BAB 19

Tiga hari kemudian.

Sudah tiga hari ini Anjani tinggal di sebuah apartemen yang ia sewa untuk ia tinggali sementara waktu.

Anjani tidak pernah keluar dari apartemennya itu, jika mau makan ia cukup beli via online. Sebenarnya bukan malas faktornya yang membuat Anjani tidak keluar dan milih mengurung diri di apartemen.

Tapi karena ia belum siap bertemu Reza, karena sejak Lucia meninggal, Anjani tidak pernah lagi menemui Reza, meski pria itu selalu menelponnya.

Anjani jarang menerima panggilan telepon dari Reza, perlahan Anjani ingin Reza bisa melupakannya.

Sama persis apa yang Anjani ingin sam Reza juga Nudin, adalah sebuah perpisahan. Anjani tidak mau hubungan ini lanjut, Anjani ingin menata hidupnya yang baru.

Dan semua akan ia mulai setelah mengatakan putus pada Reza.

Anjani saat ini sedang duduk di ruang tamu, dan terlihat sedang telfonan sama seseorang.

"Aku mau kerja di tempat kamu, berapa pun gajinya," ucap Anjani pada seseorang di sambungan telepon.

"Ok, aku tunggu kedatanganmu."

"Terimakasih,Tamara." Ucap Anjani, dan setelah itu sambungan telepon terputus.

Di tempat lain.

Gedung Art Company.

"Dasar bodoh! Ini kenapa laporan keuangan yang kalian buat berantakan seperti ini, huh!"

Reza melempar berkas itu tepat di wajah karyawannya.

"Ini juga, laporan barang yang terjual gak jelas ngerjainnya!"

Reza melempar lagi berkas ke wajah karyawan yang bertugas mengenai laporan barang.

"Keluar! Kalian semuanya!"

Arghh!

Bruukk!

Dua karyawan itu langsung berlari keluar dengan terbirit-birit melihat CEO perusahaan sedang marah, bahkan sampai menggulingkan meja kerjanya dan membuat semua berkas di meja itu jatuh ke lantai.

"Tuan." Vito melihat wajah Reza yang saat ini diselimuti kabut gelap kemarahan, dengan nafas memburu.

"Tuan, Anda-,"

"Diam!" bentak cepat Reza ke Vito sampai membuat ucapan Vito terhenti.

"Kamu tidak tahu gimana rasanya jadi aku, Vito ..." geram Reza sembari mengusap wajahnya kasar. "Jika kamu ingin amarahku reda, bawa Anjani ke hadapanku sekarang!" Menatap tajam Vito.

"Baik, Tuan. Saya permisi." Vito menundukkan kepalanya sebelum ahirnya pergi.

Arghh!

"Anjani ... Plis, jangan dimakan aku seperti ini," ucapnya dengan sedih.

Rasanya Reza hampir gila tidak bertemu Anjani di waktu cukup lama, bukan Reza tidak bisa menemui Anjani, Reza hanya tidak mau memaksa.

Di telpon saja Anjani susah mengangkat panggilannya, apa lagi kalau Reza tiba-tiba datang ke tempat tinggal barunya, Anjani pasti akan marah.

Ya, Reza tahu dimana pun Anjani tinggal saat ini, karena orang suruhannya yang selalu memberi informasi mengenai Anjani.

Di tempat lain.

Di sebuah Apartemen.

Anjani baru saja selesai mengemasi barang-barangnya yang mau dibawa, setelah urusannya selesai dengan Reza, Anjani akan langsung pergi ke Singapura tempat teman baiknya, Tamara yang tadi ia hubungi di telepon.

"Mas Reza, maaf kan aku," gumam Anjani, dan saat berkata seperti itu Anjani meneteskan air mata.

*

*

*

Malam hari.

Seharian ini di kantor Reza hanya marah-marah saja, semua karyawan terkena amarahnya, termasuk Vito asistennya juga yang gagal membawa Anjani ke perusahaan.

Dan sekarang Reza pulang ke apartemennya dengan penampilan yang berantakan, tidak menggambarkan seorang CEO di perusahaan Art Company.

Dasinya miring, jas nya di lepas, kemejanya keluar. Dan wajahnya kusut sekali dengan tatapan tajam, tanpa senyum.

Klek!

Reza membuka pintu apartemennya.

Deg!

Melihat sosok wanita yang tengah mengambil separuh jiwanya, pandangan mereka bertemu saat wanita itu menoleh dan tersenyum.

Dan tanpa menunggu lama, dengan langkah lebar Reza mendekat ke sofa dan langsung memeluk wanita itu.

"Anjani, kenapa kamu menyiksaku dengan kerinduan."

"Maaf kan, Anjani. Mas." Anjani membalas pelukan Reza, tangannya mengusap punggung Reza.

"Kamu tidak akan pergi lagi, kan. Janji, kan?" Reza menangkup wajah Anjani.

Anjani tidak menjawab, ia kembali memeluk Reza, jujur saja Anjani juga sangat merindukan Reza, dan ia ingin memeluk Reza sebelum ahirnya pergi meninggalkan pria itu.

Dan selama lima belas menit mereka berdua hanya berpelukan tanpa ada yang bicara, seolah cukup dengan berpelukan menunjukan keduanya saling rindu.

"Kita putus ya, Mas?" Anjani menatap Reza dan menggenggam tangan itu.

Reza menggelengkan kepalanya. "Tidak, Anjani. Aku tidak mau."

"Mas ... Biarkan aku sendiri dulu, kejadian yang terjadi dalam hidupku ini sangat menyakiti aku ... Ya, ijinkan aku." Mohon Anjani dengan sangat.

Reza kembali memeluk Anjani, ia menangis saat ini.

"Beri aku waktu, Mas. Jika memang aku adalah takdirmu, kita pasti akan bersatu." Ucap Anjani sembari mengusap punggung Reza yang bergetar.

Maafkan aku Mas, semoga kamu bisa temukan kebahagiaan meski tak bersamaku, batin Anjani.

Namun tiba-tiba.

Brakk!

"Reza!"

Reza dan Anjani seketika melihat seseorang yang baru saja membuka pintu dengan kasar dan memanggil Reza dengan nada tinggi.

"Oh, jadi ini wanita yang kamu cintai itu. Yang kamu ceritakan sama, Mami. Tempo lalu," ucapnya sinis.

Reza bangkit dari duduknya. "Apa maksud, Mami. Bicara seperti itu. Dan siapa yang menyuruh, Mami. Datang kemari!" Reza menatap tajam.

Bukannya menjawab namun Mami Evi malah menghina Anjani.

"Wanita miskin seperti kamu tidak pantas bersanding dengan putraku! Pergilah menjauh!" Menunjuk wajah Anjani.

"Mami!" Reza memegang bahu maminya untuk menatapnya.

"Ucapan, Mami benar, Reza. Dia tidak pantas untuk kamu. Derajat kalian jauh,-"

"Yang mau menjalankan hidup, Reza. Mami. Jadi jangan campuri urusan, Reza!" sarkas cepat Reza.

Anjani hanya menunduk sembari meneteskan air mata, ia tidak menyangka akan dibela sampai sebegitunya oleh Reza.

"Mas."

Reza menoleh saat Anjani bicara.

"Apa kata, Mami kamu itu benar. Aku pamit, Mas." Anjani langsung berjalan keluar dengan cepat.

"Anjani ..." teriak Reza, ia mau menyusul Anjani, tapi saat ini tangannya di pegang ibunya.

"Biarkan wanita miskin itu pergi! Jangan kamu kejar, Reza!"

Reza menepis tangan ibunya sembari menatap tajam. "Tidak usah ikut campur urusan aku, Mami!"

"Reza!" teriak Mami Evi saat melihat Reza berlari keluar menyusul Anjani.

"Wanita itu benar-benar racun untuk, Reza. Aku tidak akan biarkan anakku bersama wanita miskin itu. Sangat tidak berkelas!" Mami Evi marah, giginya bergelatuk dengan rahang menggeras.

"Aku tidak mau karena wanita miskin itu perjodohan, Reza. Dengan gadis pilihanku gagal." Mami Evi mengepalkan tangannya.

Yang kemudian ikut pergi dari sana dengan langkah kaki di hentak-hentakkan ke lantai karena hatinya kesal.

Sementara itu Anjani yang saat ini di dalam lift, ia menangisi nasibnya. Hatinya sedih jika selalu mendapat mertua yang jahat.

Aku tidak akan memaksa hubungan ini, sepertinya ini adalah jawaban yang terbaik, kita memang harus putus, Mas. Batin Anjani.

Dan setelah pintu lift terbuka Anjani segera keluar dan tidak lama setelah Anjani keluar dari dalam lift berjalan di lobby, Reza juga keluar dari dalam lift.

Sekelebat Reza melihat Anjani. "Anjani ...."

Anjani yang diteriaki oleh Reza tidak peduli ia tetap terus berjalan, karena mau menghindari Reza.

Namun Reza terus mengejarnya dan Anjani bingung mau mengumpat di mana, apa bila ia berhenti maka Reza akan bisa mendekatinya.

Maka tidak ada pilihan lain selain Anjani terus berjalan dan harus menyebarang jalan raya itu. Anjani putuskan akan mengumpat setelah menyebarang jalan.

"Anjani ..." teriak Reza saat Anjani benar-benar mau menghindarinya tak mau berhenti sama sekali.

Anjani yang ketakutan jika Reza berhasil mendekatinya, ahirnya langsung berjalan menyebarang jalan raya itu tanpa memastikan ada mobil melaju atau tidak, karena gegabah yang ternyata ada mobil sport warna hitam yang saat itu melaju dengan kencang.

Bruukk!

Tubuh Anjani terpental jauh dengan banyaknya darah dari kepala juga tubuhnya.

"Anjani ..." teriak Reza, seketika kakinya terasa lemas melihat kecelakaan maut itu.

Dan pemilik mobil yang menabrak Anjani langsung syok dengan yang terjadi barusan, ia melepas kaca mata hitamnya sebelum ahirnya keluar dari dalam mobil dan berdiri di depan Reza yang saat ini memangku kepala Anjani yang banyak mengeluarkan darah.

"Anjani ..." Reza menangis, tangannya mengusap darah di dahi Anjani.

Saat ini Anjani masih membuka mata, masih bisa tersenyum hanya tidak berkata-kata. Tangan Anjani mengusap pipi Reza menghapus air mata itu sebelum ahirnya tangan itu terkulai dan Anjani menutup matanya.

"Anjani ..." teriak Reza dengan kepala menengadah ke atas.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!