Pangeran | Bab 2

Karena waktu yang sangat terbatas, Alice bersembunyi di salah satu bagasi mobil yang kebetulan tidak terkunci. Walaupun sempit dan membuat pernapasannya terasa sesak, tetapi setidaknya itu adalah tempat teraman dari kejaran Robert.

Sementara itu, sang pemilik mobil akhirnya memasuki mobilnya dengan beberapa orang lainnya. Mereka tidak tahu kalau di bagasi mobil yang mereka tumpangi saat ini ada seorang gadis yang sedang menumpang untuk bersembunyi.

Begitu mendengar suara orang yang memasuki mobil, mata Alice terbelalak dan mulutnya terbuka lebar. Jantungnya memompa dengan sangat cepat, takut-takut kalau yang masuk ke mobil adalah Robert yang berhasil menemukan dirinya.

“Aku mau berkuda!”

Suara laki-laki dalam nada rendah yang dalam dan berat itu terdengar asing di telinga Alice. Dia yakin seribu persen bahwa itu bukan suara Robert. Lalu, suara siapakah itu?

“Baik, Pangeran. Saya akan mensterilkan lapangan berkuda,” jawab laki-laki lainnya.

Di satu sisi Alice merasa lega saat menyadari bahwa itu bukan suara Robert. Namun, di sisi yang lain mendadak bulu kuduknya berdiri saat mendengar panggilan Pangeran yang diucapkan laki-laki itu. Yang Alice tahu, Pangeran adalah julukan yang hanya diizinkan untuk dipakai anggota kerajaan.

Masalahnya sekarang kalau dia benar-benar masuk ke mobil seorang pangeran, bukankah itu sama halnya dengan buunuh diri?

Saat mobil mulai berjalan, Alice bisa merasakan gerakannya. Tadinya, tangan Alice sudah bergerak untuk mengetuk mobil itu, tetapi seketika dia langsung tersadar bahwa mobil itu bisa membawanya ke tempat yang jauh.

Dalam hati dan ketakutan luar biasa yang membuat tubuhnya terasa menggigil, Alice berdoa agar Tuhan masih mau berbelas kasih dalam pelariannya ini. Meski pikirannya tidak yakin akan selamat, tetapi hatinya sangat berharap orang-orang pemilik mobil itu akan menyelamatkan hidupnya.

Sepanjang perjalanan, Alice terus dihantui pikiran-pikiran buruk tentang nasib yang akan menimpanya setelah ini. Sampai akhirnya, mobil yang ditumpangi Alice itu berhenti.

Para penumpang mobil mulai keluar satu per satu, dan Alice pun memberanikan diri untuk keluar setelah beberapa saat.

Begitu kaki Alice menyentuh tanah, sebuah gerakan cepat menyerbu ke arahnya. Jantung Alice seakan berhenti berdetak untuk beberapa detik karena sekarang di hadapannya beberapa orang sedang menodongkan senjata ke arahnya.

“Jangan bergerak!”

Sebuah perintah yang membuat tubuh Alice panas dingin karenanya. Ada empat orang yang berdiri mengepungnya, sedangkan tidak jauh di belakang mereka ada seorang pemuda yang sangat tampan. Alice tahu, itu adalah pangeran kerajaan Warlingtoon.

Alice mengangkat kedua tangan persis seperti yang diperintahkan padanya. Matanya tak bisa berhenti menatap ketampanan pangeran yang baru kali ini bisa Alice lihat secara langsung.

Bukan, Alice bukan sedang memuja, tetapi dia sedang memohon belas kasih dari seorang pangeran yang seharusnya bisa menyelamatkan rakyatnya.

“Siapa kamu?” Suara bernada rendah itu kembali terdengar di telinga Alice. Bedanya, kali ini dia bisa melihat langsung gerakan bibir laki-laki itu sangat mengucapkan kalimat tanyanya.

Alice menelan saliva dengan susah payah, mulutnya sedikit terbuka tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Mata indah berwarna kecokelatan itu mulai berkaca-kaca seakan menunjukkan bahwa dirinya sedang dalam kesusahan.

“Sa-saya, nama saya Alice!” jawab Alice dengan gugup.

“Tujuanmu apa menyelundup ke mobilku?” Suara pangeran tampan itu tiba-tiba meninggi. Mungkin dia geram melihat Alice yang dengan berani masuk ke mobilnya dan membuat sebuah peringatan keamanan bahwa bagasinya ternyata tidak diperiksa dengan baik oleh pengawal.

“Sa-saya cuma sembunyi, Pangeran,” jawab Alice dengan suara yang pelan.

Pangeran Warlingtoon bernama Erland itu tidak bisa bersabar menunggu jawaban Alice. Dia menyuruh para pengawal untuk menggeledah Alice. Namun, karena mereka semua laki-laki, Erland merasa itu kurang sopan dilakukan sekalipun Alice adalah penjahat.

Putra mahkota itu akhirnya menyuruh seorang wanita tua yang biasa membersihkan kandang kuda untuk menggeledah tubuh Alice. Hasilnya, tidak ada benda apa pun yang melekat dalam tubuh Alice yang masih memakai seragam pelayan di hari pernikahannya.

“Jelaskan kenapa kamu masuk ke mobil pangeran!” perintah pengawal setelah Alice selesai diperiksa.

Alice merasa ini adalah kesempatan terakhirnya untuk berkata yang sebenarnya. Dia meyakinkan diri bahwa Erland adalah calon raja yang bijak dan mungkin akan bisa menolongnya dari Robert.

“Saya kabur di hari pernikahan karena kakak tiri saya bernama Robert menjual saya pada seorang duda yang istrinya meninggal akibat kekerasan. Hanya saja, karena uang kasus kematian istrinya tidak sampai menyebar ke publik dan dia masih bebas sampai sekarang.”

Alice menjelaskan semua yang terjadi padanya sampai berakhir dengan sembunyi di bagasi mobil pangeran. Sementara Erland mendengarkan semua penjelasan Alice tanpa ekspresi apa pun.

“Saya mohon Pangeran Erland, beri saya perlindungan. Saya tidak mau tertangkap saudara tiri saya, ataupun kembali pada tunangan saya itu, Pangeran!” Alice membuka kancing kemejanya dan berbalik badan untuk menunjukkan luka memar di punggungnya.

Suara Alice yang lemah dan tatapan matanya yang tampak memohon, membuat Erland terasa sulit untuk menolak. Namun, sebagai pangeran, tentu saja dia tidak bisa sembarangan menolong orang.

“Memangnya kamu bisa kerja apa?”

Pertanyaan Erland membuat semangat dalam diri Alice kembali membara. Dia harus melakukan yang terbaik agar pangeran bersedia menolongnya dari jurang kelam ini.

“Saya bisa memasak, Pangeran. Tolong izinkan saya memasak untuk Pangeran. Kalau saya gagal, saya bersedia dihukum mati dan dianggap penyusup!”

Asisten Pangeran Erland memberikan sebuah informasi yang cukup mengejutkan mengenai Alice dan keluarganya. Dari informasi itu juga, Pangeran Erland mengetahui bahwa cerita yang Alice sampaikan sebelumnya adalah sebuah fakta, dan bukan karangan semata.

Keberanian Alice yang terlalu nekat, membuat Erland akhirnya memberi wanita itu kesempatan. Alice pun merasa lega dan akhirnya memasak langsung di hadapan pangeran dan para pengawal di dapur khusus di tempat berkuda itu.

Alice membuat souffle cake yang dia yakin rasanya enak walau tanpa mencicipi adonannya. Dia begitu cekatan dan andal di mata para pengawal yang menyaksikannya memasak. Sampai akhirnya, makanan buatan Alice pun sampai di hadapan pangeran.

Dari penampilannya yang cantik, tampaknya itu sangat menggugah selera. Namun, yang Alice tidak tahu, Pangeran memiliki masalah dengan indra perasanya. Dia tidak akan bisa merasakan apa pun dari makanan yang masuk ke mulutnya. Semua akan terasa hambar.

Tangan Pangeran Erland menyentuh ujung sendok dan tiba-tiba bibirnya tersenyum menyeringai. Dia membayangkan bagaimana ekspresi Alice saat nanti dia bilang dengan jujur bahwa makanan itu rasanya hambar.

Sayangnya, saat kue dengan tekstur lembut itu menyentuh mulutnya, secara ajaib Erland bisa merasakan kembali cita rasa manis. Bahkan, pangeran bisa merasakan asamnya potongan buah stroberi yang dijadikan topping souffle cake itu.

‘Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa makanan ini membuat lidahku bisa merasakan lagi?’

***

Gimana gaess? Udah mulai penisirin belum. Yok like sama komennya diamanin, tinggalin ritual jejaknya yaa 💋💋

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

MANTAP THOR SUKA SEMUA CERITA MU 👍👍

2024-07-03

0

Ney 🐌

Ney 🐌

😲😲😲😲

2024-01-08

2

Pia Palinrungi

Pia Palinrungi

lanjut thor

2023-12-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!