BAB 14

Satu bulan kemudian.

"Suuttt, Mama masih tidul om," suara pelan Lucia lebih terdengar berbisik, yang sedang bicara dengan Reza.

Reza mau mengajak Lucia turun dari ranjang itu untuk melihat mata hari terbit.

Reza tersenyum saat melihat wajah menggemaskan Lucia ketika berkata mamanya masih tidur.

"Iya, pelan-pelan," jawab Reza yang juga berbisik.

Gadis kecil itu tersenyum menggemaskan, Reza langsung menggendong Lucia dan dibawanya keluar dari kamar itu untuk menuju pantai pulau Dewata Bali.

Ya, saat ini mereka tengah berlibur bersama di Bali, dan semalam mereka tidur bertiga bersama Lucia juga dalam satu ranjang.

Reza yang meminta Anjani untuk mengajak Lucia saat berlibur di Bali, diam-diam tanpa sepengetahuan Anjani, Reza ingin dekat dengan Lucia.

Berpikir andai nanti sudah menikah dengan Anjani, Reza sudah dekat dengan Lucia.

"Om, bagus banget ..." teriak kegirangan Lucia masih dalam gendongan Reza, mata anak kecil itu melihat mata hari terbit.

"Lucia suka?" tanya Reza sembari mencium pipi chubby Lucia.

"Suka, suka ..." jawab antusias Lucia.

"Om tulun," ucapnya lagi, dan Reza langsung menurunkan Lucia dari gendongannya.

Kini kaki mungil Lucia menapak di pasir, kini Lucia tertawa-tawa karena senang menginjak pasir.

Reza mensejajarkan tingginya dengan Lucia, tangannya mengusap wajah imut Lucia. "Lucia mau di foto tidak?"

"Mau, mau ..." jawabnya dengan cepat dan antusias.

"Ok, Lucia diam berdiri di sini, Om akan mulai foto ya?" Reza memposisikan Lucia berdiri tepat dengan background mata hari terbit.

Ckrek!

Ckrek!

Ckrek!

Tiga kali bunyi suara kamera mengambil gambar Lucia, Reza tidak menduga ternyata anak kecil itu bisa berpose.

Hasil foto Lucia barusan, ada yang menangkup wajahnya dengan gemas, ada yang mengangkat dua jari, juga merentangkan tangannya.

"Menggemaskan." Reza terkekeh.

"Om, Lucia mau main air," pintanya dengan suara manja khas anak kecil.

Reza langsung mengalihkan tatapannya dari kamera ke Lucia.

"Ok, Om temani ya?" Reza menggandeng tangan Lucia kemudian mereka mendekati air pantai.

Sementara itu Anjani yang baru bangun tidur, langsung kaget saat mendapati Lucia juga Reza tidak ada di sebelahnya tidur.

"Mas Reza ... Lucia ..." panggilnya mengira Reza dan Lucia mungkin ada di kamar mandi.

Namun karena tidak mendapat jawaban, Anjani ahirnya turun dari ranjang, berjalan ke kamar mandi. Ia buka ternyata tidak ada siapa-siapa.

Anjani mencoba mencari ke ruang ganti, dan di sana juga tidak menemukan sosok yang di cari itu.

"Kemana mereka?" Anjani bingung, dan sesat kemudian ia berpikir akan menelpon Reza.

Tapi sayang seribu sayang, setelah panggilan itu terhubung ternyata hp Reza di tinggal di atas meja.

Anjani mematikan panggilan itu seraya menghela nafas panjang. "Kemana sih mereka!" kesal campur bingung.

Meski baru setengah tujuh pagi, tapi diluar sana sudah terang benderang, Anjani menyibak gorden supaya bisa melihat pemandangan indah pantai pulau Dewata Bali.

Tapi yang dilakukannya barusan ini malah membuatnya menemukan seseorang yang dicari tadi.

Bibir Anjani langsung melukis senyum saat matanya melihat Reza dan Lucia bermain kejar-kejaran di pantai, bahkan hatinya langsung menghangat saat Reza menangkap tubuh kecil Lucia kemudian dibawa ke gendongannya dan diajaknya berputar-putar.

Dari tempatnya melihat saat ini, Anjani melihat Lucia tertawa-tawa meski suara tawa itu tak mampu ia dengar karena jarak jauh antara mereka.

"Terimakasih, Mas. Sudah baik sama anakku dan telah membuatnya senang." Anjani terharu sampai meneteskan air mata melihat dua kesayangannya bermain di atas pasir.

*

*

*

"Hole ayam goleng ..." ucap girang Lucia saat matanya melihat paha ayam goreng yang disajikan di meja.

Ya, saat ini mereka bertiga sedang berada di restoran cepat saji yang letaknya hanya di bawah hotel tempat mereka menginap.

Tentu setelah Lucia dan Reza mandi karena tadi mereka bermain di pantai.

"Lucia suka ayak goreng?" Reza yang bertanya pada Anjani.

"Faforit malah, Mas." Anjani tersenyum.

"Bisa makan sendiri?" tanya Anjani ke Lucia.

"Bisa, Mama," jawab Lucia dengan cepat.

Anjani dan Reza sama-sama tersenyum saat melihat cara makan ayam goreng Lucia yang nampaknya enak sekali jika dimakan.

"Habis ini kita mau kemana?" tanya Reza sembari menyantap makanannya.

"Em ..." Anjani sedang berpikir sembari mengunyah makanan.

"Bagaimana kalau ke mall, belanja. Mau tidak?"lanjut tanya Reza yang langsung mendapat penolakan Anjani.

"Tidak lah, jauh-jauh ke Bali masa kita mainnya ke mall, kan banyak wisata lain yang perlu kita kunjungi."

Begitu Anjani selesai bicara, Lucia langsung menyela.

"Mau, Ma. Mau belanja, Lucia mau membeli boneka yang besal" Lucia begitu semangat saat bicara seraya tangannya meragakan boneka yang besar setinggi tubuhnya.

Reza mengusap puncak kepala Lucia dengan gemas. "Ok, nanti beli boneka yang besar ya?"

"Iya, Om." Jawab cepat Lucia.

Ahirnya mereka sepakat untuk mendatangi salah satu mall terbesar di kota Bali. Namun sebelum ke sana, mereka akan mengunjungi tempat-tempat wisata.

Setelah sarapan pagi selesai, mereka langsung berangkat menuju tempat tujuan.

Selama di ajak bermain ke tempat wisata yang indah-indah itu yang juga disediakan permainan untuk anak, seharian ini Lucia sangat gembira.

Sesuatu hal yang tidak ia dapati bersama ayahnya sendiri.

Lucia senang ada sosok Reza yang menemaninya bermain, seolah kerinduannya terhadap ayahnya yang tidak peduli dengannya lagi dengan bersama Reza rasa itu terobati.

Dan saat malam hari Anjani yang sedang menidurkan Lucia.

Tiba-tiba anak itu bicara yang Anjani kira sudah tidur.

"Ma ... Om Reza kenapa tidur bersama kita? Kan harusnya Papa?"

Deg!

Anjani hanya tersenyum mendapat pertanyaan itu dari Lucia, padahal hatinya sudah gugup bingung mau jelasin seperti apa?

"Sudah, bobok ya? Sudah malam," bujuk Anjani, dan untungnya Lucia nurut, tidak melanjutkan pertanyaannya lagi.

Anjani bernafas lega saat melihat mata Lucia mulai terpejam, bersyukur tadi Reza belum masuk kamar, pria itu tadi sedang telfonan bersama rekan bisnisnya.

Anjani merasa tidak enak hati jika Reza mendengar pertanyaan Lucia tadi.

Dan setelah Lucia benar-benar tidur, terdengar dari dengkuran halus anak itu, Anjani beranjak turun dari ranjang, ia berjalan menuju balkon kamar hotel itu.

Saat pintu kaca itu Anjani geser, seketika udara segar angin malam masuk ke dalam menerpa wajah cantiknya.

Dari tempat ketinggian itu Anjani bisa melihat keindahan malam di kota Bali ini.

Yang kebetulan malam ini langit nampak cerah, banyak bintang-bintang bertaburan di atas sana.

Tiba-tiba Anjani merasakan ada yang memeluk pinggangnya dari belakang, saat ia sedikit menoleh, hidung mancung mereka bersentuhan.

Anjani memejamkan matanya, aroma parfum maskulin ini selalu menenangkan.

"Kirain sudah tidur, ternyata malah kemari?"

Anjani tersenyum kecil saat mendengar pertanyaan Reza itu.

Bukannya menjawab, Anjani malah membalik tubuhnya dan membalas pelukan Reza.

Aku sudah tidak tahan dengan sikap mas Nudin, mas. Aku ingin pisah darinya, ucap Anjani yang hanya mampu dalam hati.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!