"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan bukti?" tanya Reza pada orang suruhannya yang saat ini berada di sambungan telepon.
"Sudah, Bos. Anda bisa melihat CCTV yang sudah saya hubungkan dengan ponsel Anda."
"Hem," jawab Reza dan kemudian sambungan telepon itu terputus.
Ya, diam-diam Reza menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Anjani, bahkan menyuruh memasang CCTV di beberapa tempat rumah Anjani.
CCTV berupa ukuran kecil hingga tidak terlihat, dan alat penyadap suara, hingga percakapan orang-orang di rumah itu akan lebih jelas Reza dengar.
Reza duduk di kursi depan memandangi laptop yang sedang menyala memperlihatkan gambar vidio di sana.
Dimana Anjani yang baru pulang, kemudian kejadian konflik kecil di dapur bersama Ibu Mei.
Vidio berganti di dalam kamar Anjani, di sinilah Reza mulai marah saat melihat Ibu Mei memarahi Anjani bahkan sampai menampar wanita itu.
Wajah Reza seketika memerah dan rahang mengeras, tangannya mengepal kuat.
Brak!!
Reza menggebrak meja itu, ia marah Anjani ditampar oleh Ibu Mei.
Tapi ada bagian vidio yang makin membuat Reza murka, bahkan semakin yakin untuk merebut Anjani dari tangan Nudin.
Dimana di dalam Vidio itu Nudin menghajar Anjani.
Arghh!
Reza langsung menutup laptop tersebut, ia tidak sanggup melihat Anjani disakiti oleh suaminya dan juga ibu mertuanya.
"Jadi ini yang kalian perbuat pada Anjani saat dia di rumah, lihat saja akan aku balas kalian!" ucap Reza dengan tatapan menusuk dan nafas menggebu. Ia benar-benar tak terima ada yang menyakiti Anjani.
Reza mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Beri pelajaran dua orang itu! Aku mau mereka merasakan sakit yang di rasakan Anjani!" perintah tegas Reza setelah sambungan telepon itu diterima oleh orang di seberang sana.
"Baik, Bos. Akan kami lakukan."
Setelah panggilan ditutup, Reza menyandarkan punggungnya, menghela nafas panjang.
"Anja, kenapa kamu harus nutupi semua rasa sakitmu padaku, kan kamu bisa cerita," ucap Reza bicara sendiri.
Reza kemudian mengetik sesuatu di hp nya, dan pesan itu ia kirim ke nomor Anjani.
Reza melihat wallpaper hp nya yang tampak foto cantik Anjani. "Kamu harus bahagia, dan kamu harus menjadi milikku."
Reza bicara penuh keyakinan, untuk bisa merebut Anjani, baginya Anjani berhak bahagia, apa lagi setelah ia mendengar ucapan Nudin yang hanya memperbudak Anjani untuk mencari uang.
Membuat Reza semakin yakin dan akan nekat dengan keputusan ini.
*
*
*
Pagi hari Anjani bangun tidur.
Anjani terbangun saat merasakan telapak tangan kecil menepuk lembut pipinya.
Dengan mata yang masih terasa lengket, Anjani memaksa membuka mata. "Eh, sayang kamu sudah bangun," ucap Anjani dengan suara serak khas bangun tidur.
"Mama, Lucia cenang. Semalam Mama temani Lucia bobok."
Ucap Lucia dengan tersenyum, wajahnya jelas tergambar sangat bahagia.
Anjani membelai pipi lembut Lucia. "Hem, sayang. Mama juga senang." Anjani tersenyum, mata lengket itu seketika hilang saat melihat senyum ceria Lucia.
Anjani menciumi Lucia.
"Mama geli," ucap Lucia sembari merasakan kegelian saat Anjani menciumi lehernya.
Lucia tertawa, dan tawa itu membuat Anjani bahagia.
"Ok ... Kita mandi ya sekarang," ajak Anjani seraya menatap wajah Lucia yang masih tiduran di kasur.
"Mau dimandiin, Mama." Ucap Lucia manja.
"Ok ... ok. Ayo bangun." Anjani membantu Lucia untuk duduk, kemudian menggendong putrinya untuk dibawa masuk ke kamar mandi.
Dua puluh menit, mereka selesai mandi bersama. Keduanya keluar dengan balutan handuk.
"Dingin ya, pakai baju dulu ya ..." ucap Anjani lembut seraya mendudukkan Lucia di pinggiran ranjang.
Anjani mengambil baju Lucia dari dalam almari, kemudian menghampiri Lucia lagi.
Anjani mengeringkan tubuh Lucia yang basah, setelah itu memakaikan baju untuk putrinya. Tidak lupa sebelum itu mengolesi minyak telon ke perut Lucia.
Setelah itu menyisir rapih rambut panjang Lucia, dan memberi bedak bayi di wajah Lucia.
kini anak kecil itu tampak cantik dan harum.
Muaacchh.
Anjani mencium pipi Lucia.
"Ye ... Mama," ucap Lucia girang.
Bersamaan itu pintu kamar Lucia dibuka dari luar.
"Pagi, Bu." Aini yang masuk ke dalam.
"An, tolong temani Lucia dulu ya, saya mau ke kamar." Anjani menatap Aini yang sedang berjalan ke arahnya.
"Baik, Bu."
Setelah mendengar jawaban Aini, Anjani pun keluar dari dalam kamar putrinya.
Begitu sampai di dalam kamarnya, Anjani segera memakai baju. Setelah itu belum sempat menyisir rambut, Anjani meraih hp nya, yang disimpan di laci meja riasnya.
Sengaja semalam tidak membawa hp saat tidur bersama Lucia, karena tidak mau ada satu pun orang yang mengganggu.
Begitu Anjani membuka hp nya, ia langsung melihat ada pesan masuk. Dan bibirnya langsung tersenyum saat tahu pesan dari siapa?
"Pagi ini tolong datang ke kantor aku, aku tunggu ya, Sayang 💖."
Begitu isi pesan yang dikirim Reza untuk Anjani.
Ada apa ya? Kenapa Mas Reza memintaku datang ke kantornya, batin Anjani.
Anjani kemudian memandangi pipinya di cermin yang kemarin ditampar oleh suaminya dan ibu mertuanya.
Bekas tamparan itu masih ada, Anjani menghela nafas panjang, jika pagi ini harus bertemu Reza, itu artinya ia harus menutup wajahnya dengan make up, karena tidak mau sampai Reza tahu bahwa ia habis ditampar.
Anjani kembali menghela nafas panjang sebelum ahirnya tangan ramping itu mulai menggerakkan kuas make up di pipinya dengan lincah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments