BAB 9.

Brak!

Anjani langsung menoleh menatap pintu kamarnya yang tengah di buka dengan kasar dari luar.

Anjani yang baru saja masuk kamar meletakkan tasnya, merasa bingung melihat ibu mertuanya tiba-tiba datang dengan kasar membuka pintu kamar.

Padahal tadi saat di dapur, Ibu Mei mengusirnya. Tapi kenapa sekarang menyusulnya ke kamar pikir Anjani.

Anjani berdiri dengan wajah menatap bingung ke arah Ibu Mei.

"Anjani, jujur sama Ibu." Ibu Mei berkata tegas, kali ini ia ingin tahu kebenaran yang sebenar-benarnya dari pekerjaan Anjani.

Tidak mau berpikiran yang tidak-tidak lagi, dan hari ini harus mendapat jawaban yang sebenarnya.

"Ju-jujur tentang apa ya, Bu?" Anjani memicingkan matanya, wajahnya terlihat semakin bingung.

"Jujur sama Ibu tentang pekerjaanmu!"

Deg!

"Loh, Ibu kan sudah tahu bahwa pekerjaan Anjani di restoran, mengapa Ibu bertanya lagi?" Anjani mencoba tersenyum, padahal saat ini telapak tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin.

Apa mungkin ini saatnya Ibu tahu pekerjaanku yang sebenarnya, ta-tapi aku belum berani memberitahu Ibu, dan aku tidak sanggup melihat Ibu kecewa, batin Anjani.

"Tidak." Ibu Mei menggelengkan kepalanya. "Jujur sama Ibu, bahwa pekerjaan kamu bukan jadi pelayan di restoran, tapi kamu jadi wanita simpanan laki-laki, ya kan!"

"Bu, itu tidak benar," bela Anjani.

"Jawab jujur, Anjani!" bentak Ibu Mei, dan seketika membuat tubuh Anjani menjingkat.

"Ibu ..." Anjani menangis seketika, lidahnya terasa kelu, sulit sekali untuk sekedar berbicara.

Ibu Mei membuang muka, tidak mau menatap wajah Anjani. "Kenapa kamu menangis? Apa yang saya katakan tadi benar! Anjani."

"Ibu ..." Anjani mencoba mau meraih tangan Ibu Mei, namun sayang langsung Ibu Mei tepis.

"Kamu menjual diri! Kamu punya suami tapi kamu menjual diri!"

Anjani hanya bisa menggelengkan kepalanya, bibirnya seolah bisu tidak bisa sama sekali untuk bicara, air matanya terus meluncur deras membasahi pipi, membuatnya tidak bisa berkata-kata.

"Jawab Anjani! jangan hanya bisa menggeleng dan menangis, kamu punya mulut kan!" bentak Ibu Mei lagi.

"Ibu ..." Anjani kembali ingin meraih tangan Ibu Mei, namun di tepis lagi, dan seketika Anjani membawa tubuhnya meluruh ke bawah.

Ia tertunduk lemas di atas lantai, sungguh Anjani tidak bisa berkata-kata, rasanya berat mau mengatakan yang sebenarnya.

"Semua itu benar, Bu," ucapnya lirih, hampir-hampir tidak terdengar oleh telinga Ibu Mei.

Namun ternyata pendengaran wanita tua itu masih tajam, hingga ia masih mampu mendengar apa yang barusan Anjani katakan itu.

"Wanita murahan!" Ibu Mei mendekati Anjani.

Plak!

Ibu Mei menampar pipi Anjani, tidak cukup satu tamparan saja, tapi menampar pipi mulus itu sampai lima kali, hingga kini pipi Anjani tampak berwarna merah dan membekas jemari Ibu Mei.

"Maaf, Bu. Maafkan Anjani.

Ucap lirih Anjani, ia hanya bisa tertunduk tak berdaya, dan menerima kemarahan dari mertuanya, sesuatu yang pasti akan terjadi jika mertuanya sudah mengetahui pekerjaannya yang sebenarnya.

"Apa Nudin tahu?"

Anjani mendongakkan kepalanya menatap Ibu Mei yang tengah menatapnya tajam sebelum ahirnya menundukkan kepala lagi.

"Jawab! Anjani," bentak Ibu Mei, ia merasa kesal karena Anjani malah diam bukannya menjawab pertanyaannya.

"Tahu Ibu, Mas Nudin tahu ...."

Duar!

Dunia Ibu Mei seakan runtuh mendengar pengakuan Anjani, putra kesayangannya tahu pekerjaan Anjani, dan milih ikut diam tidak mau bercerita.

Saat ini juga Ibu Mei langsung menangis, melangkah mundur sampai bersandar di dinding.

Sakit, kecewa, sedih campur jadi satu, Ibu Mei tidak bisa berkata-kata lagi, sekarang semua sudah jelas, ia terus menggelengkan kepalanya seolah ingin menolak menyatakan ini.

Dan ahirnya Ibu Mei pergi dari kamar Anjani tanpa sepatah kata pun.

*

*

*

Pukul tiga sore hari.

Ibu Mei duduk di kursi ruang makan, wanita itu mengusap keningnya dengan pandangan ke bawah, dari caranya itu terlihat memikirkan beban berat yang sulit di pecahkan nya.

Sampai-sampai ada langkah kaki mendekat, Ibu Mei tidak menyadari.

"Ibu, masak apa tadi?"

Mendengar suara yang tak asing baginya, Ibu Mei mendongakkan kepalanya menatap wajah sang pemilik suara.

"Nudin." Ibu Mei menatap orang itu yang kini tengah membuka tutup tuding nasi.

"Wah, ada ikan goreng, ada sup iga, juga sambal tomat. Ini enak sekali, kebetulan aku sangat lapar," ucap Nudin penuh semangat dan bersiap akan duduk untuk makan.

Namun suara gebrakan meja yang terdengar begitu keras, membuat Nudin mengurungkan niatnya seketika.

Brak!

"Ibu, ada apa dengan, Ibu." Nudin bingung saat tiba-tiba ibunya marah sampai menggebrak meja makan, dan ini tidak seperti biasanya.

"Ada apa tanyamu!" Ibu Mei menatap tajam Nudin.

Nudin yang masih bingung hanya bisa mengangguk kecil.

Namun kejadian berikutnya langsung membuat Nudin terkejut.

Plak!

"Dasar! kamu dan Anjani sudah bohongi Ibu, ternyata Anjani selama ini bekerja sebagai wanita simpanan laki-laki orang!"

"Dan kamu biarkan Ibu makan uang haram hasil kerja Anjani, tega kamu sama, Ibu. Tega kamu!"

Plak!

Plak!

Nudin meraih tangan ibunya yang digunakan untuk menampar pipinya. "Bu ... Maafkan Nudin, Bu."

Hah!

Ibu Mei mengibaskan tangan Nudin hingga genggaman itu terlepas, Ibu Mei pergi dari sana meninggalkan Nudin sendiri dengan perasaan campur aduk.

"Hah! Sialan kenapa jadi begini sih!" makinya sembari menggebrak meja.

"Anjani," gumamnya.

Saat ini Nudin hanya mengingat satu nama yaitu Anjani, tadi ia belum sempat bertanya dari mana ibunya tahu soal pekerjaan Anjani, dan sekarang satu-satunya orang yang akan ia tanyai adalah Anjani, yakin jika Anjani tahu semuanya.

*

*

*

Klek!

Nudin langsung membuang nafas berat setelah pintu kamar terbuka dan memperlihatkan wanita yang mau ia temui kini sedang tidur nyenyak di atas kasur empuk.

Nudin berjalan mendekati ranjang dengan langkah cepat tak sabaran, tibanya di sana Nudin langsung menarik kasar selimut yang membungkus tubuh Anjani, sampai wanita itu terbangun.

"Mas, kamu kenapa?" tanya Anjani diantara setengah sadarnya karena baru bangun tidur.

Nudin berkacak pinggang dengan mata menatap tajam. "Jawab, kamu yang sudah bilang ke Ibu tentang pekerjaan kamu itu, iya!"

Anjani yang semula masih setengah sadar kini begitu mendengar pertanyaan suaminya masih berkaitan dengan masalah pekerjaannya dan ibu mertuanya, Anjani langsung terjaga seketika.

Anjani yang semula tiduran kini duduk di atas ranjang, ia membalas tatapan mata suaminya.

"Iya Mas, aku sudah jujur sama Ibu."

Nudin langsung marah mendengar jawaban Anjani, ia pikir Anjani sengaja melakukan ini. Nudin berjalan ke arah samping ranjang untuk lebih mendekati Anjani.

Dan telapak tangan lebar itu seketika menampar pipi Anjani, dan tentu rasanya lebih panas dan sakit.

Anjani merasakan bibirnya berdarah bekas tampan suaminya itu, sebagian rambutnya yang menutupi wajahnya, membuat Nudin tidak tahu jika saat ini Anjani meneteskan air mata.

"Berani sekali kamu jujur sama Ibu, gara-gara ulah kamu itu, Ibu jadi marah sama aku!" Nudin meraih bahu Anjani, ia gerak-gerakan hingga ia bisa melihat bibir Anjani yang berdarah, namun Nudin sama sekali tidak merasa iba.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!