Pangeran | Bab 16

Pangeran datang menemui Raja sesuai dengan instruksi yang dia dapat. Laki-laki itu duduk di hadapan sang ayah dengan wajah tenang dan seolah tidak tahu apa-apa.

“Yang Mulia, ada apa memanggil saya?” tanya Pangeran Erland begitu dia duduk di hadapan ayahnya itu.

“Pangeran Erland. Kenapa Anne diganti dengan pelayan lain? Bukankah dia pelayan paling setia yang sangat dipercaya mendiang Ratu?”

Pertanyaan Raja membuat Pangeran tegang, lalu sedikit menundukkan kepala diiringi helaan napas berat. Meski dia sudah menyiapkan jawaban yang paling tepat, tapi tetap saja dia harus berpura-pura kaget agar Raja tidak tahu bahwa dia sudah tahu diam-diam ayahnya menyelidiki istananya.

“Ayah,” kata Pangeran dengan lemas. “Anne sudah tidak menghormatiku lagi, Ayah. Dia merasa bisa mengaturku karena dia adalah pelayan terpercaya mendiang ibu. Anne jadi besar kepala. Jadi, aku tidak bisa menggunakannya lagi!” jelas Pangeran bersungguh-sungguh.

Pangeran Erland ternyata cukup pintar untuk mengelabuhi ayahnya. Dia sudah menyiapkan jawaban dan dalih yang cukup kuat untuk membela dirinya.

“Bukankah ayah sendiri yang bilang bahwa aku harus mengelilingi diriku dengan orang yang bisa aku percaya untuk mendukung posisiku? Lalu, untuk apa aku membiarkan Anne yang dengan seenak hati mengatur diriku?”

Raja terlihat sangat syok mendengar jawaban Pangeran Erland. Entah mengapa, Raja merasa tidak enak dalam hatinya.

Senyum di wajah Pangeran seketika terlihat menyeramkan. Namun, detik selanjutnya, aura gelap itu sirna seperti tidak pernah ada sama sekali.

Karena alibi Pangeran Erland cukup kuat, pada akhirnya Raja hanya bisa mempercayai Pangeran Erland dan membebaskannya untuk kembali ke istana Pangeran.

“Baiklah, kamu bisa kembali!” titah Sang Raja.

Pangeran pun pamit untuk kembali ke istananya. Lalu, tak berapa lama Raja kembali memanggil kepala pelayan untuk menemuinya.

Dengan sangat sigap, Butler menemui Raja untuk mendapatkan perintah selanjutnya.

“Cari tahu keberadaan Anne! Dan cari tahu juga kenapa Anne bisa dipecat oleh Pangeran!” titah sang raja yang masih belum puas dengan jawaban Pangeran Erland.

“Baik, Baginda! Saya sendiri yang akan datang ke rumah orang tua Kepala Pelayan Anne,” balas Butler dengan patuh.

Perasaan dan pikiran Raja masih belum bisa tenang, meskipun Pangeran Erland sudah menjelaskan alasan yang masuk akal.

Setelah mendapat perintah dari Raja, Kepala Pelayan itu segera pergi ke kediaman Anne. Namun, Anne tidak ada di rumahnya.

“Anne memang sudah dipecat oleh Yang Mulia Pangeran, karena kami takut menanggung malu di depan bangsawan lainnya, kami mengusulkan agar Anne berlibur ke kampung halaman kami sampai Anne tenang,” jelas orang tua Anne begitu Butler menanyakan tentang keberadaan putri mereka.

Butler mendesaahkan napas kasar dan memejamkan mata. Dia harus mendapat jawaban yang lebih rinci sebelum kembali ke istana.

“Kenapa Yang Mulia Pangeran sampai memecat Anne?”

Wajah kedua orang tua Anne seketika tertunduk. Butler pikir, mereka sedang merasa malu atau takut karena sesuatu.

“Anne ... Anne sudah berani mengatur-atur Pangeran Erland. Anne merasa dia adalah orang kepercayaan mendiang Ratu yang menjadi pengganti dari mendiang Ratu sendiri. Dia menasihati Pangeran layaknya seorang ibu, dan Yang Mulia Pangeran tidak suka itu.”

Butler mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh orang tua Anne. Dia lalu berpamitan untuk kembali ke istana setelah merasa puas dengan jawaban kedua orang tua Anne.

Begitu kepala pelayan Raja meninggalkan rumah orang tua Anne, seorang ketua pengawal bayangan yang memakai topeng dan pakaian serba hitam muncul. Sejak tadi, sebelum kepala pelayan itu datang, pengawal bayangan itu sudah berada di dalam kediaman keluarga Anne, tanpa kepala pelayan itu sadari.

Ketua pengawal bayangan itu sudah lebih dulu nengancam mereka dengan bisnis ilegal yang telah mereka lakukan. Pada akhirnya, orang tua Anne hanya bisa berbohong mengenai putrinya seperti yang telah didoktrin oleh pengawal bayangan itu.

Raja pun mendapat laporan dari kepala pelayannya yang mengatakan bahwa Anne memang dipecat dan saat ini sedang berlibur ke kampung halaman untuk sembunyi dari rasa malu. Kepala pelayan juga menjelaskan pada Raja mengenai alasan Pangeran Erland sampai hati memecat Anne.

Rupanya, jawaban yang diberikan kepala pelayan sama persis dengan jawaban Sang Pangeran. Raja pun mengakhiri kecurigaannya dan berusaha menghalau pikirannya yang mungkin sudah terlalu berlebihan mengenai Pangeran Erland.

*

*

*

Pangeran Erland memanggil Alice untuk bertemu di taman yang agak jauh dari lalu lalang pelayan dan pengawal istana. Bersama dengan ajudannya yang lain, Pangeran mengajak kekasihnya itu untuk memetik bunga mawar yang tumbuh subur di sana.

Bunga mawar itu, dulunya adalah tanaman kesayangan mendiang Ratu, dan Pangeran sesekali mengunjunginya saat merindukan sang ibu.

“Alice, coba kamu pegang ini!” kata Pangeran Erland sembari menyerahkan sekuntum bunga mawar merah yang terlihat sangat cantik.

Alice mengerutkan kening, tapi tidak berani membantah sama sekali. Lalu, dengan patuh dia memegang mawar itu.

Pangeran Erland memotret Alice yang tengah memegang bunga mawar dengan kamera ponselnya. Lalu, dia menunjukkan hasil jepretan kamera itu pada Alice.

“Lihatlah! Ini adalah gambar tentang dua hal yang terindah di dunia ini. Kamu, dan bunga mawar ini!”

***

Mawar yang dikasih pembaca kayaknya belum panen, padahal mawarnya pangeran udah panen loh 😂😂 sini-sini, mana mawarnya, sekalian kopi juga boleh 🤭🤭

Terpopuler

Comments

Ney 🐌

Ney 🐌

😍😍

2024-01-09

1

anonim

anonim

pangeran dah bucin ma Alice

2024-01-07

1

Abie Mas

Abie Mas

gombal

2023-09-07

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!