JADI BOCIL KESAYANGAN 20⏱️
"Stop!! Kalian yang telat ikut gua!!" teriak Allisya yang sudah berjalan menuju tengah lapangan.
"Kalau ada yang berani kabur gua tandain!!" teriaknya lagi.
Sontak saja beberapa siswa yang ingin kabur langsung mengumpat kesal, dengan wajah masam semua orang langsung mengikuti Allisya. "Lah Allisya OSIS c*k?" tanya Fero heran.
"Hm," jawab Sadam yang sudah berjalan meninggalkan Fero, Jorge, dan juga Bryan yang masih kaget.
"Mampus kita Fer," gumam Jorge pelan.
"Mati kita kalau sampe adek tersayang kita beneran jadi OSIS, mana galaknya melebihi ibu kost lagi." Fero merangkul Jorge dengan wajah tertekan. Bryan yang melihatnya terkekeh geli, kasihan sekali mereka berdua eh dia juga patut di kasihani sih.
Beralih pada Allisya gadis itu menyuruh siswa siswi yang telat untuk duduk lesahan di lapangan. Banyak yang protes bahkan ketos kita yang seharusnya memberikan contoh yang baik itu juga ikut protes. Namun Allisya dengan santainya malah mengabaikan mereka dan berkata, "Ok berdiri. Tapi jangan harap kalian bisa duduk setelah ini."
Mendengar hal itu sontak saja seluruh murid langsung terdiam kemudian duduk dengan helaan nafas yang terdengar begitu lelah. Allisya tersenyum tipis, ia menoleh saat Ida yang tadi ia suruh mengambil kertas folio sudah sampai dan kini sedang menyodorkan banyak lembar folio kepadanya.
"Bagiin ke mereka semua!!" ucap Allisya.
Ia menatap anggota OSIS lainnya yang ia suruh untuk menjaga di belakang agar tidak ada yang bisa lari dari hukumannya. Melihat Ida yang sudah membagikan lembar folio itu kepada para siswa, Allisya pun berjalan ke arah pos tempat ia tadi berjaga dan mengambil banyak kertas.
Orang-orang yang melihatnya kembali bertanya-tanya untuk apa kertas kertas itu, di tangan mereka saja sudah ada kertas. Tanpa di duga-duga Allisya membagikan kertas kertas tersebut kepada mereka. Beberapa orang yang sudah menerima kertas itu menahan nafas karena terkejut melihat isinya.
"Anjir soal matematika?"
"Woy ini kita pagi-pagi suruh ngerjain soal matematika?"
"Astaga Sya gak gini juga dong!!"
"Sya ini hukumannya?"
Allisya yang kini sudah berada di depan menatap mereka dengan senyum senang, "Gua minta kalian kerjain soalnya sampai selesai. Gua akan tunggu sampai kalian selesai, gak ada yang boleh pergi dari sini sebelum soal yang di pegang di kumpulin ke gua. Tenang aja gua akan koreksi hasil kerjaan kalian nanti, dan gua akan bagikan hasilnya dengan cara gua."
Mendengar ucapan Allisya semua murid langsung mengerjakan soal itu sebisa mereka. Oh ayolah mereka ingin segera menyelesaikan semuanya kemudian pergi dari tempat panas ini sungguh.
"Wih keren juga cara lo Sya," puji Fernan. Ia menahan tawa saat temannya Erickson Dramian sang ketos JNHS yang biasanya bisa datang terlambat sesuka hati kini di hukum oleh anggotanya sendiri.
"Lo mau masih ada nih soal nganggur." Allisya menyodorkan beberapa kertas tersisa kepada Fernan.
"Hehe gak perlu makasih otak gua masih fres nih takutnya nanti malah ngebul mendadak wkwk," canda Fernan.
Ida yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak, "Kenapa lo Da mau juga?" tanya Allisya.
"Maaf dengan segenap jiwa raga gua nolak Sya wkwk." Ida membungkukkan badannya dan tertawa.
Allisya kembali menatap siswa siswi yang sedang mengerjakan hukumannya, terlihat kalau mereka sangat frustasi sekarang. Tapi ya bagaimana lagi inilah hukuman yang biasa Allisya berikan saat dulu dia menjabat menjadi ketua OSIS di sekolahnya. Yap dulu Allisya ini adalah ketua OSIS, yang sangat di puji sekaligus di benci karena selalu memberikan hukuman-hukuman di luar nalar untuk para siswa dan siswi yang melanggar aturan.
"Abang Ferooooo Abang Jorgee mau gua aduin Oma biar lo kena hukuman tambahan?" Allisya berteriak memperingati saat abangnya yang satu itu mencoba kabur dari lapangan bersama dengan Jorge.
Mendengar teriak adiknya Fero dan juga Jorge yang akan kabur pun tidak jadi kabur dan kembali duduk dan mengerjakan soal yang di berikan oleh Allisya. Sementara itu Allisya yang melihatnya langsung tersenyum bangga, hah nurut juga dua abangnya itu walaupun dia juga harus menyebutkan nama sang Oma tapi tidak papa ini demi misinya merubah sekolah ini juga bukan....
"Fer nanti gua mau nemuin si ketos itu setelah pulang sekolah lo bisa atur kan?" Allisya menatap Fernan yang menganggukkan kepalanya dengan jempol teracung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam sudah menunjukan pukul dua belas siang waktunya seluruh murid mengistirahatkan diri dengan makan di kantin, atau di rooftop sekolah. Namun Allisya kini tak melakukan hal itu, dia memilih menghabiskan waktunya di ruang OSIS bahkan ajakan Bunga dan juga Rara untuk pergi ke kantin ia tolak mentah-mentah. Alasannya karena dia malas, alasan lainnya ternyata Mama Guin membawakan kotak bekal untuknya.
"Lo bawa bekal Sya?" tanya Fernan yang kini juga ada di ruang OSIS.
"Mama gua bawain yaudah gua bawa," jawan Allisya.
"Gak nyangka ternyata putri Lesham masih kek bocil, tapi emang bocil sih sama gua aja tinggian gua," ejek Fernan.
Allisya yang mendengar ejekan itu langsung menatap Fernan tajam, hey dia ini sudah tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia. Fernannya aja yang ketinggian, kebanyakan makan tiang listrik deh kayaknya.
"Enak aja tu congor ngomongnya! Ini tuh tinggi asal lo tau, ini ideal buat cewek asal banget lo ngomongnya." Fernan tertawa saat mendengar protesan Allisya yang tak terima di katain pendek.
"Enak tuh kayaknya sya." Jia anggota OSIS yang baru masuk ke ruangan langsung mendekati Allisya dan mengintip isi bekal Allisya.
"Pasti, tapi gua gak ada niat berbagi sorry!!"
Jia yang mendengarnya reflek tertawa karena merasa lucu dengan ucapan Allisya yang sangat-sangat jujur tentang dirinya. "Jujur banet anjir," tawa Fernan ikut pecah saat Jia mentertawakan Allisya.
"Gila kalian berdua, receh banget dah. Gitu aja ketawa," ejek Allisya yang kini sudah mulai memakan-makanannya dengan lahap.
Jia dan Fernan pun berhenti tertawa, Jia yang baru datang itu memberikan bungkusan makanan pada Fernan. Allisya menatap Jia yang duduk di hadapan Fernan dan mulai memakan-makanannya bersama pemuda itu, tanpa mempedulikan dia yang masih ada di sini. Jangankan Allisya anggota OSIS lain aja gak di peduliin, "Kalian pacaran ya?" tanya Allisya penasaran.
"Kagak, dia nih sepupu gua kalo gak di bawain makanan gini gak bakal makan. Kalo gak makan ntar ni anak sakit maknya yang marahin gua karena gak mau ngingetin dia makan," curhat Jia.
Allisya yang mendengar itu tertawa pelan kemudian melanjutkan acara makannya, saat sedang asyik-asyiknya makan di ruang OSIS. Tiba-tiba saja seorang murid datang dan memberitahu kalau ada pertengkaran di kantin sekolah.
"Kenapa gak manggil guru?" tanya Allisya.
"Guru-guru hari ini lagi rapat soal acara sekolah di ruang rapat, biasanya kalau rapat pintunya di kunci dan gak akan di buka sebelum rapat selesai. Jadi kalau ada masalah gini pas guru rapat, OSIS lah yang turun tangan," jelas Fernan.
"Yaudah gas ayo kesana!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Nzw Azhr
seru banget novelnya
2024-05-15
0