"Tuan, Nona Anjani sudah datang," ucap Vito Asisten kepercayaan Reza.
Reza yang semula menunduk sedang membaca berkas penting, langsung mendongakkan kepalanya saat Vito bicara.
Reza berdiri sembari mengibaskan tangannya bertanda Vito diijinkan pergi.
Vito menundukkan kepalanya sebelum beranjak dari sana dan membiarkan sang bos menyambut kekasihnya.
Ya, Vito tahu bahwa Anjani kekasih bosnya, tapi Vito tidak mengali informasi lebih dalam, baginya urusan pribadi bosnya bukan urusannya.
Reza berdiri di ambang pintu, tangan kanannya masuk ke saku celananya, tatapannya ke arah Anjani yang berdiri di luar.
"Mas Reza." Anjani tersenyum.
"Udah, cuma itu aja?" Reza melengos, ia ngambek.
Anjani melangkah mendekat. "Mas ... Kenapa sih, Hem?" Anjani menyentuh lengan kekar itu yang berbalut jas silver dan mengusapnya lembut naik turun.
Reza kembali menoleh, kini tatapan matanya bertemu dengan mata Anjani, dari jarak sedekat ini, Reza menatap lekat wajah Anjani yang kemarin sehabis ditampar suami dan mertuanya.
Tapi saat ini Reza tidak menemukan jejak kemerahan bekas tamparan, sungguh sempurna Anjani dalam meng-make-up wajahnya.
"Mas Reza lihatin apa sih?" Anjani tersenyum, senyuman yang tampak manis di mata Reza.
Reza bukannya menjawab malah memiringkan wajahnya yang kemudian mengecup leher Anjani.
"Mas Reza!" kesal Anjani, ia menoleh ke belakang melihat situasi jika ada karyawan. "Takut ada yang lihat, Mas." Menatap Reza.
Reza menarik Anjani masuk ke dalam, tangan satunya menutup pintu dan menguncinya, Reza membawa Anjani masuk ke kamar pribadi yang ada di ruangan ini.
"Ah!" jerit Anjani saat Reza membawanya sama-sama menjatuhkan diri di atas ranjang empuk itu.
Reza sebelumnya sudah melepas jasnya, kini pria itu mengunakan kemeja, memeluk Anjani.
"Kamu bohong sama aku, aku sudah tahu semuanya," ucap Reza setelah barusan mencium pipi Anjani.
"Bohong apa, Mas?" Anjani bingung ia tidak merasa berbohong.
"Mungkin bukan berbohong tapi kamu tidak jujur padaku," ralat Reza, ia menekuk tangannya hingga membentuk siku untuk menopang kepalanya, matanya menatap wajah Anjani yang juga menatapnya.
"Jujur apa lagi, Mas?" Anjani belum paham.
Tangan kiri Reza menyentuh lembut pipi Anjani. "Jangan kamu kira aku tidak tahu kejadian kemarin."
Deg.
Anjani terkejut sampai menghentikan tarikan nafasnya.
"Aku tahu semua tentang kamu, se-mu-a." Reza menekan kata semua.
"Aku,-" Anjani tidak lanjut bicara saat bibirnya dibungkam dengan bibir Reza, pria itu menciumnya dengan lembut, lembut sekali ibarat barang tidak ingin lecet.
Anjani menangkup wajah Reza setelah ciuman itu terlepas. "Maaf, jangan marah."
Reza kembali erat memeluk Anjani sembari membawa kepala Anjani ke dadanya, dan lengan kanannya ia jadikan bantalan kepala Anjani sembari jemarinya menyisir kecil-kecil rambut Anjani.
"Aku mencintaimu, Anjani. Aku sangat mencintaimu. Andai saat ini kamu tidak miliki ikatan, aku pasti sudah menikahimu. Aku benar-benar tidak terima ada orang yang menyakitimu, terlebih mereka adalah suami dan mertuamu, keluarga macam apa dia." Reza mencium dalam kening Anjani setelah bicara panjang lebar.
Anjani memejamkan matanya merasakan kehangatan kecupan Reza di keningnya, tapi hatinya juga merasa hangat, merasa dicintai juga disayangi dan dilindungi.
Anjani tidak bodoh, ia sudah tahu seperti apa suaminya, yang hanya meminta uang padanya, tanpa memberikan cinta juga sayang terhadapnya.
Nafkah keluarga yang harusnya jadi tanggung jawab seorang suami tapi kini Anjani yang harus menanggungnya.
Tapi bukan persoalan itu yang membuat Anjani sakit hati dan terluka, tapi karena tidak ada cinta dan sayang dari suaminya terhadapnya lagi.
Anjani ingin mencari waktu yang tepat untuk berbicara serius mengenai perceraian, ia juga tidak mau lama-lama berumah tangga tanpa ada keharmonisan di dalamnya.
Anjani mengusap rahang tegas Reza, mata mereka beradu, sama-sama tersenyum. "Mas, untuk pertanyaan cintamu tempo lalu, aku mau menjawab."
Reza membenahi posisinya, ingin bisa jelas mendengar ucapan Anjani selanjutnya, dengan rasa yang sudah tidak sabaran.
"Aku menerima cintanya, Mas Reza."
"Apa ulangi," goda Reza.
"Aku menerima cintanya, Mas Reza."
"Gimana?" Reza makin menggodanya.
"Menerima cintanya, Mas Reza!"
"Kurang jelas!"
Plak.
Anjani memukul lengan Reza. "Mas Reza nyebelin ah ..." keluh Anjani yang disambut dengan tawa kencang Reza.
Hahaha.
Reza gemas melihat wajah Anjani yang berhasil ia buat kesal. Reza kemudian menghujani ciuman di wajah Anjani.
Reza dan Anjani saling tatap, memandang sama-sama penuh cinta, Reza menautkan jemari tangannya dengan jemari tangan Anjani. "Mulai sekarang kamu adalah wanitaku, dan kapan pun kamu mengajak menikah, aku siap." Reza kembali melabuhkan kecupan di kening Anjani.
Bunga-bunga cinta bertebaran diantara mereka, sungguh saat ini Anjani merasa menjadi wanita paling bahagia sedunia.
*
*
*
Siang hari saat jam makan siang.
Reza mengajak Anjani makan di restoran, tempatnya tidak jauh dari perusahaan miliknya.
Dan disinilah mereka berada sekarang, di sebuah restoran yang tempatnya terbuka hingga udara segar dari luar bisa masuk ke dalam menyejukkan suasana.
"Selesai makan kita ke Mall mau?" tanya Reza di sela-sela makannya.
"Mas Reza gak sibuk?" tanya Anjani balik, kemudian minum jus alpukat.
"Kalau ditanya sibuk pasti sibuk lah, tapi buat kamu aku usahakan ada waktu untuk bersantai bersama." Reza tersenyum.
"Bisa aja ngegombalnya." Anjani menyebikkan bibirnya.
Reza terkekeh.
Dan seperti ucapan Reza, yang tidak pernah hanya sekedar kata-kata, setelah selesai makan siang, Reza beneran mengajak Anjani untuk jalan-jalan ke Mall.
Meski tadi Anjani sempat menolak karena mengingat Reza pasti sibuk, tidak mau hanya karena dirinya, Reza sampai meninggalkan pekerjaan pentingnya.
Tapi Reza tetap memaksa untuk jalan-jalan, pria itu terlalu bahagia karena Anjani membalas cintanya.
"Mau nonton film apa?" tanya Reza saat mereka sudah berada di lantai pembelian tiket masuk bioskop.
Banyak film, membuat Anjani bingung memilih.
"Apa mau nonton horor?"
"Gak ah serem," tolak langsung Anjani.
"Kan ada Abang," goda Reza sembari menepuk dadanya. "Kalau takut, Abang peluk."
"Ish, Mas Reza ..." Anjani malu-malu.
Setelah lama memilih mau nonton film apa? Ahirnya pilihan mereka adalah film romantis, Anjani ingin belajar romantis begitu tadi ucapnya.
Sementara di tempat lain.
Ibu Mei saat ini sedang belanja kebutuhan rumah, barang belanjaannya sangat banyak, ada enam dus yang isinya semua kebutuhan bulanan di rumah.
Barang-barang itu kini dimasukkan ke dalam mobil taksi, setelah semua beres, Ibu Mei masuk ke dalam taksi, dan tidak lama kemudian taksi pun berjalan.
Sopir mobil taksi tidak mencurigakan sama sekali, namun siapa sangka sampainya di jalan sepi mobil taksi itu berhenti.
Dan tiba-tiba sopir itu menodong Ibu Mei.
Srekk.
Sopir itu menarik kalung mas di leher Ibu Mei.
"Jangan! Jangan ambil kalungku!" Ibu Mei berteriak menangis.
Tapi sopir itu tidak peduli, ia lanjut aksinya mengambil dompet juga cincin di jari Ibu Mei.
Setelah semua sopir itu dapatkan, ia langsung mendorong Ibu Mei.
"Keluar!"
Ibu Mei di turunkan di jalanan, dan taksi itu melaju pergi.
"Hei ... Kembalikan uangku! Kembalikan semua barang-barangku!" Ibu Mei menangis menjerit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments