Pukul sembilan pagi Anjani baru tiba di rumahnya, baru saja kakinya menjejak di teras rumah, telinganya sudah mendengar sambutan istimewa dari ibu mertua, sangking istimewanya sampai membuat hati sesak.
"Kerja kok pulang jam segini, sudah tidak mengurus suami juga tidak mengurus anak!" Ibu Mei bicara ketus, menatap tajam ke arah Anjani.
"Ya, Bu. Memang seperti ini pekerjaan saya," ucap Anjani santai ia tidak mau berdebat dengan ibu mertuanya, karena itu melelahkan.
"Kerja ya kerja! Tapi jangan lupa urus suami dan anak dong!" bentak Ibu mei dengan kasar.
Hal seperti ini selalu melelahkan, ingin rasanya Anjani diam tidak menjawab tapi sangat tidak sopan jika ia lakukan.
Anjani hanya menjawab iya dan langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. ibu mertuanya memang selalu seperti itu, akan mengomel setiap kali Anjani pulang kerja.
Tapi juga senang kalau Anjani kasih uang, lagian siapa sih yang akan menolak jika di kasih uang.
Bahkan uang belanja mingguan untuk mertuanya selalu tidak kurang dari dua juta, tapi ya seperti itu ibu mertuanya suka ngomel.
Tidak pernah bersyukur apa pun yang sudah Anjani kasih, bahkan saat ini sudah tinggal di rumah yang bagus, meski rumah ini Reza yang belikan, tapi keluarga Anjani tahunya Anjani yang beli rumah.
"Anak Mama sudah cantik ..." teriak Anjani begitu masuk ke kamar Lucia, anak kecil berusia empat tahun itu sedang bermain dengan susternya.
Ya, setelah Anjani mendapat uang banyak dari Reza, ia milih memperkejakan suster untuk menjaga Lucia, supaya hatinya tenang saat pergi keluar meninggalkan Lucia.
"Mama, Luci kangen." Lucia yang sedari tadi duduk di permadani langsung berdiri dan berlari memeluk kaki Anjani.
Anjani tersenyum kemudian ia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Lucia. "Mama juga kangen sama Luci." Anjani menciumi pipi Lucia. "Mama mandi dulu setelah ini kita ke rumah sakit ya?"
Lucia mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Mamanya. "Luci mau sembuh."
Anjani langsung memeluk tubuh mungil putrinya. "Luci pasti sembuh sayang."
Ada air mata yang jatuh di sudut mata Anjani saat mengatakan hal tersebut, ia juga sangat ingin Lucia sembuh tidak perlu bolak-balik harus kontrol ke rumah sakit.
Lucia kembali bermain dengan susternya, Anjani langsung masuk ke kamarnya untuk mandi.
*
*
*
Setelah istirahat setengah jam di rumah, kini Anjani bersama Lucia sudah berada di rumah sakit, hanya berdua saja tanpa mengajak pengasuh Lucia.
Ya, memang seperti itu bila Anjani sedang tidak bekerja, ia lebih suka berdua saja bersama Lucia tanpa harus mengajak orang lain.
Saat ini Lucia sedang di periksa oleh dokter. Anjani menunggu di samping ranjang pasien, dalam hatinya selalu sedih setiap kali melihat putri kecilnya di periksa, ingin sekali semua ini selesai dan berganti Lucia sehat seperti dulu.
"Bagaimana Dokter keadaan putri saya sekarang?"
Begitu pertanyaan Anjani setelah dokter selesai memeriksa Lucia.
"Semua sudah mulai membaik, Bu. Putri Ibu cukup rutin untuk selalu kontrol dan jaga pola makan."
"Lucia mau cembuh doktel," ucap Lucia menyahut cepat.
Anjani dan dokter tersenyum ke arah Lucia, anak kecil itu memang selalu semangat meski sedang merasakan sakit, seolah rasa sakit itu tidak dirasakan.
"Anak cantik pasti sembuh," ucap dokter sembari mengusap puncak kepala Lucia, anak kecil itu tersenyum lebar, hatinya sangat senang mendengar ucapan dokter.
Siang itu setelah keluar dari ruang pemeriksaan, Anjani menggendong Lucia, anak kecil itu mengalungkan tangannya di leher sang ibu.
"Luci mau jalan-jalan," rengeknya khas anak kecil.
"Jalan-jalan? Baiklah akan Mama temani," ucap Anjani lembut kemudian mencium sekilas pipi Lucia.
Setelah masuk ke dalam mobil, Anjani meminta sopirnya untuk mengantarnya ke sebuah taman, karena Lucia sangat suka tempat yang terbuka, dari pada pusat permainan di dalam mall.
Lucia langsung melompat-lompat senang begitu keluar dari dalam mobil setelah sampai di taman.
"Mama kejal aku."
"Luci jangan lari-lari." Anjani mengejar Lucia yang berlari, khawatir bila Lucia akan jatuh.
Anjani pura-pura kesulitan untuk menangkap Lucia yang sedang berlari, dan anak kecil itu semakin terdengar riang tawanya.
Anakku mama sudah lama tidak mendengar suara tawamu sebahagia ini, Mama ingin kamu sembuh, Nak? Akan mama lakukan apa pun untukmu, batin Anjani sembari terus bermain lari-larian dengan Lucia.
Hati seorang ibu itu akan lemah, apa bila diarahkan dengan masalah anak, bahkan seandainya bisa digantikan, lebih baik ibunya yang sakit dan anaknya yang sehat.
"Lucia tertangkap," suara Anjani ketika berhasil memeluk Lucia, dan anak kecil itu semakin tertawa riang sembari memeluk erat leher ibunya.
Rasanya hangat sekali jika dipeluk oleh buah hati, terkadang sesakit dan sesulit apa pun yang harus Anjani lalui, akan terasa semangat jika sudah mengingat anaknya.
"Luci pasti sembuh ya, Ma. Lucia sayang, Mam."
Tiba-tiba Lucia berkata dan kemudian langsung mencium pipi kanan ibunya.
Anjani menggigit bibir bawahnya supaya tidak pecah tangisnya, setiap kali Lucia bicara selalu menyayat hati Anjani sebagai seorang ibu, ia sangat merasa bersalah, andai waktu bisa diulang ia akan melarang Lucia dekat-dekat dengan suaminya jika sedang merokok.
Tapi kini semua sudah terjadi, Lucia terlanjur divonis sakit paru-paru.
"Mama, aku mau balon, yang walnanya melah, hijau, dan bilu."
Lucia tiba-tiba berteriak menyadarkan lamunan Anjani.
Ada sekitar dua jam Anjani menemani Lucia bermain di taman, dan mereka tiba di rumah sekitar pukul empat sore, tadi sempat mampir ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan rumah yang sudah habis.
Begitu tiba di rumah, Lucia langsung digendong pengasuhnya untuk dibawa masuk ke dalam kamar, karena saat ini Lucia sedang tidur.
Anjani ikut berjalan di belakang pengasuh Lucia, namun baru masuk ke ruang keluarga tangannya sudah ditarik oleh Nudin suaminya.
"Berikan aku uang sepuluh juta sekarang!" bentak Nudin sembari mencekal kuat pergelangan tangan Anjani.
"Tidak ada uang lagi untuk kamu Mas!" Anjani menatap tajam.
Nudin langsung marah mendengar kalimat penolakan Anjani, karena uang tersebut untuk nya bermain judi malam ini, dan apa bila Anjani tidak memberikan uang padanya, maka sudah gagal total rencananya.
Anjani menolak memberi uang, karena suaminya sudah sering meminta uang dengan jumlah nominal besar tanpa Anjani tahu uang itu untuk apa? Tiap kali ditanya jawabnya selalu perempuan tidak harus tau.
"Berani kau tidak memberi uang padaku!"
Plak!
Anjani memegangi pipinya yang terasa perih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Diana Susanti
SUAMI gila,,,, astaghfirullah 😭🥺😭🥺 lebih baik bercerai aja Anja,,,punya SUAMI seperti itu
2023-07-28
1