BAB 20

"Dokter!" pekik seorang pria dengan kencang, kakinya berjalan masuk ke rumah sakit dengan cepat sembari membopong tubuh wanita yang berlumuran darah.

"Dokter! Tolong ..." pekik pria itu lagi yang kini menangis, hatinya merasa takut dengan keadaan wanita yang dalam gendongannya saat ini.

Dua perawat yang melihat itu langsung mendorong brankar pasien.

"Letakkan di sini, Tuan," pinta salah satu perawat itu.

Dua perawat itu langsung terkejut saat melihat korban wanita itu sangat mengenaskan.

"Cepat tolong dia! Cepat selamatkan dia! Aku mau dia harus selamat!" ucap Reza dengan membentak dua perawat itu.

Sungguh, saat ini Reza sedang diselimuti rasa takut, rasa khawatir pada Anjani dan rasa marah pada orang yang sudah menabrak Anjani.

Dua perawat itu pun langsung membawa Anjani masuk ke ruang UGD.

"Anja ..." ucap Reza dengan pilu sembari membawa tubuhnya meluruh kebawah terduduk di lantai. Tatapannya mengarah pada pintu IGD itu.

Reza menangis, biarlah saat ini dia dikatakan pria cengeng, atau seorang CEO yang lemah. Tapi satu hal yang harus semua orang tahu.

Bahwa Reza seperti saat ini karena sangat mencintai wanita itu, baginya Anjani bukan sekedar wanita yang ia cintai, tapi baginya Anjani adalah separuh jiwanya.

Bisa dibayangkan betapa sakit dan sedihnya yang Reza rasakan. Setelah meninggalnya Lucia tidak pernah lagi bertemu Anjani, karena wanita itu yang selalu menghindar.

Reza sabar mau menunggu, namun begitu ahirnya Anjani menemuinya, bukan bahagia yang Reza dapat, karena Anjani mutusin hubungan dengannya. Saat itu saja sudah sakit hatinya Reza.

Ditambah Anjani kecelakaan, bagaimana mungkin Reza berdiri tegar? Sedangkan rasa ketakutan kehilangan Anjani begitu besar.

Pria sekuat apa pun, sejatinya bisa rapuh dan menangis. Itu lah Reza saat ini.

Di saat Reza sedang menangis tak berdaya, ada seseorang yang berdiri di belakangnya tanpa Reza sadari kehadirannya.

"Aku akan bertanggung jawab."

Suara tegas nan penuh wibawa itu seketika menghentikan tangis Reza, saat itu juga Reza sadar bahwa ia tidak sendiri, tetapi ada orang lain juga di dekatnya.

Reza perlahan menoleh ke belakang, mata yang sendu tadi kini langsung berubah tajam, bahkan seolah bisa menusuk orang yang ada di hadapannya itu.

"Kau!" Reza bangkit dan langsung mendekati orang itu.

Bugh! Bugh!

Reza memukul wajah orang itu, sampai orang itu tersungkur ke lantai. Reza kembali mendekati orang itu, meraih kerah bajunya dan kembali melayangkan pukulan.

Reza memukuli wajah orang itu berulang kali, sampai bibir orang itu robek di sudutnya, darah segar pun keluar.

"Kau sudah mencelakai, Anjaniku! Aku tidak akan maafkan kamu!" Reza meraih kerah baju pria itu sembari ia gerak-gerakan.

Bugh! Kembali memukul tepat di bibir pria itu.

"Tuan, tolong jangan ribut di sini." Dokter yang menangani Anjani melerai perkelahian mereka, lebih tepatnya menghentikan aksi Reza, karena orang yang di pukuli hanya diam pasrah sampai wajah tampannya babak belur.

Reza menjauhi orang itu, berdiri tegap namun masih dengan nafas memburu, sungguh Reza benci orang itu yang kerena sudah menyebabkan Anjani masuk rumah sakit.

Reza mengalihkan tatapannya dari orang itu ke dokter.

"Tuan, pasien harus dilakukan tindakan operasi. Karena pasien saat ini tengah luka parah."

Duar!!

Tubuh Reza langsung lemas mendengar kabar ini, bahkan matanya langsung kembali berkaca-kaca. Sakit sekali rasanya.

Dan bahkan ucapan dokter yang berkata kemungkinan akan selamat tapi pasien akan mengalami koma nyaris tak terdengar di telinga Reza. Karena begitu terkejut. Pria itu hanya mengangguk dan memberi perintah melalui gerakan tangannya. Sungguh, Reza sudah tidak bisa berkata-kata.

Bahkan pria yang tadi di pukuli Reza bisa melihat betapa terpuruknya Reza saat ini, dan bisa menggambarkan bahwa rasa sakit yang ia terima dari pukulan Reza, tidak sebanding dengan kerapuhan Reza saat ini.

"Tuan Louis, Anda baik-baik saja?"

Asisten pribadi pria itu tiba-tiba datang, sebelumnya tadi sudah Louis hubungi untuk datang ke rumah sakit ini.

Dan sungguh terkejut ketika melihat keadaan tuanya yang terduduk di lantai dengan wajah penuh bekas pukulan. Sangat mengenaskan batinnya.

"Rohit, aku tidak apa-apa," jawab Louis sembari meminta bantuan Rohit untuk membantunya berdiri.

Reza tak pedulikan obrolan mereka berdua, saat ini Reza milih mengikuti perawat yang mendorong brankar Anjani untuk dibawa ke ruang operasi.

"Aku habis menabrak seseorang, jangan bantu aku saat ada polisi yang nanti mau menangkap aku," ucap Louis dengan pandangan terus menatap Reza yang berjalan mengikuti perawat.

Rohit pun mengikuti arah pandang mata tuannya itu.

"Apa, Tuan. Sudah yakin?"

Dengan pertanyaannya itu, Rohit langsung mendapat tatapan tajam Louis.

"Maaf, Tuan. Baik saya mengerti," ucap Rohit kemudian, yang kini sudah paham arti tatapan tajam itu bahwa tuannya sudah yakin dengan keputusannya.

Huft, bagaimana saya harus menjelaskan pada Tuan Besar, jika tahu Tuan Louis masuk penjara, batin Rohit dilema.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!