BAB 10

"Mas, ini sudah waktunya ibu tahu, lagian cepat atau lambat ibu juga pasti tahu pekerjaan aku yang sebenarnya," bela Anjani dengan menangis terisak.

"Sudah waktunya katamu!"

Plak!

Ah! rintih Anjani merasa kesakitan saat pipinya ditampar keras oleh Nudin hingga tubuhnya tersungkur di atas ranjang.

"Dengar! Anjani, aku sudah katakan padamu bahwa ibu jangan sampai tahu pekerjaanmu!"

"Karena kau sudah memberitahunya, maka kau juga yang harus membujuk ibu supaya tetap diperbolehkan bekerja!"

Semakin luruh sudah air mata Anjani mendengar ucapan suaminya itu, ia sudah menjadi istri yang tak ada nilainya di mata suaminya sendiri.

Masih juga disuruh bekerja menjual diri, dan masih juga diminta untuk membujuk ibu, yang jelas-jelas kini tengah marah padanya.

Sementara itu Nudin keluar kamar meninggalkan Anjani yang menangis tersedu-sedu.

Anjani terus menangis, hatinya begitu terasa sakit, pria yang dicintai, ibu mertua yang dicintai, kini mereka menyalahkan dirinya.

Saat ini Anjani tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Anjani hanya ingin menangis sampai sesak dalam dadanya terasa berkurang.

*

*

*

Di dalam kamarnya, Ibu Mei sedang mengemasi baju-bajunya untuk dimasukkan ke dalam tas.

Nudin yang baru masuk kamar ibunya dan melihat hal itu seketika ia mendekat dan menahan gerakan tangan ibunya yang mau memasuki baju ke dalam tas.

"Apa yang Ibu lakukan? Ibu mau kemana?" tanya Nudin lembut seraya menatap lekat mata ibunya.

"Ibu mau keluar dari rumah ini, Ibu tidak sudi tinggal di rumah haram ini!" ucapnya tegas sembari menatap tajam Nudin.

Nudin kembali menahan gerakan tangan ibunya saat mau memasukkan bajunya lagi ke dalam tas. "Bu ... Pikirkan sekali lagi, di luar sana Ibu mau tinggal di mana? Anak Ibu cuma saya, Nudin. Bu."

Deg!

Ibu Mei terkejut.

"Ibu juga tidak bisa hidup susah, kan? Bagaimana nanti ibu mau makan?" lanjut pertanyaan Nudin yang semakin membuat Ibu Mei bingung.

Nudin mengajak ibunya duduk di kursi sofa yang ada di kamar itu.

Setelah kedua duduk, Nudin merangkul bahu ibunya. "Tolong dipikirkan lagi, Bu ..." pinta Nudin dengan sangat.

Meskipun Nudin berlaku kasar pada istrinya, tapi dia sangat menyayangi ibunya.

Ibu Mei menatap wajah Nudin dengan mata berkaca-kaca. "Ibu malu, sangat malu ..." teriaknya yang kini sudah menangis. "Bagaimana kalau tetangga semua tahu, bagaimana!" bentaknya dengan penuh emosi.

"Bu, tenang." Tangan Nudin mengusap bahu ibunya. "Tetangga tidak akan ada yang tahu, selama dari keluarga kita tetap diam." Nudin menarik nafas dalam dan dihembuskan. "Ibu tidak usah khawatir."

"Tapi kenapa kau ijinkan Anjani bekerja begituan!" teriaknya dengan marah sembari menjauhkan tangan Nudin dari bahunya.

"Kenapa Nudin!"

"Karena hanya pekerjaan itu yang menghasilkan uang besar dan cepat, Ibu!" jelas Nudin dengan suara tak kalah tinggi.

"Nudin," gumam Ibunya lirih sembari menutup mulutnya tak percaya dengan jawaban putranya.

"Ibu ingat, saat Lucia sakit hampir mati." Nudin berhenti bicara menatap ibunya yang sedang mengangguk. "Itu adalah awal mula Anjani bekerja, Ibu. Jika tidak, Lucia mungkin sudah meninggal!"

Ibu Mei langsung menangis mendengar ucapan Nudin, mengingat kejadian dimana sang cucu sakit dan tidak punya uang sama sekali.

Mengingat dahulu yang hanya tinggal di kontrakan tiga petak saja, ekonomi susah dan pekerjaan pun juga tak ada.

Ibu Mei semakin menangis mengingat masa sulit itu.

Melihat ibunya yang menangis seperti itu, Nudin langsung memeluk Ibunya. "Maafkan Nudin, Bu. Nudin tidak bermaksud membentak Ibu, Nudin hanya mau Ibu jangan pergi."

"Tetap di sini bersama kami, Anjani dan Lucia." Lanjut ucapnya.

Saat ini Ibu Mei belum bisa menjawab apa-apa, bahu rapuh itu masih terguncang di pelukan putranya, bertanda masih menangis bersedih.

*

*

*

Malam hari, Anjani yang baru saja mandi kini duduk di kursi depan meja rias, wanita itu menatap wajahnya di cermin.

Pipi merah bekas tampan, mata sembap serta bibir yang pecah karena tamparan Nudin yang keras.

Anjani membuang nafas panjang, kuas make up yang sudah ia pegang, kembali di jatuhkan.

Dengan kepala menggeleng, Anjani meraih hp nya, dan melakukan panggilan telepon.

"Halo Sayang, aku masih di jalan, apa kamu sudah sampai?" suara Reza di seberang sana setelah sambungan telepon diangkat.

Anjani berdiri dari duduknya berjalan menuju ranjang dan duduk di sana. "Mas Reza, maaf aku malam ini ijin tidak ke apartemen ya?"

"Tapi aku kangen banget sama kamu."

Anjani terkekeh mendengar jawaban manja Reza barusan, yang pasti selalu berkata kangen, padahal tiap hari dan tiap malam bertemu. Sungguh Reza pandai ngegombal.

"Malam ini aja, Mas ..." mohon rayu Anjani.

"Sudah lama tidak menemani, Lucia bobok malam," lanjut ucapnya, dan berharap dengan alasan Lucia, ia mendapat ijin dari Reza.

"Emm ... Baiklah kamu boleh menemani peri kecilmu, tapi ingat besok kamu tidak boleh ijin!"

Hahaha.

Anjani tertawa saat mendengar suara Reza yang dibuat-buat tegas.

"Ok Sayang," ucap Anjani disertai tawa.

Anjani tahu Reza akan senang jika dirinya memanggil pria itu Sayang, tapi Anjani belum terbiasa, hanya akan ia ucapnya ketika sedang merayu pria itu bila ingin sesuatu, contohnya seperti barusan, ia yang ingin malam ini di rumah.

Setelah sambungan telepon dimatikan, Anjani segera keluar kamarnya, ia berjalan menuju kamar putri kecilnya, yaitu Lucia.

Anjani sangat pelan-pelan saat membuka pintu kamar Lucia, tidak mau sang putri terbangun.

Setelah menutup pintu dan tidak lupa untuk menguncinya, langkah kaki Anjani berjalan mendekati ranjang Lucia.

Sampai di sana Anjani ikut naik ke atas ranjang, berbaring di sebelah putrinya dengan posisi miring, tangan kanannya mengusap lembut pipi Lucia yang saat ini sedikit chubby.

"Nak ... Mama senang, sekarang pipi kmu chubby, semoga cepat sehat, ya?" Anjani mencium kening dan pipi Lucia.

Anjani kemudian menidurkan kepalanya di bantal sebelah Lucia, dan tangan kanannya memeluk tubuh Lucia.

Anjani memejamkan matanya, saat ini ia merasakan kedamaian, Lucia yang menjadi semangatnya, Lucia adalah cahaya di jalan hidup gelapnya.

Tidak terasa bulir bening itu jatuh begitu saja, semua yang ia lakukan adalah untuk putrinya, supaya sembuh, supaya bisa mencukupi kebutuhannya.

Meski jalan yang di hadapi tidak mudah, suami dan mertua yang hanya mau uangnya saja, tanpa mau menghiburnya.

Mereka tidak tahu, bahwa Anjani juga butuh pelukan dari keluarga, bukan makian tiap hari yang harus didapatnya.

Anjani mengusap air matanya yang keluar itu, kemudian berusaha untuk tidur, tidak mau berlarut-larut memikirkan hal sedih.

Sementara itu di kamar yang lain.

Ibu Mei tidak bisa tidur, awalnya memang ingin keluar dari rumah Anjani yang menurutnya haram, tapi setelah berpikir di luar sana tidak ada keluarga, Ibu Mei jadi tidak jadi keluar.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!