Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Perlahan namun pasti langit yang menjadi atap bagi hamparan bumi mulai menjadi terang.
Kicauan burung-burung seolah bersahut-sahutan menyambut pagi hari yang indah.
Akhirnya malam yang cukup panjang telah diganti oleh semangat yang terbit dari mulai terbitnya sang mentari dari ufuk timur.
Lalu lalang kendaraan nampak menghiasi jalanan di ibu kota, mereka yang berkendara di waktu yang masih sangat pagi seperti ini memiliki arah dan tujuan karena perihal kepentingannya.
Sinar mentari yang sudah cukup terang di luaran sana telah menembus setiap celah yang ada di rumah besar ini.
Pagi ini bi Ijah dengan penuh semangat membersihkan rumah majikannya. Meski majikan besarnya masih berada di rumah sakit tak membuat bi Ijah bermalas-malasan untuk bekerja, meski tak ada kamera pengawas tak membuat bi Ijah baru bekerja ketika sudah diawasi.
Pagi ini bi Ijah sedang mengepel lantai, setelah usai masak dan bersih-bersih rumah, wanita yang sudah bekerja di rumah Arland semenjak Arland masih balita itu memutuskan untuk mengepel. Mungkin sebentar lagi kegiatan mengepelnya baru akan segera usai.
" Ayo tetap semangat empat lima Ijah. " gumam bi Ijah karena kegiatan mengepelnya sudah berada di titik akhir.
Namun disaat bi Ijah hampir selesai dengan kegiatannya, nampak nyonya Rita dengan nona Mika sedang berjalan, nampaknya pagi ini keduanya akan pergi keluar.
" Nyonya Rita, nona Mika, mau pergi keluar?. " sapa bi Ijah.
Bi Ijah memperhatikan keduanya, dari mereka berdua tak ada nyonya Nayanya.
" Nyonya, nyonya Naya masih belum pulang?. " tanya bi Ijah.
Namun keduanya diam, baik Rita maupun Mika sama sekali tak menyahuti pertanyaan bi Ijah. Sepasang ibu dengan putrinya itu melangkah begitu saja dengan melewati bi Ijah.
Keduanya melangkah dan terus melangkah membiarkan bi Ijah begitu saja.
Mendapati sikap mereka yang seperti ini hanya bisa membuat bi Ijah menghela napasnya. Selalu saja sikap nyonya Rita dan nona Mikanya seperti ini.
" Heran, bisa-bisanya tuan George mau menikah sama wanita seperti dia, memangnya apa yang tuan George lihat dari dia?. " gumam bi Ijah yang merasa tak habis pikir.
Bagi bi Ijah sikap Rita terkesan tak peduli pada orang lain, termasuk juga putrinya Mika. Jika ada tuan Arland sikap keduanya masih cukup ramah, tapi jika tak ada tuan Arland sikap keduanya kembali angkuh.
" Jika bukan karena tuan George, kalian bukan siapa-siapa ups... " bi Ijah langsung menutup mulutnya.
Bi Ijah jadi menoleh ke arah Rita dan Mika pergi, ternyata keduanya sudah berlalu ditelan tembok.
" Syukur-syukur, mereka sudah pergi huh... " bi Ijah merasa jika dirinya sudah selamat.
Bi Ijah merutuki mulutnya sendiri, nyaris saja ucapannya bisa didengar oleh orang yang dibicarakannya.
*****
Di rumah sakit, di kamar perawatannya, pagi ini Naya dengan dibantu oleh seorang perawat sudah hampir selesai membasuh tubuh suaminya Arland.
Wanita yang masih belum genap berusia dua puluh tiga tahun itu memang sangat telaten jika harus membersihkan tubuh sang suami Arland.
" Sudah nyonya, tubuh tuan Arland sudah bersih. " seru sang perawat.
" Terima kasih ya pak sudah dibantu. " sahut Naya.
" Saya hanya membantu sedikit nyonya. " sahut pak perawat.
Setiap kali membersihkan tubuh Arland hingga menggantikan pakaiannya Naya selalu dibantu oleh perawat laki-laki ini, entah mengapa Naya merasa sepertinya laki-laki ini memiliki kepedulian khusus pada suaminya.
" Adakah yang masih perlu saya lakukan lagi nyonya?. " tanya pak perawat.
" Tidak ada pak terima kasih, ini sudah selesai. " sahut Naya.
" Baiklah nyonya jika seperti itu saya pamit dulu. " sahut pak perawat.
Naya mengangguk pelan sebagai responnya.
Pak perawat itu kembali meraih alat-alat yang dibawanya sebelum akhirnya melangkah menuju ke pintu keluar.
Dan sekarang, hanya kembali menyisakan Naya bersama suaminya Arland.
Naya memperhatikan suaminya yang sudah terlihat lebih segar.
Bahkan meski dalam kondisi tidur sekalipun suaminya Arland tetap terlihat tampan.
" Tampannya suamiku, meski masih tidur saja tetap tampan. " puji Naya.
Naya memang tiada henti-hentinya mengagumi ketampanan suaminya. Pantas saja banyak wanita yang menyukai bahkan menginginkan suaminya Arland, akan tetapi suaminya Arland lebih memilih untuk setia padanya.
Naya merasa jika dirinya begitu sangat beruntung, beruntung karena bisa memiliki seorang suami seperti Arland.
" Jika hari ini kamu masih belum sadar, semoga besok kamu sudah sadar mas. "
Mungkin saat ini Naya masih terfokus pada perasaannya, tapi ada sesuatu yang telah Naya lewatkan, pada saat Naya melakukan obrolan singkat dengan pak perawat, sebenarnya Arland sempat menggerakkan jemarinya lagi seolah memberi kode jika ia akan segera sadar, bahkan meski dalam keadaan terpejam, Arland merasa seperti terusik.
Ceklek...
Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka begitu saja, sontak Naya yang berada di dalam langsung menoleh ke arah pintu.
Dan ternyata mama mertua dengan adik iparnya yang datang. Naya memperhatikan keduanya yang mulai mendekat.
Sebenarnya di dalam lubuk hatinya Naya jadi menggeleng-geleng, bahkan untuk membuka pintu saja mama mertuanya begitu kasar membukanya.
" Ma, Mika, sudah datang?. " sapa Naya dengan tersenyum.
" Kamu kan sudah melihatnya, untuk apa masih ditanya?. " sahut Mika dengan ketus.
Hati Nayi menjadi terhenyak, hanya sebatas menyapa saja membuat adik iparnya langsung menunjukkan sikap tak ramahnya.
Rita dan Mika duduk di sofa, dua wanita yang terkesan memiliki sikap angkuh itu sama sekali tak menanyakan kabar Arland, seperti kebiasaan mereka yang sudah - sudah, selalu datang dan pergi tanpa memberikan peranan apapun untuk Arland.
" Ma, mama, coba lihat ini, bajunya bagus ya?. " Mika memperlihatkan model baju di handphonenya pada mamanya.
Rita memperhatikan model baju yang diperlihatkan oleh putrinya. Jika tidak aksesoris, produk kecantikan, ya pasti baju-bajuan yang dicari oleh putrinya.
" Iya, bagus. " sahut Rita hanya dengan dua kata.
" Kok hanya begitu ma?. " Mika merasa jawaban mamanya tak sesuai harapannya.
" Kan bagus bajunya nak, pokoknya kamu mau pakai model baju apapun semuanya cocok buat kamu. " Rita memperjelas ucapannya agar putrinya ini tak merasa kecewa.
Mika tersenyum mendengar sahutan mamanya, tentu saja dirinya akan sangat cocok jika menggunakan model baju apapun.
Bagai sosok yang tak pernah dianggap, itulah yang terjadi pada Naya. Itu memang bukan hal yang baru, Naya memang tak pernah dianggap oleh keluarga suaminya sendiri.
Saat ini Naya hanya diam memperhatikan mereka berdua, memperhatikan keduanya yang selalu sibuk dengan entah apa yang selalu mereka berdua sibukkan.
Nampaknya kali ini Arland sedang tidak dalam pengawasan penglihatan siapapun, padahal saat ini Arland mulai melakukan pergerakan.
Tanpa sepengetahuan mereka bertiga, Arland pria yang sudah mengalami koma lebih dari satu minggu itu dengan perlahan mulai membuka kedua kelopak matanya.
Entah apa yang terjadi pada Arland, disaat sedang diawasi oleh yang lainnya Arland masih belum membuka matanya, dan kini ketika Arland benar membuka kedua matanya, tak ada satupun orang yang melihatnya termasuk Naya sendiri.
" Ma, kalau baju ini bagus, aku mau borong di semua warna ya ma?. " seru Mika.
" Iya sudah beli saja sesukamu. " sahut Rita santai.
" Terima kasih mamaku sayang. " tentu dengan senang hati Mika akan berbelanja.
Seperti itulah Mika, baik Mika ataupun mamanya sendiri memang sangat suka menggunakan jatah bulanan yang diberikan oleh Arland untuk membeli barang-barang mewah, seolah tak pernah cukup dengan barang-barang yang sudah ada, keduanya masih terus membeli dan membeli barang sesuai yang mereka inginkan.
Bersambung..........
❤❤❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments