JADI BOCIL KESAYANGAN 08⏱️
"Heh kamu apain anak saya sampe nangis begini?"
Allisya terlonjak kaget saat tiba-tiba seorang wanita dewasa mendatangi tempat duduknya dan Rara sambil berteriak marah. Samuel yang melihat hal itu saja dengan sigap langsung maju kehadapan ibu-ibu itu dengan wajahnya yang datar.
"Maaf tolong jaga nada bicara anda Nyonya mereka masih anak kecil," ucap Samuel dengan nada yang masih sangat lembut untuk seukuran bodyguard.
"Maaf anda siapa? Sepertinya anda tidak mengenal saya ya? Jadi tolong jangan ikut campur ini urusan saya sama bocah bocah ini yang sudah ganggu anak saya," tegas Wanita itu dengan mata melotot tajam.
Samuel menatap Allisya ingin bertanya apakah benar Nonanya mengganggu anak wanita itu, dan tentunya kalian bisa menebak bukan anak yang dimaksud itu yang mana. Benar sekali anak-anak berwajah songong yang tadi mengganggu Allisya dan juga Rara. Kini gadis itu sedang menangis tapi wajah songongnya itu loh gak pernah hilang wah emang dasar bocah kematian. Bakal Allisya tandai sampai kapanpun pokoknya awas aja, dia udah di tandai pake tinta hitam.
"Samuel anak kecil yang bersama wanita itu berbohong, anak wanita itu yang mengganggu Nona terlebih dulu. Beri sedikit pelajaran padanya, setelah itu bawa Nona dan temannya pergi. Sisanya akan menjadi urusan saya," ucap Arnold yang sedang mengawasi mereka lewat anak buahnya.
Samuel yang mendengar ucapan Arnold dari balik Earpiece mengangguk paham kemudian menatap Nyonya itu semakin datar. "Saya sangat tau siapa anda Nyonya Edelweis Howard, anda lah yang sebenarnya tidak tau siapa saya dan apa yang bisa atasan saya lakukan kepada anda dan perusahaan suami anda yang sangat anda banggakan itu. Anak anda salah karena telah mengganggu Nona saya terlebih dahulu, jadi Nyonya dengan sangat saya memohon, tolong ajari Anak bodoh ini tata krama dan juga cara menghormati orang lain. Saya permisi, Mari Nona Nona saya akan mengantarkan kalian sampai di kelas," jelas Samuel panjang kali lebar.
"Dasar kau mengancamku? Aku tidak takut lihat saja apa yang akan di lakukan oleh suami ku kepada Tuanmu. Suami ku akan menghancurkannya, akan ku laporkan kau karena telah mengatai anakku anak bodoh!!!!" Wanita itu terus berteriak kesetanan, padahal Samuel dan juga dua bocil sudah kembali masuk ke dalam gedung sekolah.
"Lakukan apapun Nyonya, saya tau pasti apa yang akan terjadi pada anda dan suami Anda setelah ini. Semoga beruntung, dan gadis manis semoga kau mati saja setelah ini. Wajahmu itu seperti bibit-bibit pelakor," batik Samuel yang samar-samar mendengar teriakan wanita tersebut.
⏱️⏱️⏱️
"Om Sam, ke taman dulu ya?" ajak Allisya.
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil, Allisya sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu. Teringat dengan misi yang di beritahukan oleh sistem Allisya pun mengutarakannya sekarang sebelum mobil akhirnya berjalan menuju mansion keluarga Lesham.
Samuel yang sedang berbicara dengan Arnold lewat telepon pun mengakhiri panggilan telefonnya. "Nona izin pada keluarga Nona terlebih dahulu, kalau sudah mendapatkan izin baru kita akan pergi. Oke?" tutur Samuel. Ia sudah menyodorkan ponselnya ke arah Allisya agar gadis itu bisa segera menghubungi keluarganya.
"Oke." Dengan senang hati Allisya pun menerima ponsel yang di sodorkan tersebut, cepat-cepat saja Allisya menghubungi nomor milik Opa Theo.
Berbeda dengan Allisya yang nampak antusias menghubungi Opa Theo, Samuel justru diam karena seperti melupakan sesuatu. Ia lupa selama ini Allisya itu di larang keras memegang benda elektronik seperti ponsel, laptop atau bahkan game elektronik. Namun dengan gampangnya dia menyodorkan ponselnya pada gadis kecil itu. Apa gadis kecil itu bisa menggunakannya? Bodoh sekali kau Samuel batinnya.
"Loh?" Samuel menatap Allisya terkejut, apa ini? dia kira Allisya belum bisa menggunakan ponsel. Tapi ini? lihatlah bahkan gadis itu sudah berbicara dengan wajah ceria yang membuatnya sedikit syok karena tak percaya.
"Mungkin Nona muda sudah pernah di ajari cara menggunakan ponsel ya? Tapi kapan?" batin Samuel sedikit merasa bingung.
"Om Sam kata Opa boleh tapi sampe jam dua siang aja. Setelah itu harus pulang," celetuk Allisya dengan tangan yang menyodorkan ponsel milik Samuel.
"Baiklah Nona muda," balas Samuel, "Zero ke taman kota sekarang."
Zero sang sopir menganggukkan kepalanya kemudian melajukan mobil tersebut menuju taman kota sesuai instruksi dari Samuel. Sebenarnya tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di taman kota tersebut, tapi karena entah kenapa tiba-tiba saja jalanan macet perjalanan mereka pun jadi terhambat.
"Masih lama Zer?" tanya Samuel yang sudah pegal duduk di mobil. Hampir setengah jam mereka terjebak di jalanan ini, Allisya saja sudah terlihat mulai mengantuk. Tapi entah kenapa mobil-mobil di depan sana tak kunjung berjalan juga.
Samuel yang merasa geram sekaligus kasian kepada Nona mudanya pun beranjak turun dari mobil untuk mencari tau sumber kemacetan tersebut. Sebelum keluar ia berpesan pada Allisya untuk tetap di dalam mobil sampai ia kembali lagi. Tak lupa Samuel juga berpesan pada Zero untuk menjaga Allisya dengan baik, jangan sampai lecet apalagi hilang dari pengawasan. Kalau sampai itu terjadi bisa di pastikan nyawa mereka lah yang jadi taruhan di keluarga Lesham.
"Om Zero," panggil Allisya.
"Ya Nona?" jawab Zero.
"Ayo main tebak-tebakan," ajak Allisya yang memang sedari tadi sudah hampir molor karena bosan.
"Tebak-tebakan apa itu Nona?" tanya Zero penasaran.
"Kira-kira di depan ada apa? ayo kita tebak," jawab Allisya.
"Mungkin ada pohon tumbang Nona," tebak Zero.
Allisya mengangguk kemudian ikut menebak, "Kalau gitu aku nebak di depan sana lagi ada kecelakaan."
"Baik, apa hadiahnya jika tebakan kita benar Nona?" tanya Zero.
"Kalau tebakannya bener berarti dia bakal ngejambak rambutnya yang salah nebak," ungkap Allisya dengan tepuk tangan heboh.
Zero yang mendengarnya sedikit ketar-ketir, kalau dia yang menang terus dia ngejambak rambut Allisya. Itu antara perasaan puas karena menang juga ketakutan karena itu berarti nyawanya juga terancam wkwk...
Setelahnya mereka berdua pun menunggu Samuel kembali guna mengetahui tebakan siapa yang benar. Tak butuh waktu lama Samuel pun kembali dengan wajah sedikit kesal, ia kembali masuk ke dalam mobil dan menyuruh Zero untuk putar balik di halaman sebuah swalayan.
"Tunggu dulu Om di depan ada apa?" tanya Allisya penasaran.
"Ada kecelakaan Nona, ambulance belum datang, polisi juga masih dalam perjalanan. Entah pakai apa mereka sampai perjalanannya lama sekali. Jalan sekarang Zero!!" titah Samuel yang masih sedikit kesal.
"Nah tebakan Allisya benar, Om Zero harus di jambak yey!!" seru Allisya bahagia.
Dengan pasrah pria itu menyerahkan rambutnya untuk menjalani hukumannya, Allisya pun dengan antusias menjambak rambut itu. Rasanya sangat senang sekali melihat wajah kesakitan Zero walaupun tak ketara karena tertutupi dengan tampangnya yang datar.
"Om Samuel mau juga?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
miyura
dasar alisya lucu bener..
2023-08-23
0
Rubby Aqillah
kapan punya Thor gw nunggu nih dari pagi 🙄🙄 capek bolak-balik kali
2023-07-30
0