Satu Minggu kemudian.
Seorang wanita sedang menabur bunga di pusara putrinya, bibir wanita itu tersenyum, mata dan auranya tidak menampakkan lagi kesedihan seperti satu Minggu yang lalu.
"Sayang, Mama udah iklhas. Kamu bahagia ya di sana, maafkan Mama yang sempat memaksa kamu untuk bertahan di sisi Mama ... Mama minta maaf."
Ya, setelah perjalannya waktu yang Anjani lalui, ia sadar bahwa yang namanya kematian tidak bisa dicegah, dan semua kehidupan di muka bumi ini pasti juga akan meninggal.
Tapi kadang Anjani masih suka menangis tiap kali mengingat Lucia, meski Lucia sudah meninggal, tapi seolah bayangan anak kecil itu masih terasa ada di rumah.
Dan hal itu wajar dirasakannya, karena ia sebagai ibu yang pasti merindukan putrinya.
"Mama pulang ya sayang, sampai ketemu kita." Anjani mencium batu nisan Lucia cukup lama sebelum ahirnya berjalan menjauh dari pemakaman.
Setelah satu Minggu Anjani merasa terpuruk, malas mau ngapa-ngapain, tapi sekarang Anjani sudah bisa bangkit lagi.
Bibir wanita itu terus tersenyum seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia wanita yang kuat, meski dalam keterpurukan dan kekecewaan.
Anjani memasuki mobil dan menjalankan mobil itu dengan kecepatan sedang.
Ini mobil adalah pemberian dari Reza, jarang sekali Anjani menggunakan mobil itu, dan mobil ini hanya Anjani yang menggunakan, Nudin tidak diijinkan.
Sebelum tiba di rumah, Anjani mampir di toko minimarket, niatnya hanya ingin membeli salad buah, tapi saat melewati aneka es krim, Anjani tergiur untuk membelinya.
Tak perlu lama, Anjani sudah menuju kasir untuk proses pembayaran. Dan setelah semua selesai, Anjani berjalan keluar meninggalkan minimarket itu.
Kini Anjani sudah berjalan di halaman minimarket menuju parkiran mobilnya, namun sebelum ia sampai di dekat mobilnya, Anjani mendengar suara tangis anak kecil dan ia pun segera menoleh untuk melihat.
"Mama ... Mama ... Huhuhu."
Suara tangis anak kecil memanggil ibunya.
Anjani merasa iba dengan anak kecil itu yang menangis sendirian berdiri di dekat mobil yang terparkir yang letaknya tidak jauh dari mobilnya berada.
Anjani mendekati anak kecil itu, karena takut anak kecil itu beringsut mundur dan Anjani langsung mensejajarkan tingginya dengan anak itu sembari berkata. "Tante orang baik jangan takut."
Suara lembut Anjani mampu membuat anak kecil itu diam meski tangisnya masih sesenggukan.
"Mama pelgi," ucap nak kecil itu dengan ucapan cadel.
Anjani tersenyum. "Pergi kemana? Lihat tidak mamanya kemana tadi?"
Anak kecil itu menunjuk jalanan yang seingatnya tadi ibunya berjalan ke arah sana.
Anjani mengikuti arah tangan anak kecil itu, tapi juga bingung karena di jalan raya itu cuma ada kendaraan mobil yang lalu-lalang.
"Bagaimana kalau kita duduk dulu di sana? Apa kamu mau?" Anjani menunjuk bangku kecil di bawah pohon rindang yang sengaja di tanam di area itu.
Anak kecil itu mengangguk. "Mau," jawabnya dengan nada khas anak kecil.
Anjani kemudian menuntun anak itu berjalan bersama ke arah bangku itu.
"Mau dibawa kemana anakku!"
Deg!
Anjani seketika menghentikan langkahnya dan menoleh setelah mendengar suara berat itu.
"Mama."
Suara anak kecil itu membuyarkan dari rasa keterkejutannya Anjani.
Wanita yang dipanggil mama itu mendekat.
"Sayang kenapa kamu ikut wanita asing ini?" Wanita itu sudah berdiri tepat di depan Anjani dan kemudian menggendong anak kecil itu dan menatap tajam Anjani.
"Tadi dia mencarimu, dan aku pikir aku ajak menunggu di bangku itu," ucap Anjani menjelaskan supaya wanita itu tidak salah paham.
"Bukan sengaja mau menculik, kan?"
Anjani menggelengkan kepalanya mendengar tuduhan wanita itu. "Untuk apa aku menculik anak kecil."
"Siapa tahu kamu tidak punya anak dan mau menculik anak kecil."
Lagi-lagi wanita itu menuduh Anjani.
"Maaf saya bukan orang seperti itu!" jawab Anjani tegas.
"Baguslah!" Wanita itu menjawab sengit, dan kemudian pergi dari sana bersama anaknya yang berada dalam gendongannya.
Anjani menghela nafas panjang setelah kepergian wanita tadi.
"Ada saja orang yang menuduhku, padahal aku mau berbuat baik," gumam Anjani dengan nafas lesu.
Anjani kemudian menuju mobilnya dan ikut pergi dari area itu.
*
*
*
Malam hari.
Saat ini Anjani sedang makan bersama dengan Nudin suaminya dan ibu mertuanya.
Diantara orang tiga itu semua makan dengan diam tak ada yang bersuara, hanya terdengar suara sendok beradu dari tadi.
Anjani tetap menikmati makannya meski kerap mendapat ucapan pedas dari Ibu Mei, apalagi ia yang disalahkan atas penyebab meninggalnya Lucia.
Setelah piring Anjani kosong dan meletakkan gelas yang airnya baru diminumnya itu, Anjani menatap suaminya dan Ibu Mei bergantian.
Mereka berdua makan dengan tenang, Anjani membuang nafas panjang sebelum ahirnya bicara, "Mas Nudin aku mau kita bercerai."
Uhuk! Uhuk!
"Anjani!" bentak Ibu Mei, dan saat itu juga Ibu Mei mengambilkan air minum untuk Nudin yang terbatuk-batuk.
"Anjani apa maksudmu itu!" ucap Nudin tegas setelah hilang batuknya.
Anjani menatap Nudin yang saat ini wajahnya terlihat sangat marah. "Ya bercerai, kita sudah tidak cocok lagi." Anjani pembawaannya begitu tenang.
"Kau tak tahu diri Anjani!" Ibu Mei menunjuk wajah Anjani. "Lucia baru saja meninggal satu Minggu yang lalu, dan kamu sudah berani mengatakan bercerai!" bentak marah Ibu Mei.
Anjani tersenyum. "Lucia juga akan bahagia di sana melihat ibunya bahagia."
"Jadi kau tidak bahagia menjadi istri Nudin!" suara tinggi Ibu Mei sembari dengan perasaan terkejut.
"Ibu ... Tolong mengerti, aku dan Mas Nudin sudah tidak ada kecocokan lagi ... Dan apa lagi sudah tidak ada yang memberatkan diantara kami." Anjani menatap dengan sendu.
"Kalau kau mau bercerai, Ok." Ucap Nudin yang seketika Anjani menoleh kearahnya. "Asal semua harta yang kamu punya termasuk mobil dan rumah ini juga semua uangmu itu, kau berikan padaku." Nudin tersenyum menyeringai.
"Lalau aku pergi hanya dengan baju saja?" Anjani terkekeh masam. "Sebagian saja aku berikan padamu, bagaimana?"
Hahaha! Tawa Nudin. "Tidak ada negosiasi, Anjani!"
Ibu Mei memukul pelan lengan Nudin. "Nudin, kau yakin mau menceraikan Anjani?"
Nudin tersenyum miring. "Ibu tidak mau kan menantu miskin seperti dia." Nudin menatap Anjani. "Nanti akan aku Carikan menantu yang kaya untuk Ibu."
"Bagaimana Anjani ... Kalau kau tidak mau maka aku tidak akan pernah menceraikan kamu." Nudin tersenyum miring.
Bagi Anjani kebebasan adalah yang paling penting baginya saat ini, setelah yang semuanya terjadi, Anjani ingin menerbangkan sayapnya menggapai kebahagiaan baru meski harus melepas kekayaan yang ia punya dari pemberian Reza.
"Baiklah semua untuk kamu."
Hahah. Nudin tertawa bahagia mendengar jawaban Anjani barusan.
"Eit! Kamu mau kemana?" cegah Ibu Mei saat melihat Anjani mau pergi dari ruang makan itu.
"Mau ke kamar, Ibu," jawab Anjani.
Ibu Mei menggelengkan kepalanya. "Jika kau mau bercerai dengan Nudin, maka malam ini juga kau harus pergi dari rumah ini!"
"Pergi?" Anjani menatap bingung.
"Ya! Karena kalian sudah bukan suami istri lagi, kalian hanya masih terikat dengan surat nikah!" tegas Ibu Mei lagi.
"Tapi, Bu?"
"Tidak ada tapi tapian!" Ibu Mei kemudian menarik Anjani menuju teras rumah. "Tunggu di sini!" tegasnya setelah tiba di teras dan sebelum Ibu Mei masuk ke dalam.
Tidak lama kemudian Ibu Mei datang menghampiri Anjani lagi.
Bruk!
Suara koper di jatuhkan ke lantai.
"Baju-baju kamu ada di dalam koper itu!" tunjuk Ibu Mei disertai mata menatap tajam ke arah Anjani.
"Dan ini tas kamu, ada hp juga kartu kamu kan? Bawa sekalian pergi!" Ibu Mei menyerahkan tas itu ke tangan Anjani.
"Pergi jauh dan tidak usah nampak di hadapanku lagi!" bentak Ibu Mei.
"Dan aku akan segera mengirim surat cerai padamu, kabari aku untuk tempat tinggal baru-mu nanti." Nudin menyembul dari belakang ibunya yang berdiri di pintu.
"Ya." Anjani menjawab singkat hanya sekata itu, menatap Nudin dan Ibu Mei dengan perasaan penuh luka.
Tidak menyangka mereka akan mengusirnya malam-malam seperti ini.
Anjani kemudian menarik kopernya dan berjalan meninggalkan halaman rumahnya yang ada saksi bersama putrinya, dan mengingat itu Anjani meneteskan air mata.
Anjani terus berjalan di area perumahan itu, jalan yang sepi hanya ada rumah-rumah bagus berbentuk minimalis modern. Dan setelah mendapat beberapa meter ia berjalan tiba-tiba turun hujan deras yang langsung membasahi tubuh Anjani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments