Dua hari berlalu, waktu liburan Anjani bersama Reza sudah selesai, hari ini mereka sudah tiba di jakarta.
Anjani baru saja tiba di rumah, wanita itu kini sedang menggendong Lucia yang tengah tidur.
Mendengar ada mobil datang Ibu Mei menuju teras.
Saat kakinya menginjak teras rumah, Anjani seketika ditatap tajam oleh Ibu Mei dan mendapat sindiran pedas.
"Sudah pulang yang lagi pergi bersama laki-laki lain." Ibu Mei tersenyum miring. "Sudah lupa urus suami malah pergi liburan sama laki-laki lain!" Menatap sinis.
Anjani menghela nafas panjang. "Ibu, aku lelah. Maaf permisi."
Anjani mau berjalan melewati mertuanya, namun urung dilakukan saat telinganya kembali mendengar cacian mertuanya.
"Kamu sudah kehilangan jiwa istri pada suami! Kamu juga sudah kehilangan jiwa santun pada mertuamu!"
Suara keras Ibu Mei itu sampai membuat Lucia dalam gendongan Anjani mau terbangun, Anjani segera mengusap lembut punggung putrinya supaya tertidur kembali.
Dan untungnya Aini datang, Anjani segera menyerahkan Lucia ke Aini untuk dibawanya ke kamar Lucia.
Begitu Aini pergi, Anjani menatap Ibu Mei. Sungguh saat ini Anjani sangat lelah, tapi Ibu mertuanya malah mengajak ribut.
"Ibu ... Ibu maunya apa sih?" tanya Anjani masih dengan suara lembut.
Marah? ingin rasanya Anjani marah sama perempuan tua itu, tapi Anjani kembali sadar bahwa wanita tua itu adalah mertuanya yang harus ia hormati, meski Anjani sendiri saja tidak diperlakukan dengan baik.
Anjani tidak mau balas dendam, ia akan sabar melewati semua ini.
"Ibu benci sama kamu Anjani ... Ibu benci sama pekerjaan kamu!" teriak Ibu Mei sembari menangis yang kemudian langsung pergi begitu saja.
Suara hentakan kaki Ibu Mei saat melangkah begitu Anjani terdengar, ia paham Ibu mertuanya itu masih sakit hati.
Jika memikirkan hal seperti ini, Anjani jadi pusing, Anjani ahirnya ikut berjalan menuju kamarnya.
Dan baru saja Anjani membuka pintu kamarnya ingin masuk, tangan ramping itu langsung ditarik oleh Nudin suaminya.
"Mas! Kau menyakiti aku!" sentak Anjani karena merasakan pergelangan tangannya sakit.
Nudin mengibaskan tangan Anjani dengan kasar dan menatap tajam wanita itu. "Berikan aku uang!"
"Cepetan! Sekarang!" bentak Nudin lagi saat melihat Anjani hanya diam menatapnya saja.
"Apa di otak kamu cuma ada uang aja, Mas! Kamu benar-benar kelewatan!" balas bentak Anjani.
"Hah! Kelamaan!" Nudin yang sudah tidak sabaran lagi langsung merampas tas yang masih Anjani pegang.
Tidak ada uang kes di dalam dompet Anjani, Nudin mengambil ponsel Anjani dan menyerahkan pada wanita itu.
"Transfer sekarang!"
Anjani mengambil ponselnya dari tangan Nudin dengan perasaan kesal, karena tidak mau berdebat, Anjani ahirnya milih mentransfer uang ke rekening Nudin.
"Hahah, ini baru istri yang baik," pujinya setelah Anjani berhasil transfer uang.
Nudin keluar kamar masih dengan tertawa.
Anjani melempar ponselnya ke atas ranjang, kemudian ia segera masuk ke kamar mandi, mau berendam supaya otaknya yang pusing karena Nudin bisa rileks.
*
*
*
Malam hari.
Untuk malam ini Anjani makan malam bersama keluarga, biasanya kan Anjani selalu keluar rumah.
Makan bersama bertiga aja tanpa Lucia, gadis kecil itu tadi sudah disuapi pengasuhnya, dan sekarang sedang bermain di kamarnya.
"Ibu tidak masak sayur?" tanya Anjani saat matanya melihat tidak ada sayur di atas meja makan, hanya ada daging dan ikan juga nasi.
"Makan tinggal makan aja pakek nyari yang tidak ada!" ucap Ibu Mei sewot.
Nudin tetap asyik lanjut makan.
"Kan aku cuma nanya Ibu, tidak salah, kan?"
"Tentu salah! Karena kamu itu tidak bantuin Ibu masak! Bahkan kamu tidak pernah masak selama ini," sarkas cepat Ibu Mei dengan emosi.
Kalau sudah seperti ini Anjani milih diam, jika ia terus bicara maka perkataan Ibu Mei akan melebar kemana-mana.
Ahirnya Anjani mengambil ikan sebagi lauk makan malamnya ini.
Anjani menyuap dengan isi sendok yang penuh, supaya cepat selesai makan dan pergi dari tempat ini.
"Atau mungkin kamu sudah lupa cara masak itu seperti apa? Kan kamu bisanya sekarang cuma di atas ranjang." Ibu Mei tersenyum miring. "Heh, menjijikkan."
Sendok yang Anjani gunakan untuk makan seketika jatuh ke piringnya hingga menimbulkan suara dentingan.
"Ibu, jaga bicara Ibu. Jika Ibu tidak mau masak lebih baik tidak usah masak, saya akan pesankan makanan dari restoran!" ucap tegas Anjani sembari menahan emosi.
"Tolong jangan pancing aku dengan kata-kata kasar, Ibu. Aku masih menghormati Ibu," ucapnya lagi penuh penekanan pada setiap kata.
Hahah.
Ibu Mei tertawa seraya menggeser piringnya yang sudah kosong.
Ibu Mei menatap Nudin yang sedari tadi diam saja. "Lihat Nudin, Anjani sudah berani menjawab ucapan Ibu." Ibu Mei menatap Anjani. "Dia tidak hanya pantas dipanggil pe-la-cur! Tapi dia juga pantas dianggap bukan menantu!"
Brakk!
Suara gebrakan keras di atas meja makan itu seketika mengagetkan dua orang di sana, yang kini sama-sama menatap pelakunya dengan terkejut.
"Sudah puas Ibu menghina aku!" Anjani menatap tajam Ibu Mei. "Selama ini Ibu makan, Ibu belanja itu semua uang dari aku." Anjani menangis, dadanya terasa sesak. "Tapi seolah aku tidak ada benarnya di mata Ibu ... Jika Ibu tidak suka Ibu lebih baik pergi dari pada terus-menerus menghina aku!"
Plak!
Bersamaan selesainya Anjani bicara ia merasakan pipinya panas hasil tamparan keras suaminya.
"Beraninya kau berkata seperti itu pada ibuku!" Nudin membentak Anjani disertai tatapan tajam.
Anjani balas menatap Nudin tidak kalah tajam. "Kalau aku berkata seperti itu lalu kenapa, Mas! Kesabaran aku sudah habis, kalian hanya terus menghinaku!"
"Ah!" jerit Anjani bersamaan ia selesai berkata.
Nudin menjambak rambut Anjani sampai wanita itu jatuh di lantai, Nudin kemudian melepas ikat pinggangnya dan mulai mencambuk punggung Anjani.
"Mas Nudin hentikan!" teriak Anjani sembari menahan rasa sakit cambukan itu.
Namun Nudin tidak peduli dengan jeritan Anjani yang mengaduh kesakitan.
Sementara itu Ibu Mei tersenyum miring melihat Anjani yang dihajar oleh putranya.
Dan tanpa mereka semua sadari, ada sosok kecil yang ternyata sedari tadi menyaksikan perdebatan mereka.
Meski ia tidak mengerti karena masih terlalu kecil, tapi satu yang membuat hatinya sedih bahkan saat ini ikutan menangis karena tidak tega melihat ibunya dicambuk seperti itu oleh ayahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments