JBK ~05

JADI BOCIL KESAYANGAN ⏱️

"Cictem alay banet deh," ejek Allisya dengan wajah-wajah yang minta di tampol gitu.

"Astaga Nona perkataan anda menusuk tepat di jantung saya(´;︵;`)"

"Lupakan itu cictem, aku bocan di cini ayo kabul...." Allisya menatap sistem Xyan dengan tatapan mata berbinar-binar.

"Kebetulan sekali Nona saya juga ingin menunjukkan sesuatu pada anda, jadi saya setuju untuk membantu anda kabur dari sini (✿^‿^)"

"Ayo ayo xixixi..... Ini juga dalam lencana cupaya aku bica cekolah cic. Meleka kalo nda di ancem kayaknya nda bakal ngizinin aku cekolah, aku nda mau ya cic kalau di culuh cekolah di lumah. Nda mau pokokna!!" ucap Allisya dengan menggebu-gebu.

Jujur ini pertama kalinya selama 26 tahun dia hidup dilarang seperti ini dia baru pertama kali, di posesifin kayak gini, terus transmigrasi kayak gini juga baru pertama kali dalam hidupnya hehe.... Dulu sebelum berada di sini Allisya hanya orang biasa yang di besarkan oleh neneknya, orang tua? mereka berpisah sejak usia Allisya menginjak 5 tahunan. Kedua orangtuanya sibuk dengan dunia mereka masing-masing jadilah dia di titipkan di rumah sang nenek.

Selama belasan tahun Allisya hidup bersama sang nenek, sayangnya saat umur Allisya menginjak 20 tahunan neneknya meninggal dunia. Saat itu dia merasa sedih namun apa yang bisa di lakukan, bersedih? dia ingin melakukannya tapi itu sungguh percuma hanya membuang-buang waktu saja. Allisya tetap melanjutkan hidupnya menyelesaikan kuliah dan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Sayangnya kehidupan memang tak semulus itu, Allisya yang baru saja lulus harus interview sana sini untuk mendapatkan sebuah pekerjaan.

Nah, sayangnya lagi belum ada satupun pekerjaan yang bisa dia dapatkan. Sampai akhirnya Allisya memutuskan untuk berjualan makanan di depan rumahnya dengan modal secukupnya. Tak berselang lama akhirnya usahanya mulai ramai dan di kenal sampai akhirnya dia bisa membuka beberapa cabang.

Yah kita sudahi semua itu mari beralih pada Allisya yang kini sedang bersiap-siap untuk kabur dari rumah. Yah dia kini sudah siap dengan outfitnya yang sangat lucu bin menggemaskan, mau tau gak gimana outfit bocil satu itu cekidot kita lihat.....

Setelah siap dengan pakainya Allisya pun berdiri dengan penuh semangat menunggu apa yang akan di lakukan sistem Xyan selanjutnya.

"Sudah siap Nona manis?"

"Cudah ayo pelgi Xyan, gooooo!!!" kata Allisya penuh semangat.

"Pejamkan mata anda sekarang Nona saya akan segera memulai prosesnya......."

Allisya sudah memejamkan matanya bahkan sebelum Sistem Xyan menyelesaikan perintahnya, sepertinya bocil dadakan itu begitu bersemangat. Ya iya lah dia akan berkeliling dunia novel sendirian yey itu sangat menyenangkan. Siapa taukan nanti dia ketemu jodoh di jalan, astaga masih bocil udah mikirin jodoh aja ya.

"Proses selesai......

1....

2........

3............"

⏱️⏱️⏱️

Allisya membuka matanya perlahan-lahan lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar, ia tersenyum senang saat menemukan keindahan dunia luar. Oh ya kini Allisya berada di taman bermain yang lumayan ramai, gadis kecil itu tersenyum senang saat melihat berbagai permainan.

Inner Child jiwa Allisya meronta-ronta, tanpa peduli dengan Sistem Xyan yang sedang menjelaskan Allisya langsung berlari dan mulai bermain bersama anak-anak lainnya. Sistem Xyan yang melihat Nonanya begitu antusias hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. Biarlah Nonanya menikmati waktunya dahulu, ia akan diam dan melindungi dari sini.

⏱️⏱️⏱️

Sementara itu mari kita beralih ke kediaman Lesham yang nampak sepi karena semua orang sedang terdiam membisu di ruang keluarga. Tidak ada seorang oun yang membuka suaranya, semuanya diam bahkan para anak-anak yang biasanya akan meributkan sesuatu bahkan hal kecil sekalipun.

"Apa tidak papa membiarkan Lissya di kamar sendirian saat dia sedang marah pada kita?" tanya Mama Guin yang merasakan perasaan tak enak saat itu.

"Papa rasa itu tidak berbahaya, lebih berbahaya lagi jika kita mengizinkan dia berada di luar dan membuat nyawanya dalam bahaya," jawab Opa Theo yang masih belum tau kalau Allisya sudah berhasil kabur dari mansion.

"Tapi perasaan Guin tidak enak Pa," ungkap Mama Guin dengan wajah khawatir.

"Tidak akan terjadi apa-apa Guin," kata Oma Marci mencoba menenangkan menantunya di bantu para kakak iparnya.

Sadam yang sedari tadi diam langsung berdiri dan meninggalkan ruang keluarganya, ia akan pergi ke kamar sang adik yang ada di lantai dua. Sampai di depan pintu pemuda itu memperhatikan pintu bercat putih yang merupakan pintu kamar sang adik. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ia langsung membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam dengan begitu santainya.

"Sepi? Adek dimana?" batin Sadam.

Masih mencoba berpositif thinking sadam pun mencari sang ada di kamar mandi, namun bocah laki-laki itu tak menemukan adiknya di sana. Ia pun mencoba mencari di balkon namun nihil pintu balkon masih tertutup rapat. Dengan perasaan yang sudah mulai panik Sadam berlari keluar untuk memberi tahu keluarganya di bawah sana.

"Opa, Daddy, Om, Papi, Ayah Allisya gak ada di kamar," teriak Sadam yang kini sedang berlari menuruni anak tangga dengan wajah panik.

Teriakan Sadam sontak saja membuat orang-orang yang ada di sana membeku untuk sesaat. Alvin langsung menghampiri Sadam dan bertanya lada bocah itu apa maksud nya berkata seperti itu.

"Allisya gak ada Om, aku udah cari di kamarnya tapi tetep gak ada. Om Allisya kemana?" tanya Sadam. Bocah laki-laki yang biasanya menampilkan wajah dingin dan datar itu kini matanya nampak berkaca-kaca seolah ingin menumpahkan air mata saat itu juga.

"ARNOLD........"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!