JADI BOCIL KESAYANGAN 16⏱️
"Gua anter ke kelas?" tawar Fernan. Pemuda itu bahkan sudah berdiri dari tempat duduknya, namun Allisya menolak dengan meyakinkan.
"Nggak usah, gue bisa sendiri nggak perlu diantar. Makasih juga sebelumnya karena udah mau bantuin gue, kalau gitu gue pergi dulu ya. Kalau gue diterima jadi OSIS langsung wa aja nomor gue yang ada di sana ok?" ucap gadis itu yang kemudian berlalu pergi dari ruang OSIS.
⏱️⏱️⏱️
Kelas X IPS 1
Allisya menata ruang kelas yang akan dihuninya selama bersekolah di sini, Kelas X IPS 1 adalah kelas yang Allisya pilih. Dia sengaja memilih jurusan ini karena ini adalah jurusan yang cocok dengan dirinya. Karena kalau boleh jujur Allisya kali tidak menyukai jurusan IPA atau yang berhubungan dengan fisika. Kalau dia masuk jurusan itu, sungguh itu bisa membuat kepalanya pecah........
"Lo murid baru?" tanya seorang pemuda berkacamata yang berada di depan pintu kelas.
Allisya pemuda itu dan membaca name tag yang tertera di almamaternya lalu berkata, "Iya gua murid baru, lo ketua kelas atau?"
"Ya gua ketua kelas kenalin, Aidan Algaret lo Auristela Allisya Lesham?" pemuda berkacamata itu mengulurkan tangannya dengan senyum yang membuat Allisya sedikit terpesona.
"Aduh leee ganteng banget manis pula selera gua banget, sayang kok berondong," batik Allisya.
"Salam kenal iya itu nama gua kalian bisa panggil gua Allisya." Tanpa sungkan Allisya menjabat tangan Aidan membuat pemuda itu tersenyum senang.
"Yaudah ayo masuk gua tadi di suruh nunggu lo sama Fernan, katanya kalau lo gak nyampe-nyampe suruh nyari." Aidan terkekeh saat mengingat pesan teman se- organisasinya itu.
"Di pikir gua anak kecil yang gampang ilang apa," canda Allisya. Allisya tersenyum dan menatap manusia-manusia yang sudah berada di dalam kelas.
"Buset tremor gua di liatin se kelas kayak gini aduh gemetaran say," batin gadis itu.
Bagaimana tidak tremor kini seluruh pasang mata yang ada di ruangan ini semua menatap dirinya yang baru masuk ke dalam kelas bersama Aidan. Mencoba percaya diri Allisya pun tersenyum dan memperkenalkan dirinya di depan kelas, "Hai kenalin gua Au---"
Belum sempat melanjutkan ucapannya seorang gadis memotongnya dengan wajah kaget dan kesenangan, "AURISTELA ALLISYA LESHAM, BUSET GAK NYANGKA BANGET KITA SEKELAS OMG!!! ANJIR BENING BANGET SUMPAH GUA YANG CEWEK SALTING LIATNYA AAAAAAA MAMA!!"
Allisya meringis merasa canggung, ah sepertinya dia sudah menjadi trending topik entah itu di media sosial sekolah atau di wilayah sekolah ini. Salah satu siswi mendekati dirinya dan menunjukkan sesuatu di ponselnya yang membuat Allisya sedikit terkejut.
"Lo jadi trending nih gara-gara postingan mimin JNHS wkwk," jelas gadis itu.
"Gua gak nyangka banget kalau bakal jadi trending gini sumpah, padahal baru tadi pagi kan hahaha." Allisya tertawa kecil yang di lihat oleh seluruh penghuni kelas dengan mata kepala mereka sediri.
"Astaga nikmat mana lagi yang hamba dapat dustakan."
"Adoh jangan ketawa dek senyumnya ngelelehin hati bekunya aa."
"Allisya gua pens lo sekarang."
"Allisya bagi no wa dong!!"
"Gaes udah gaes biarin Allisya duduk kasian dia dari tadi diri terus," kata Aidan yang sudah muak dan kasian kepada Allisya karena sedari tadi terus berdiri di depan.
"Dia duduk sama gua ya Dan?" tanya gadis yang tadi menunjukkan ponselnya kepada Allisya.
"Silahkan." Aidan mengangguk mempersilahkan Allisya dan gadis itu duduk bersama.
"Kenalin gua Bunga Atmaja," celetuk Bunga ketika mereka berdua sudah duduk di meja milik Bunga. Kebetulannya ini Bunga memang duduk sendiri jadilah tadi Bunga langsung menawarkan pada Aidan agar Allisya bisa duduk bersamanya. Ia merasa kasian kalau Allisya harus duduk dengan teman-teman kelasnya yang lain, pasti gadis itu akan merasa tertekan karena terus di cecar dengan berbagai pertanyaan.
"Panggil aja gua Allisya, salam kenal Bunga. Semoga kita berteman dengan baik," balas Allisya.
"Tentu, nanti ke kantin bareng? Gua bakal lindungin lo dari lalat-lalat itu, kebetulan gua bisa nyleding orang wkwk," canda Bunga.
"Hahaha santai kalo soal nyleding orang mah gua juga jagonya. Sekali balik patah tuh tulangnya," kata Allisya dengan tangan yang mempraktekkan caranya membanting orang.
"Wih keren keknya gua nemuin temen yang cocok nih." Bunga begitu antusias saat membahas dunia sleding menyledingkan ini, begitupun Allisya.
Pembicaraan mereka itu terus berlanjut sampai guru mereka masuk ke dalam kelas dan menjelaskan beberapa materi kepada mereka semua. Allisya menyimak dengan serius sesekali dia juga merespon Bunga yang mengajaknya mengobrol dan bertanya tentang beberapa materi yang tidak ia pahami. Dengan senang hati Allisya menjelaskan sampai Bunga sepenuhnya paham dengan materi tersebut.
⏱️⏱️⏱️
Pukul 12.00
Bel tanda istirahat telah datang berbunyi begitu kencang, menghentikan kegiatan pembelajaran yang berada di dalam kelas. Allisya dan Bunga keluar bersama-sama menuju kantin, mereka akan mengisi perutnya yang sudah berteriak-teriak kelaparan.
"******Nona terjadi pembullyan di lorong menuju kantin, pelakunya adalah Rara◉‿◉ Anda bisa menjalankan misi sekarang******."
Mendengar hal tersebut Allisya langsung berlari menuju lorong tersebut tentunya dengan bantuan sistem yang menunjukkan jalannya. Kalau sistem tak membantunya menunjukkan jalan bisa-bisa ia tersasar dan akhirnya tidam bisa menyelesaikan misi lalu mati di tempat ah itu tidak akan dia biarkan༎ຶ‿༎ຶ
"Depan itu ka sis? Yang cewek bawa timba itu? Terus ada cewek ngesot di bawah?" tanya Allisya dalam hati.
"Ya Nona anda benar yang memegang timba itu adalah Nona Rara teman TK Nona."
"Tendang timbanya aja deh," gumam Allisya pelan.
Allisya berlari dengan cepat ke arah Rara setelah agar dekat dia berancang-ancang menendang timba yang sudah di angkat oleh Rara. Bunga yang mengejar Allisya di belakang saja langsung berhenti karena sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
BRAK......
BYUR......
"HAH??"
Allisya menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jarinya, lalu dengan senyum ia bersedekap dada menatap Rara yang nampak begitu murka.
"SIALAN SIAPA YANG BERANI SAMA GUA HAH?" teriak Rara yang membuat sebagian murid menutup telinga sangking kencangnya.
"Gua yang nendang AURORA BOREALIS!!" tekan Allisya.
Rara langsung menatap Allisya yang sekarang ada di sampingnya sambil bersedekap dada dengan tatapan yang begitu tajam seperti akan menusuk dirinya. Dengan cepat Rara menatap name tag pada almamater Allisya, Auristela Allisya Lesham.
Rara mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah mendengar nama tersebut. Selama Rara mengingat-ingat, orang-orang yang melihat kejadian itu langsung bingung. Mereka bingung ingin bersimpati pada siapa, kalau sama Rara gak mungkin. Kalaupun Rara si pembully kejam itu mau membalas pasti keluarga Lesham tidak akan membiarkan. Nah tapi mau kasihan sama Rara pun tidak mungkin, sepertinya yang patut di kasihani di sini itu adalah mereka yang tidak mengerti apa-apa.
"Udah inget sama gua Aurora Borealis?" tanya Allisya dengan senyum yang bisa membuat orang-orang terdiam.
⏱️⏱️⏱️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments