CHAPTER 20

Hari itu, di bawah langit yang masih agak kabur oleh embun pagi, Arsen telah mempersiapkan dirinya dengan baik. Setiap lipatan pakaian terlihat rapi, dan wajahnya yang penuh semangat mengisyaratkan bahwa dia siap untuk menjalankan tugas mereka. Di depan pintu rumah Arin, Arsen tampak agak gelisah. Ia telah mencoba mengetuk bel berulang kali, menelepon, dan bahkan melempar krikil ke jendela Arin, tetapi semua itu sia-sia.

Tidak lama kemudian, jendela kamar Arin terbuka dengan perlahan. Arsen melihat Arin keluar dengan wajah yang masih terlihat mengantuk dan mengenakan pakaian tidur.

"Kayaknya lu lupa kita punya rencana  pagi ini," kata Arsen tampak kesal.

"Ya maaf, gak ada yang bangunin, kan kemarin gue bilang gue sendirian di rumah," balas Arin sambil menguap.

"Iya, cepatan sana siap-siap," kata Arsen sambil mengangguk.

Arin pun mempersilahakn Arsen masuk dan menyuruhnya menunggu di ruang tamu. Arsen menunggu dengan sabar di ruang tamu rumah Arin. Sudah hampir satu jam lamanya, dan dia mulai merasa agak bosan. Dia mencoba berbagai gaya, dari merebahkan diri di sofa hingga mengangkat kakinya ke atas. Tapi tetap saja, waktu terasa berjalan sangat lambat.

Akhirnya, Arin keluar dari kamar dengan langkah ceria. Ia memandang Arsen dengan heran, mungkin heran karena melihat temannya yang duduk dengan gaya aneh seperti itu.

"Lo ngapain, Arsen?" tanya Arin sambil mengernyitkan dahi.

"Gue nungguin lo ampe bosan, kok bisa lama banget," jawab Arsen dengan wajah sedikit kesal.

"Ya, maaf namanya juga cewek," kata Arin sambil tersenyum.

Mereka berdua keluar dari rumah dan menuju mobil Arsen. Arsen memiliki sopir pribadi, jadi mereka tak perlu repot mengemudi. Dengan tenang, mereka duduk di dalam mobil yang mewah itu.

Perjalanan menuju distrik selatan berlangsung cukup lancar. Mereka berdua sibuk membicarakan strategi dan rencana saat tiba di tempat tujuan. Berdasarkan informasi yang mereka peroleh, rumah orang-orang yang ingin mereka temui cukup dekat. Tempat tersebut bernama Janater. Distrik selatan memang terkenal dengan kekumuhannya, dan Janater bukanlah pengecualian.

Sesampainya di sana, Arsen dan Arin mulai merasakan suasana yang berbeda. Banyak orang yang memperhatikan mereka dengan tatapan penasaran. Di tengah kekumuhan dan kesederhanaan lingkungan sekitar, kehadiran mereka yang mencolok dengan pakaian dan mobil mewah terasa seperti sinar matahari di tengah hari mendung.

Arsen dan Arin berjalan dengan mantap menuju alamat yang mereka cari. Perlahan, mereka merasakan tekanan lingkungan di sekitarnya, tapi mereka tidak membiarkan hal itu mengganggu mereka. Misi mereka adalah mencari informasi yang dibutuhkan, dan mereka harus tetap fokus.

Ketika mereka akhirnya menemukan daerah yang mereka cari di Janater, Arsen dan Arin merasa sedikit lega. Mereka berdua menatap sekeliling, mencoba memahami lingkungan baru yang mereka hadapi. Distrik selatan memang memiliki daya tariknya sendiri, meskipun terlihat agak kumuh dan kacau.

Mereka memutuskan untuk bertanya pada warga setempat agar bisa menemukan rumah ketiga orang yang mereka cari. Arin mendekati seorang wanita tua yang tengah duduk di depan rumahnya, menatap wajah wanita tersebut dengan penuh sopan.

"Maaf, bu, mengganggu waktunya. Boleh saya bertanya di mana rumah Pak Robert Stone?" tanya Arin dengan ramah.

Wanita tua itu menatap Arin dan Arsen dengan tatapan tajam, seolah mencoba memahami tujuan mereka. Setelah sejenak diam, ia akhirnya bersedia memberikan informasi.

"Kalian ini mau ngapain? Dia itu sudah meninggal. Sekarang pun sudah tidak ada orang di rumahnya. Rumahnya adalah rumah paling ujung di daerah ini," jelas wanita tua tersebut, suara lembutnya menghiasi udara senja.

Arin mencatat informasi tersebut dengan hati-hati. Setelahnya, dia merasa perlu untuk mencari tahu tentang Garren dan Kenneth.

"Kami hanya mencari bahan untuk artikel. Kalau boleh tahu, rumah Garren dan Kenneth itu di mana?" tanya Arin lagi, dengan harap-harap cemas mendapatkan informasi yang diinginkannya.

Wanita tua itu mengedipkan mata kecilnya, seolah merenung sejenak. Kemudian, ia menunjuk ke arah sebuah rumah yang tak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.

"Rumah Garren itu yang disana," katanya, mengarahkan pandangan mereka ke sebuah rumah berwarna cerah.

"Namun, kalo Kenneth setahu saya sudah lama pindah bersama keluarganya," lanjutnya.

Arsen dan Arin mengucapkan terima kasih dengan ramah kepada wanita tua itu. Mereka merasa senang telah mendapatkan informasi yang berharga. Namun, ada rasa penasaran yang mengganjal di pikiran mereka tentang Kenneth dan alasan di balik kepindahannya.

"Terima kasih banyak atas informasinya," kata Arin sambil tersenyum.

Setelah mendapatkan informasi berharga dari wanita tua tadi, Arsen dan Arin merasa langkah mereka semakin mendekati jawaban dari misteri yang tengah mereka selidiki. Meskipun rasa penasaran masih mengganjal, mereka pun pergi dari tempat tersebut dan memutuskan untuk menuju ke tempat terdekat terlebih dahulu, yaitu rumah Garren.

"Permisi, selamat siang," ucap Arin dengan sopan sambil Anton mencoba memencet bel pintu berkali-kali, namun aksinya ini malah membuatnya sedikit disenggol oleh Arin.

"Lo mau ngajak orang rebut, ya?" goda Arin dengan sedikit candaan, mencoba mencairkan suasana.

"Mencetnya jangan ngegas dong," tambahnya lagi sambil tertawa ringan. Namun, sebelum suasana bisa benar-benar tenang, tiba-tiba pintu pagar tua di depan mereka terbuka. Mata mereka langsung tertuju pada seorang pria setengah baya yang muncul di depan pintu.

"Wah, ada apa ya?" Tanya pria tersebut dengan ekspresi heran, seolah tak percaya ada orang yang mengetuk pintu rumahnya.

"Kami adalah siswa SMA yang sedang mengerjakan tugas. Kami diminta untuk mewawancarai pekerja dari rusun yang membawa kesejahteraan bagi para tunawisma," jelas Arin dengan penuh pengertian, mencoba menjelaskan tujuan mereka.

"Saya tidak ingin menjawab," sahut pria setengah baya itu dengan nada yang agak tegas.

Arin merasa putus asa mendengarnya, namun tekadnya untuk menyelesaikan tugasnya membuatnya tak mau menyerah begitu saja.

"Tolonglah, Pak. Ini demi nilai kami," pintanya dengan suara yang penuh rasa memelas, matanya memancarkan kilatan harap-harap cemas.

Setelah cukup lama membujuk pria itu, akhirnya Garren luluh juga. Pesona Arin memang tak bisa dihindari. Ia pun mengizinkan mereka masuk ke dalam rumahnya untuk memulai sesi wawancara. Awalnya, Arin dan Anton bertanya mengenai pertanyaan-pertanyaan umum terkait pembangunan di daerah tersebut. Namun, seiring berjalannya wawancara, mereka tanpa sadar mengarahkan pertanyaan-pertanyaan itu ke arah yang lebih terkait dengan sosok Robert.

"Oh, jadi Pak Garren ini kenal dengan Pak Robert?" tanya Arin memancing, sengaja memberikan isyarat agar Garren menceritakan lebih banyak.

"Iya, bisa dibilang saya dan dia tumbuh bersama. Dia dulu tinggal di daerah ini, di ujung distrik ini. Tapi dari dulu dia memang orang yang pendiam, bahkan walaupun kami berteman, dia jarang membahas dirinya sendiri," jelas Garren.

"Pak Robert itu yang meninggalkan ya, kan, Pak?" tanya Arin memancing lebih lanjut.

"Iya, dia meninggal saat proses pembangunan gedung itu. Tapi sejujurnya, saya curiga dia tidak bunuh diri," kata Garren dengan suara pelan.

"Mengapa Bapak bisa curiga begitu? Polisi kan menyatakan itu bunuh diri, dia melompat dari gedung," balas Arin.

"Robert itu cuman pusing sama masalah uang. Tapi menurut Kenneth, sehari sebelum kematiannya, dia sempat bertengkar dengan seorang pengemis bernama Smith. Dan, yang mengejutkan, ia melihat ada tiga koper uang di tempat itu. Bukan jumlah yang sedikit," jelas Garren dengan ekspresi penuh perhatian.

Informasi yang didapat dari Garren membuat Arin semakin yakin bahwa kematian Robert kemungkinan tidak semudah yang dibayangkan. Koper uang yang disebutkan Garren menimbulkan pertanyaan baru dalam benak Arin. Apakah ini ada kaitannya dengan uang darah yang ditemukan oleh Rolan? Mereka semakin yakin bahwa ada sesuatu yang janggal dalam kematian Robert, dan mereka berencana untuk menyelidikinya lebih lanjut.

Terpopuler

Comments

Riezki Arifinsyah

Riezki Arifinsyah

lanjutken Thor

2025-02-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!