BAB 7

Di dalam sebuah ruangan yang tampak elit, jemari lentik seorang wanita cantik sedang menekan tombol password.

Setelah keenam angka password dimasukan, pintu ruangan tersebut seketika terbuka, dan kaki wanita itu mulai melangkah masuk.

Namun baru saja wanita itu kembali menutup pintu itu, tiba-tiba merasakan pergerakan tangan yang membalikkan badannya dengan kasar.

Deg!

"Mas," ucapnya lirih dengan mata terkejut karena tidak biasanya pria yang berdiri di depannya saat ini menatapnya setajam ini.

"Ada apa? Apa aku berbuat kesalahan sampai Mas Reza marah, tapi sepertinya aku tidak buat kesalahan," batin Anjani, dan ia makin ketakutan saat mendengar ucapan dari Reza.

"Aku sudah pernah bilang ke kamu ya! Untuk hati-hati saat mau menemui aku, karena aku gak mau sampai orang tahu aku ada hubungan dengan kamu!" bentak Reza dengan mata meyalang tajam.

"Maaf, Mas. Aku gak tahu jika ada orang yang mengikutiku." Anjani menundukkan kepalanya, ia benar-benar takut saat ini melihat Reza marah.

Reza tangannya bertolak pinggang sembari membuang nafas berat. "Aku gak menyangka kalau kamu bakalan mau menghancurkan reputasi aku," ucapnya, terdengar nada menyesal.

"Gak gitu, Mas ..." Anjani mencoba mau meraih tangan Reza, tapi langsung Reza tepis tangan Anjani.

"Mas," ucap Anjani lirih sembari menggigit bibir bawah, ia benar-benar merasa bersalah, dan sungguh tidak tahu apa-apa.

Dan masih dalam keadaan terkejut juga saat ia datang mendapati Reza langsung marah padanya, Anjani bingung mau jawab apa.

"Siapa yang sudah tahu hubungan kita? Aku akan coba jelasin ke dia, Mas. Kalau ini hanya salah paham," ucap Anjani dengan suara serak, karena saat ini ia sudah menangis.

"Mami aku."

"Hah! Mami." Anjani terkejut.

Reza menatap tajam sembari menganggukkan kepala. "Orang suruhan Mami mengikuti kamu, dan sekarang Mami jadi tahu hubungan kita."

Anjani menggelengkan kepalanya. "Maaf, Mas. Aku gak tahu gimana aku harus jelasin." Anjani menundukkan kepala.

Biarlah ia dikata seperti seorang pecundang, yang tadi berkata mau menjelaskan tapi sekarang berkata tidak bisa menjelaskan.

Anjani sampai memejamkan matanya saat mendengar helaan nafas berat Reza.

"Aku kecewa sama kamu Anjani." Reza balik badan mau menuju sofa. "Semua gara-gara kamu."

Anjani mengikuti langkah kaki Reza. "Mas, tolong maaf kan aku," rengek Anjani, ia merasa sedih melihat Reza yang acuhkan dirinya, karena biasanya pria itu selalu memperlakukannya dengan sayang.

Reza menduduki sofa dengan dramatis sampai busa itu bergerak. Reza menatap Anjani dengan malas.

"Mas, aku mohon."

"Mas-,"

"Diam Anjani!" Reza berdiri menatap tajam Anjani. "Kalau kamu tidak bisa menjelaskan ke Mami, lebih baik kamu diam biar urusan ini aku yang selesain."

Setelah berkata seperti itu Reza berjalan pergi meninggalkan ruang tamu, ia menuju kamarnya.

Anjani semakin menangis mendengar suara bentakan Reza.

"Ini salah ku, aku gak tahu kecerobohan aku mengundang bumerang di hubungan aku dan Mas Reza," ucap Anjani lirih sembari terus menangis.

Anjani tidak mau Reza marah berterusan, ahirnya ia mutuskan untuk menyusul Reza di dalam kamar.

Dan untungnya pintu kamar itu tidak dikunci, Anjani bisa bernafas lega, itu artinya ia bisa masuk.

Saat kaki Anjani melangkah masuk, ia tidak melihat Reza di dalam kamar itu, berpikir jika Reza mungkin ada di dalam kamar mandi.

Anjani mendekati pintu kamar mandi, namun tidak ada suara gemercik air, ia buka pintu kamar mandi itu dan ia lihat di dalam tidak ada siapa-siapa.

Anjani mulai bingung, memikirkan keberadaan Reza sekarang ada di mana?

Namun begitu ia balik badan, Anjani langsung dibuat kaget saat tiba-tiba Reza sudah berdiri di hadapannya.

Namun saat ini ada yang lebih membuatnya terkejut, yaitu sebuah lampu hias yang menyala, menempel di dinding membentuk tulisan dengan bacaan happy birthday Anjani.

"Mas, kamu." Anjani menatap tak percaya.

"Apa." Reza tersenyum smirk, khas gayanya.

"Kamu kerjain aku!" teriak Anjani tak terima.

Hahaha!

Reza tertawa sembari tangannya meraih Anjani untuk dipeluknya.

"Kamu nyebelin ih, bisa-bisanya kerjain aku." Anjani memukul-mukul dada bidang Reza.

Sementara Reza terus tertawa puas karena sudah berhasil mengerjai Anjani.

"Tenang, ada hadiahnya untuk tuan putri yang cengeng." Reza melepas pelukannya, berganti menangkup wajah Anjani.

Anjani yang mendengar ucapan Reza barusan bukannya bahagia ia malah cemberut dengan bibir mayun, membuat Reza gemas.

Cup.

Reza mengecup bibir Anjani sekilas, dan membuat Anjani makin kesal.

"Mas Reza!" Anjani memukul lengan Reza.

Reza malah tertawa dan tangannya mengacak rambut Anjani sebelum ahirnya ia berjalan menuju laci dan mengambil sesuatu dari dalam sana, sebelum ahirnya kembali lagi ke hadapan Anjani.

Ternyata Reza membawa kotak beludru berwarna merah, Reza membuka kotak itu dan seketika memperlihatkan isi di dalamnya yaitu sebuah kalung yang indah.

"Berbaliklah," titahnya lembut.

"Mas." Anjani tergugu melihat kalung di tangan Reza itu.

Namun Reza tidak pedulikan Anjani yang terkejut, ia membalikkan badan Anjani, kemudian memasang kalung itu ke leher Anjani.

"Cantik," ucapnya dengan tersenyum puas begitu melihat kalung sudah terpasang sempurna di leher Anjani.

Anjani tersenyum, ia sampai meneteskan air mata bahagia, sungguh ini baru pertama kalinya ia diperlakukan seistimewa ini oleh seorang pria.

Dan pria itu adalah teman ranjangnya bukan suaminya, jika mengingat hal ini hatinya merasa sedih.

Reza mengusap air mata Anjani yang keluar itu.

"Terimakasih, Mas."

"I love you," jawab Reza. Jawaban yang tidak nyambung, tapi itulah Reza, yang tidak mau terlalu berlebihan.

Mendengar kata keramat itu dari bibir Reza lagi, membuat Anjani merasa tidak enak hati, karena sampai sekarang ia belum bisa membalas cintanya Reza.

Reza meraih tangan Anjani dan menatap lekat wajah Anjani. "Happy birthday, selalu sehat dan ... Semoga kita berjodoh." Reza menarik Anjani masuk dalam pelukannya.

"Berjodoh? Apa bisa kita berjodoh, Mas?" batin Anjani saat mengingat ucapan terakhir Reza.

*

*

*

"Woaahh ... Beautiful ..."

Anjani berteriak senang saat melihat sebuah pemandangan indah dari atas roof top restoran mewah.

Ya, satu jam yang lalu Reza dan Anjani bersiap untuk makan malam di luar, sebagai acara untuk memeriahkan hari ulang tahun Anjani.

Dan disini lah mereka sekarang, di sebuah restoran mewah yang tentunya sudah Reza booking, jadi meski saat ini sudah pukul sebelas malam, restoran tersebut tetap buka hanya untuk Reza.

Reza memeluk Anjani dari arah belakang, lengan kekar itu memeluk pinggang seksi Anjani dengan posesif, Reza menatap ke arah langit. "Lihatlah tidak hanya senyummu yang indah, tapi bintang yang berpijar terang di langit sana juga indah seperti senyummu."

Anjani mengikuti arah tangan Reza yang menunjuk bintang di langit, dimana banyak bintang bertebaran di atas sana di bawah sinarnya bulan purnama. Bersamaan itu Anjani merasakan kecupan Reza di pipinya.

"Mas Reza, jika takdirku belum bersuami mungkin mendapat perhatian seperti ini darimu aku akan sangat bahagia," batin Anjani dibalik senyumnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!