Anjani membuka pintu kamar Lucia, setiap kali merasa sedih, hanya melihat wajah putrinya lah penawar kesedihannya.
"Bu." Aini turun dari ranjang Lucia, baru saja menidurkan Lucia, dan anak kecil itu baru saja terlelap.
"Biar saya saja yang jagain, Lucia," ucap Anjani ramah lengkap dengan senyum manisnya.
Tapi Aini masih bisa melihat kesedihan di wajah Anjani, meski sudah Anjani tutupi dengan senyuman.
"Baik, Bu. Aini pamit." Aini menundukkan kepalanya sebelum ahirnya keluar dari kamar itu.
Anjani berjalan pelan mendekati ranjang tempat Lucia tidur saat ini, Anjani berdiri dan terus memperhatikan wajah teduh dan polos Lucia saat tidur.
Tangannya terulur mengusap pipi lembut bagai kapas itu, tanpa terasa sudut matanya kembali meneteskan airmata.
"Kamu harus sembuh, Nak. Hanya kamu semangat Mama setiap kali Mama merasa terpuruk." Anjani mengecup kening Lucia, air matanya tak kuasa ia tahan, mengalir deras begitu saja.
"Mama ... Mama." Lucia mengigau.
Anjani mengusap air matanya takut Lucia akan melihat. "Mama, ada di sini Sayang." Anjani mengusap lembut tubuh Lucia, supaya anak itu kembali terlelap.
Setelah Lucia kembali tidur tenang, Anjani kemudian ikutan naik ke atas ranjang, ia ikut tiduran sembari memeluk Lucia.
"Tidurlah, Sayang. Mimpilah yang indah." Anjani mengecup kening Lucia sekilas sebelum ahirnya ikut memejamkan matanya.
*
*
*
"Masak apa, Bu?" tanya Nudin saat melihat Ibu Mei memasak.
Ibu Mei menghela nafas berat. "Lihat saja sendiri," ketus jawabnya.
"Ibu kenapa marah-marah? Kesal tidak ada yang bantuin?" tanya Nudin lagi yang langsung dapat semprot ibunya.
"Iyalah kesal! Tuh istri kamu mana pernah sekarang bantu Ibu masak, nginjak lantai dapur saja dia jijik!" Ibu Mei menoleh ke belakang sekilas sembari menghela nafas berat.
"Kamu itu harusnya bilangin Anjani, mentang-mentang dia yang kerja! Semua kewajiban sebagai istri dia tinggal!" lanjut marah ibu Mei.
Nudin memegang bahu Ibu Mei namun langsung di tepis, Nudin menerima penolakan ibunya yang lagi marah.
"Nanti saya coba bilang sama Anjani, Bu?"
"Harus! Harus segera bicara," jawab cepat Ibu Mei sembari mematikan kompor, berjalan mengambil wadah untuk menaruh sayur tumisan yang sudah matang.
Sementara itu Aini sedari tadi mendengar pembicaraan dua orang itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Dasar gak ibunya gak anaknya sukanya nyalahin ibu Anjani melulu," gumam Aini dengan tatapan kesal ke arah mereka.
Saat melihat Nudin balik badan seperti mau pergi dari dapur, Aini segera pura-pura sibuk dengan pekerjaannya, pura-pura bersihin meja makan.
Sementara itu Anjani yang tadi tertidur di kamar Lucia, kini tengah terbangun saat merasakan pergerakan tubuh kecil Lucia.
"Hei, anak Mama sudah bangun?" sapa Anjani sembari mencium pipi Lucia.
"Emm, mau cucu," ucap Lucia khas suara anak kecil.
"Ok, sabar ya? Mama buatkan cucu dulu." Anjani kembali mencium pipi Lucia sebelum ahirnya turun dari ranjang dan pergi keluar kamar.
Setibanya Anjani masuk ke ruang makan, langkahnya di hentikan oleh Aini.
"Ibu mau kemana?" tanya Aini, baru saja ia menyusun masakan di atas meja makan.
"Mau buatkan susu untuk Lucia."
"Saya buatkan saja, Bu. Kan ini sudah tugas saya, Ibu bersiap-siap saja karena sekarang sudah pukul delapan malam, biasanya kan Ibu kerja," ucap Aini.
Anjani menggeleng. "Tidak lama kok, saya buatkan saja, kamu kerjakan yang lain." Anjani menepuk bahu Aini, kemudian lanjut berjalan menuju dapur.
Bukan tanpa alasan Aini mencegah Anjani, karena ia merasa kasihan jika Anjani mendapat Omelan Ibu Mei, tapi untungnya saat ini Ibu Mei sudah tidak ada di dapur, Aini bisa bernafas lega saat mengetahui hal itu.
*
*
*
Seperti biasa, setiap pukul sembilan malam, Anjani pasti keluar rumah pamit mau kerja. namun sebelum pergi, Anjani selalu berpamitan dengan orang yang sangat penting dalam hidupnya, yaitu Lucia putri kecilnya.
Klek!
Suara pintu terbuka, Lucia yang sedang duduk diatas ranjang dengan ditemani Aini, seketika menoleh ke arah sumber suara, kini dua bola mata jernihnya menatap ibunya yang tampak cantik dan berpakaian rapih.
Anak kecil itu tersenyum melihat ibunya datang, tapi terlihat senyum yang sedang dipaksakan.
"Sayang, Mama pamit kerja, ya?" Anjani mengusap lembut pipi Lucia. "Maaf, belum bisa temani Lucia bobok malam." Anjani mencium kening Lucia.
Kelak dewasa kamu akan paham dengan kondisi ini Nak, batin Anjani.
"Mama." Lucia memeluk Anjani erat, seolah tidak ingin melepaskan, hanya malam ini saja, ingin ibunya tidak kerja, tapi keinginan ini hanya ada dalam hati kecilnya.
Anjani menatap lekat wajah Lucia. "Mama, sayang Lucia."
"Mama, cepet pulang." Lucia melambaikan tangannya.
Anjani meraih tangan mungil itu dan mengecupnya berulang-ulang.
Dengan perasaan berat Anjani melangkahkan kakinya keluar dari kamar Lucia. Tanpa Lucia ketahui dan Aini juga, sudut mata Anjani kini telah meneteskan bulir bening, dan langsung ia usap tidak mau terlihat lemah.
Lucia langsung memeluk Aini setelah Anjani benar-benar keluar dari dalam kamarnya.
"Cus." Lucia mendongakkan kepalanya menatap wajah Aini. "Lucia sedih karena Mama selalu pergi kerja, padahal Lucia ingin bobok malam ditemani Mama," ucapnya dengan suara sedih dan pandangan mata sendu.
Aini tersenyum, tangannya mengusap rambut Lucia. "Mama kerja buat beli cucu untuk Lucia, kan Lucia suka cucu ... Jadi jangan sedih ya?" hibur Aini kerena tidak ingin Lucia merasa sedih.
Namun sepertinya tidak mudah menghibur hati anak kecil itu, kini Lucia malah memeluknya dan menenggelamkan wajah di dadanya.
Punggung kecil itu bergetar, bertanda Lucia saat ini sedang menangis.
"Yang sabar, Non," gumam Aini, memeluk Lucia dan menciumi puncak kepala Lucia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments