Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Langit yang indah nampak mulai kemerahan karena tak lama lagi sang mentari akan segera terbit. Langitnya menjadi semakin indah karena dihiasi dengan banyaknya burung yang beterbangan ke sana kemari.
Pagi-pagi seperti ini memang selalu indah, itulah mengapa sangat disayangkan jika ada momen seperti ini sampai terlewatkan.
Sepasang bola mata birunya sudah cukup lama memandang ke arah langit, itulah mengapa ketika hari libur seperti ini tak ingin sampai melewatkan momen melihat banyak burung yang beterbangan.
Dengan melangkah gontai seorang wanita berjalan dengan melewati pintu rumahnya, nampaknya ia ingin menemui putra kecilnya yang berada di luar rumahnya.
" Arta, kamu sedang apa nak?. " seru Naya pada sang putra Arta yang ternyata sedang berdiri.
Sontak bocah laki-laki yang bernama Arta itu langsung berbalik badan.
" Bunda. " itulah kata yang keluar dari mulut mungilnya.
" Sayang, apa yang kamu lakukan nak?. " Naya mendekati putranya.
" Lihat bulung. " sahut Arta dengan menunjuk burung-burung yang beterbangan di atas sana.
Naya melihat ke arah di mana putra kecilnya ini menunjuk, ternyata memang benar di atas sana banyak burung kecil yang beterbangan, seperti kebiasaannya jika hari libur sekolah seperti ini pasti putranya tak pernah ketinggalan untuk melihat burung-burung yang terbang, nampaknya putranya memang sangat menyukai burung.
Dengan lembut Naya meraih tubuh Arta agar menghadapnya.
" Sayang, ini sudah mulai pagi, bunda sama nenek sudah selesai masak, ayo kita sarapan dulu. " Naya ingin mengajak putranya sarapan.
Arta tak langsung menyahut, bocah laki-laki itu nampak sedang berpikir.
" Ayo sayang kita sarapan sekarang?. " ajak Naya.
" Tapi bunda itu bulungnya. " Arta menunjuk burung-burung itu.
" Jadi anak bunda masih mau di sini?, ya sudah kalau begitu bunda sama nenek sarapan duluan saja ya. " begitulah sahutan Naya.
Dan Naya mulai melepas rengkuhan kedua tangannya dari kedua bahu Arta.
" Iya bunda Alta mau salapan. " sahut Arta pada akhirnya.
Melihat putranya seperti ini membuat Naya jadi tersenyum.
" Uuum... anak bunda lucu sekali sih. " dengan begitu gemasnya Naya sampai menjawil kedua pipi Arta.
" Ayo bunda kita salapan. " Arta meraih tangan bundanya.
" Ayo sayang. "
Akhirnya sepasang ibu dengan putranya itu memilih masuk ke rumahnya, antara merasa kasihan dan gemas pada putranya, Naya sendiri memang sengaja harus melakukan hal ini, jika tidak putra kecilnya ini masih akan tetap berada di luar dengan melihat burung-burung yang terbang itu.
Arta, bocah laki-laki itu sudah berusia lima tahun lebih, tapi siapa sangka di usianya yang belum genap enam tahun itu sudah duduk di bangku TK nol besar, dan mungkin beberapa bulan lagi bocah itu sudah lulus sekolah TK dan akan melanjutkan pendidikannya ke tingkat SD.
*****
" Kenapa ini bisa terjadi?, apa kerja kalian hah?... "
" Katakan, siapa yang sudah berani mencuri uangku?, cepat akui sekarang, jika tidak jangan salahkan aku jika sampai membuat pelakunya sangat menyesal. " Arland sangat marah, bahkan kali ini ia tak akan memberi ampun pada orang yang sudah dengan berani melakukan korupsi di perusahaannya.
Semuanya jadi diam, para petinggi perusahaan Ambrose tak ada yang berani mengucapkan satu katapun padahal tuan mereka sudah cukup lama marah.
" Jawaaab... kenapa kalian diam hah?... apa kalian semua bisu?. "
" Jawab, jika tidak akan aku pecat kalian semua. "
Deg...
" Tu-tuan saya tidak tahu, bukan saya pelakunya tuan. " sahut salah satu manager.
" Bukan saya juga tuan, saya tidak tahu apa-apa. "
" Iya tuan bukan saya juga. "
Semuanya tak ada yang mengaku akan siapa dalangnya.
" Jadi menurut kalian uang perusahaanku hilang dengan sendirinya?, jadi uang seratus miliar lebih hilang sendiri?, kalian mau bercanda?. "
Semuanya benar-benar sangat takut, keadaan di ruangan ini begitu sangat mencekam, siapakah pelaku yang sebenarnya yang telah dengan begitu berani melakukan korupsi dengan jumlah yang sangat besar, tidakkah ia merasa takut jika tuan Arland membalasnya.
Arland sangat marah besar, bagaimana tak marah jika dana yang berjumlah satu triliun itu harus mengalami kebocoran hingga lebih dari seratus miliar, siapakah pelaku yang sudah berani melakukan korupsi itu masih belum diketahui, tetapi jika pelakunya sudah berhasil ditemukan, maka bisa dipastikan jika Arland tak akan memberi ampun sang pelaku.
" Akan aku beri waktu, jika dalam dua puluh empat jam pelakunya belum mengaku juga, lihat saja akibatnya. "
" Daniel. " panggil Arland pada sang asisten.
" Iya tuan. " sahut Daniel dengan sigap.
" Aku mau kamu segera temukan siapa pelakunya dan bawa ke hadapanku. " Arland tegas mengatakannya.
" Siap tuan, saya akan melakukan seperti yang tuan suruh. " sahut Daniel.
" Kalian semua, sekarang keluar dari ruanganku. " teriak Arland.
Dan benar saja, tanpa bertele-tele para petinggi itu dengan tersentak langsung tergerak untuk pergi, mereka tak ingin jika sang tuan Arland menjadi semakin marah.
" Brengsekk semuanya, brengsekk... "
Brakk...
Arland begitu sangat marah, bahkan emosinya masih belum keluar semuanya, bagaimana bisa dirinya sampai kecolongan seperti ini.
" Tuan, lalu bagaimana?, apakah tuan akan mengunjungi proyek baru tuan itu?. " tanya Daniel.
" Carikan aku rumah, yang lokasinya tidak jauh dari sana, cepat... " jelas Arland.
" Baik tuan, akan segera saya carikan. " sahut Daniel.
Dan tanpa menunggu lama, Daniel mulai bergerak, sang asisten pribadi Arland itu langsung bergegas pergi.
Karena keadaan di mana proyek itu sedang dibangun membutuhkan pengawasan langsung dari tuannya, membuat Daniel harus sesegera mungkin menemukan tempat tinggal untuk tuan Arlandnya yang lokasinya tak terlalu jauh dari proyek itu dibangun.
" Haah... " Arland menarik napasnya dengan dalam.
" Sial... "'
Kini di ruangan besarnya hanya menyisakan dirinya, pagi-pagi seperti ini sudah harus mendapat kabar yang begitu sangat membuatnya emosi.
Sebenarnya kehilangan uang sebesar itu adalah hal yang kecil bagi Arland, namun yang menjadi persoalannya bukanlah uang akan tetapi Arland merasa sudah kecolongan karena telah dipermainkan oleh bawahannya sendiri.
" Lihat saja, siapapun pelakunya, akan kubuat bertekuk lutut. "
*****
Benda berdiagonal yang dapat mengeluarkan gambar dengan suara itu sudah cukup lama aktif, namun sosok yang seharusnya memperhatikan benda itu malah memperhatikan hal yang lainnya.
Dengan begitu sangat fokus Arta membaca buku yang dipangkunya, bocah laki-laki itu memang gemar membaca buku, maka tak heran meski usianya lebih muda dari teman-teman sekelasnya tak membuat Arta kalah pintar dari mereka, bahkan Arta memiliki kepintaran di atas rata-rata kepintaran temannya.
" Ehem-ehem. " tiba-tiba ada suara seseorang yang berdeham.
Sontak Arta langsung menoleh, dan ternyata memang benar bundanya yang datang.
" Sayang, anak bunda ini mau nonton tv atau baca buku?. " tanya Naya dengan menghampiri Arta.
" Nonton tv bunda, tapi Alta ingat sama buku yang dibeli bu gulu, ya jadinya Alta mau baca buku deh. " dengan begitu polosnya Arta mengatakan hal yang sebenarnya.
Mendengar penjelasan dari putranya membuat Naya jadi tersenyum lebar, putranya yang satu ini memang terlalu rajin.
" Akhir-akhir ini kamu rajin sekali membaca sayang, ada apa sih?. " tanya Naya dengan iseng.
Naya mungkin hanya iseng saja menanyakan hal ini pada putranya, namun siapa sangka jika pertanyaannya ini malah membuat Arta jadi menutup bukunya.
" Ada apa sayang?, kok bukunya ditutup?. " tanya Naya.
Arta menatap kedua bola mata bundanya dengan dalam.
" Ada apa sayang?, apa ada sesuatu?. " tanya Naya lagi.
" Alta halus lajin belajal bunda agal jadi anak pintal, dan... ketika ayah Alta sudah pulang nanti ayah melasa senang sama Alta. " sahut Arta dengan sebenarnya.
Dan seketika itu hati Naya menjadi terhenyak, Naya merasa seperti mendapatkan tamparan keras pada batinnya.
Jadi alasan yang sebenarnya mengapa putranya ini rajin sekali belajar adalah demi ayahnya.
Bertambahnya usia tak membuat Arta berhenti ingin tahu tentang ayahnya, Naya masih sangat ingat putranya pertama kali menanyakan tentang ayahnya disaat usia empat tahun, dan sekarang pun masih sama.
Enam tahun telah berlalu ternyata tak membuat keadaan tetap baik-baik saja. Dan sekarang Naya menjadi semakin khawatir, mungkin saat ini dirinya bisa memberikan alasan yang sama mengapa ayahnya Arta tak kunjung pulang, tetapi ketika Arta sudah besar nanti rasanya alasan yang sama sudah tak bisa diberikan lagi.
Bersambung..........
❤❤❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
dika edsel
sabar menunggu...up lagi dong kak,q suka karyamu thor cemangat💪..
2023-09-05
1
Kasma Aisya
ceritanya bagus thor.lanjut💪
2023-09-04
1