung dan dadanya.

“Yang Mulia!” Alice berdebar saat Pangeran Erland menyentuh dadanya.

Bibir Pangeran kembali menyerang bibir Alice yang terbuka. Ciuman memabukkan kembali tercipta dari pertemuan dua lidah yang saling membelit.

Alice selalu tidak berdaya jika sudah diserang oleh rasa nikmat seperti ini. Dia memasrahkan diri saat ciuman Pangeran semakin dalam dan membuatnya kehabisan napas.

Pangeran segera melepaskan ciuman mereka dan tertawa melihat Alice yang tampak ngos-ngosan. Dia lalu menyentuh kedua pipi Alice dan berkata, “Kamu mau aku kasih napas buatan!”

Alice langsung malu mendengar pertanyaan Pangeran. Mereka bahkan baru saja berciuman dan bertukar saliva. Bukankah dalam prosesnya memberi napas buatan juga sama saja?

“Yang Mulia jangan bercanda terus! Sebenarnya di sini kita mau ngapain?” tanya Alice sambil merapikan rambut dan pakaiannya.

Pangeran Erland tidak langsung menjawab, dan malah kembali bertanya, “Kamu mau turun denganku? Aku ingin bergandengan tangan denganmu, menikmati jalanan setapak di bawah sana. Aku mau melakukan sesuatu yang nggak bisa kita lakukan di istana.”

Alice jadi terharu dengan ajakan Pangeran padanya. Sebagai sepasang kekasih, seharusnya mereka tidak perlu takut untuk bermesraan. Akan tetapi, keadaanlah yang memaksa mereka untuk terus menyembunyikan hubungan.

Alice mengangguk dan keduanya keluar dari mobil. Beberapa pengawal langsung bersiaga meski beberapa terlihat syok melihat pengawal mungil yang dibawa Pangeran, berubah menjadi seorang wanita cantik bernama Alice. Sementara Pangeran Erland sudah mengganti jas hitamnya dengan jaket levis yang terlihat lebih merakyat.

“Aku ingin jalan ke sana!” kata Pangeran sambil menunjuk jalan setapak menuruni bukit yang sepertinya menghubungkan jalan utama menuju sungai.

“Baik, Yang Mulia!” balas Asisten Jo. Dia lalu membagi pengawal menjadi beberapa bagian untuk menjaga Pangeran dari berbagai sisi tanpa menimbulkan kecurigaan. “Apa pun yang kalian lihat di tempat ini, anggap saja tidak pernah ada!”

Alice menoleh ke arah Asisten Jo yang dengan tegas memerintah anak buahnya. Pangeran Erland pun langsung merangkul Alice dan mengajaknya berjalan menyusuri jalanan kecil itu.

Tidak ada orang sama sekali di sana karena ini adalah wilayah terlarang, konon katanya ada banyak ranjau di tempat ini. Padahal, semua itu hanya karangan agar tidak ada orang yang datang.

Bukit itu sebenarnya jalan menuju pengasingan bagi bangsawan yang melanggar aturan kerajaan. Hanya saja, tempat itu sangat dirahasiakan.

Pangeran benar-benar menikmati keromantisan bersama Alice tanpa takut mendapat teguran atau pun pandangan negatif dari orang-orang.

“Yang Mulia, apa kita bisa datang ke sini lagi?” tanya Alice saat Pangeran menggandeng tangannya dan kembali menuju mobil.

Waktu mereka memang tidak banyak dan sangat terbatas, hingga rasanya belum puas menikmati kebersamaan.

“Aku belum tahu, Alice. Membawamu pergi saja tidak mudah, apalagi datang ke tempat ini lagi tanpa diketahui Baginda. Tapi, aku janji setelah aku menjadi Raja, aku akan membawamu ke tempat ini lagi kalau kamu mau!”

Alice tidak banyak berharap. Dia hanya ingin menikmati waktu dan kebersamaan mereka meski terasa singkat. Wanita itu tidak mau membayangkan masa depan mereka karena takut keinginannya tidak menjadi kenyataan.

**

**

Rombongan Pangeran Erland kini sudah kembali ke istana. Pangeran Erland kini membubarkan para pengawal yang sejak tadi menjaganya sepanjang hari.

Melihat hal itu, Alice yang masih menyamar sebagai pengawal pun tersenyum. Setelahnya, gadis itu mengikuti Pangeran Erland ke kamarnya bersama Asisten Jo dan satu ajudan lain.

Namun, di tengah jalan menuju kamar Pangeran, mereka berpapasan dengan Raja. Rombongan itu pun berhenti untuk bertegur sapa dengan Raja mereka.

“Pangeran Erland, ayah sudah dengar laporan mengenai tugasmu hari ini dan ayah sangat bangga,” puji Raja yang terlihat tulus saat mengatakannya.

“Terima kasih, Baginda Raja. Ini masih permulaan, akan ada banyak hal yang harus aku lakukan agar rakyat mencintaiku seperti mereka mencintai Baginda,” balas Pangeran.

Raja tersenyum tipis dan kembali berkata, “Kita sudah lama tidak makan malam bersama. Bagaimana kalau kita merayakan keberhasilanmu tadi dengan makan dan minum bersama!”

Pangeran sebenarnya merasa sedikit enggan karena ini akan menyita waktunya dengan Alice yang biasanya akan makan malam bersama lalu bermesraan. Namun, dia tidak memiliki alasan untuk menolak karena memang sudah sangat lama tidak makan bersama ayahnya itu.

Akhirnya, Pangeran pun mengangguk. “Baiklah, Yang Mulia Raja!”

Raja tersenyum bahagia dan berlalu meninggalkan Pangeran Erland. Begitu juga dengan Pangeran dan para pengawalnya yang kini melanjutkan langkah menuju ruangan pribadinya.

Namun, tiba-tiba Raja berhenti melangkah, lalu berbalik badan. Dia mengamati Pangeran Erland yang diikuti oleh asisten pribadinya dan dua pengawal.

Raja menaikkan alisnya dengan ekspresi bingung dan curiga. Salah satu pengawal yang sebenarnya adalah Alice, terlihat mungil dan tidak seperti pengawal pada umumnya. Gelagatnya juga terlalu gemulai dan tampak sangat aneh.

“Siapakah pengawal itu? Apa ada Pengawal yang semungil itu?”

***

Kembang kopinya jangan lupa gaess 🫶💋💋💋

Terpopuler

Comments

💐Lusi81

💐Lusi81

pengawal mungil?ada donggg...

2024-01-16

1

Ney 🐌

Ney 🐌

😲😲😲😲🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️

2024-01-08

0

anonim

anonim

waduuuuhhh ketahuan tidak ya Alice

2024-01-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!