Lucia menangis tanpa suara selama melihat ibunya dicambuk ayahnya.
"Nudin, sudah hentikan kasihan Anjani, Ibu tidak apa-apa?" Ibu Mei menghalangi tangan Nudin yang mau mencambuk punggung Anjani lagi.
Entah sekarang sudah semerah apa punggung Anjani, yang pasti rasanya sangat sakit bagai terbelah.
"Kau dengar! Bahkan ibuku masih baik hati membelamu! Jika tidak? sudah kubuat kau sakit tak punya punggung!"
Sakit rasanya hati Anjani mendengar ucapan suaminya itu.
Dan kemudian Anjani mendengar suara langkah kaki menjauh, Ibu Mei dan Nudin pergi meninggalkan dirinya.
Dan setelah Ayah dan neneknya pergi meninggalkan ibunya yang tertunduk menangis di lantai.
Lucia berlari ke arah ibunya dan langsung memeluk punggung yang bergetar itu.
Aini yang baru keluar dari kamar Lucia karena habis dari kamar mandi, ikutan berlari mengejar Lucia, kini Aini berdiri tidak jauh dari mereka.
"Mama ... Mama," ucap Lucia, tangis yang tadi tanpa suara, kini menjadi menderu keras saat memeluk ibunya.
Anjani tentu terkejut mendapati Lucia tiba-tiba datang dan memeluknya, bahkan anak itu menangis seolah sudah melihat yang terjadi barusan.
Dan dugaan Anjani itu benar setelah mendengar ucapan Lucia.
"Mama jangan nangis ... Papa jahat! Papa gak sayang Mama." Tangan mungil Lucia menghapus air mata yang mengalir di pipi Anjani.
Anjani langsung memeluk Lucia, rasanya tidak sanggup apa bila Lucia harus melihat yang sebenarnya, namun mau bagaimana lagi, gadis kecilnya itu sudah terlanjur melihatnya.
"Maafkan Mama sayang ... Maafkan Mama." Anjani menciumi pipi Lucia. Namun anak kecil itu masih tetap menangis.
"Lucia sayang sama Mama ... Mama harus bahagia," ucapnya sambil terisak.
"Terimakasih sudah menyayangi Mama sayang."
"Mama jangan nangis lagi," pinta Lucia lagi.
Anjani menganggukkan kepalanya sembari semkin erat memeluk Lucia. Namun lama-kelamaan Anjani merasakan ada yang aneh dengan Lucia.
Anjani mencoba melerai pelukannya untuk melihat wajah Lucia.
Namun alangkah terkejutnya Anjani begitu melihat wajah Lucia yang saat ini pingsan dan keluar darah dari lubang hidungnya.
"Lucia ..." teriak Anjani menggema ke seluruh ruangan sampai suaranya itu terdengar ke telinga semua orang penghuni rumah itu.
*
*
*
Ketegangan juga terjadi di dalam rumah mewah.
"Kamu harus menikah dengan wanita pilihan Mami, Reza."
Reza menatap wanita yang telah melahirkannya itu dengan malas. "Tapi Reza sudah punya pilihan wanitanya, Mami."
"Tidak-tidak, wanita pilihan kamu pasti tidak berkelas." Wanita yang usianya lebih tua dari Maminya Reza itu ikut bicara.
"Nek! Reza sudah dewasa, tentu Reza tahu wanita yang terbaik untuk Reza!" tegasnya membela diri.
"Kalau dia dari golongan orang miskin, Mami tidak setuju!" sarkas cepat Mami Evi.
Reza seketika membuang nafas berat mendengar ucapan Mami Evi, kepalanya mendadak pusing berhadapan dengan dua wanita tua di depannya itu.
Reza mengubah posisi duduknya menjadi tegap sembari menatap Mami Evi dan Nenek Julia. "Yang mau menikah itu, Reza. Dan yang mau menjalankan rumah tangga itu juga, Reza."
"Kalau Mami dan Nenek ikut campur dalam hal beginian, mending nikah aja sendiri kalian."
"Reza!" bentak Mami Evi dan Nenek Julia bersamaan.
Hahah.
Reza tertawa melihat wajah kesal mereka berdua.
"Sudahlah, Mami dan Nenek hanya bikin Reza pusing," ucapnya sambil berdiri dan langsung melangkah pergi.
"Tunggu, Reza!"
Reza berhenti yang sudah berjalan beberapa langkah saat mendengar suara tegas Nenek Julia memanggil.
"Kalau kau tidak mau mendengarkan apa kata, Nenek! Kau akan Nenek keluarkan dari keluarga ini!" ancam tegas Nenek Julia tanpa main-main.
Reza balik badan dan membalas tatapan tajam neneknya itu. "Reza mencintainya, Nek! Reza akan tetap memilih kekasih Reza!"
"Anjani tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, kecuali kematian," ucap lanjut Reza namun dalam hati.
Mami Evi dan Nenek Julia menatap marah ke arah Reza yang saat ini berjalan pergi dari rumah.
"Anak itu sudah kelewatan, Ibu," ucap Mami Evi setelah Reza tidak ada di sana.
"Itu semua salah kamu!" sentak Nenek Julia.
"Kenapa jadi salah aku, Ibu!" Mami Evi bingung dan tidak terima disalahkan.
"Karena kamu terlalu memanjakan dia!" jelas Nenek Julia, matanya melotot, sebelum ahirnya pergi dari ruang keluarga.
"Hah! Semua menyebalkan!" umpat Mami Evi, saat ibu dan anaknya membuat kepalanya pusing.
*
*
*
Di rumah sakit.
Seorang wanita cantik tak henti-hentinya menangis yang kini ikut mendorong brankar pasien, matanya terus menatap putrinya yang wajahnya kian memucat seolah tubuh itu tanpa darah.
"Keluarga pasien harap tunggu di luar," ucap suster sembari menutup ruang IGD itu.
Wanita itu kini menatap nanar pintu yang sudah tertutup rapat, hati kecilnya sangat takut dengan keadaan putrinya di dalam sana.
"Lucia bertahanlah, Nak." Bibir Anjani bergetar saat mengucap kalimat itu, air matanya semakin mengalir deras.
Anjani hanya memikirkan keadaan Lucia sampai-sampai rasa sakit di punggungnya tidak ia rasakan lagi.
Bukan karena rasa sakit itu hilang, tapi rasa takut terhadap putrinya jika terjadi sesuatu itu lebih besar.
Sementara Ibu Mei juga Nudin hanya diam saja, duduk di kursi tunggu depan ruang IGD itu.
Aini yang juga ikut ke rumah rumah sakit, merasa kasihan melihat Anjani, ingin membantu tapi tidak bisa berbuat apa-apa?
Kasihan Ibu Anjani, dia sampai menangis terpukul seperti itu, Lucia semoga kamu baik-baik saja, batin Aini sembari menatap Anjani yang masih terus menangis.
Sementara itu di dalam ruang IGD.
"Dokter! detak jantung pasien berhenti," ucap suster yang seketika membuat para tim medis panik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments