Di dalam sebuah ruangan dengan cahaya lampu disco, terdapat banyak orang juga suara musik yang menggema keras, bahkan bau minuman alkohol juga menyengat di sekitarnya.
Ada sekelompok orang sekitar enam orang, mengelilingi meja bundar, mereka sedang bermain judi.
Semua orang di ruangan tersebut pada bersuka ria, seolah hidup tanpa beban.
"Haha, aku menang ..." teriak seorang pria dengan bahagia.
Berbeda dengan Nudin yang langsung cemberut dan kesal. Sudah satu Minggu ini ia kalah terus bermain judi.
"Eh, Din! Mana uang elu, mau tilap aja," ucap kesal orang yang menang tadi.
"iya, nih!" Nudin memberikan uangnya pada orang itu.
Namun saat dihitung ternyata uangnya kurang. "Eh, Din. Elu curang, ini uangnya masih kurang!
"iya, gua tahu, ini mau pulang ambil kekurangannya," jawab Nudin seraya berdiri.
"Wah! Gak bener ini si Nudin, mau bohong aja dia,"' ucap orang berambut keribo.
"Elu kalau mau macem-macem sama gua, akan gua abisi lu!" ucap orang yang menang itu dengan marah, matanya menatap tajam.
"Gua gak bohong, ini beneran-,"
"Hajar saja, dia pasti mau kabur," ucap orang bertato harimau, memotong ucapan Nudin.
"Kalian bisa sabar tidak!"
Dan mendapat bentakan Nudin barusan, orang yang tadi menang langsung tidak terima, marahnya semakin meradang.
"Elu berani bentak-bentak gua!"
Bugh!
Bugh!
Setelah orang itu memaki, ia langsung memukul perut Nudin. Teman-teman yang lain jug ikutan memukuli Nudin, sampai wajah Nudin penuh lebam, dan mereka meninggalkan Nudin terkapar di lantai begitu saja.
Arghh!
"Sialan kalian sialan ..." teriak Nudin diantara tubuhnya yang kini terasa sakit.
Meski di tempat itu ramai tapi tidak ada satu pun orang yang peduli, mereka semua tidak ada yang mau ikut campur urusan orang lain yang tak dikenalnya.
Karena di bar hal seperti ini sudah biasa terjadi.
Nudin berusaha bangkit, dengan menahan rasa sakit, Nudin ahirnya bisa berdiri kemudian dengan langkah tertatih ia berjalan pergi dari sana.
Nudin tidak langsung pulang ke rumah, ia mau ke tempat wanita yang selama ini diam-diam memiliki hubungan juga dengan wanita lain.
Setengah jam kemudian Nudin sudah tiba di depan rumah berbentuk minimalis modern.
Nudin menekan bel rumah itu, cukup lama Nudin harus menunggu padahal saat ini masih pukul sembilan malam, tentu wanitanya itu biasanya belum tidur.
Ahirnya pintu itu dibuka oleh pemiliknya, tapi Nudin terkejut saat melihat wanita itu hanya berbalut handuk kimono.
Sebenarnya bukan masalah handuk kimono nya, tapi banyaknya tanda kiss mark di leher wanita itu yang membuat Nudin terkejut dan marah meradang seketika.
"Tantri ... Kamu selingkuh dariku!" bentak Nudin seraya mendorong bahu Tantri sampai kini mereka sama-sama masuk ke dalam rumah.
Tapi mendapati Nudin yang marah, wajah Tantri biasa saja.
"Siapa Sayang yang datang?" ucap seorang pria dari arah dalam kamar Tantri.
"Nudin, Sayang." Jawab Tantri, benar-benar tidak merasa bersalah sudah kepergok selingkuh.
Melihat ada laki-laki keluar dari dalam kamar Tantri, Nudin langsung berjalan mendekati laki-laki itu.
Bugh! Nudin memukul wajah laki-laki itu.
Nudin mau memukul lagi tapi tangannya ditangkis oleh laki-laki itu.
Bugh!
Bugh!
Dua bogem mentah kembali mendarat di wajah Nudin, sudah tadi rasa sakitnya belum ilang, kini malah ditambah lagi, benar-benar sial malam ini Nudin.
"Mas Nudin, sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, aku males sama kamu, karena kamu tidak punya uang." Tantri bicara, tangannya menahan pria barunya untuk tidak lagi memukuli Nudin.
"Silahkan pergi, Mas." Usir Tantri lagi.
"Huh! Awas kalian!" sentak Nudin sembari berlalu dari sana.
*
*
*
Brak!
Nudin membuka pintu kamarnya dengan kasar.
"Dimana dia!" Nudin mencari keberadaan Anjani, tapi di dalam kamar, wanita itu tidak ada.
"Anjani ... Anjani!" panggil-panggilnya sembari terus mencari ke ruang ganti juga ke kamar mandi.
Tidak menemukan Anjani.
"Hah! Sialan! Malam ini aku benar-benar sial!" makinya dengan frustasi.
Tadinya Nudin pikir Anjani ada di rumah dan ia ingin meminta uang lagi yang sudah habis, tapi malah mendapati kamar Anjani kosong.
Nudin keluar kamar tanpa menutup pintu lagi.
Saat langkah kakinya baru tiba di lantai satu, ia mendapati ibunya yang tengah panik melihat wajah tampannya babak belur.
"Nudin! Ini kenapa? Kenapa wajah kamu seperti ini." Ibu Mei menangkup wajah Nudin.
"Sudahlah, Bu. Biasa orang laki-laki," jawab Nudin asal, ia mau berlalu tapi ditahan oleh Ibu Mei.
"Nudin, cerita sama Ibu kalau kamu ada masalah."
Nudin tertawa masam. "Cerita? Ok sekarang Nudin tanya apa Ibu tahu Anjani dimana?"
Ibu Mei menggelengkan kepalanya.
Nudin menghela nafas panjang. "Ya sudah berarti Nudin gak perlu cerita apa pun ke Ibu, karena Ibu gak akan bisa bantu selesain masalah Nudin." Nudin berjalan meninggalkan ibunya.
"Nudin, bukankah tanpa Ibu jawab kamu pasti sudah tahu jawabannya, Anjani kan pasti bersama laki-laki berduit itu."
Nudin yang baru berjalan beberapa langkah langsung menghentikan langkahnya itu. Kemudian balik badan dan kembali menatap ibunya.
"Ibu juga mau sekalian cerita, kalau tadi siang Ibu kecopetan."
"Kecopetan?" ulang Nudin sembari mengerutkan keningnya.
"Iya, tadi kan Ibu-,"
Ibu Mei kemudian menceritakan semua kejadiannya, ia yang habis belanja di minimarket, dan saat mau pulang ia pesan taksi, kemudian pulang bersama taksi dan saat tiba di jalan sepi sopir taksinya merampas semua barang-barang dan berakhir ia dikeluarkan dari dalam mobil.
"Terus barang Ibu tidak ada yang tersisa?"
"Tidak ada, Ibu pulang jalan kaki," jawab Ibu Mei, kini ia sudah menangis.
Nudin mengusap wajahnya dengan kasar. "Sialan!" umpatnya.
Ibu Mei kembali terisak. "Hp, kalung, juga cincin semua milik Ibu hilang."
"Apa pencuri itu tidak bisa dicari?"
"Tidak tahu, Bu. Nudin banyak urusan, sudahlah ikhlasin aja," jawab Nudin.
"Urusan apa kamu, Din. Kamu pengangguran!" teriak Ibu Mei marah, bagaimana tidak marah saat Nudin tidak peduli sama sekali, harusnya kan Nudin mencari orang itu untuk dilaporkan ke polisi, tapi apa ini Nudin malah memintanya untuk ikhlasin gitu aja.
"Meskipun Nudin pengangguran tapi Nudin banyak urusan," bantahnya. "Sudahlah!" Sambil berlalu.
"Nudin ..." teriak Ibu Mei, sungguh hatinya merasa kesal dengan Nudin.
"Huh! Dasar Nudin peak!" Teriaknya lagi, kemudian menghempaskan kembali pantatnya duduk di sofa.
Ibu Mei belum iklhas begitu saja, ia masih memikirkan jalan keluar untuk mendapatkan barang-barangnya yang sudah di copet.
Dalam pikirannya copet itu harus ditemukan dan di masukkan ke dalam penjara.
Di tempat lain.
Reza mengecup kening Anjani yang terlelap setelah selesai kegiatan panas keduanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments