Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Dengan begitu kasarnya semua baju-baju wanita yang tersimpan di dalam lemarinya Arland keluarkan, Arland sangat tak sudi jika di dalam lemarinya malah terisi dengan pakaian wanita.
Tok... tok... tok...
" Arland ada apa nak?, apa mama boleh masuk?. " seru Rita dari balik pintu.
" Masuk. " tegas Arland.
Ceklek...
Dan pintu kamarnya pun telah terbuka, ternyata yang datang bukan hanya Rita, tapi ada Mika dan bi Ijah juga.
" Arland ada apa sayang?, kenapa kamu teriak-teriak begi... "
Deg...
Rita tak melanjutkan kalimatnya, pandangannya malah dibuat terkejut dengan banyaknya baju yang tergeletak di lantai.
" Baju siapa ini?, kenapa di lemariku banyak baju perempuan?, katakan, siapa yang berani memasukkan pakaian seperti ini di lemariku?. " emosinya yang memuncak sangat besar kemungkinan membuat Arland akan membalas si pemilik baju.
Semuanya menjadi diam, baju-baju wanita ini adalah milik Naya, jika Arland sampai tahu jika Nayalah pemilik semua baju ini, pasti Arland tak akan tinggal diam, atau mungkin Arland ingin tahu lebih jauh akan siapa Naya.
" Bibi. " panggil Arland.
" Iya tuan. " sahut bi Ijah.
" Katakan padaku siapa pemilik semua baju ini?, pasti bibi tahu kan siapa orangnya?. " Arland sangat yakin jika bi Ijah tahu siapa orangnya, apalagi bi Ijah nyaris selalu menghabiskan waktunya di rumah.
Bi Ijah bungkam, asisten rumah tangga yang sudah bekerja semenjak Arland masih balita ini tak ingin jika jawabannya malah memancing keadaan.
" Bibi, siapa pemilik semua baju ini?, katakan padaku yang sebenarnya, jangan membuatku jadi marah padamu bi. "
" Iya tuan, baju-baju ini milik nyonya... "
" Milik Mika, iya semua baju ini milik adikmu Arland. " sahut Rita sehingga memotong kalimat bi Ijah.
Tentu saja Mika yang namanya disangkut pautkan jadi menatap tertegun pada mamanya, semua baju wanita ini adalah milik Naya, mengapa mamanya malah mengatakan miliknya.
Arland yang mengetahuinya jadi memejamkan kedua matanya, apa-apaan Mika ini, bagaimana bisa baju-bajunya malah diletakkan di lemari orang lain.
" Jadi begini nak, kenapa baju-baju Mika sampai ada di lemari kamu karena lemari Mika sendiri sudah tidak muat untuk menampung bajunya, jadi untuk sementara waktu baju adikmu di simpan di lemari kamu. " tutur Rita dengan narasinya yang baru.
Merasa jengkel pada Mika membuat Arland ingin menoyor kepalanya.
" Aw... aduh kak Arland, sakit. " Mika berseru kesakitan kala Arland benar menoyor kepalanya.
" Dasar bodoh, sebelum memutuskan untuk membeli banyak baju, harusnya kamu sediakan dulu lemarinya, sekarang cepat bereskan semua bajumu ini. " Arland marah pada Mika.
" Hobimu hanya menumpuk sampah, baju-baju terus yang kamu beli dan semua bajunya kamu tumpuk seperti sampah. " begitulah ucapan Arland yang begitu sangat sarkas, siapapun orang yang tak memiliki hati yang tak cukup lapang pasti merasa sangat tak terima karena ucapannya.
Merasa sangat emosi dan tak terima sudah pasti Mika alami, tapi Mika tak memiliki keberanian untuk menumpahkan semuanya mengingat jika dirinya masih menumpang hidup pada Arland.
" Sekarang cepat bereskan semua bajumu, cepat. " sentak Arland.
" Bi, bibi bisa bantu aku tidak?, tolong... "
" Apa-apaan kamu Mika?, semua baju ini adalah bajumu, jadi bawalah semua bajumu dengan tanganmu sendiri. " dan kali ini Arland sampai melotot tajam pada Mika.
Mika pun merengut, mau tak mau dirinya harus memungut semua pakaian yang sama sekali bukan miliknya.
Merasa kasihan pada sang putri membuat Rita memilih untuk membantunya memungut baju-baju ini juga.
" Ini semua gara-gara mama. " bisik Mika ketus.
Namun Rita tak menyahut, wanita yang sudah cukup berumur itu dengan terpaksa harus menahan malu, jika saja dirinya dan putrinya tak menumpang hidup pada Arland, maka tak akan dirinya membiarkan Arland berbuat semena-mena seperti ini.
Semua hal yang begitu memalukan ini tentu disaksikan oleh semua orang, termasuk bi Ijah satu-satunya orang yang menjadi saksi bisu atas kebohongan di balik drama ini.
Namun adanya drama kebohongan atau tidak bukanlah itu yang ada di pikiran bi Ijah, saat ini bi Ijah hanya merasa miris, miris karena tuan Arlandnya telah membuang semua baju-baju yang pernah ia hadiahkan untuk istrinya Naya, bahkan tuan Arlandnya mengatakan jika semua baju itu adalah sampah. Andai tuan Arlandnya tahu jika semua baju yang telah ia buang itu adalah baju-baju milik wanita yang sangat dicintainya pasti tuan Arlandnya tak akan melakukan hal gila ini.
" Bawa keluar semuanya, hanya mengotori lemariku saja. " seperti orang yang tak pernah usai dengan rasa kesalnya begitulah Arland, dan pada kenyataannya Arland memang masih sangat kesal pada Mika.
Rita dan Mika berbondong-bondong keluar dengan membawa semua baju itu, baju yang menurut mereka adalah milik Mika sendiri, keduanya terlihat kerepotan dengan semua baju itu, tapi apalah daya semua drama ini karena mereka berdualah yang menginginkannya.
" Ada apa bi?. " Arland bertanya karena bi Ijah tak ikut keluar juga.
" Tidak ada tuan, apa tuan Arland butuh sesuatu?. " sahut bi Ijah.
" Tidak ada, sekarang bibi keluarlah. " sahut Arland.
" Baiklah tuan jika begitu saya pamit keluar dulu. " sahut bi Ijah.
Setidaknya nada bicara Arland tak terlalu tinggi ketika berbicara dengan bi Ijah, wajar saja jika Arland masih bisa bersikap sedikit ramah karena biar bagaimanapun selain sebagai ART bi Ijah juga pernah turut andil mengasuhnya sewaktu dirinya masih kecil.
" Hahhh... " Arland menghela napasnya dengan dalam.
Baru hari pertama dirinya kembali ke rumah setelah dari rumah sakit malah dihadiahi drama yang membuatnya begitu sangat emosi.
" Dasar wanita, hobinya jadi tukang drama. "
*****
Pagi begitu sangat cerah, seperti ada sebuah kegembiraan yang akan datang itulah yang seolah nampak di pagi ini.
Dua koper besarnya telah berjejer di luar, sesuai waktu yang direncanakan, Naya bersama ibunya Aini sudah siap akan pergi.
Naya dengan ibunya telah memutuskan untuk berpindah, dan hari inilah keduanya akan meninggalkan rumah mereka yang sederhana ini lantaran rumah ini sudah laku terjual.
" Ayo nak kita pergi sekarang. " ajak Aini lalu wanita itu mulai menarik salah satu kopernya.
" Wah... kalian sudah mau pergi ya?. "
Terdengar adanya suara seorang wanita yang sedang menyapa, sontak Naya dan ibunya langsung mencari sumber suara itu.
" Kalian berdua sudah mau pergi?, cepat sekali, karena rumahnya sudah laku ya?. " begitulah ucapan salah seorang tetangga Naya yang selalu penasaran akan kehidupannya.
" Iya bu, kami sudah mau pergi, mari bu. " sahut Aini.
Aini langsung memberi kode pada Naya agar segera melangkah.
Berada di lingkungan seperti ini dalam keadaan Naya yang sedang mengandung memang sangat tak baik, bukan karena Naya tak bisa mendapatkan nutrisi yang cukup akan tetapi yang menjadi persoalan adalah hampir semua tetangga yang ada di lingkungan ini cenderung suka mengusik kehidupan tetangga lainnya.
Oleh karena demi menjaga kesehatan sang putri dan juga bayi yang dikandungnya bu Aini memutuskan untuk membawa Naya pergi dan tinggal di tempat yang lebih baik.
Bersambung..........
❤❤❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Uthie
bagus lah Naya 💪💪💪
2024-01-29
1