Hari ini adalah hari ulang tahunku ke 19. Ma sudah menyiapkan makanan spesial untuk makan malam. Semua terlihat lezat dan menggiurkan. Walaupun bagiku apa saja yang Ma masak selalu sedap, Ma koki terbaikku.
Makan malam perayaan ulang tahun kali ini terasa sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena satu minggu lagi aku akan pergi ke Kota Harapan tempat tujuanku mengejar mimpi.
Kami berkumpul di meja makan. Untaian doa-doa indah dan tulus dari Pa dan Ma terasa lebih mengharukan kali ini. Aku melihat butiran bening jatuh dari pelupuk mata teduh Ma, kedua bola mata Pa pun terlihat berkaca-kaca. Sedangkan Mey, anak lucu itu pun tertunduk sendu.
"Pa.. Ma.. terima kasih untuk cinta, kasih sayang, dan segala hal yang telah Pa dan Ma berikan kepada saya." ucapku setengah terisak menahan tangis.
Dijawab oleh Pa dan Ma dengan anggukan, pelukan hangat dan kecupan pada puncak kepalaku.
"Mey, jangan nakal ya adik manis. Bantu Pa dan Ma menjaga kebun kita dan tetap rajin belajar." sambil kupeluk adikku satu-satunya.
Makan malam ini diakhiri dengan pelukan dan tangisan haru.
***
Pagi itu datang, hari yang dinanti telah tiba. Ma sudah sibuk dari pagi gelap tadi memasak sarapan dan bekal untukku diperjalanan.
Ku periksa sekali lagi isi dalam koper besarku, kalau-kalau ada yang terlupa. Kemudian mematut diri di depan cermin. Kupulaskan bedak tabur tipis-tipis dan kumasukan ujung kemeja kotakku ke dalam celana jeans.
Selesai sarapan aku berpamitan kepada Ma dan Mey.
"Saya selalu sayang Ma dan pasti akan sangat merindukan Ma." kataku manja sambil kukecup pipi Ma kanan dan kiri.
"Ya sayang.. Ma tahu itu. Berhenti bersikap manja di rumah Bibi Gina nanti. Jangan merepotkan dia, dan bantu dia semampumu" pesan Ma kepadaku.
"Baik Ma" jawabku.
"Mey.. ingat pesan kakak ya jangan nakal!" kataku kepada Mey sambil kucubit hidung mancungnya kemudian kuacak puncak kepalanya.
"Auw.. iya.. iya kak, Mey bukan anak kecil lagi kok. Baik-baik ya kak di sana, boleh kok kangen sama aku, karena aku tahu pasti kalau aku ngangenin." jawab Mey sambil cengar cengir.
"Iya deh iya" sambungku kemudian.
Di depan rumah sudah ada Tom, Mena, dan Kela. Kupeluk mereka satu persatu dan berjanji akan tetap berkirim kabar sebisa mungkin. Mereka mengantarku sampai menaiki mobil yang akan mengantarku ke kota Harapan.
"Sally.." panggil Tom.
"Ya Tom?" tanyaku merespon panggilannya.
"Hmm.. aku.. hmm... tidak jadi deh" kata Tom seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Tom kamu aneh, apa yang mau kamu katakan?" tanyaku menyelidik.
"Hmm.. aah.. hati-hati di jalan Sally" kata Tom kemudian.
"Tom.. kukira ada hal apa yang ingin kau katakan." kataku tersenyum padanya kemudian kupukul lengannya.
Tom hanya menerima pasrah pukulanku dan sedikit meringis kesakitan.
Aku akan ikut Pa dan Pak John yang akan mengantar hasil kebun ke kota. Nanti Pa akan mengantarku sampai ke rumah Bibi Gina saudara sepupu Pa di kota. Lalu beliau akan kembali lagi ke dusunku bersama Pak John.
Mobil mulai bergerak. Kulambaikan tangan ke arah Ma, Mey, dan ketiga sahabatku.
"Sampai jumpa lagi semua, aku akan merindukan kalian!" kataku agak sedikit berteriak.
Dari jendela mobil kupandangi sepanjang jalan dusunku. Ada perasaan sedih berpisah dari keluarga, tanah kelahiran dan sahabat-sahabatku.
Sekitar 15 menit perjalanan. Di depan kulihat ada seorang lelaki mengayuh sepeda ke arah kami. Dengan jarak lebih dekat dia menghentikan sepeda seolah menunggu kami. Ternyata pria itu adalah Dean. Pa meminta tolong Pak John untuk menepikan dan memberhentikan mobil sebentar, lalu Pa memintaku untuk turun menemui Dean.
"Sally sebaiknya kamu temui Dean, Pa akan menunggu di sini!" perintah Pa kepadaku.
"Baik Pa" dengan berat hati aku turun dari mobil dan menghampiri Dean.
"Sa..ally.. aku.." kata Dean terputus kemudian tertunduk kikuk.
"Hai Dean, ada apa?" tanyaku.
Dean hanya terdiam..
"Kalau tidak ada yang dibicarakan aku pamit pergi ya, sampai jumpa lagi.." kataku.
Kemudian aku berbalik berjalan menuju mobil, tiba-tiba Dean menarik tanganku. Aku pun menegok ke arahnya.
"Sally tunggu sebentar! Ada yang ingin aku tanyakan." kata Dean.
"Dean ada apa? dan tolong lepaskan tanganku!" kataku kepadanya.
"Tidak.. tidak akan aku lepaskan sebelum kamu selesai menjawab pertanyaanku." jawabnya.
"Baiklah.. apa yang ingin kamu tanyakan?" tanyaku kepadanya.
"Apa kamu pernah sedikit saja menyukaiku? atau apakah membenciku karena perlakuanku selama ini kepadamu?" tanya Dean.
"Dean.. jujur perbuatanmu selama tiga tahun ini memang menyebalkan. Tetapi aku tidak membencimu. Akupun pernah menyukai mu, tetapi hanya sebagai teman. Maaf kalau aku belum bisa menerima lamaran kamu." jawabku.
"Apakah ada kesempatan untuk aku diterima di lain waktu?" tanya Dean lagi.
"Dean aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, namun aku tidak bisa menjanjikan apapun kepadamu. Aku mohon hiduplah dengan baik dan jangan terus-terusan memikirkan mengenai hal itu. Tolong lepas tanganku!" jawabku sambil sekali lagi memintanya untuk melepas tanganku.
"Sally.. tetapi aku mencintamu.. Aku menginginkanmu.." kata Dean pelan sambil tertunduk.
"Aku minta maaf Dean." kataku.
"Tolong lepaskan tanganmu Dean! Aku akan segera pergi. Kasian Pa dan Paman John menunggu lama." kataku.
"Boleh aku tetap menunggumu?" tanyanya lagi.
"Sebetulnya itu hak mu jika ingin menungguku ataupun tidak. Saranku sebaiknya jangan Dean. Aku sudah katakan tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Lebih baik jangan buang waktumu. Sampai jumpa lagi Dean." jawabku.
Dengan berat hati perlahan dilepas genggaman tangannya di tanganku. Aku menepuk pundaknya berusaha menenangkan Dean. Karena ku lihat bulir bening mulai jatuh dari pelupuk matanya. Kemudian aku aku berbalik berjalan menuju mobil. Mobil kembali melaju, dan Dean masih memandang mobil kami yang terus berlalu menjauh.
***
Enam jam berlalu, akhirnya sampai juga kami di rumah Bibi Gina. Rencananya aku akan menumpang di sana sampai memiliki uang untuk menyewa tempat tinggal. Walapun Bibi Gina baik dan sayang kepadaku, tetapi aku tidak enak jika terus merepotkan Bibi Gina berserta keluarganya.
Setelah memberi pesan-pesan kepadaku, Pa berpamitan dipeluknya aku kemudian mencium keningku.
"Hati-hati di jalan Pa.." sambil kupeluk dan kukecup pipi Pa.
Dijawab anggukan dari Pa.
"Gina, aku pulang dulu, salam untuk Geo dan Rick keponakanku yang tampan." pamit Pa.
"Hati-hati di jalan kak, tolong sampaikan salamku juga untuk Ma nya Sally dan untuk Mey." kata Bibi Gina
Rumah bibi Gina sedikit lebih kecil dari rumahku di dusun Lembah Asri. Rumah ini memiliki tiga buah kamar. Satu kamar untuk Bibi Gina & Paman Geo, satu kamar untuk Rick anaknya, dan satu kamar lagi yang saat ini diberikan untukku.
Paman Geo bekerja di sebuah pabrik baja. Bibi Gina bertemu dengan Paman Geo di pabrik baja itu sebagai sesama karyawan.
Saat Bibi Gina hamil muda keadaannya lemah, sehingga harus berhenti bekerja dari sana. Rick sepupuku satu-satunya anak mereka, Bibi Gina tidak boleh mengandung lagi karena menurut dokter akan berbahaya mengingat keadaannya.
Rick usianya 3 tahun di bawahku, saat ini dia sedang sibuk mempersiapkan masuk sekolah menengah atas.
Setiap pagi sehabis membantu Bibi Gina di rumah. Aku pergi berjalan memasukan lamaran dari satu perusahaan ke perusahaan. Dengan harapan ada salah satu dari perusahaan itu yang akan menggunakan jasaku. Sambil tetap mendaftar program beasiswa.
***
Sampai pada suatu sore, saat aku baru saja sampai di rumah Bibi Gina..
"Sally mandi dan makan lah terlebih dahulu! Oh iya, ini ada surat dari tukang pos untukmu." kata Bibi Gina sambil menyerahkan sepucuk surat saat melihat kedatanganku.
"Baik Bi, terima kasih" jawabku sambil kuterima surat itu.
Dari sampulnya terbaca Grande Corp. Setahuku Grande Corp. adalah perusahaan besar yang memiliki beberapa bidang usaha. Isi suratnya mengatakan kalau aku harus datang ke sana 3 hari lagi untuk wawancara. Betapa senangnya hatiku satu tahap jalan menuju mimpiku sudah di depan mata.
-----
Terima kasih sudah mampir dan membaca.
salam
vatty
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Kadek
keren kk
2020-07-31
1