Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Sinar dari sepasang cahaya lampu telah datang membelah halaman yang begitu luas ini, cahayanya begitu sangat terang sehingga menyilaukan setiap apa pun yang terkena pantulan cahayanya.
Dengan beratapkan langit yang sudah malam sang tuan rumah yang melakukan perjalanan lumayan jauh akhirnya tiba juga di kediamannya.
Layaknya menunggu kedatangan sang raja, Rita dengan putrinya Mika menunggu kedatangan Arland, tak peduli meski hari sudah malam keduanya telah berada di teras rumahnya, mereka berdua menunggu kedatangan sang tuan yang menjadi tumpuan hidup mereka.
Arland mulai keluar dari dalam mobilnya, pria blasteran itu mulai melangkah begitu saja. Sangat terlihat dari raut wajahnya yang nampak lusuh seperti orang yang kurang bersemangat, sepertinya Arland kelelahan.
" Selamat datang nak. "
" Selamat datang kak Arland. "
Arland diam saja, pria bertubuh tinggi itu terus melangkah, mungkin karena merasa sudah sangat lelah membuatnya jadi mengabaikan siapapun.
Malam-malam seperti ini mama dan adik tirinya masih masih belum tidur, pasti ada sesuatu yang mereka inginkan.
" Kak Arland tunggu. " seru Mika dengan menahan lengan Arland.
Sontak Arland jadi menghentikan langkahnya.
" Kak, kakak malam sekali pulangnya, aku dan mama sampai mengantuk yang menunggunya loh. " dengan bergelayut manja Mika yang berbicara.
" Iya nak, mama khawatir sama kamu, apa lagi kamunya susah dihubungi. " seru Rita.
" Siapa yang suruh menungguku?. "
Deg...
" Jangan sok khawatir padaku, aku sudah dewasa, memangnya dengan kalian khawatir akan membuat hidupku jadi lebih baik?. " begitulah Arland yang hampir selalu mengeluarkan kalimat pedasnya.
Arland sungguh sangat muak dengan dua wanita yang ada di depannya ini, jika bukan karena pesan almarhum papanya maka dirinya sudah sangat tak sudi jika harus tinggal satu rumah dengan mereka berdua.
Arland menarik lengannya dari rangkulan Mika, ini benar-benar sangat mengganggu.
" Kak Arland tunggu dulu. " Mika kembali menahan lengan Arland.
" Apa lagi Mika?, ini sudah malam, aku lelah, aku mau istirahat. "
" Iya, hanya sebentar kok kak Arland, jadi begini, uang bulananku dan mama sudah hampir habis, jadi... "
" Jadi apakah satu miliar cukup?. " Arland langsung saja memotong kalimat Mika.
Deg...
Rita dan Mika jadi tersentak yang mendengar nominalnya, satu miliar, itu adalah nominal yang lebih banyak dari nominal biasanya.
" Kalian tidak mau?. " tanya Arland.
" Tidak, tidak nak, bukan begitu, tentu saja kami tidak menolaknya, kalau bukan kamu yang memberikan kami uang lalu dari mana kami bisa berbelanja?. " seperti orang yang memohon belas kasih, Mika memang ahlinya.
" Begitu saja repot. " dengan keras Arland kembali menarik lengannya.
Ternyata memang benar dugaannya, sikap manis mereka ada karena ada maunya.
" Kalian hanya membuang waktuku saja. " dan Arland kembali melanjutkan langkahnya, seharusnya dirinya mengabaikan saja dua wanita benalu yang hanya ingin menumpang hidup nyaman di rumahnya.
Bagi Rita dan Mika ini adalah sebuah hadiah emas, uang yang akan Arland berikan sangatlah banyak.
" Ma, satu miliar ma, satu miliar... "
" Iya sayang, kita bisa belanja banyak hihihihi... "
Layaknya anak kecil, keduanya sangat kegirangan karena akan mendapatkan uang yang sangat banyak dari Arland. Tak seperti jatah bulanan sebelumnya, bulan ini Arland akan memberikan satu miliar uangnya untuk mereka berdua.
" Satu miliar... satu miliar... kita bisa belanja sepuasnya ma... " bahkan Mika sampai berloncat kegirangan karena begitu senangnya.
Begitulah keduanya, sepasang ibu dengan putrinya itu memang selalu mencari kesenangan dengan menggunakan kekayaan Arland, mereka berdua lupa jika bukan karena belas kasih dari tuan George mereka berdua tak akan bisa menikmati kekayaan keluarga Ambrose.
Pak Rahmat sang supir pribadi Arland hanya merasa miris menyaksikan hal di depan matanya, dua wanita ini bisanya hanya memanfaatkan tuan Arland dan juga kekayaannya saja.
Memang benar jika tuan Arlandnya adalah sosok yang berkuasa, tetapi untuk mengabaikan dua wanita ini rasanya agak sulit bagi tuan Arlandnya.
" Kasihan sekali anda tuan, anda harus hidup dengan dua wanita yang hanya menginginkan harta keluarga Ambrose saja. " begitulah batin pak Rahmat yang berbicara karena merasa miris dengan keadaan ini.
*****
Sepasang kelopak matanya yang begitu nyenyaknya terpejam mulai kembali terbuka lantaran merasa terusik.
Dengan masih setengah sadar Naya mulai mengerjapkan kelopak matanya, rasa tak nyaman dari dalam perutnya lah yang telah mengusik tidur malamnya.
Naya memperhatikan area di sekitarnya, ternyata keadaan masih remang-remang yang menandakan jika waktu masih malam.
" Sssh... perutku, kenapa dengan perutku?. " Naya merintih, Naya merasa perutnya sangat sakit.
" Huft... ya Tuhan. " rasanya benar-benar sangat tak nyaman, Naya merasa tersiksa karena rasa sakit dari perutnya ini.
Naya melihat ibunya, ternyata ibunya masih tidur terlelap.
" Ibu sssh... bu bangun, perut Naya sakit. " Naya sedikit menggoyangkan lengan ibunya.
" Bu bangun, tolong Naya, perut Naya sakit bu. " kali ini Naya sedikit lebih keras dalam menyentuh lengan ibunya.
Dan benar saja, bu Aini pun jadi mulai membuka matanya, adanya sesuatu yang menggerakkan tubuhnya membuat bu Aini akhirnya terbangun juga.
" Bu tolong Naya, perut Naya sakit, mungkin Naya mau melahirkan. "
Deg...
" Ya Tuhan nak. " sontak bu Aini langsung terbangun karena begitu kagetnya.
" Bu, perut Naya sakit, Naya mau ke rumah sakit huhu... "
" Ya Tuhan, bertahanlah nak, iya ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang. " usai mengucapkan kalimatnya bu Aini langsung bergegas turun.
Kedua matanya yang awalnya sulit terbuka kini menjadi melotot karena terkaget. Tak ada alasan bagi Aini untuk berlama-lama, bisa dipastikan saat ini putrinya Naya akan segera melahirkan.
" Sssh... bu sakit. " rintih Naya.
" Iya sabar dulu nak, ini ibu mau ambil jaket dulu biar nanti di jalan kamu tidak kedinginan. " dengan mengambil jaket milik Naya dari dalam lemari tak lupa Aini juga mengambil uang tabungan untuk biaya persalinan Naya.
Bu Aini tak menyangka jika putrinya akan melahirkan malam ini, padahal menurut prediksi dokter putrinya akan melahirkan sekitar tiga hari lagi.
*****
Ting... ting... ting...
Jarum jam penunjuk waktu telah mengarah pada angka satu, artinya saat ini waktu telah lewat tengah malam.
Padahal sewaktu baru tiba dari perjalanan tadi kedua matanya sudah sangat mengantuk, tapi mengapa hingga selarut ini kedua matanya ini tak mampu juga untuk terpejam, belum lagi saat ini hatinya sedang merasa gelisah tanpa tahu apa penyebabnya.
" Hah... " Arland menarik napasnya dalam-dalam dengan harapan agar kegelisahan di dalam hatinya menjadi sedikit berkurang.
Entah apa yang terjadi Arland sendiri tak mengerti, semenjak mulai masuk ke kamarnya rasa gelisah mulai menyerang hatinya, seolah seperti ada sesuatu yang akan terjadi tetapi entah apa itu.
" Sial, kenapa aku gelisah begini?. " semakin lama Arland semakin tak kuat dengan rasa gelisah ini, ingin sekali rasanya dirinya melakukan sesuatu, tetapi apa yang harus dilakukannya.
Tak tahan dengan gejolak batin yang dirasakannya membuat Arland memilih untuk bangkit, sungguh Arland sangat bingung dengan kegelisahan yang menderanya.
Arland menuju ke jendela kamarnya, rasanya jika menghirup udara malam sekaligus melihat taman di halaman bawah rumahnya mungkin bisa sedikit membantu mengurangi kegelisahannya.
Dan hal pertama yang Arland lihat setelah membuka jendela kamarnya adalah hamparan halaman rumahnya yang begitu indah, dan jika dilihat dari lantai atas seperti ini terlihat jauh lebih indah.
" Kenapa aku baru menyadari kalau taman di rumahku sangatlah indah?. "
Untuk sejenak kegelisahan yang Arland rasakan menjadi hilang, pria bertubuh atletis itu mulai menggunakan kedua lengannya untuk bertengger di pagar pembatas lantai kamarnya.
" Heran, apa aku merasa gelisah karena lama tak memperhatikan taman?. " entah apakah ini hanya perasaannya saja, Arland merasa jika taman di rumahnya bisa menjadi obat untuk kegelisahannya.
Setidaknya hatinya tak terlalu gelisah seperti beberapa saat yang lalu.
" Mas, aku suka kalau setiap pagi melihat taman dari atas seperti ini, benar-benar sangat indah. "
Deg...
Ucapan kagum dari Naya tiba-tiba muncul dalam pikiran Arland.
" Sialan... kenapa harus suara itu lagi yang muncul hah?... " dan Arland jadi marah.
" Dasar wanita sialan, kenapa kamu tidak enyah saja dari pikiranku?, kenapa...?. "
Brakk... brakk... brakk...
Semua barang miliknya yang tertata di mejanya telah dihantamnya hingga berjatuhan.
Arland marah benar-benar sangat marah, setiap kali dirinya berusaha untuk tenang selalu saja dihantui oleh kenangan akan Naya.
" Wanita itu, lihat saja kamu Nay, jika suatu hari nanti aku berhasil menemukanmu tidak akan pernah aku lepaskan. "
" Kamu harus membayar semua penderitaanku, kamu harus membayarnya. "
Hanya dendamlah yang ada pada diri Arland jika teringat akan Naya, selama rasa dendamnya tak pernah terlampiaskan, maka hatinya tak akan pernah tenang.
Bersambung...........
❤❤❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Uthie
anehh
2024-01-29
1