Anjani langsung bangkit dari duduknya saat melihat pintu ruang IGD di buka, namun suster yang keluar berjalan pergi begitu saja dengan cepat membuat Anjani tidak sempat untuk bertanya.
Anjani semakin khawatir dengan keadaan Lucia di dalam sana, dan tidak lama kemudian suster yang tadi kembali lagi, Anjani langsung menghalangi suster itu yang mau masuk ke ruang IGD itu.
"Sus, bagaimana keadaan anakku?" Anjani bertanya dengan menangis.
"Pasien sedang kritis, saat ini dokter sedang berusaha mengaktifkan kembali detak jantungnya."
Deg!
Tubuh Anjani langsung lemas, dan pasti akan ambruk jika Nudin tidak segera memegangi tubuhnya.
Ibu Mei ikut berdiri dan menatap mereka berdua. "Kita harus berdoa untuk keselamatan, Lucia."
Anjani sudah tidak dapat mendengar ucapan Ibu Mei, ia terlalu merasa terpukul dengan kabar buruk barusan, bahkan saat Nudin menuntunnya untuk duduk kembali, Anjani hanya bisa pasrah dengan air mata mengalir deras.
"Lucia, kamu pasti kuat, pasti bisa melewati rasa sakitmu saat ini, Mama masih ingin bersama kamu, Nak?" doa dalam hati Anjani sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan, bahkan air mata itu semakin deras keluar.
Sementara itu di dalam ruang IGD, dokter dan para tim medis lainya yang tengah membantunya, semua mengucap syukur saat pasien berhasil di selamatkan.
Dokter yang menangani Lucia membuka pintu IGD itu.
"Lucia akan segera kami pindah ke ruang rawat, dan tunggu lima belas menit, ibu dari Lucia boleh menemuinya," ucap dokter itu setelah berdiri di depan keluarga Lucia.
Anjani, Nudin, dan Ibu Mei langsung mengelus dada tanda lega karena ahirnya Lucia bisa melewati masa kritis.
Anjani yang sedari tadi menangis kini langsung mengusap air matanya, ia ingin tersenyum saat menemui putrinya, supaya Lucia tidak sedih.
Dan setelah menunggu beberapa saat, ahirnya Anjani bisa menemui Lucia yang saat ini sudah dipindah ke ruang rawat.
Lucia masih belum sadarkan diri, Anjani mematung saat baru masuk dengan tatapan sedih mengarah ke Lucia yang saat ini berbaring tak berdaya.
Setiap langkah kakinya terasa berat untuk melangkah mendekat, bahkan air mata itu kembali menetes mengiringi langkahnya.
"Lucia."
Anjani menggenggam tangan kecil Lucia, ia ciumi punggung tangan itu, kemudian berganti menciumi kening dan pipi Lucia.
Ibu mana pun pasti akan hancur perasaannya apa bila melihat sang buah hati berbaring sakit seperti ini.
Andai bisa di tukar, akan ia tukar dengan dirinya, lebih baik dirinya yang sakit dari pada harus anak yang sakit.
"Mama," panggil Lucia. Anjani seketika tersenyum melihat Lucia telah sadar.
"Mama jangan menangis." Tangan mungil Lucia menyentuh pipi Anjani.
"Tidak sayang, Mama hanya terharu melihat Lucia telah sadar." Anjani menciumi punggung tanga Lucia yang barusan mengusap pipinya.
"Mama, Lucia sudah sehat."
"Lucia akan tunggu, Mama. Di syurga," lanjut ucap Lucia yang langsung mendapat gelengan kepala Anjani.
"Tidak sayang, jangan bicara seperti itu, kita akan sama-sama terus lebih lama." Anjani kembali menangis, rasa sedih yang tidak bisa ia bendung.
"Mama ...Lucia mau peluk Mama."
Anjani seketika memeluk putrinya itu, ia peluk sembari merasakan dalam-dalam hangatnya memeluk buah hati, dan saat merasakan tangan Lucia tekulai terlepas dari pelukannya, Anjani semakin menangis.
"Lucia ..." teriak Anjani, kini ia menatap wajah putrinya yang sudah menutup mata tanpa bernafas.
Anjani menatap ke arah monitor yang kini garisnya berganti lurus.
"Lucia ..." teriak Anjani lagi sembari memeluk tubuh putrinya yang sudah tak bernyawa.
Nudin dan Ibu Mei seketika masuk ke ruangan itu begitu mendengar jeritan Anjani.
Ibu Mei langsung pingsan setelah matanya sempat melihat layar monitor yang menunjukkan garis lurus dan Lucia yang menutup mata dalam pelukan Anjani.
Nudin pun juga merasakan kesedihan, meski selama ini ia belum menjadi ayah yang baik untuk Lucia, tapi lubuk hatinya yang dalam juga menyayangi Lucia.
Meski Nudin pria yang angkuh tak berhati baik, tapi saat ini ia juga menangis.
Yang paling terpukul adalah Anjani, wanita itu terus memeluk putrinya yang sudah tak bernyawa, seolah enggan untuk melepaskannya, karena ini adalah pelukan yang terakhir ia bisa memeluk tubuh putrinya.
"Kenapa harus pergi tinggalin Mama, Nak? Hiks hiks ... mama gak sanggup jika harus tanpa kamu ... Hiks hiks, Mama gak sanggup, Nak ... Kenapa kenapa harus pergi ..." Anjani menjerit menangis histeris.
Dokter dan suster yang masuk langsung menenangkan Anjani, melepaskan pelukan Anjani pada Lucia.
Dan mulai malam ini air mata itu terus mengalir di pipi Anjani, tanpa mau henti. Bahkan sampai tiba di esok harinya di hari pemakaman jenazah Lucia, Anjani tetap tidak bisa membendung air matanya, bahkan malah semakin deras.
Karena setelah Lucia dimakamkan maka ia tidak dapat melihat wajah putrinya lagi. Dan waktu berjalan begitu cepat, Anjani ingin waktu berjalan lebih lambat hanya untuk hari ini saja supaya ia bisa lebih lama melihat wajah putrinya untuk yang terakhir kalinya meski saat ini sudah dibungkus kain kafan.
Dan itu tidak mungkin terjadi, karena sekarang Lucia sudah dimakamkan dan proses itu hampir selesai.
"Lucia," gumam Anjani dengan perasaan hancur dan dada terasa sesak, air matanya semakin deras.
Anjani langsung ambruk memeluk makam Lucia, dan bersamaan itu turun hujan yang sangat deras, orang-orang di sana yang ikut di pemakaman pada lari semua mencari tempat teduh.
Hanya Anjani seorang yang masih di makam Lucia, tidak peduli saat ini hujan deras dan suara petir yang menggelegar di langit sana. Kini seluruh jiwanya bersedih tidak hanya hatinya.
*
*
*
Di kota xx.
Reza yang baru selesai meeting bersama klien saat ini duduk di restoran sembari menikmati teh hangat.
Tapi rasa teh itu sama sekali tak terasa manis di lidahnya saat mendengar kabar dari anak buahnya yang ditugaskan mengawasi Anjani mengatakan Lucia meninggal dan pagi ini dimakamkan.
"Vito, kita pulang."
Setelah berkata begitu Reza dan Vito Asisten pribadinya pergi dari sana. Sudah dua hari Reza di kota xx karena ada perjalanan bisnis.
Karena perjalanan yang rumayan jauh, Reza tiba di jakarta sudah sore hari, dan baru tahu ternyata di jakrta sedang diguyur air hujan.
Reza tidak langsung menuju apartemen, dari informasi anak buahnya mengatakan Anjani masih di makam sendirian, Reza memerintahkan Vito untuk melajukan mobilnya ke makam langsung.
Anjani masih setia di makam Lucia, membacakan doa untuk Lucia, yang kadang ia menangis dengan tersenyum.
Saat ini hujan masih turun, tapi sudah tidak sederas tadi, tubuh Anjani tidak hanya basah bahkan juga kotor terkena tanah makam itu.
Tiba-tiba diantara hujan yang masih turun, Anjani merasakan hujan itu tidak membasahi tubuhnya lagi, dan saat ia mendongakkan kepalanya matanya langsung bertemu mata elang milik Reza yang saat ini memayungi Anjani.
"Pulang, nanti kamu sakit," ucap Reza.
"Aku sudah terluka, lalu apa bedanya dengan sakit?" jawab Anjani sembari menangis.
"Anjani," ucap Reza tegas.
Anjani berdiri namun belum lama ia berdiri tubuhnya langsung terhuyung dan Reza langsung melepas payung itu untuk menangkap tubuh Anjani.
Anjani pingsan karena kelelahan menangis dan seharian ini ia hanya kehujanan tanpa makan.
Reza membopong tubuh Anjani dibawanya ke mobilnya.
Reza menjalankan mobilnya menuju apartemennya. Setelah sampai di sana, Reza kembali membopong Anjani, tidak peduli tatapan orang-orang yang mungkin melihat baju Anjani sangat kotor.
Dan setelah tiga puluh menit, Anjani sudah sadarkan diri, ia melihat sekeliling yang cukup kenal kamar milik siapa, dan baju yang ia pakai sudah ganti.
Reza datang dari arah luar membawa semangkuk bubur hangat. Kemudian duduk di sebelah ranjang dengan menghadap ke Anjani. "Ayo makan?"
"Tidak mau, aku mau pulang," tolak Anjani.
"Dua suap, setelah itu aku antarkan pulang," jawab Reza yang tak mau dibantah.
Dan seperti janjinya, setelah Anjani mau makan dua suap, Reza langsung mengantar Anjani pulang ke rumah wanita itu.
Anjani tiba di rumah sudah mau magrib, Anjani langsung masuk ke kamar Lucia, sampai di sana terasa kosong dan hampa hatinya.
"Lucia meninggal itu karena kamu!"
Suara tegas yang menyalahkan itu membuat Anjani mematung, matanya kembali panas mau menangis.
"Kau jual dirimu untuk dapatkan uang demi pengobatan Lucia, tapi apa nyatanya sekarang Lucia tetap meninggal ..." teriakan Ibu Mei yang terdengar sangat marah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments