JBK ~17

JADI BOCIL KESAYANGAN 17⏱️

"Allisya?" tanya Rara dengan raut wajah syok berat.

"Yeah it's me. Ternyata bener ya yang gua denger selama ini, wow hahaha gak nyangka sih." Allisya menatap Rara dengan tatapan yang begitu sinis.

"Engga gitu, ini gua lagi bosen aja kok. Biasanya mah engga gini, kan gua anak baik," bohong Rara.

Syok, itulah yang terjadi pada semua warga JNHS sekarang ini. Mereka begitu terkejut saat mendengar ucapan Queen Bullying JNHS, padahal mereka semua tau bagaimana brutalnya Rara saat membully sang target. Oh ya satu lagi jangan lupakan juga Rara mengatakan semua itu dengan ekspresi yang terlihat begitu imut dan di sertai dengan senyum manis penuh keterpaksaan. Sebuah pemandangan yang bahkan tidak akan terjadi jika Allisya sekarang tidak ada di sini, huft mereka semua bingung harus bersyukur atau bagaimana sekarang.

"Dia bohong Sya!" celetuk Bunga yang berdiri tepat di belakang Allisya.

Bunga tersenyum miring saat diam-diam Rara memelototi dirinya dan juga menunjukkan jari tengahnya ke arah Bunga. "Siapa yang bohong enggak bohong ya gue. Jangan asal ngomong dong!! Ini namanya pencemaran nama baik ga--"

"Banyak bac**!!" Setelah memotong ucapan Rara, tanpa merasa kasihan Allisya menyeret kerah belakang almamater Rara persis seperti ketika dia akan menyeret kucing kesayangannya.

Bunga yang melihat itu tersenyum puas, dengan begitu santai ia duduk di pinggiran lapangan menunggu apa yang akan di lakukan oleh Allisya selanjutnya. Bukan hanya Bunga semua orang juga menunggu apa yang akan di lakukan oleh Allisya pada Queen Bullying tersebut.

"Udah kayak kucing gua kalo lagi sama lo. Gak ada harga dirinya sama sekali," keluh Rara yang sudah berada di tengah lapangan bersama Allisya.

"Emang lo cocok nya jadi kucing pake segala jadi pembully lo! Gak cocok anjir," ejek Allisya, "Sekarang gua minta lo umumim permintaan maaf lo ke seluruh sekolah. Permintaan maaf itu buat seluruh korban bullying lo, kalau lo gak mau. Gua ganti hukumannya jadi sparing taekwondo bareng gua sama Bunga," ucap Allisya dengan raut wajah terlewat santai.

Berbeda Allisya yang memasang raut wajah santai, wajah Rara langsung pucat pasih. Oh ayolah Rara ini sangat tau Allisya bagaimana selama di Jepang. Walaupun berteman hanya satu hari saja Allisya dan Rara ini masih tetap akrab lewat dunia virtual. Jadi tentang Allisya yang sangat brutal jika sparing bersama lawan tentu saja dia juga tau.

"Gua minta maaf aja deh hehe." Allisya tersenyum puas kemudian mengisyaratkan pada Rara untuk segera minta maaf di depan umum. Tentunya agar dia bisa segera pergi ke kantin, perutnya ini sudah berteriak keras minta di isi sedari tadi.

"Dengerin gue semuanya gue gak mau ngulang dua kali ya," teriak Rara di tengah lapangan. Wajahnya yang masam dan tidak ikhlas di tambah kesan galaknya membuat semua orang yang ada di sekitar area lapangan langsung memperhatikan gadis itu.

"Gua mau minta maaf buat sikap gua selama ini, dan buat seluruh korban bully gua. Pokoknya gua minta maaf," ucapnya masih dengan wajah yang masam.

"Yang ikhlas," sindir Allisya di belakangnya.

Rara yang mendengar sindiran itu menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dengan kesal. Banyak mau sekali manusia itu, yang penting kan dia sudah minta maaf malah sindir sindir segala.

Rara menarik nafas kemudian merubah raut wajahnya yang tadi masam menjadi tersenyum dengan cerah dan bahagia. Sekali lagi dia meminta maaf kepada semua orang, Allisya yang melihatnya mengangguk dan tersenyum puas. Selesai Rara meminta maaf Allisya langsung merangkul bahunya dan membawa Rara menuju kantin bersama Rara juga.

Sampai di kantin mereka dengan cepat mendapatkan meja karena kondisi kantin yang sepi. Semua siswa tadi langsung menuju lapangan saat mendengar kalau Rara di lawan oleh siswi baru yang merupakan putri keluarga Lesham.

Sebelum duduk di bangku juga mereka lebih dulu menghampiri beberapa stan makanan untuk mengambil makanan. Di sekolah ini kantin sekolah sama sekali tidak bayar jadi tidak ada ceritanya hutang menghutang ya kawan kawan.

"Gua gak nyangka lo temenan sama manusia model ini." Dengan wajah tanpa dosa Bunga menunjuk Rara yang sedang berkaca untuk merapikan riasan wajahnya.

"Maksud lo!!" Allisya menahan Rara yang sekarang sudah maju untuk menjambak rambut Bunga.

Tanpa banyak kata Allisya mengambil sebuah benda dari balik almamater nya lalu memberikan benda tersebut pada Rara. Benda itu adalah sebuah lipstik, dia membawanya dari Jepang khusus untuk Rara. Ya karena memang Rara memesan itu padanya, tidak ada alasan khusus ya apalagi hanya untuk membuat curut satu itu senang.

"Wah pesenan gua nih?" tanya Rara antusias.

"Hm, duit yang lo transfer kurang ntar transfer lagi gua gak mau rugi," ucap Allisya.

"Gampang ntar gua transfer lagi. Astaga cantik banget warnanya sumpah!!" Rara nampak begitu antusias membuka lipstik tersebut untuk mencobanya.

Allisya dan Bunga menggelengkan kepalanya heran, bahkan makanan di depannya seperti kalah menarik. Ya biarlah, nanti kalau laper paling juga di makan batin Allisya dan Rara yang kini sibuk dengan makanan mereka masing-masing.

"Weh adek gua!"

Uhuk uhuk ****** uhuk

Rara yang mendengar Allisya tersedak reflek langsung memberikan minumannya supaya gadis itu sedikit lega. Lalu dengan tatapan tajam ia berteriak pada Fero sang pelaku yang membuat Allisya tersedak, "Anj**g heh lo kalau mau bunuh orang cari target lain ya. Gua slepet juga wajah lo bang!!"

Fero mengabaikan Rara, ia lebih memilih duduk dan bertanya apa Allisya baik-baik saja. Hah mendengar pertanyaan itu rasanya Allisya ingin langsung memenggal kepala Fero kemudian membuang jasadnya ke Palung Mariana.

"Tenggorokan gua, untung gak mati lagi huhu," batin Allisya setengah bersyukur.

"**Itu anugerah Nona ಥ‿ಥ**"

"Diem lu tem gua slepet juga lo nanti."

"**◉‿◉**"

Tanpa berpikir dua kali Allisya memukul lengan Fero begitu keras, bahkan pemuda itu langsung mengaduh kesakitan karena pukul sang adik. Bryan yang tadi datang bersamanya langsung menggeplak kepala saudara sepupunya itu, tega sekali sampai membuat kesayangannya tersedak. Untung saja tak sampai terjadi sesuatu kalau terjadi apa-apa, bisa-bisa mati Fero itu.

"Lo kalo mau dateng gak usah ngagetin makanya Bang," kesal Allisya.

"Gak lagi-lagi maaf deh," kata Fero dengan wajah melas.

"Jijik banget gua lihat wajahnya itu," ejek Rara.

"Duain, jijik juga gua," timpal Bunga dengan begitu santainya. Padahal tadi saja dia yang mengejek-ejek Rara sekarang sepertinya mereka sependapat soal abang sepupu Allisya yang satu itu.

"Beneran gak papa dek?" Jorge bertanya khawatir.

"Gak papa udah di kasih minum sama Rara," jawab Allisya.

"Lanjutin makannya," kata Sadam yang tiba-tiba mengelus pucuk kepalanya.

Kini keempat Abang Allisya itu sudah duduk di bangku yang sama dengan Allisya dkk, membuat beberapa manusia menahan iri dan juga dengki dalam hatinya. Oh ya di sini hanya ada empat abang karena Jansen dia sekarang bersekolah di luat negri, kalau kafka tentu saja sudah bekerja membantu para tetua Lesham.

"Kak Sadam ganteng banget......"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!