Walaupun mereka semua keliahatan aneh namun untuk masuk ke dalam klub detektif itu butuh kemampuan yang diatas rata-rata karena tes masuk yang di buat oleh Rolan benar-benar menguji kecerdasan dan ketangkasan seseorang dalam mengamati dan menyelidiki sesuatu. Tentu saja dari hasil tes itu orang yang paling mendekati sempurna adalah Arsen. Mungkin darah polisi yang mengalir di tubuhnya membuatnya hebat dalam mengungkap misteri seperti itu atau karena dia adalah orang yang mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh.
Di ruangan kecil tersebut yang dihiasi dengan poster-poster misteri dan papan pengumuman berwarna-warni, anggota klub detektif telah berkumpul. Suara gemericik tawa dan percakapan ringan terdengar, menandakan bahwa semangat mereka hadir dalam pertemuan ini.
Rolan, pemimpin klub detektif, membuka pembicaraan dengan ekspresi ramah dan penuh rasa terima kasih, "Makasih udah pada dateng dan nyempetin waktu buat kesini. Aku tau kalian pasti pada sibuk sama urusan masing-masing."
"Kita disini buat ngebahas tentang kasus pertama yang akhirnya bisa kita kerjain setelah sekitar 2 bulan berdiri tapi belum ada kasus," lanjut Rolan dengan semangat.
"Akhirnya, ada juga kasus yang bisa kita tangani!" ujar Arsen dengan rasa gembira.
Rolan kemudian melanjutkan, "Orang yang memakai jasa klub kita bernama Hana Almaira. Mungkin Sella kenal karena berasal dari kelas yang sama. Kelas XI IPA 5."
Sella mengangguk mengiyakan.
"Iya, aku kenal Hana tapi gak dekat, hanya sebatas kenal," ucap Sella dengan senyum ramah. "Dia cewek yang cukup pendiam di kelas. Meskipun begitu, gak ada yang berani gangguin dia. Pas kelas satu, ada yang pernah nyoba ganggu dia, dan cerita itu berakhir tidak menyenangkan bagi orang yang menganggunya. Mereka berkelahi di belakang kelas, saling menjambak rambut," lanjutnya sambil menggelengkan kepala, mengingat insiden masa lalu yang mungkin tak terlupakan bagi Hana.
Sella melanjutkan, "Karena dia anak yang pintar di kelasku dan selalu menaati peraturan, tentu saja guru lebih mempercayai perkataannya daripada seorang siswi yang sering membuat keributan. Dia juga mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah karena selain pintar, dia juga dari keluarga yang kurang mampu."
Sella melanjutkan lagi, "Dia tinggal di rusun dekat sekolah ini dan hanya tinggal bersama dengan kakak perempuannya. Setahuku kakaknya bekerja sebagai pegawai di perusahaan 2T."
"Mereka hanya tinggal berdua? Kenapa mereka harus tinggal di rusun itu? Tadi kamu bilang kakak Hana bekerja di 2T, walaupun hanya pegawai biasa, namun gaji di 2T itu besar, mereka pasti bisa menyewa rumah? Terlebih Hana itu penerima beasiswa," ucap Riri penuh kebingungan, mencoba memahami situasi yang rumit ini.
Sella menatap Riri dengan penuh empati, dan dia pun menjawab, "Sulit bagi mereka berdua untuk bertahan hidup. Orang tua mereka sudah lama meninggal dalam kecelakaan mobil, dan hanya meninggalkan hutang yang banyak untuk mereka berdua. Tentu saja kakak Hana yang harus membayar hutang kedua orang tua mereka."
Arsen yang duduk di sebelah David, tampak sangat penasaran dengan kasus pertama mereka. Tidak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Hana dan kakaknya.
"Si Hana itu memangnya mau kita melakukan apa?" tanya Arsen, dengan ekspresi serius di wajahnya.
Hening sejenak, hingga pria berkacamata itu akhirnya menjawab, "Cewek itu meminta kita untuk menyelidiki tentang hal yang terjadi di rumah susun itu...." Ia berhenti sejenak, melihat satu per satu ekspresi teman-temannya yang semakin serius dan tertarik.
"Maksudmu tentang kasus bunuh diri yang terjadi di rusun itu," tanya Arsen, memastikan informasi yang baru saja didengarnya.
Rolan mengangguk, mengkonfirmasi perkataan Arsen, dan suasana di ruangan itu semakin tegang.
"Iya, menurut yang dikatakan Hana, di rumah susun itu terus terjadi bunuh diri yang dia kira terjadi karena uang dengan angka 666 dengan noda coklat yang menghiasinya," ujar Rolan, menyampaikan informasi yang membuat suasana semakin mencekam.
David memegang tengkuknya dengan ekspresi yang agak cemas, "Agak horor kan?"
Arin mengungkapkan rasa kebingungannya, "Apa hubungannya Hana dengan hal itu? Kenapa dia harus tahu?"
"Beberapa hari sebelum bunuh diri, tetangganya yang tinggal di lantai tujuh memperlihatkannya uang dengan angka 666 itu. Jadi Hana tahu pasti tentang uang itu. Nah, menurut dugaannya, uang yang sama yang diperlihatkan tetangganya itu sekarang berada di tangan kakaknya. Aneh kan?" jelas Rolan dengan penuh perhatian.
David berpikir sejenak dan berpendapat, "Tapi menurut gue bisa aja malah kakaknya yang bersalah dan ngambil uang itu."
Pendapat David tersebut memancing Viona untuk memberikan pandangannya, "Itu bisa juga terjadi. Tapi menurutku, uang itu digunakan untuk mencari tumbal? Mungkin itulah alasan kenapa mereka bunuh diri?"
Semua anggota klub menarik napas dalam-dalam, membayangkan skenario misterius yang mungkin saja terjadi di balik kasus ini. Hana dan kakaknya, keduanya terlibat dalam kisah yang gelap dan mengandung banyak rahasia. Mereka semua tahu bahwa mereka harus berhati-hati dalam menyelidiki kasus ini, karena ujung dari setiap langkah yang mereka ambil bisa membawa mereka ke dalam kegelapan yang lebih dalam.
"Yah sekarang kita hanya bisa menerka-nerka. Jadi jika ingin tahu kebenarannya harus kita selidiki," ujar Rolan dengan serius, membuka percakapan.
Mendengar ucapan ketua klub, anggota lainnya mengangguk setuju. Mereka sadar bahwa untuk mengungkap kebenaran, langkah pertama yang harus diambil adalah melakukan penyelidikan secara menyeluruh.
"Kalian semua pasti udah pada tahu tentang kasus bunuh diri yang terjadi di rumah susun itu," lanjut Rolan.
Arsen, dengan wajah penuh keyakinan, menyampaikan informasi yang dia ketahui, "Udah ada 6 bunuh diri yang terjadi di gedung itu."
Namun, Anton segera memotong, "Enam? Bukannya baru lima?"
Riri menimpali dengan penuh keyakinan, "Iya, setahuku juga baru lima. Gini-gini aku rajin nonton berita dan baca koran."
Tampaknya perbedaan informasi ini menimbulkan keraguan di antara mereka. Namun, Arsen tetap yakin dengan pengetahuannya, "Aku setuju sama Arsen, menurut yang aku tahu emang udah ada 6 orang yang bunuh diri." Kata David.
Arin juga turut membenarkan pendapat Arsen, "Betul, menurut yang aku tahu juga ada enam orang yang bunuh diri, satunya merupakan kecelakaan kerja namun ditutupi seperti bunuh diri."
"Tentu saja, kita perlu mengklarifikasi informasi ini lebih lanjut. Jadi mending kita bagi tugas untuk menyelidiki lebih dalam tentang setiap kasus bunuh diri dan kecelakaan yang terjadi di rumah susun itu," usul Rolan dengan tekad.
Penuh semangat, anggota klub detektif ini siap menghadapi perjalanan panjang dalam menemukan kebenaran di balik misteri yang tersembunyi di rumah susun tersebut. Dalam pencahayaan remang-remang ruangan, mereka saling mengangguk, siap untuk memecahkan teka-teki yang menghadang di hadapan mereka. Petualangan mereka baru saja dimulai, dan dengan keyakinan dan kerja sama, mereka percaya bahwa misteri ini akan terpecahkan.
Para anggota klub detektif terdiam sejenak, merenungkan informasi yang baru saja diungkapkan oleh Arsen dan Viona. Percakapan tentang kasus bunuh diri di rumah susun kini membuka jendela baru dalam penyelidikan mereka.
"Kalian pasti cuman tahu kasus setelah pembangunan. Ada satu kasus sebelum pembangunan. Aku tau karena abangku yang nanganin kasusnya," ujar Arsen dengan serius.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments