JADI BOCIL KESAYANGAN 03⏱️
"ALLISYA JANGAN BERLARI!!"
Allisya kecil langsung terdiam membisu di tempatnya, ia yang tadinya sedang berlari reflek menghentikan langkahnya karena mendengar teriakan kompak dari kelima orang tersebut. Allisya menundukkan kepalanya dan mulai terisak, hey tunggu-tunggu kenapa dia terisak harusnya dia tak seperti ini. Kalian ingat kan kalau jiwa yang ada ditubuh Allisya sekarang adalah jiwa wanita berusia 26 tahun yang sudah terbiasa dengan kerasnya dunia. Bagiamana mungkin hanya dengan bentakan kecil seperti itu dia langsung menangis bahkan sampai terisak seolah habis diapakan saja.
"Sistem ini kenapa gua nangis dah? Kok jadi cengeng gini gua buset," batin Allisya bingung.
"Ayolah Nona, jiwa anda memang berusia 26 tahun di dunia yang dulu. Tapi tolong jangan lupakan tubuh yang sekarang anda tempati hanyalah gadis imut nan manis berusia 5 tahun....
Pastinya perasaannya masih selembut sutra dan akan gampang menangis jika di bentak sedikit saja."
Kafka yang melihat adik kecilnya menangis langsung tersadar kemudian mendekatinya dan dengan sigap langsung menggendong tubuh mungil tersebut. "Sweet baby shouldn't cry, forgive us for shouting earlier okay?" ucap Kafka dengan suara yang teramat lembut.
"Nda papa, Allica cuma leflek nangic aja tadi. Xixixi...."
Kafka mengelus rambut gadis itu penuh sayang, para orang tua yang melihatnya pun tersenyum senang sekaligus merasa lega. Entah kenapa hari ini Allisya sangat mudah di tenangkan, biasanya saja jika gadis itu menangis sangat susah untuk membujuknya. Harus ada sebuah perjanjian jika mereka ingin Allisya berhenti menangis, namun sekarang lihatlah tidak sampai berjam-jam Allisya sudah bisa di tenangkan.
"Putri kecilku yang sangat manis...."
⏱️⏱️⏱️
Kini Allisya sedang bermain dengan Kafka juga, tiga sepupunya yang lain. Mari berkenalan dengan ketiga sepupu Allisya yang lain, Pertama Rafero Harsen Lesham, kedua Bryan Adams Lesham, Ketiga Jorgensen Lesham. Kafka, Allisya, Fero, Bryan dan Jorge sedang bermain petak umpet di taman samping yang memang teramat luas.
Sebenarnya ada dua lagi manusia yang kini sedang menemani bocil bocil ini bermain, kenapa bocil-bocil? karena Fero, Bryan, Jorge ini hanya berbeda 2 atau satu tahun dengan Allisya. Sementara Kafka dia lah yang paling dewasa karena sekarang sudah duduk di bangku SMP atau sekolah menengah pertama.
Oh ya mari bahas dua manusia yang kini sedang duduk di gazebo dengan kegiatannya masing-masing. Yang pertama adalah adik Kafka atau abang kedua Allisya namanya Sadam J Lesham, bocil tampan itu nampak sedang fokus dengan game di tangannya tak peduli dengan yang lainnya. Lalu yang satunya lagi Jansen Viorae Lesham, bocil tampan itu juga terlihat sibuk dengan buku di tangannya.
"Bang Jancen, Bang Cadam Allica cembunyi di cini ya?" Tiba-tiba saja Allisya datang ke gazebo tempat Sadam dan Jansen duduk dan berusaha naik ke sana. Jansen yang melihat Allisya langsung meletakkan buku ditangannya kemudian mengangkat tubuh Allisya.
"Sembunyi di samping abang ya?" Tanpa menunggu jawaban dari Allisya Jansen langsung mendudukkan tubuh kecil Allisya disampingnya lalu menutupinya agar Fero yang sekarang bertugas menjaga tak bisa menemukannya.
Sadam? pemuda itu hanya diam namun langsung menggeser posisi duduknya untuk menutupi Jansen juga Allisya. Allisya yang melihatnya langsung terkikih geli lalu berbisik lirih, "Pacti bang Felo nda bica nemuin atu xixixi...."
"Pasti!!" Dengan gemas Jansen mengecup pucuk kepala Allisya berkali-kali membuat Sadam mendengus sinis dan tanpa perasaan melemparkan Headphone yang tadi ia pakai ke arah Jansen. Untung saja Jansen sigap menangkapnya, kalau tidak bisa dijamin jidat mulutnya lah yang menjadi sasaran headphone milik Sadam.
Allisya tak mempedulikan hal tersebut, ia sedang sibuk mengawasi Fero apakah dia sudah pergi dari sana atau belum. Kalau sudah rencananya ia akan langsung berlari kesana dan menjemput kemenangannya. Allisya tuh merasa bangga dia dari tadi menang terus, walaupun dia tau dari tadi sebenarnya memang dia di biarkan menang begitu saja oleh para abang-abangnya.
"Abang Felo uda pelgi Allica mau kecana...." Tanpa menunggu lebih lama Allisya langsung berlari dan meloncat-loncat penuh semangat saat dia menang lagi.
"Aaaaa....." Dengan tidak terduga tiba-tiba tubuh Allisya melayang dan berada di gendongan seorang pria dewasa yang wajahnya teramat tampan.
"Om Alpinnnnn......" Ada perasaan senang saat Allisya melihat pria yang ternyata adik dari Daddynya. Mungkin ini adalah perasaan pemilik tubuh yang sebenarnya, Allisya terpesona dalam hati saat melihat betapa tampannya Omnya ini. Kalau di deskripsikan mungkin mirip dengan sugar Daddy di novel-novel online yang pernah dia baca, pokonya beh sangat eumuah.
"Om turunin Allisya!!!" ucap Fero yang diangguki saudaranya yang lain. Mereka menatap tajam Omnya itu, pasalnya jika Allisya sudah berada dalam genggamannya bisa di pastikan kalau si tua itu akan memonopoli adik mereka. Hingga mereka tak bisa merebutnya kembali, menyebalkan sekali pokoknya om mereka ini!!!
"Heh dasar bocah!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments