CHAPTER 02

Gadis itu, dengan gemetar, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa di dalam dirinya. Dengan tangan yang gemetar, ia meraih gagang pintu kamar, berusaha melewati batas ketidakpastian yang membelenggunya. Namun, sebelum ujung jari-jarinya bisa menyentuh permukaan dingin gagang pintu, pintu itu tiba-tiba tertutup dengan keras.

BRAKK.

Gadis itu menatap pintu yang tertutup, tatapannya dipenuhi oleh ketakutan dan kebingungan yang membingungkannya. Detak jantungnya terdengar keras di telinganya, seperti hentakan drum yang terus-menerus berdenyut dalam keheningan yang menyelimutinya. Sekarang, di hadapannya, ada sosok yang misterius, mengenakan tudung yang menutupi identitasnya. Sosok itu muncul perlahan dari balik pintu, seakan-akan bayangan yang menakutkan yang merayap dari kegelapan.

Gadis itu tidak bisa melihat wajah sosok bertudung itu, karena tersembunyi di balik bayangan tudung yang misterius. Namun, kehadiran sosok itu begitu mencekam, menciptakan gelombang ketakutan yang melanda dirinya. Keberadaannya terasa begitu dekat, seolah-olah menghiasi setiap serat pikirannya dengan rasa teror yang tak terungkapkan.

Dalam sekejap, sosok bertudung itu menunjukkan sifat kejamnya. Dengan gerakan yang kasar, tangannya meraih rambut gadis itu dengan paksa. Suara gemuruh terdengar saat pukulan menghantam tubuh gadis itu, memenuhi udara dengan kekerasan yang memilukan. Gadis itu terkejut dan terguncang oleh kejadian yang tak terduga ini, dirasakannya kesakitan yang menusuk tubuhnya.

Semuanya menjadi gelap...

Gadis itu perlahan-lahan membuka mata dari keadaan pingsan yang menghantui. Kesadarannya kembali seiring dengan penghilangan kabut yang melingkupi pikirannya. Namun, ketika ia mengangkat kepalanya, ia segera menyadari bahwa sesuatu yang tidak wajar terjadi. Ia tidak lagi berada di dalam kamar yang dulu ia kenal. Dinginnya angin menusuk tulangnya, dan tetesan hujan deras yang mengguyur wajahnya menambah rasa keterkejutannya.

Gadis itu menatap sekelilingnya dengan tatapan yang terpaku. Ia berdiri di luar balkon rumah susun yang dulu ia tinggali, tetapi tak ada jejak keberadaannya di dalam kamar. Cahaya dari langit yang gelap menciptakan suasana yang mencekam, menambah kebingungan yang membelenggu dirinya. Curahan hujan yang deras seperti tanduk-tanduk iblis yang menyerang, mengisi keheningan malam dengan suara guntur yang menggelegar.

Kesadaran akan kehadiran orang bertudung misterius itu segera menghampiri gadis itu. Dibaliknya, sosok yang menyeramkan itu berdiri tegak, memegang tangannya dengan erat. Pandangan mereka bertemu, tetapi wajah sang misteri tetap tersembunyi dalam bayangan tudungnya yang gelap. Kehadirannya menciptakan rasa takut yang melanda gadis itu, membuat bulu kuduknya merinding seolah-olah disentuh oleh kedinginan yang mematikan.

Gadis itu, mencoba untuk membebaskan diri dari cengkeraman yang kuat, berusaha untuk berteriak meminta tolong. Tetapi suaranya tercekik di tenggorokannya, terjebak dalam keheningan yang menakutkan. Ia merasa terperangkap, tanpa kemampuan untuk mengungkapkan ketakutan dan putus asa yang menyiksanya. Tatapan matanya penuh dengan rasa panik dan keinginan akan pembebasan.

Namun, sebelum ia bisa merealisasikan apa yang terjadi, sesuatu yang tak terduga terjadi. Gadis itu merasakan dorongan yang kuat di punggungnya, seperti kekuatan yang tak tergoyahkan yang mendorongnya ke depan. Tubuhnya terlempar ke udara dengan cepat, sementara hujan deras membasahi rambutnya yang kusut.

Dan kemudian, ia jatuh...

AKHHH

Teriakannya memudar dalam kegelapan malam, memudar menjadi keheningan yang menakutkan.

...****************...

Seorang gadis berjalan mondar-mandir di koridor sekolah dengan langkah ragu. Di depannya, terdapat sebuah ruangan, menampilkan tulisan besar yang terpampang di atasnya: "Klub Detektif". Ruangan itu merupakan markas klub detektif di SMA Bluestars, sebuah sekolah menengah atas yang terkenal di Elderlake. Di sekolah ini, setiap siswa diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Namun, untuk mereka yang tidak tertarik dengan ekstrakurikuler yang sudah ada, sekolah memberikan kebebasan untuk membentuk klub baru dengan syarat minimal memiliki lima anggota.

Gadis itu menatap pintu ruangan dengan tatapan yang penuh keraguan. Rasa ragu dan ketidakpastian tampak jelas dalam ekspresinya. Namun, di balik rasa ragu itu, terdapat keinginan yang kuat untuk menembus batas-batas ketidakpastian. Dengan hati yang bulat, ia mengumpulkan keberanian dalam dirinya dan melangkah maju, memutar knop pintu yang memisahkan dirinya dengan dunia misteri yang menanti di dalam ruangan tersebut.

Ketika ia melangkah masuk ke dalam ruangan klub detektif, pandangan gadis itu langsung tertuju pada suasana yang berbeda dari yang ia duga. Ruangan itu tidak sesuram yang ia bayangkan, dihiasi dengan dinding berwarna putih dan meja panjang di tengah ruangan yang dikelilingi oleh kursi. Papan pengumuman di sudut ruangan dipenuhi dengan gambar-gambar dan catatan-catatan yang menarik. Ruangan itu juga dihiasi dengan berbagai poster misteri dan gambar detektif terkenal yang terpampang di dinding.

"Kami tidak sedang mencari anggota baru," ucap suara misterius dari balik kursi putar dibalik meja di tengah ruangan. Sepertinya orang tersebut sedang memandangi pemandangan dari luar jendela. Terlintas dalam pikirannya bahwa itu pasti seorang gadis yang ingin bergabung dengan klub, karena tak mungkin ada orang lain yang membutuhkan jasa mereka. Klub ini sudah memiliki anggota yang cukup, dan tidak berminat menambah anggota lagi.

"Aku bukan mau mendaftar menjadi anggota. Aku..." gadis itu terhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan maksudnya. Ia merasa tekanan untuk mengungkapkan niatnya dengan jelas kepada orang tersebut yang tampak skeptis.

"Terus kamu mau apa?" tanya suara misterius itu dengan sedikit keheranan, sambil memutar kursinya. Ekspresi mencerminkan kebingungan tentang apa yang diinginkan oleh gadis tersebut. Bagaimana mungkin ada alasan lain selain ingin menjadi anggota klub detektif? Kasus? tidak mungkin. Tetapi ia tersebut tetap memberikan kesempatan pada gadis itu untuk menjelaskan.

"Apa kalian benar-benar bisa menyelidiki dan mencari tahu tentang sesuatu? Bahkan jika itu terjadi di luar lingkungan sekolah?" tanya Hana sekali lagi, wajahnya mencerminkan keraguan dan kekhawatiran. Ia ingin meyakinkan diri bahwa klub detektif ini benar-benar mau menangani kasus-kasus di luar sekolah.

"Tentu saja. Memangnya kenapa?" ucap pria itu, suara penuh keyakinan. Sambil mengajak Hana untuk duduk di kursi, ia tampak antusias dengan potensi kasus baru yang muncul.

Hana pun duduk di depan pria itu, tetapi rasa ragu masih terlihat dalam tatapannya. Ia mulai berbicara dengan ragu, "Emmm, kamu tau kan?... emm... tentang rumah susun di gang sempit dekat sekolah kita ini?"

Pria itu mengangguk, menunjukkan bahwa ia mengetahuinya. "Rumah susun itu... baru-baru ini... ada beberapa kasus bunuh diri," lanjut Hana.

Pria itu menatap gadis itu dengan antusias, menunjukkan ketertarikannya pada apa yang ingin gadis itu ceritakan. Hana merasa lega karena pria itu tampak serius mendengarkan ceritanya.

"Ini kedengaran aneh... tapi kalo ingatanku gak salah... udah lima bulan aku tinggal disana... dan udah tiga orang yang bunuh diri. Dan sekarang kakakku juga ngalamin hal aneh... Dia juga dapet uang," ungkap Hana dengan nada cemas.

Terpopuler

Comments

Riezki Arifinsyah

Riezki Arifinsyah

mudah2an ceritanya ga berbelit2 ya Thor

2025-02-05

0

Rifca Farih Azizah

Rifca Farih Azizah

B banget...alias bwagooosss bangettt

2023-09-14

0

Lazy Nightmare

Lazy Nightmare

semangat

2023-08-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!