BAB. 8.

Apa bila di dalam sebuah kamar mewah dua insan baru saja selesai mandi bersama, setelah selesai melakukan making love pagi hari, dan mereka akan kembali terpisah, Reza yang akan berangkat kerja ke kantor, dan Anjani yang akan pulang ke rumah.

Berbeda dengan wanita baya di pukul tujuh pagi ini sudah beraktivitas untuk mempersiapkan membuat sarapan, terutama sarapan untuk sang cucu.

"Sayur ... Sayur ..." suara teriakan si abang-abang tukang sayur.

"Sayur, Bang!" teriak Ibu Mei dari teras rumah, yang sejak tadi sudah menunggu tukang sayur lewat.

Abang penjual sayur seketika menghentikan gerobak dorong yang bersi aneka macam sayuran dan kebutuhan dapur itu.

Saat Ibu Mei tiba di tempat Abang penjual sayur berhenti, di sana juga ada tiga ibu-ibu yang baru tiba, juga ingin belanja.

"Ibu Mei, belanja juga ya?" sapa ibu berbaju kuning.

"Iya Bu, mau beli iga, cucu saya mau dimasakin sup iga," ucapnya sembari tersenyum.

"Wah enak itu."

Ibu Mei menanggapi dengan tersenyum.

"Pak beli iga sapi, ada?"

"Ada Bu," jawab Abang penjual sayur, dan segera menyiapkan iga yang di pesan Ibu Mei.

Ibu Mei tidak hanya membeli iga sapi aja, tetapi juga belanja yang lain yang stok di dapur sudah habis.

"Ibu Mei, gimana kabar Lucia sekarang?" Senggol Ibu berbaju warna pink.

Ibu Mei tersenyum. "Alhamdulillah, sekarang Lucia sudah mulai sehat, doakan yang terbaik untuk cucu saya ya, Bu?"

"Pasti lah Bu, akan saya doakan cepat sembuh," ucapnya dengan gaya sok akrab sembari memukul pelan bahu Ibu Mei.

"Ini cabainya bagus-bagus," suara ibu berbaju warna kuning, Ibu Mei juga ibu berbaju pink menoleh ke sumber suara, penasaran dengan cabai yang dikata bagus oleh ibu berbaju kuning.

Namun tiba-tiba ada suara seseorang yang ikut menyahut. Semuanya langsung melihat ke arah orang yang baru datang dan bicara itu.

"Jelas bagus lah ya, Bang. Sudah bagus, pedas lagi."

Ucap orang itu sembari matanya menatap ibu Mei dengan bibir tersenyum mengejek.

Ibu Mei membalas dengan tersenyum, namun ucapan orang tersebut makin terdengar menghinanya.

"Oh ya ada Ibu Mei ya? Gimana Bu kabar menantu Ibu, yang setiap hari pergi malam dan pulang siang hari. Pasti saat ini belum pulang kan, Bu?"

"Kabar menantu saya baik, Bu Hera. Dia pergi malam dan pulang siang karena bekerja," jelas Ibu Mei dengan senyum yang dipaksakan.

Wanita yang bernama Bu Hera manggut-manggut.

"Bu Hera, memang Bu Anjani setiap malam keluar, Bu Hera tahu dari mana?" tanya ibu berbaju kuning, ia penasaran karena merasa aneh Ibu Hera ngurusin hidup orang.

Bu Hera tertawa, dan jelas dari tawa itu terdengar sangat mengejek.

"Jelas tahu lah, kan rumah aku berhadapan dengan rumah Bu Anjani." Bu Hera menatap Ibu Mei lengkap dengan senyum miring. "Dan aku selalu duduk di teras rumah setiap malam," lanjut ucapnya.

Tiga ibu-ibu yang lain langsung manggut-manggut mengerti mendengar penjelasan ibu Hera, berbeda dengan Ibu Mei langsung memasang wajah di tekuk.

"Buruan, Pak. Berapa total jumlah belanjaan saya," ucap Ibu Mei pada Abang tukang sayur.

"Oh iya, kata Ibu tadi Bu Anjani kerja," sahut Bu Hera cepat sembari meragakan seolah sedang berpikir, "Atau jangan-jangan kerjaannya itu wanita simpanan laki-laki beristri."

"Jaga ucapan Ibu ya!" sela Ibu Mei dengan tegas, wajahnya marah, ia tidak terima Anjani di tuduh wanita seperti itu.

"Anjani bekerja di sebuah restoran yang bukanya 24 jam, dan Anjani selalu kebagian sif malam!" ucap Ibu Mei penuh penegasan.

Bu Mei langsung pergi dari sana setelah membayar tagihan belanjaan.

"Bu Hera tidak baik bicara seperti itu," ucap Ibu berbaju pink.

"Apa aku salah bicara? tapi kan semua orang pasti berpikiran sama dengan aku." Ibu Hera menutup mulutnya dengan gaya mengejek.

Ibu-ibu yang lain hanya geleng-geleng kepala, terlepas entah benar atau salah ucapan Ibu Hera, yang pasti saat ini tidak penting urusin hidup orang.

*

*

*

"Punya mulut kok tidak dijaga, dasar Hera! pengen rasanya aku sumpel mulutnya pakai cabai rawit."

Ibu Mei ngedumel sembari masak, apa lagi saat ini ia sedang gerus bumbu, hingga membuat suara cobek beradu begitu keras.

"Huh! Huh! Awas ya kamu Hera!"

Tiba-tiba Ibu Mei mengumpat begitu keras. meskipun ia juga tak suka melihat Anjani yang bekerja sampai lupa waktu, tapi bukan berarti ia terima pekerjaan Anjani di bilang wanita simpanan laki-laki beristri.

Dan sungguh tidak menyangka bila ada tetangganya yang merhatiin Anjani setiap wanita itu berangkat kerja malam hari.

Dan yang ada di pikiran Ibu Mei, semua orang bisa bekerja di malam hari, dan bukan berarti jual diri, meski memang dipandang banyak tanda tanya, karena malam yang harusnya digunakan untuk beristirahat malah untuk bekerja.

Mengingat itu Ibu Mei menghela nafas panjang sembari tangannya terus mengaduk-aduk spatula di atas wajan, yang saat ini tengah menumis bumbu masakan.

Diantara pikirannya yang sedang pusing mikirin pekerjaan Anjani yang menjadi buah bibir tetangga, tiba-tiba Ibu Mei mendengar derap langkah kaki masuk ke dapur.

Dari aroma parfumnya, Ibu Mei mengenali orang tersebut, dan benar aja saat ia menoleh, ia kenal dan orang itu adalah Anjani.

Entah kenapa melihat Anjani pulang, Ibu Mei rasanya makin marah, dan kini tengah menatap tajam Anjani yang saat ini sedang buka lemari pendingin mau ambil minum.

"Tidak mungkin ..." teriak Ibu Mei tiba-tiba sembari menggelengkan kepalanya.

"Ibu, ada apa?" tanya Anjani sedikit panik, mendapati ibu mertuanya tiba-tiba berteriak.

"Hah, bukan urusan kamu!" bentak ibu Mei sembari mengibaskan tangannya, menandakan mengusir Anjani.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!